
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar๐ค
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca๐ค๐ค๐ค๐ค
...๐๐๐...
"Ah ya aku sampai lupa memberitahumu." kata Zayn.
Nara menaikkan sebelah alisnya, "Memberitahu apa?" tanyanya.
Zayn menghabiskan tehnya hingga tandas. Ah nikmat juga.
"Besok kita akan akan berangkat ke desa, kau tidak lupa kan? lusa peletakan batu pertama." kata Zayn.
Nara ber-oh ria. Ah benar juga, ia sampai lupa jika Zayn mengajaknya untuk pergi ke desa.
"Jadi siapkan barang-barangmu, aku akan menjemputmu besok pagi untuk berangkat kesana." kata Zayn.
Nara mengerutkan keningnya, "Menjemputku besok pagi, memangnya kau akan kemana?" tanyanya.
"Menginap di rumah sakit, ada banyak pekerjaan di rumah sakit jadi aku tidak akan pulang nanti." jawabnya.
Nara langsung mendengus kesal mendengarnya, lihatkan? dia malam ini menginap lagi dirumah sakit. Hah...
"Kau kenapa? wajahmu di tekuk begitu?" tanya Zayn.
Nara menggelengkan kepalanya, "Tidak ada apa-apa." jawabnya.
Zayn mengangguk paham, "Ya sudah aku berangkat dulu sudah terlambat, Aeri pasti sudah merengut kesal sekarang." katanya.
Zayn langsung mengambil tasnya dan berjalan meninggalkan Nara yang masih diam berdiri di dekat meja makan.
"Apa itu? dia pergi begitu saja?" gumam Nara kesal.
Nara langsung berbalik dan memasukkan selai roti ke dalam kulkas lagi.
Cup
Nara tersentak kaget saat tiba-tiba saja Zayn mengecup keningnya.
"Aku melupakan ini tadi." katanya.
"Jangan lupa cucika piring dan gelasnya ya, jangan sampai kotor." kata Zayn.
Pria itu langsung berlari lagi, Nara tersenyum senang.
"Pandai sekali membuatku luluh." gumam Nara senang.
...๐๐๐...
Keesokan siangnya Nara dan Zayn sudah berada di desa terpencil yang akan didirikan sebuah rumah sakit oleh Zayn.
Setelah lima jam berkendara bersama dengan Nara dan sesekali berargumen panjang.
"Wah.. segar sekali udaranya." kata Nara senang begitu ia keluar dari dalam mobil.
Zayn pun ikut keluar, ia menatap ke sekelilingnya. Masih ada banyak pepohonan hijau dan rumah-rumah penduduk desa juga tidak terlalu rapat.
"Kita akan menginap dimana?" tanya Nara.
Zayn menunjuk ke salah satu rumah yang besar, rumah paling besar yang ada disana.
__ADS_1
"Kita menumpang disana." kata Zayn.
Nara menarik nafasnya dalam, dari semua rumah Zayn memilih rumah yang besar dan cantik itu.
Sudah Nara duga, pasti Zayn tidak akan mau tinggal dirumah penduduk biasa. Pasti dia mau tinggal dirumah yang bersih dan rapi dan Nara yakin Zayn sudah melakukan ini itu.
Meminta pemilik rumah untuk membersihkannya dengan teliti.
"Sudah melihat-lihatnya?" tanya Zayn.
Narw cengengesan, "Sudah, ayo." jawabnya.
Nara dan Zayn langsung membawa tas mereka, hanya beberapa baju saja karena Zayn dan Nara hanya dua hari berada disini.
Peletakan batu pertama besok pagi dan sore menjelang malamnya mereka berdua langsung kembali ke rumah untuk beristirahat.
Begitu masuk ke dalam rumah, Zayn dan juga Nara langsung disapa hangat oleh pemilik rumah.
Hanya seorang wanita tua.
"Nenek hanya tinggal sendiri disini?" tanya Nara.
Nenek itu mengangguk, "Ya hanya sendiri saja." jawabnya.
Walaupun sudah tua tapi nenek tersebut masih terlihat sehat, sangat sehat.
"Dimana kamar kami berdua nek?" tanya Zayn.
"Ah ya, ayo nenek tunjukkan." ajaknya.
Zayn dan Nara langsung masuk ke dalam sebuah kamar, tidak sebesar kamar Zayn ataupun Nara di apartement namun lumayan bersih.
Zayn yang tadinya berniat untuk marah jika kamarnya kotorpun langsung mengurungkan niatnya.
Zayn dan Nara langsung duduk berhadapan.
"Kita akan tidur disini? hah, tidak ada ranjang." kata Zayn.
Hanya ada sebuah kasur matras di tengah.
"Dokter.." panggil Nara.
"Hmm.. kenapa?" tanya Zayn.
"Cuaca sudah mulai dingin, musim dingin juga sudah mulai tiba. Bagaimana kau akan melanjutkan pembangunannya di cuaca sedingin ini?" tanyanya.
