
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca🤗🤗🤗🤗
...💜💜💜...
"Aku tanya sekali lagi, apa kau menyukaiku?" tanyanya.
Kedua tangan Zayn mengunci pergerakan Nara, bahkan tatapan kedua matanyanya pun tak mampu membuat Nara berpaling.
Nafas Nara seakan tercekat, namun ia juga kesal dan marah pada Zayn.
"Jawab aku, apa kau menyukaiku?" tanya Zayn lagi.
Mendengar Zayn bertanya lagi membuat Nara semakin kesal, nafasnya memburu.
Apa Zayn tidak sadar dan tidak peka sama sekali tentang hal ini? pikirnya.
"Ya! aku menyukaimu!" bentak Nara.
Zayn langsung diam mendengarnya, namun ia masih tetap pada posisinya tadi. Masih berada di hadapan Nara tak melakukan apapun.
Tak lama kemudian Nara menunduk, menutup wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangannya.
Dan isak tangis mulai terdengar di telinga Raffa.
"Hiks.. hikss.." isaknya.
"Kau menangis?" tanya Zayn terkejut.
Ia lebih terkejut mengetahui Nara menangis di hadapannya dibandingkan dengan pengakuan Nara barusan.
Karena Zayn juga menyadarinya, ia hanya ingin memastikan saja, mendengar langsung dari bibir Nara.
Ia ingin memastikan bahwa masih ada orang yang mencintai dirinya dan menyayanginya.
Dan ternyata dugaan Zayn benar, Nara menyukainya.. itu artinya Zayn punya tempat spesial dihati Nara.
"KAU PUAS?! KAU PUAS SUDAH MEMBUATKU MENJADI SEPERTI INI!?" tanya Nara dengan suara kerasnya.
Untung saja hanya ada dua unit apartement di lantai ini dan dilantai bawah hanya ada tiga unit.
"Kau puas sudah membuatku menderita beberapa hari ini?!"
Nara kembali terisak, ia memukul dada Zayn sekuat tenaganya dengan kedua tangannya yang mengepal.
Bahkan Zayn tidak menghentikan Nara untuk memukulnya, ia membiarkan Nara untuk melakukan hal itu.
Membiarkan Nara untuk melampiaskan rasa kesal dan juga amarahnya pada dirinya.
"Hiks.. Kenapa kau melakukan ini padaku?" lirihnya.
Nara terus memukul dada Zayn, tak berhenti sama sekali. Sebegitu kesalnya ia pada laki-laki di depannya ini yang tidak memberinya kabar selama beberapa hari ini.
Yang tidak mengganggunya, yang tidak membuatnya kerepotan untuk memasak dan pergi kerumah sakit.
__ADS_1
Bahkan Zayn tidak memberitahunya, ia sudah makan atau belum, apa yang ia malan selama menginap di rumah sakit, apa yang ia lakukan selain bekerja untuk mengobati pasiennya.
Nara kesepian, tidak ada yang membuatnya emosi jika Zayn seperti ini.
"KAU PUAS KAN? PUAS SUDAH MEMBUATKU FRUSTASI KARENA MEMIKIRKANMU!!!" Bentak Nara lagi.
Zayn langsung mencekal kedua tangan Nara, menahannya agar tidak memukulnya lagi dan langsung menarik Nara ke dalam pelukannya.
Zayn menyembunyikan wajah Nara di dadanya dan menopang kepalanya diatas kepala Nara, mengelus surai hitam rambutnya dengan lembut.
Terdengar isakan dari Nara dan Zayn hanya diam, membiarkan Nara untuk melepaskan semuanya terlebih dahulu.
Dan ketika Nara sudah lebih baik, barulah Zayn akan berbicara padanya.
"Kau jahat Zayn.. kau jahat padaku... kenapa kau melakukan ini padaku?" tanyanya.
Zayn diam namun tangannya tetap mengelus rambut Nara dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Tak mendapatkan jawaban dari Zayn membuat Nara kesal, ia langsung mendorong tubuh Zayn dengan kuat untuk melepaskan pelukannya.
Hingga akhirnya pelukannya terlepas dan Zayn terdorong mundur ke belakang beberapa langkah.
"Kenapa kau diam saja? kau sengaja melakukan ini kan? sengaja mempermainkanku?" bentak Nara.
"Ah.. aku mengerti.." kata Nara sambil tersenyum getir.
"Aku mengerti kenapa kau melakukan ini. Kau hanya menganggapku sebagai mainan kan? kau sedang mempermainkanku kan?" tanyanya membuat Zayn mengepalkan kedua tangannya.
