
"Dimana menantuku? dimana anakku? dimana mereka berdua?" tanya Fey dengan heboh begitu sampai dirumah sakit.
Ia ingin tau dimana sekarang anak dan menantu kesayangannya berada.
Perawat yang tadi ikut menangani Nara sebelum masuk ke rumah sakit kebetulan lewat di depan Fey, ia langsung mendekat dan membungkuk hormat kepada Fey.
Walaupun Zayn pemilik rumah sakit ini dan penguasanya sekarang, tapi ibunya tetap harus di hormati dengan baik disini.
Seluruh keluarga harus di hormati disini.
"Permisi ibu, dokter Zayn sedang mengoperasi istrinya di ruang operasi." kata perawat tersebut.
Fey bernafas lega setelah salah satu perawat memberikannga informasi.
"Dimana ruang operasinya? antarkan aku kesana." kata Fey.
Perawat tersebut mengangguk dan langsung mengantarkan Fey menuju ke ruang operasi Nara.
Begitu sampai disana perawat langsung meninggalkan Fey di depan ruangan sendirian. Wanita paruh baya itu duduk di kursi dengan wajah lesunya.
Lampu yang masih menyala di pintu ruangan menandakan jika operasi masih berlangsung.
"Hah.. kenapa harus disaat hari natal seperti ini? padahal aku sudah berbelanja banyak barang untuk mereka berdua sebagai hadiah natal." gerutunya.
Fey menatap lagi ke arah pintu dengan wajah sedih, "Bagaimana keadaan Nara di dalam? dia baik-baik saja kan?" gumamnya.
Fey akhirnya menunggu hingga setengah jam lebih ia duduk disana barulah Zayn keluar ditemani dengan salah satu rekan dokternya yang membantu proses operasi.
"Mom?" panggilnya.
Fey langsung tersentak dan menatap sang anak dengan wajah antusias.
"Bagaimana keadaan Nara? dia baik-baik saja kan? dan bagaimana operasinya? semuanya lancar? dimana Nara sekarang? dia masih di dalam?" tanya Fey beruntun membuat Zayn langsung menatap mommynya dengan wajah malas.
Heran sekali kenapa mommynya bisa seberisik ini pikirnya.
Untung saja mommynya.
Jika bukan pasti Zayn sudah mengusirnya dari sini.
"Bisakah kau bertanya satu persatu mom? kau hanya membuat kepalaku sakit jika seperti itu." tanya Zayn dengan sedikit sindiran.
Fey langsung menarik nafasnya dalam, hah ia lupa jika anaknya tidak seperti anak orang lain yang baik dan perhatian.
"Bagaimana operasinya? apakah semuanya lancar?" tanyanya.
Ya, menurut Fey hal yang paling penting adalah operasi ini. Lancar atau tidaknya.
"Tentu saja, aku adalah salah satu dokter terbaik di kota ini dan jika terjadi sesuatu di dalam aku tidak akan keluar dengan tenang seperti ini." jawab Zayn.
Ah ya, benar sekali.
__ADS_1
"Ah.. begitu. Lalu dimana Nara sekarang?" tanya Fey.
"Di dalam, ia akan dibawa ke ruang transisi dulu untuk dipantau keadaannya pasca operasi setelah itu jika Nara tidak menunjukkan tanda-tanda efek samping anestesi maka ia akan langsung dibawa ke ruang perawatan." jelasnya.
Fey mengangguk mengerti, bukan baru pertama kali ia mendengar mengenai hal ini. Ia sudah lebih dari seribu kali menginjakkan kakinya di rumah sakit ini, ia hapal betul prosedur yang harus dilakukan oleh dokter walaupun dirinya bukanlah seorang dokter.
"Lebih baik mom menunggu diruangan Nara saja atau pulang dahulu ke mansion." ucap Zayn.
Tentu saja hal itu langsung membuat Fey mendelikkan matanya, enak saja pikirnya. Dirinya sudah bersusah payah datang ke rumah sakit di cuaca dingin seperti ini, Zayn malah memintanya untuk pulang.
"Tidak, mommy akan menunggunya di ruang perawatannya saja, atau mommy pergi ke taman saja.". tolaknya.
Zayn mengerutkan keningnya, ia menatap ke arah taman yang tertutupi oleh salju.
Tidak.
Bukan ide yang bagus berada disana di cuaca seperti ini pikirnya.
"Tidak, diluar dingin lebih baik mom pergi ke kafetaria saja dan menikmati secangkir kopi hangat disana." kata Zayn dengan wajah datarnya.
