
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca🤗🤗🤗🤗
...💜💜💜...
"Lain kali ajak aku saja, jangan sendirian." ucap Zayn.
Zayn melepas snellinya dan meletakkannya di mesin cuci, mencucinya agar bersih barulah setelah itu ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Mandi ditengah malam seperti ini.
Sudah biasa bagi Zayn yang memang sibuk setiap harinya.
Begitu selesai, Zayn keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kemeja baru, rambutnya basah dan wajahnya terlihat lebih segar.
Zayn menatap ke arah meja kerjanya, disana Nara masih tertidur pulas di kursi.
"Ck.. seperti habis perjalanan dari Amerika ke Asia." decaknya.
Zayn mendekat, ia menatap Nara yang memang terlihat lelah apalagi matanya sedikit bengkak.
"Kau pasti menangis dikuburan ayah dan ibumu." gumam Zayn.
Zayn berjalan mengambil selimut yang ada di lemari, lalu menyelimuti Nara dengan selimut tersebut.
Untungnya kursi yang ada di ruangannya termasuk bagus, empuk dan bisa diturunkan.
Zayn tak ingin repot-repot menggendong Nara dan menidurkannya di tempat tidur, tidak akan pernah.
Helaan nafas terdengar dari Zayn, ia duduk di kursinya yang berhadapan dengan Nara.
Zayn menatap Nara sekilas lalu menatap paper bag di depannya. Aeri bilang Nara akan datang untuk mengantarkannya makan malam.
Makanan ditengah malam maksudnya.
Sejujurnya tidak baik mengkonsumsi makanan berat saat tengah malam seperti ini, namun mau bagaimana lagi. Sejak makan siang yang disuapi oleh Nara, Zayn belum memakan apapun.
Langsung saja Zayn mengeluarkan kotak makannya, memakai hand sanitizer, mengelap sendok dan garpu dengan menggunakan tisu hingga benar-benar bersih dan membuat teh hangat sendiri.
Zayn membuka kotak makannya, ia sedikit tertawa melihat makanan yang disiapkan oleh Nara.
Sayuran hijau dan juga dada ayam yang di rebus.
Zayn menatap Nara tak percaya, "Apa dia pikir aku sedang diet?" gumamnya.
Namun walaupun begitu Zayn tetap memakan makanannya dengan lahap, dia lapar bukan yang lainnya.
Sampai Zayn selesai makanpun, Nara tetap tertidur dengan pulas di kursi, tidak merasa terganggu sedikitpun dengan aktivitas Zayn.
"Dia akan pegal besok pagi jika terus tidur seperti itu." gumam Zayn.
Jujur, Zayn sedikit kasihan melihat Nara tertidur dengan pulasnya di kursi, tidak bangun walaupun ada suara seberisik apapun.
"Apa aku harus memindahkannya ke brankar saja?" pikir Zayn.
Zayn melirik brankar yang ada di ruangannya, bisa saja dia memindahkannya kesana.
__ADS_1
Namun terlebih dahulu Zayn membersihkan kotak makan dan bekas minumnya, mencucinya hingga bersih, mengelap mejanya sendiri yang sedikit berdebu dan kotor serta mengepel lantainya.
Zayn juga mengeluarkan snellinya dari dalam mesin cuci, sengaja ia membeli agar tak repot meminta Aeri untuk melaundry lagi.
Setelah semuanya selesai, barulah Zayn mendekati Nara. Mengambil disinfektan di meja kerjanya dan menyemprotnya ke bagian tubuh Nara setelah melepaskan selimutnya.
Zayn menghela nafasnya pelan, sedikit ragu sebenarnya. Ia masih belum terbiasa bersentuhan dengan wanita, walaupun Nara sudah berstatus sebagai istrinya.
"Kau bisa Zayn..." lirihnya pelan.
"Bayangkan saja hal-hal yang indah, ya hal-hal yang indah." lanjutnya.
Zayn memejamkan matanya, menelusupkan kedua tangannya diantara leher dan juga lutut Nara.
Zayn menghela nafasnya lega, ia langsung membuka matanya dan membopong Nara untuk menidurkannya di brankar.
Setidaknya ini lebih nyaman daripada tidur di atas kursi.
Zayn kembali menyelimuti Nara dengan selimut hingga ke lehernya, menurunkan suhu pendingin ruangan agar tidak panas.
Musim panas seperti ini memang membuat tubuh mudah gerah.
