
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar๐ค
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca๐ค๐ค๐ค๐ค
Crazy up mulai hari ini sampai akhir hari sabtu!
...๐๐๐...
Dua minggu sudah berlalu sejak terakhir kali. Kehidupan di apartement milik Zayn menjadi lebih hidup daripada sebelumnya sebab ada Nara juga disini.
Ada yang mengurus rumah dengan baik.
Dan Zayn bisa bekerja dengan baik di rumah sakit selama beberapa hari ini. Semuanya berjalan dengan baik.
Tak
Bunyi dentingan piring yang Nara letakkan diatas meja makan.
Pagi ini hanya sarapan sederhana dengan menu makanan empat sehat lima sempurna.
Zayn tidak ingin makan makanan cepat saji atau berpengawet terlalu sering. Bahkan ia hanya mengizinkan Nara untuk menyimpan tiga bungkus ramyeon atau mi instan saja setiap bulannya.
Tidak ada yang lainnya.
"Kau akan pulang cepat?" tanya Nara saat Zayn sampai di meja makan.
Zayn langsung duduk dan Nara langsung menyiapkan makanan untuk Zayn.
"Tidak tau, mungkin saja aku lebih cepat pulang. Ada apa?" tanya Zayn.
Salju turun.
Nara menggelengkan kepalanya, tidak ingin membuat Zayn terbebani saat bekerja hanya karena dirinya.
Lagipula baru ramalan saja kalau hari ini salju pertama akan turun dan bisa saja ramalannya salah jadi tidak ada salju sama sekali.
"Besok malam natal kan?" tanya Zayn.
Nara mengangguk, "Iya besok malam natal, kau akan berada dirumah besok?" tanyanya.
Zayn mengangguk membuat Nara langsung tersenyum senang. Sangat senang.
"Libur, bos harus libur sesekali di hari besar dan aku akan berada di rumah sepanjang hari bersamamu saja." ucapnya.
Yes!
Keinginan Nara untuk bisa menikmati natal dengan Zayn sepertinya akan berjalan dengan lancar. Sangat lancar.
"Baiklah, kalau begitu besok aku juga harus membuat masakan enak untukmu." ucapnya.
Zayn menghedikkan bahunya, terserah pikirnya.
Enak atau tidaknya makanannya yang pasti dirinya akan berada di rumah besok malam.
"Kau sudah lihat daftar rumah yang aku berikan?" tanya Zayn.
Nara menggelengkan kepalanya, mana sempat dirinya melihatnya apalagi Zayn baru memberikannya kemarin malam saat mereka akan tidur.
Zayn aneh bukan? sangat aneh.
"Tidak, kau pikir aku bisa membaca dan melihatnya diaaat tidur? ck.. salahmu baru memberikannya tadi malam." jawabnya.
"Maaf, kau kan tau aku banyak pekerjaan." jawab Zayn.
__ADS_1
Nara menganggukkan kepalanya, ya.. banyak pekerjaan.
Entah kapan suaminya ini punya waktu istirahat dirumah sebentar saja. Nara ingin berduaan dengan Zayn di apartement layaknya pasangan lainnya.
Tidak lebih.
"Ya, urus saja pekerjaanmu dengan baik." kata Nara.
Zayn mengangguk, "Tentu saja, kalau pekerjaanku siap lebih cepat aku bisa kembali kerumah lebih cepat juga. Lagipula sudah ada beberapa perawat dan juga dokter baru yang bekerja di rumah sakit." ucapnya.
"Lalu apa hubungannya dengan mereka? kau berbagi pekerjaan?" tanya Nara kaget.
"Bukan berbagi pekerjaan seperti itu." balas Zayn.
Nara mengerutkannkeningnya, "Lalu berbagi yang seperti apa?" tanyanya.
"Karena ini tahun pertama mereka dan bertepatan dengan tahun baru serta natal maka aku memberikan mereka semua tugas untuk berjaga di UGD dan beberapa lagi di poli lainnya."
"Biasanya aku berjaga di poli jantung atau di UGD karena malam natal sangat rawan kedatangan banyak pasien tapi karena ada mereka aku bisa dirumah." ucapnya senang.
Saling menguntungkan, win win solution.
Zayn bisa pulang cepat saat malam natal dan menikmati waktunya dengan istri tercinta sedangkan para dokter dan perawat yang bekerja bisa mengukir dan mengembangkan keahlian yang mereka miliki.
Dengan berhadapan langsung dengan pasien, kita bisa menilai seberapa cepat dan tanggap suatu dokter. Seberapa lihai keahliannya dalam menangani pasien.
"Tapi mereka masih baru, apa baik-baik saja jika kau tidak mengawasi mereka?" tanya Nara.
Zayn tersenyum miring mendengarnya dan menatap Nara yang duduk di depannya dengan tatapan ingin menggigit.
"Kau bodoh?" tanyanya.
Krik.. krik..
Bodoh.