Nara tidak yakin para pekerja bisa membangun rumah sakitnya di cuaca dingin apalagi saat salju mulai turun.
"Aku akan merampungkan setengah pembangunannya dalam dua minggu." katanya santai.
Nara mengerjapkan matanya, "Dua minggu? tapi rumah sakit kan lumayan besar dokter bagaimana caranya kau bisa membangunnya hanya dalam dua minggu?" tanyanya.
"Aku mempekerjakan kurang lebih 100 pekerja sekaligus agar bisa selesai dengan cepat. Hanya membangun rumah sakitnya saja hingga berdiri, untuk yang lainnya akan diselesaikan setelah musim dingin."
Nara langsung melongo mendengarnya, 100 pekerja sekaligus? berapa bayaran yang Zayn keluarkan untuk itu?
Wah suaminya ini benar-benar..
"Uangku tidak akan habis jika dipakai untuk kebaikan." kata Zayn.
Nara berdecih, Zayn pikir dirinya melongo memikirkan uangnya akan habis apa.
"Ahh... sudahlah jangan berisik aku ingin tidur dulu." a
__ADS_1
kata Zyan dan langsung merayap ke atas kasur.
Nara menggoyang-goyangkan lengan Zayn, "Dokter.. kita akan pulang besok kan? ayo jalan-jalan saja hari ini." ajaknya.
Zayn bergumam, dasar Nara sudah berani mengganggu waktu tidurnya saja.
"Aku ingin tidur sebentar, kemarin aku tidak tidur sama sekali dan untungnya kita selamat sampai disini." katanya.
Mendengar itu Nara tak berani lagi mengganggu Zayn, ya sudahlah nanti saja jalan-jalan bersama dengan Zayn.
Daripada dirinya yang akan habis karena berani mengganggu suaminya.
Namun melihat Zayn tertidur pun sangat membosankan bagi Nara, tidak ada apapun yang bisa dia lihat disini dan sinyal juga tidak ada.
"Ah, lebih baik aku berjalan-jalan sendirian saja dulu." gumamnya.
Nara langsung keluar dari kamar, sebelum menutup pintunya Nara melongok ke dalam memastikan bahwa Zayn tidur dengan lelap.
Barulah Nara menutup pintunya dan berjalan ke luar.
"Kau ingin pergi berjalan-jalan?" tanya nenek itu saat berpapasan dengan Nara.
Nara tersenyum dan mengangguk, "Iya nek, saya ingin menikmati udara segar sejenak disini." jawabnya.
Nenek itu menatap Nara dari atas ke bawah.
"Kenapa pakaianmu tipis sekali? udara diluar lumayan dingin, jika berlama-lama kau bisa kedinginan dan sakit." tanyanya.
Nara pun menatap pakaiannya sendiri, "Tidak apa nek, saya sudah terbiasa memakainya."
"Tunggu sebentar." kata nenek itu kemudian pergi sebentar.
Lalu tak lama nenek itu kembali sambil membawa sebuah syal dan juga jaket yang terlihat cukup lama. Jaket khas orang tua kalau menurut Nara.
"Pakai ini dan pergilah jalan-jalan." kata nenek itu.
Nara tersenyum dan mengangguk, "Terima kasih nek." jawabnya.
Nara pun langsung memakainya dan berjalan keluar, berjalan dengan santai menikmati udara sejuk.
Nara baru berhenti di pantai, duduk di pinggiran sambil menikmati suara deburan ombak walaupun angin bertiup dengan kencang.
"Wahh.. jika aku salah satu perawat di rumah sakit Zayn, aku juga ingin ditugaskan disini. Aku pasti akan sangat betah tinggal di tempat senyaman dan seasri ini." gumamnya.
Sayang sekali tidak ada sinyal disini, heran kenapa masyarakat di desa terpencil ini bisa hidup tanpa koneksi internet sedangkan dirinya saja tidak bisa hidup tanpa internet di perkotaan.
Akhirnya Nara hanya mengambil beberapa gambar saja disana, memotret pemandangan pantai yang cantik dan juga berfoto selfie disana.
Barulah setelah itu Nara berjalan-jalan, berkeliling desa lagi dan anehnya ia malah membeli es krim di toko.
Padahal cuaca sudah cukup dingin..
"Kau yakin membeli es krim?" tanya penjualnya.
Nara mengangguk, "Iya aku yakin, tidak apa-apa pak." jawabnya.
Nara keluar sembari membawa seplastik jajanan ringan dan ditangan kanannya ada es krim lilin.
Nara duduk lagi dipinggiran pantai menikmati indahnya pantai sambil memakan es krimnya sendiri.
Sedangkan Zayn menggeliat gelisah karena tidak bisa tidur.
"Haish, sialan.. apa aku harus membawa ranjangku kesini agar bisa tidur?" gerutunya kesal.
__ADS_1