Perfectionist Husband

Perfectionist Husband
Lain kali ajak aku


__ADS_3

Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗


Yuk tinggalkan jejak!


Selamat membaca🤗🤗🤗🤗


...💜💜💜...


Nara menghentikan mobilnya begitu sampai di perbukitan, kedua orang tuanya dimakamkan ditempat ini bersama dengan puluhan korban lainnya.


Korban pesawat jatuh, korban yang tidak berhasil diselamatkan..


Nara keluar dari mobilnya, membawa dua buket bunga yang tadi telah dibelinya. Ia menatap jejeran batu nisan di depannya dengan nafas berat.


Baru berdiri disini saja rasanya Nara ingin menangis, menangisi nasibnya. Kenapa tidak dirinya saja yang meninggal waktu itu?


Itulah pertanyaan yang belum Nara temukan jawabannya. Mengapa ia diselamatkan oleh Tuhan, sedangkan kedua orang tuanya tidak.


Kenapa dirinya harus menjalani kehidupan yang sulit seperti ini? Nara selalu berdoa, ingin memiliki kehidupan yang baik, bisa berkumpul dengan kedua orang tuanya di kehidupan yang akan datang.


Berharap reinkarnasi dari dirinya bisa hidup dengan sangat bahagia di masa depan.


Nara melangkahkan kakinya berjalan mendekati makam kedua orang tuanya. Sinar senja di sore hari menambah kegalauan di hati Nara.


Dulu ia sering menangis saat senja, saat dirinya mengunjungi kedua orang tuanya seperti sekarang. Senja, artinya matahari akan beristirahat sejenak, membiarkan bulan untuk bergantian menyinari bumi.


Dan kegelapan malam akan menyelimuti semuanya, termasuk rindunya.


"Ayah.. ibu.. Nara datang lagi." ucapnya lirih dan air matanya menetes.


15 tahun lamanya ia sendirian, kini hidupnya terasa lebih baik dengan kehadiran mommy Fey dan juga Zayn walaupun suaminya itu masih membuatnya kesal setiap saat.


Nara meletakkan buket bunganya diatas makan ayah dan satu lagi ia letakkan di makam ibunya.


"Ayah, ibu.. sudah lama sekali aku tidak kesini ya?" tanyanya.


Tidak, bulan lalu Nara baru saja kesini saat dipecat dari pekerjaannya sebelum bekerja di cafe.


Nara duduk bersandar diantara makan ayah dan juga ibunya.


"Aku baru saja menikah kemarin yah, ibu.. aku menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak mencintaiku, dan akupun tidak mencintainya."


"Maafkan Nara yah, ibu.. Nara belum bisa menjalani kehidupan yang baik." ucapnya, air matanya kembali mengalir.


"Nara berjalan ke altar diantar oleh paman.. Nara sebenarnya tidak mau, tapi hanya dialah yang Nara miliki satu-satunya sebagai saudara ayah."


"Nara bahkan masih sedih karena tidak ada satupun benda peninggalan ayah dan ibu yang Nara punya, Nara dititipkan dipanti begitu saja." lanjutnya.


"Ayah, ibu.. kalian pasti ingin tau siapa laki-laki yang menikah denganku kan? sayangnya aku tidak bisa mengajaknya kesini, dia tidak akan mau datang ke tempat ini bersamaku."

__ADS_1


"Dia seorang dokter bu, dia bekerja di rumah sakit milik keluarganya. Dia benar-benar kaya, dan dia memiliki mommy yang berhati baik. Mommy menganggapku seperti anaknya sendiri bu."


"Nama suamiku Zayn ayah, ibu.. dia sedikit dingin dan juga mengesalkan, namun dia berhati baik... dia memberikanku tempat tinggal dan juga uang untuk memenuhi kebutuhanku setiap harinya." lanjutnya.


Sore itu Nara terus bercerita kepada ibu dan ayahnya, apa yang telah ia alami selama sebulan terakhir ini. Banyak sekali ternyata hal yang ingin ia ceritakan.


Hingga matahari benar-benar hilang ditelan bumipun, Nara masih diam ditempatnya. Ia sama sekali tidak takut walaupun dirinya berada di pemakaman.


Drtt.. Drrtt...


Nara merogoh ponselnya yang ada di dalam tas, nomor tidak dikenal.


"Halo?" tanya Nara.


"Nyonya Nara, ini aku Aeri." ucapnya.


Nara mengerjapkan matanya, kenapa Aeri menghubunginya?


"Aeri ada apa? em.. bicara santai saja seperti dulu.. aku tidak suka dengan panggilan nyonya."