Setelah itu Zayn membungkukkan tubuhnya sedikit kepada mommynya dan langsung melenggang pergi.
Fey hanya bisa membuang nafasnya saja sembari tersenyum. Zayn itu perhatian walau malu untuk memperlihatkan dan mengakuinya.
Hah... manis sekali.
...πππ...
Ia juga sudah baik-baik saja, Zayn memastikan itu.
"Apakah sakit?" tanya Fey pada menantunya.
Nara menggelengkan kepalanya, "Tidak mom, tidak sakit." jawabnya.
"Benarkah?"
Nara menganggukkan kepalanya.
"Kau lapar? ingin mommy bawakan makanan?" tanya Fey.
Nara mengerjapkan matanya, perutnya memang lapar sejak tadi dan perawat tidak membawakannya makanan sama sekali.
"Tidak apa mom? aku tidak enak jika mengatakannya padamu." tanyanya.
"Tidak apa, ingin mommy belikan apa?" tanyanya dengan lembut sembari mengelus kepala Nara.
Feylah yang menemani Nara diruangannya, sejak tadi Zayn tidak terlihat sama sekali dimana kehadirannya.
"Aku ingin sup rumput laut dan juga kue beras mom.." cicitnya.
Ah sungguh Nara ingin sekali memakannya. Pasti sangat enak pikirnya bisa menikmati hangatnya sup rumput laut dan juga pedasnya kue beras.
__ADS_1
Bahkan Nara sampai menelan ludahnya sendiri membayangkan betapa enaknya makanan itu.
Zayn pasti tidak akan mengizinkannya makan sembarangan mulai sekarang dan ini kesempatan untuk Nara.
Fey tersenyum mendengarnya.
"Itu saja? baiklah mommy akan menyuruh supir untuk membelinya sekarang." ucapnya sembari mengambil ponselnya.
Namun tiba-tiba saja Zayn berada di samping mommynya dan menyambar ponsel Fey dengan cepat.
"Zayn!!!" pekik mommynya kaget.
Zayn hanya memasang wajah datarnya saja lalu menyimpan ponsel mommynya di dalam saku celananya.
"Kau sudah selesai bekerja?" tanya Nara kaget.
Zayn melirik ke arah Nara, "Sepertinya efek anestesi membuatmu lupa. Aku libur hari ini." jawabnya.
Nara mengerjapkan matanya, ah benar sekali. Kenapa dirinya sebodoh ini.
"Ah aku lupa, kau seharusnya berada dirumah dan bukan dirumah sakit disaat seperti ini. Karena aku, kau harus disini dan mengurus keperluanku." ucapnya.
"Tidak masalah." jawabnya.
Fey menaikkan sebelah alisnya mendengarnya, kenapa anaknya ini baik sekali dengan istrinya dan tidak dengan dirinya pikirnya.
Hah pilih kasih sekali batin Fey.
"Kenapa kau mengambil ponsel mommy, Zayn?" tanya Fey.
"Karena mommy akan memesan makanan untuk Nara." jawabnya.
"Nara belum boleh makan sampai ia buang angin, jadi aku akan mengajak Nara berjalan pagi sampai ia buang angin." ucapnya.
Nara langsung melongo mendengarnya sedangkan Fey menepuk dahinta sendiri.
Fey lupa tentang itu.
"Aku sudah membeli makanan untuk mom, silahkan dinikmati." ucapnya sembari meletakkan sebungkus makanan di atas meja.
Setelah itu Zayn langsung mengulurkan tangannya ke arah Nara yang wajahnya sudah memerah padam.
"Ayo." ajaknya.
Nara mengerjapkan matanya, 'Astaga bagaimana bisa Zayn mengajakku dengan wajah tenang dan datarnya itu? buang angin, mana mungkin aku bisa buang angin dengan begitu mudah di depannya? tidakkkkkkk!!!" teriak Nara dalam hatinya.
Zayn menyunggingkan sedikit senyumannya, seolah ia tau apa yang Nara pikirkan.
"Tak apa, aku senang jika kau malu. Artinya kau masih manusia biasa." kata Zayn sembari menarik tangan Nara dan membantunya untuk duduk.
"Kau selalu bertindak seolah tak tau malu di depanku, jadi tidak apa jika sekarang kau malu di depanku. Bagus sekali." kata Zayn sembari mengulum senyumnya dan menuntun Nara untuk keluar dari ruangannya.
__ADS_1