
Nara menganggukkan kepalanya, "Kau benar, terima kasih Aeri sudah menanyakannya kepadaku. Aku merasa sedikit lebih baik sekarang." ucapnya berterima kasih.
Aeri mengangguk, "Bukan hal besar untukku."
"Kalau begitu, aku ingin mencari udara segar sebentar di luar, bolehkan?" tanyanya.
Aeri menganggukkan kepalanya tanpa ragu, "Tentu saja, kau bisa berjalan ke arah kiri dan tidak jauh dari sana kau akan menemukan taman rumah sakit, silahkan mencari udara segar disana."
"Ah... taman itu, ya aku beberapa kali melihatnya tapi belum pernah berjalan-jalan disana. Baiklah, aku permisi dulu ya Aeri, aku akan kembali nanti." pamit Nara dengan senyum tipis.
"Ya, nikmatilah waktumu." ucap Aeri.
Nara langsung mengambil tas miliknya dan berjalan menuju ke arah taman, dengan langkah pelan ia menyusuri lorong rumah sakit.
Sepanjang ia berjalan, perawat maupun dokter yang berpapasan dengannya selalu menunduk hormat kepadanya.
Seperti sekarang.
"Ah.. halo nona." sapa salah satu dokter residen sambil menunduk kepada Nara.
Nara ikut menundukkan kepalanya, "Ah halo, jangan menyapaku seperti itu." tolak Nara secara halus.
Dokter residen itu menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak bisa nona, kau adalah calon istri dari pemilik rumah sakit ini. Bagaimana bisa kami tidak bersikap hormat kepadamu?" ungkapnya.
Nara tersenyum kikuk mendengarnya, "Tetap saja jangan membungkuk dan memanggilku nona, cukup panggil aku Nara saja." pintanya lagi.
"Maafkan saya nona Nara." kata dokter itu sembari menunduk.
Nara menghela nafasnya pelan dan memaksakan senyumannya sendiri, "Baiklah, kau boleh kembali bekerja sekarang, maaf sudab membuang waktumu." kata Nara pelan.
"Tidak apa-apa nona, kalau begitu saya permisi." ucapnya dan membungkuk dengan hormat.
Dokter residen itu langsung melenggang pergi, Nara hanya bisa menghela nafasnya pelan. Dalam sekejap hidupnya bisa berubah di tangan Zayn.
Nara kembali berjalan, ia membuka pintu kaca dan langsung berada di taman terbuka rumah sakit tersebut. Taman yang cukup luas dan bisa dinikmati oleh ratusan orang sekaligus.
Berbagai macam bunga dengan bentuk, warna dan jenis yang berbeda-beda tampak saling menyatu satu sama lain, beberapa pohon besar juga cukup rimbun untuk menghalau sinar matahari.
Dengan langkah gontai Nara berjalan dan duduk di salah satu bangku kosong yang dibelakangnya ada sebuan pohon berukuran sedang.
Sehingga sinar matahari masih bisa menjangkau dirinya walaupun sedikit.
__ADS_1
"Aku menjadi tidak enak berada disini." gumam Nara saat beberapa perawat berjalan di depannya sambil membungkuk hormat.
"Apa aku seorang dewi? kenapa mereka harus membungkuk kepadaku?" gumamnya lagi.
Dulu Nara lah yang selalu membungkuk dengan hormat dan sopan kepada orang lain, ia diajarkan oleh pengurus panti asuhan agar selalu bersikap baik terhadap orang lain terutama orang yang lebih tua darimu.
Bertahun-tahun ia menjalani hidup seperti itu, di panti asuhan saat dirinya menginjak usia SMA pun Nara harus menjaga adik-adiknya yang ada di panti. Sepulang sekolah Nara akan membantu adik-adiknya mengerjakan tugas sekolah, menyiapkan makan siang untuk mereka semua dan merapikan tempat tidurnya.
Tak elak, saat dirinya keluar dari panti asuhan pun... Nara selalu patuh dan mengerjakan banyak hal, pertama kalinya ia bekerja di sebuah restoran kecil yang menjual makanan ayam goreng.
Bosnya selalu memintanya untuk melakukan banyak hal, membuat pesanan, berjaga di kasir bahkan terkadang ia harus mengantarkan pesanan kepada pembeli.
Hingga Nara selalu di pecat karena hal-hal sepele, ia dianggap tidak becus bekerja atau difitnah melakukan hal-hal yang pantas untuk di salahkan.