Ah benar juga.
"Kau menugaskan dokter lain?" tanyanya.
Tapi Nara juga sedikit khawatir, bagaimana dengan keluarga mereka yang menunggu dirumah. Kasihan sekali di malam yang ceria dan menyenangkan seperti malam natal mereka harus bekerja dan keluarganya hanya bisa merayakan tanpa mereka.
"Ya, mereka janda dan juga duda tanpa anak." jawab Zayn seolah mengerti apa yang Nara pikirkan.
"Atau juga single yang belum memikirkan untuk memiliki pasangan." lanjutnya.
"Mereka tinggal dirumah sendirian saja seperti diriku sebelumnya jadi tidak ada yang akan keberatan jika mereka tidak pulang."
Nara tersenyum kikuk mendengarnya. Sepertinya memang ilmu Zayn untuk membaca pikirannya masih sangat baik hingga sekarang.
"Baiklah, aku berangkat sekarang." kata Zayn setelah makanan dan minumannya habis.
Zayn berjalan ke arah pintu sedangkan Nara mengikutinya dari belakang.
"Kau hanya memakai ini saja?" tanya Nara sambil memegang coat yang terbalut di tubuh Zayn.
"Memangnya kenapa?" tanyanya.
Nara membuang nafasnya pelan, "Udara semakin dingin Zayn, apa kau tidak lihat di ponselmu? 0 derajat, dingin sekali." kata Nara.
Zayn ber-oh ria mendengarnya.
"Ah aku tidak tau, aku sibuk bersiap-siap dan tidak melihatnya." jawabnya.
Nara langsung diam, pantas saja. Suhu hari ini saja ia tidak tau bagaimana Zayn bisa tau kalau nanti malam akan turun salju menurut ramalannya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar." kata Nara.
Nara masuk ke dalam kamar sedikit berlari begitupula saat kembali. Berlari sambil membawa syal dan juga sarung tangan.
"Pakai ini, setidaknya kau tidak akan kedinginan saat keluar dari mobil." ucap Nara.
Dengan romantisnya Nara melilitkan syalnya di leher Zayn lalu memasangkan sarung tangannya ke tangan besar suaminya itu.
"Sudah kau boleh pergi sekarang." kata Nara.
Zayn mengulum senyumnya melihatnya, "Ya sudah aku berangkat bekerja dulu. Pastikan kau membersihkan rumah dengan baik." ucapnya dan diangguki oleh Nara.
Sudah terbiasa dirinya dengan kalimat itu sebelum Zayn berangkat. Sudah biasa jika untuk Zayn.
Cup
Zayn mengecup kening Nara lalu langsung pergi setelahnya.
Nara menghela nafasnya pelan, "Bagaimana caranya mengatakan padanya kalau aku ingin dia berada di apartement saat salju pertama?" gumam Nara.
...๐๐๐...
Zayn sampai di rumah sakit dengan sedikit lambat, ada banyak kemacetan dimana-mana.
Dan begitu tiba pun beberapa rekan sejawatnya terlihat saling berlalu lalang dengan pakaian yang tak kalah tebalnya dengan dirinya.
"Apa mereka benar-benar kedinginan? ck ck." gumam Zayn tak percaya.
"Padahal aku sudah membuat seluruh gedung rumah sakit agar tetap hangat, pintu tetap tertutup rapat tidak ada udara dingin yang bisa masuk." gumamnya.
Hah, mungkin mereka saja yang kedinginan.
Zayn naik ke lantai atas, ruangannya yang tetap hangat bagaimana pun keadaannya dan seberapapun dinginnya diluar.
"Kau sudah stand by disini." kata Zayn saat dirinya baru tiba.
Aeri langsung berdiri dan membungkuk hormat pada Zayn.
"Selamat pagi dokter." sapa Aeri.
"Pagi." jawab Zayn singkat dan langsung masuk keruangannya.
Zayn melepaskan syal yang dipakaikan ole Nara, begitupula dengan sarung tangan dan juga coatnya. Zayn melipatnya dengan sangat rapi dan menyimpannya diatas meja kerjanya.
Tok tok..
"Masuk." kata Zayn..
Aeri langsung membuka pintu ruangan Zayn dan masuk ke dalam.
"Ini laporan medis pasien anda yang kemarin melakukan medical check up." kata Aeri sambil memberikan hasil laporannya.
"Terima kasih." kata Zayn.
Ia langsung mengambil laporannya dan membacanya.
"Dokter.." panggil Aeri dan Zayn langsung menatap kearahnya.
"Begini..."
Aeri menautkan kedua jarinya sendiri, bingung harus bagaimana mengatakannya.
"Ada apa? cepat katakan." tanya Zayn.
"Begini dokter.. menurut ramalan cuaca malam ini salju akan turun." kata Aeri.
__ADS_1
"Salju?" tanya Zayn.
Aeri mengangguk, "Salju pertama." ucapnya.