Tampak diam sejenak di ujung sana sebelun akhirnya Aeri bergumam, "Bolehkah begitu?" tanyanya.


"Tentu saja boleh, aku lebih senang kita berbicara dengan santai Aeri."


"Baiklah, Nara.. kau ada dimana sekarang?" tanya Aeri.


"Aku? aku sedang berada dipemakaman kedua orang tuaku." jawabnya.


"Ada apa Aeri? kenapa kau bertanya?" tanyanya.


"*Ah.. itu Nara.. dokter Zayn ingin kau menyiapkan makan malam untuknya dan membawakannya kerumah sakit." ucap Aeri.


"Sekarang dokter Zayn masih berada di dalam ruang operasi dan aku yang diminta untuk menghubungimu. Dia sepertinya tidak akan pulang kerumah dan tidak sempat untuk makan, bisa kau kembali sekarang?" tanyanya*.


Nara melirik arlojinya sendiri, butuh waktu cukup lama menempuh perjalanan dari sini untuk kembali ke kota dan butuh waktu untuk dirinya bersiap-siap dan memasak makanan.


Bisa saja Nara membeli makanan diluar tapi Zayn pasti tidak akan mau memakannya.


"Sepertinya aku tidak bisa Aeri, akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk aku bisa datang kesana." tolaknya.


"Tidak apa Nara, datang saja walaupun tengah malam. Dokter Zayn sangat sulit untuk diminta makan, tapi jika kau yang memintanya dan membawakannya makanan, pasti dia akan mau karena kau istrinya." ucapnya.


Nara menggigit bibirnya sendiri, "Karena aku istrinya?" gumamnya.


"Aku harus kembali bekerja, segera datang kesini ya Nara, dokter Zayn pasti menunggumu." ucapnya.


Aeri langsung memutuskan sambungan teleponnya, Nara menatap sekelilingnya. Sudah malam.


Nara menatap lagi makam kedua orang tuanya, "Ayah, ibu.. Nara pamit dulu ya... Nara akan kembali lagi kesini nanti." ucapnya.

__ADS_1


Nara berdiri lalu segera berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir.


Nara melajukan mobilnya dengan cepat untuk kembali ke apartement dan memasak makanan untuk Zayn.


Hah, pria itu... ck ck ck..


Apa Zayn yang memintanya untuk memasak makanan dan membawanya ke rumah sakit?


Hah, pasti iya!


"Dia tau cara membuatku kesulitan." ucap Nara.


Nara sampai di apartement pukul setengah 9 malam, ia langsung buru-buru masuk ke dalam unit apartementnya dan membersihkan diri, menggunakan pakaian kasual berupa kaos longgar dan juga celana jeans yang baru dibelinya tadi.


Nara bosan menjadi anggun mengguanakan gaun.


Dengan cekatan Nara membuatkan makanan untuk Zayn dan juga untuk dirinya. Sejak tadi, ia belum memakan apapun.


Begitu masakan selesai, Nara menatanya di dalan kotak makanan sambil mengisi perutnya sendiri dengan makanan.


Barulah setelah itu Nara berangkat menuju ke rumah sakit, pukul setengah 11 malam.


Dan Nara sampai di rumah sakit tepat sebelum tengah malam, melelahkan sekali pikirnya.


Nara masuk ke dalam rumah sakit, sepi sekali. Hanya ada beberapa perawat dan juga dokter yang berjaga di stase dan juga berlalu lalang.


Tidak ada pengunjung karena memang jam kunjungan sudah habis.


Nara langsung naik ke ruangan Zayn, masuk ke dalam dan membuka pintu ruangan pria itu.


Kosong.


"Apa dia masih bekerja?" gumamnya.


Bahkan Aeri pun tidak terlihat, mereka tidak ada di bawah juga.


Nara meletakkan makanannya diatas meja, ia duduk sebentar bersandar pada kursi.


Ah lelah sekali, tubuhnya hampir remuk karena harus bolak-balik kerumah sakit dan tanpa disadari Nara terlelap di kursi.


Jam 12 malam barulah Zayn kembali ke ruangannya setelah selesai mengecek pasiennya. Selesai operasi, ia langsung lanjut mengecek pasien tanpa beristirahat terlebih dahulu.


Melelahkan sekali.


Ceklek


Zayn membuka pintu, disana Nara tengah tertidur dikursi. Posisi yang bisa membuat seluruh tubuhnya kaku dan pegal.


Zayn mendekat, ia sudah mendengar dari Aeri bahwa Nara pergi ke pemakaman kedua orang tuanya sendirian hingga malam.

__ADS_1


"Lain kali ajak aku saja, jangan sendirian." ucap Zayn.


__ADS_2