Perfectionist Husband

Perfectionist Husband
Gaun biru


__ADS_3

"Apa perlu kami berlatih sekarang mom? didepanmu." tanya Zayn dengan entengnya.


Kedua mata Fey langsung berbinar mendengarnya, senyuman tak bisa terhindarkan lagi dari bibirnya sedangkan Nara menggelengkan kepalanya agar Zayn membatalkan ide konyolnya itu.


"Astaga, apa dia ingin aku mati konyol di mansion ini?" gumam Nara.


Zayn langsung menatap Nara dengan wajah datar dan tatapan tajam yang membuat Nara langsung memalingkan wajahnya.


"Tentu saja mom mau! lakukanlah, mom ingin melihatnya dan memastikan bahwa anak mom ini normal." ucap Fey semangat.


Zayn menatap mommynya, lalu tersenyum dengan sangat lebar.


Aneh sekali, Zayn jadi terlihat aneh tersenyum lebar seperti itu. Seperti seorang psikopat.


"Tutuplah matamu mom lalu tertidur dan kau akan melihatnya di dalam mimpimu." ucap Zayn santai namun cukup membuat Fey kesal.


"Zayn..." geramnya.


"Sudahlah, kita sudah menentukan tanggalnya kan mom jadi aku ingin pulang sekarang, kau tau aku sangat sibuk di rumah sakit." ucapnya lalu berdiri.


Melihat Zayn bangkit dari duduknya membuat Nara ikut bangkit, ia berdiri dengan was-was.


"Dan kau sendiri tau mom, OCD ku tidak akan membiarkanku untuk melakukan itu." katanya.


Zayn langsung melenggang pergi setelah mengatakan itu membuat Fey bengong ditempatnya.


"Anak itu..." geramnya.


"Mom.. aku juga permisi." cicit Nara.


Fey langsung menatap Nara dan menghela nafasnya pelan.


"Untung ada dirimu Nara, ah.. aku bisa mati muda karena anak itu. Ya sudah susullah Zayn dan persiapkan diri kalian untuk acara pernikahan kalian. Mom ingin melihat ciuman panas di altar nanti." kata Fey.


Nara tersenyum kikuk mendengarnya, ia pura-pura tertawa agar suasana tidak kaku.


"Haha.. haha.. aku-aku mengerti mom. Kalau begitu aku permisi dulu, selamat malam mom."


"Malam Nara, hati-hati yaa!" kata Fey.


Nara membungkukkan badannya hormat dan segera berlalu dengan susah payah karena sepatu berhak sialan yang digunakannya.


Saat dirinya memastikan bahwa Fey tidak bisa melihatnya, Nara langsung melepaskan sepatunya dan berlari dengan cepat menyusul Zayn yang sudah menuruni tangga.


"Kau ingin meninggalkanku?" ucap Nara kesal.

__ADS_1


Zayn menatap Nara dengan wajah datarnya lalu menatap tangan Nara yang menenteng sepatunya serta kakinya yang tidak menggunakan alas kaki.


"Hah, orang sepertimu memang tidak cocok menggunakan heels." gumamnya.


"Masuklah, aku ingin segera pulang." ucap Zayn.


Nara langsung berjalan ke arah pintu mobil namun sebelum ia membukanya, Zayn lebih dulu menyemprot tangan dan kakinya.


"Sudah masuklah." ucapnya lalu menyemprotkan cairan disinfektan ke dirinya sendiri.


Nara berdecak kesal melihatnya, padahal mansion mommynya itu sangat-sangat bersih dan rapi. Nara bahkan tidak melihat atau merasakan debu sekecil apapun di dalam sana namun Zayn tetap bersikap seperti ini.


"Dokter, bolehkah aku bertanya?" kata Nara saat mereka tengah dalam perjalanan pulang.


"Tutup mulutmu, sudah kubilang jangan berbicara di dalam mobil." ucap Zayn.


Nara langsung menutup rapat mulutnya sendiri tak berani untuk berbicara sedikitpun atau Zayn akan kembali menyemprotnya dengan kata-kata kasar.


"Diam Nara, kau bisa bertanya lain waktu." batinnya.


"Besok pagi aku jemput di depan untuk ke rumah sakit, gunakan gaun berwarna biru yang aku belikan di mall dan juga heels." ucap Zayn.


Nara diam tak menjawab.


"Dia bilang jangan berbicara di dalam mobil." batinnya.


Nara menganggukkan kepalanya mengerti, "Baiklah terserah kau saja dokter.." batinnya.