Setelah selesai, Zayn kembali memakai disinfektan ke tangannya sendiri, mengunci pintu ruang kerjanya dan masuk ke dalam kamar yang ada di ruangannya.
Bruk
Zayn merebahkan dirinya diatas ranjang, ah enaknya...
Dirinya akhirnya bisa merebahkan dirinya dengan nyaman tepat tengah malam.
Dan besok subuhnya ia sudah harus kembali bekerja, melakukan pemeriksaan lengkap kepada pasiennya yang rencananya akan dioperasi tiga hari lagi.
Mungkin suatu saat mereka tidak memerlukan penghalang lagi untuk satu sama lain.
Atau mungkin hal terburuk yang akan terjadi, mereka berdua tidak tau sama sekali.
"Aku dapat nilai 100 lagi, aku harus beritahu daddy dan juga mommy." ucap Zayn senang.
Zayn yang saat itu berusia 15 tahun dan baru saja masuk sekolah menengah atas masih terlihat sangat polos.
Ia berjalan di taman depan mansionnya dengan rasa senang, dirinya baru saja kembali dari les pukul 8 malam.
Zayn melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion, mendorong pintu yang tinggi menjulang di depannya dengan kedua tangannya.
Namun keadaan mansion terlihat sepi, tidak ada satupun maid yang terlihat. Zayn terus melangkahkan kakinya, masuk ke dalam ruang tengah.
"Mommy?" panggilnya.
Tidak ada yang menjawab.
Zayn terus berjalan, "Daddy?" panggilnya juga.
Namun tidak ada satu jawabanpun yang ia dapatkan, ia terus berjalan dan mengerutkan keningnya saat melihat pintu kamar tamu yang sedikit terbuka, ada celah disana.
"Kenapa pintunya terbuka? daddy dan mommy akan sangat marah jika tau maid bisa seceroboh ini." pikirnya.
Zayn berpikir ada maid yang lupa menutup pintu kamar tamu setelah membersihkannya rutin.
Saat Zayn akan menutup pintunya, ia mendengar suara aneh dari dalam kamar. Apa ada sesuatu pikirnya.
__ADS_1
Akhirnya Zayn membuka pintunya sedikit dan mengintip ke dalam, hatinya langsung hancur dan remuk saat itu juga.
Daddynya.
Sosok idolanya.
Orang yang ia jadikan sebagai panutan di mansion ini ternyata melakukan hal keji dibelakangnya dan dibelakang mommynya.
Daddynya tengah bersama dengan wanita lain dikamar itu, dengan wanita itu yang bergerak diatas tubuh daddynya sendiri tanpa mengenakan sehelai benangpun.
Zayn berjalan mundur, ia menutup mulutnya sendiri tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Aku... aku harus memberitahu mommy." gumamnya.
Zayn langsung berlari naik ke lantai dua, menuju ke kamar mommy dan daddynya. Namun ia salah, ia pikir mommynya tidak mengetahui hal ini.
Mommynya menangis, duduk dilantai bersandar pada ranjang dan membelakangi pintu.
Daddynya menyakiti hati mommynya.
"Mom..." panggil Zayn lirih.
Fey langsung berhenti menangis, ia menghapus air matanya sendiri. Melihat itu, Zayn langsung meremas lembar ujian ditangannya.
Hatinya sakir melihat mommynya menangis.
Fey berbalik, ia tersenyum melihat Zayn berada di depan pintu dan langsung menghampirinya.
"Kau sudah pulang Zayn?" tanya Fey.
Zayn diam, ia menatap kedua mata mommynya. Tersirar kesedihan disana.
"Aku melihat daddy."
"Bersama wanita lain disana." ucap Zayn sambil menunjuk ke bawah.
Fey diam, namun tak lama kemudian ia tersenyum getir.
"Dia kekasih daddymu, daddy mencintainya." ucap Fey lirih.
"Tidak.. tidak mungkin... tidak.."
Zayn bergerak gelisah dalam tidurnya, pelipisnya dipenuhi oleh keringat.
"Zayn... dokter Zayn.. kau tidak apa?" tanya Nara, ia menggoyangkan tubuh Zayn.
Baru pukul tiga pagi, ia terbangun mendengar teriakan Zayn.
Zayn langsung membuka matanya, nafasnya tersenggal-senggal.
Mimpi buruk itu lagi.
"Kau tidak apa-apa dokter?" tanya Nara khawatir.
Zayn melirik ke arah Nara, dengan wajah ketakutan.
Bruk.
Zayn langsung memeluk Nara, memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Aku tidak baik-baik saja." lirihnya.