"Hah.. akhirnya aku berakhir disini." gumamnya lagi sambil menatap dedaunan yang bergoyang.
Tiba-tiba saja seekor kupu-kupu terbang di atas kepalanya, terbang di sekelilingnya terus-menerus.
Nara tertawa melihatnya, "Kau mengejekku ya?" tanyanya.
Kupu-kupu itu kembali terbang mengelilingi Nara, ia hinggap di ujung sepatu Nara.
Kupu-kupu itu terbang, ia terbang menjauh dari Nara dan menghilang dibalik pohon besar.
"Ya, aku iri.. aku iri denganmu.. andai aku memiliki kehidupan yang lebih baik." gumamnya dengan wajah sedih.
"Bisakah aku hidup menjadi kupu-kupu saja dikehidupan selanjutnya?" gumam Nara sedih.
"Kau ingin menjadi kupu-kupu? kenapa?" tanya seseorang dan duduk di samping Nara.
Nara langsung tersentak kaget mendengar suaranya, ia menatap ke sampingnya dan membelalakkan kedua matanya.
"Abian!!!" pekik Nara senang.
Nara langsung memeluk laki-laki disampingnya dengan erat seolah ada kerinduan yang terpendam di dalam hatinya.
"Bagaimana kabarmu Nara?" tanya Abian.
Nara melepaskan pelukannya, ia tersenyum dengan senang karena bisa melihat Abian lagi setelah sekian lama.
"Aku baik-baik saja Abian, kau kemana saja? kenapa tidak mengabariku sedikitpun?" tanyanya.
__ADS_1
Abian terkekeh, ia mengelus pelan rambut Nara.
"Maafkan aku Nara, kau tau kan kalau aku sekarang sudah menjadi seorang aktor terkenal? aku sangat sibuk." jawabnya.
Nara memukul lengan Abian pelan, "Tetap saja seharusnya kau mengabariku. Sejak kau keluar dari panti asuhan, kau tidak pernah memberikanku kabar sedikitpun, aku pikir kau melupakanku."
Delapan tahun yang lalu, saat Abian dan juga Nara sama-sama berumur 17 tahun. Waktu itu ada seorang manager datang ke panti asuhan dan mencari Abian.
Ia mengatakan bahwa dirinya sudah beberapa hari mencari tahu tentang Abian, mengikutinya karena melihat wajah tampan Abian.
Dan akhirnya Abian dikontrak untuk menjadi seorang aktor, ia keluar dari panti asuhan saat itu dan pindah mengikuti manager tersebut.
Nara waktu itu merasa cukup sedih, teman sebayanya kini sudah menjalani hidupnya sendiri diluar sana. Dan setahun penuh Abian tidak pernah mengiriminya kabar sama sekali kecuali iklan dan juga film yang dibintangi oleh Abian di televisi yang memberikan Nara kabar.
"Maafkan aku Nara, oh ya apa yang kau lakukan disini?" tanyanya.
"Ahh.. aku?"
Abian menganggukkan kepalanya, "Aku melihat seseorang duduk sendirian dari belakang dan aku bisa langsung tau jika itu adalah dirimu. Karena itu aku mendekat." jelasnya.
"Aku hanya mencari udara segar saja." jawab Nara singkat.
Tidak, Nara tidak tahu bagaimana harus memberitahu Abian tentang pertunangannya dengan Zayn.
"Kau sendiri? kenapa kau ada disini?" tanya Nara balik.
Abian mengulum senyum mendengarnya, "Kau belum tau? aku akan segera memulai syuting di rumah sakit ini. Aku akan kembali bermain drama sebagai seorang dokter, bagaimana menurutmu?"
Nara menutup mulutnya sendiri tak percaya, "Benarkah? kau akan bermain film? wah.. itu berita yang bagus Bian." ungkap Nara senang.
Sedangkan di ujung pintu kaca, Zayn tengah menatap Nara dengan wajah datar dan kesal.
Aeri yang ada dibelakangnya pun bingung harus melakukan apa kepada atasannya itu.
"Panggil Nara, aku memintanya ke rumah sakit agar aku bisa mengawasinya bukan untuk berpacaran dengan laki-laki itu." ucap Zayn kesal.
"Ba-baik dokter."
Aeri langsung berjalan menghampiri Nara dengan Zayn yang terus mengawasi mereka dari tempatnya.
"Nara..." panggil Aeri.
__ADS_1