Kenapa Nara bisa berpikir seperti itu? pikir Zayn.
"Dari awal kau pasti hanya ingin mempermainkanku.. pantas saja, mana ada orang yang dengan mudahnya mengajak menikah."
Zayn tidak tahan, Nara sudah berbicara semaunya. Emosinya sepertinya meledak-ledak tidak terkendali.
"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini? kau akan membuangku? membiarkan aku hidup seperti dulu lagi? kau akan mengatakan pada seluruh dunia bahwa aku wanita yang bodoh?" tanyanya.
"Nara.." panggil Zayn.
"Jangan panggil namaku!!!!" teriaknya sambil menutup kedua telinganya.
Zayn menatap Nara kaget, begitu bencinya kah Nara padanya hingga seperti ini?
Langsung saja Zayn menarik Nara ke dalam pelukannya lagi, memeluknya dengan erat walaupun Nara memberontak ingin dilepaskan.
Walaupun Nara memberontak tak ingin dipeluk oleh Zayn dan minta dilepaskan, namun Zayn tetap menahannya.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Zayn.
"Lepaskan aku!" kata Nara.
"Apa kau tau mengapa aku melakukannya? apa kau tai alasanku selama ini tidak menghubungimu? tidak memberikan kabar padamu?" tanyanya.
Nara terisak, "Kau menganggapku murahan dan bodoh! lepaskan aku!!" jawabnya sambil berusaha lepas dari Zayn.
Zayn menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Tidak Nara, kau salah."
"Aku melakukan itu karena aku tidak akan sanggup jika mendapatkan balasan pesan darimu, tidak akan sanggup jika mendengar suaramu."
__ADS_1
"Aku akan semakin merindukanmu jika melakukannya."
Nara langsung terdiam mendengarnya, tangannya tak lagi mendorong tubuh Zayn dan tangisannya langsung berhenti.
Zayn merindukanku? apa itu benar? batin Nara.
Cup
Zayn mengecup kening Nara dengan lembut.
"Aku tidak akan fokus bekerja karena memikirkanmu terus. Kau tau seberapa fatalnya aku jika lalai dalam bekerja? aku mempertaruhkan nyawa seseorang." ucapnya.
"Tapi kau tidak memikirkan perasaanku sama sekali." lirih Nara.
"Aku memikirkan perasaanmu, aku tau kau marah padaku karena kesibukanku karena itu aku langsung bergegas datang kesini menghampirimu."
"Karena aku juga tidak tahan, aku tidak tahan menahan rinduku! apalagi kau tidak pernah menjawab atau membalas pesan yang kukirimkan!"
"Kau membuatku panik!"
Nara langsung mendongakkan kepalanya menatap wajah Zayn, wajah serius itu.. Zayn tengah berbicara serius padanya...
Zayn tidak main-main dengan ucapannya barusan.
Orang bilang kau bisa melihat seberapa jujur orang itu saat kau menatap matanya.
Lidah bisa saja berbohong, tapi matanya tidak akan pernah berbohong padamu.
Dan Zayn tidak berbohong padanya.
"Jangan marah lagi padaku, aku harap kau juga mengerti seberapa sulit pekerjaanku." kata Zayn.
"Kau mengerti?" tanya Zayn.
Nara memgangguk perlahan, "Baiklah, aku mengerti." ucapnya.
Zayn tersenyum tipis membuat Nara berdecih.
Dasar pria kaku, tersenyum dengan benar saja ia tidak bisa.
"Aku sudah tidak marah, kau boleh kembalo bekerja jika mau." kata Nara.
Zayn menarik Nara semakin mendekat padanya, "Setelah aku meminta dokter lain untuk menggantikanku?" tanyanya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan siamg hari seperti ini di rumah?" tanya Nara.
Zayn mengerjapkan keduanya matanya lalu menatap Nara dan ia langsung tersenyum miring.
Tanpa aba-aba Zayn langsung menggendong Nara hingga membuatnya menjerit.
"Zayn! apa yang kau lakukan? turunkan aku!!" pekik Nara.
"Apa? kau berani memanggil namaku saja sekarang?" tanyanya.
Nara terkeleh, ini yang ia sukai. Saat Zayn dan dirinya ribut.
"Ya, Zayn." godanya.
__ADS_1
Zayn langsung berdecih, "Sepertinya kau harus kuberikan hukuman." ucapnya dan membawa Nara masuk ke dalam kamarnya.