"Ah satu lagi, bisakah kau mencuci rambutmu itu besok? sudah berapa hari kau tidak mencucinya, terlihat sangat lepek dan berminyak." sindir Zayn.


Sontak Nara langsung menciun rambutnya sendiri dan memegangnya. Ia meringis, Zayn benar rambutnya sangat berminyak.


"Padahal aku baru saja mencucinya tiga hari yang lalu." batinnya.


Setelah melewati keheningan yang cukup lama, akhirnya mereka sampai di depan kostan Nara. Zayn menghentikan mobilnya di tempat seperti biasanya dan Nara langsung turun.


Zayn membuka kaca mobilnya, "Jangan lupakan ucapanku tadi dan besok kita bicara di ruanganku, ada hal yang harus aku bicarakan denganmu." ucapnya.


Nara menganggukkan kepalanya, "Baik dok aku mengerti."


"Baguslah." gumam Zayn dan langsung menutup kembali kaca mobilnya.


Zayn langsung menjalankan mobilnya tanpa pamit terlebih dahulu kepada Nara. Wanita itu langsung menghela nafasnya lega saat Zayn sudah pergi, ia berjalan menuju ke kostannya dengan kesal.


"Hah, dia benar-benar membuatku kesal." gerutunya.

__ADS_1


...πŸ’œπŸ’œπŸ’œ...


Keesokan harinya Nara dan Zayn masuk ke dalam rumah sakit dengan santai, orang-orang langsung memberikan jarak dan menghindar saat Zayn lewat dan membungkuk hormat kepada petinggi di rumah sakit ini serta Nara sebagai calon nyonya besar disini.


Hanya saja Nara masih tidak nyaman dengan semuanya, mendapatkan penghormatan dari orang-orang padahal ia tidak melakukan apapun.


Sungguh Nara tidak enak karenanya.


"Baguslah kau mendengar ucapanku kemarin." ucap Zayn saat mereka sampai di depan ruang praktek Zayn.


Pria itu sudah terlambat untuk melakukan operasi pagi ini jadi ia tidak ke ruangannya melainkan ke ruang prakteknya hanya untuk mengambil snellinya dan Aeri yang sudah siaga di depan pintu sambil membawa laporan medis pasien.


Nara menganggukkan kepalanya, baguslah jika Zayn tidak komplain apapun pikirnya.


Namun Nara sangat kesal karena Zayn ternyata memintanya menggunakan gaun yang cukup terbuka, dengan potongan yang memperlihatkan setengah pahanya dan juga bahu yang terbuka.


Oh Nara sangat membenci gaun ini apalagi heels tinggi yang digunakannya dan rambutnya yang terus terusan jatuh kedepan karena digerai.


"Kau tunggulah di dalam, ada televisi yang bisa menjadi temanmu. Aku ada operasi besar sekarang dan akan selesai paling cepat lima jam lagi."


Nara terkejut mendengarnya, mulutnya refleks terbuka.


"Tutup mulutmu atau nyamuk akan masuk ke dalam." kata Zayn.


Nara langsung menutup mulutnya sendiri, "Baiklah aku akan menunggumu disini." ucapnya.


"Jangan kemana-mana bahkan menemui pria yang waktu itu. Aku tau dia ada syuting di rumah sakit ini. Ingat ucapanku!" tegas Zayn dan langsung melenggang pergi.


Nara menghela nafasnya pelan mendengarnya, ia masuk ke dalam ruang praktek Zayn dan duduk di salh satu sofa yang ada disana.


"Ouhh... sungguh menyebalkan, membosankan ada disini." kesalnya.


Nara melepaskan heelsnya, tidak ada Zayn artinya tidak ada kewajiban untuknya memakai heels tersebut.


Nara mengeluarkan ponselnya dan memainkannya untuk mengusir rasa bosannya.


3 jam kemudian...


"Lima jam.. kau harus duduk disini lebih dari lima jam untuk menunggu Zayn.." gumam Nara.


"Masih ada dua jam lagi Nara.. tapi punggungku pegal sekali duduk terus disini." ringisnya.


"Apa operasi yang dia lakukan? aku baru tau kalau dokter melakukan operasi sampai selama itu." pikirnya.


Ceklek

__ADS_1


Nara langsung menatap ke arah pintu saat mendengar suara pintu terbuka dan terkejut saat melihat mommy Fey tengah berdiri di depannya sambil tersenyum lebar.


"Mom-mommy?" pekiknya kaget.


__ADS_2