
Malam hari pukul 23:15
Nara membantu Zayn menyusun barang-barangnya dengan perlahan, operasi yang katanya hanya memakan waktu sebentar akhirnya selesai saat menyentuh waktu tengah malam.
Mommy Fey? sudah kembali ke mansion sejak sore tadi.
Ia lupa jika dirinya memiliki janji dengan teman-teman sosialitanya untuk menikmati jamuan makan malam sembari bermain golf.
"Sudah semua? ayo pulang." ajak Zayn.
Nara mengangguk, namun sebelum itu Zayn menghampirinya dan berdiri di depan tubuhnya dengan wajah datarnya.
Nara menaikkan sebelah alisnya, "Ada apa?" tanyanya.
Tanpa menjawab dan banyak bicara Zayn mengambil coat tebal milik Nara dan memakaikannya ke tubuh istrinya.
Kemudian memakaikan syal berwarna maroon tebal di leher Nara dan merapikan rambut halusnya.
Cup
"Ayo!" ajaknya dan segera berbalik.
Nara menipiskan bibirnya sendiri, mengulum senyum sembari menyentuh keningnya yang tadi mendapatkan kecupan hangat dari suaminya.
"Kau bisa berjalan dengan baik kan?" tanya Zayn memastikan.
Nara mengangguk, tentu. Ia bisa berjalan dengan baik sekarang.
"Tentu."
Nara dan Zayn pun berjalan beriringan keluar dari ruang inap Nara selama beberapa haro terakhir.
Senyum lebar langsung terbit di bibir Nara, "Terima kasih ruang inapku sudah menjadi saksi betapa membosankannya rumah sakit ini. Aku bebas sekarang!" batinnya.
Nara bersorak senang dalam hatinya sendiri, akhirnya udara segar dapat ia hirup kembali setelah sekian lama terkurung di dalam ruangan sempit tanpa apapun.
"Hah.. senangnya.." gumam Nara tanpa sadar saat mereka berada diluar.
Udara malam yang sangat dingin dimusim ini terasa begitu menyegarkan untuk Nara.
"Kau suka?" Celetuk Zayn sembari memasukkan barang-barang Nara ke dalam bagasi mobil.
"Oh suka, sudah lama aku hanya berbaring di dalam kamar saja, istirahat di atas ranjang rumah sakit."
Zayn berdecih mendengarnya sambil menutup bagasi dan beralih membukakan pintu untuk Nara.
"Kau baru enam hari disini, kurang dari seminggu. Bicaramu seolah-olah sudah berada disini setahun saja." sindirnya.
Nara berdecak mendengarnya kemudian masuk ke dalam mobil setelah melirik wajah datar Zayn yang tanpa ekspresi sama sekali.
Pria dingin tak berperasaan dan tak romantis.
Sembari melirik Zayn yang mengitari mobil, Nara berpikir sendiri bagaimana bisa ia menikah dengan pria dingin dan kaku seperti Zayn dan malah berakhir dengan mencintainya.
Gila? ya, begitulah menurut Nara.
Kadang ia juga berpikir betapa lucunya roda kehidupannya berputar.
__ADS_1
"Kenapa melirikku begitu? apa aku terlalu tampan menurutmu selama beberapa hari ini?" tanya Zayn.
Nara berdecak mendengarnya. PeDe sekali.
"Cih, terlalu percaya diri. Terlalu percaya diri juga tidak bagus untukmu dokter." sarannya.
"Benarkah?" tanyanya.
Zayn tidak terlalu menanggapi serius ucapan Nara, biarlah menurutnya asalkan istrinya itu senang saja.
Padahal dulunya ia selalu membals perkataan Nara, tapi sekarang tidak lagi.. sudah tidak.
"Kau ingin membeli makanan sebelum kembali ke apartement?" tanya Zayn.
Nara diam sejenak, ah dia sudah bebas sekarang. Ingin makan apa ya pikirnya..
Nara melirik ke arah luar jendela, cuaca dingin.. suasana tahun baru yant sebentar lagi akan berganti tahun.. tempat yang indah ubtuk dikunjungi..
Sungai Han.
"Dokter.." panggilnya sembari melirik Zayn yang sibuk menyetir.
Lihatlah betapa tampannya Zayn saat menyetir seperti ini.
"Panggil aku Zayn, aku suamimu bukan dokter yang merawatmu di rumah sakit." omelnya.
Nara mengulum senyumnya tanpa sadar mendengar Zayn mengomel padanya seperti itu.
"Baiklah aku akan memanggilmu Zayn saja."
Tidak kaget dan tidak heran, Zayn selalu tau apa yang Nara pikirkan.
"Sepertinya aku harus mencari tau latar belakangmu."
Zayn menaikkan sebelah alisnya bingung, apa maksudnya pikirnya.
"Mengapa kau berbicara seperti itu?"
"Kau selalu tau apa yang aku inginkan dan pikirkan. Menurutku kau mungkin saja seorang goblin? atau malaikat? atau makhluk berumur seribu tahun?" jelas Nara.
Zayn malah tertawa dengan keras mendengar apa yang baru saja Nara katakan. Goblin, malaikat, makhluk ribuan tahun? tidak masuk akal menurutnya.
"Bodoh."
Nara langsung bersungut mendengarnya, menaikkan kedua kakinya ke atas kursi dan memeluk kedua kakinya tersebut.
"Berhenti menonton drama. Cih, ntah apa yang kalian sukai dari drama-drama itu." gerutunya.
"Katakan kau ingin kemana dan makan apa malam ini. Karena ini tahun baru jadi aku izinkan makan diluar." tanyanya.
Yes!
"Sungai Han! aku ingin makan tteok disana dan juga sup hangat sembari melihat kembang api dari sungai Han yang indah." jelasnya panjang lebar dengan semangat membara.
"Tidak! tidak ada tteok pedas sama sekali. Kau lupa kalau baru saja operasi?" omelnya.
Hah.. Nara langsung terdiam dan merengut mendengarnya. Padahal ia sudah menelan ludaj membayangkan betapa nikmatnya memakan tteok pedas sekarang.
__ADS_1
"Tapi Zayn, akukan-"
"Tidak! untuk sekarang aku hanya memperbolehkanmu untuk makan kue ikan, corndog atau makanan lainnya yang tidak pedas sama sekali dan mengandung banyak cabai."
"Ah, bagaimana jika makan sup saja? sup baik untuk kesehatanmu." sarannya.
Hah, baiklah Zayn terserahmu saja pikir Nara.
...πππ...
Selang 30 menit, Zayn dan Nara sudah sampai di sungai Han. Pemandangan malamnya begitu indah tampak oleh mata.
Walaupun cuaca cukup dingin, masyarakat tetap banyak berkumpul di pinggiran sungai menikmati waktu bersama dan duduk di rerumputan.
Pasangan-pasangan muda banyak mengambil foto bersama disana, saling memeluk satu sama lain berbagi kehangatan dan cinta dari keduanya.
Ada pula keluarya harmonis yang membuat Nara tersenyum senang. Anak kecil berlari bersama dengan ayah dan ibunya.
Berbeda sekali dengan apa yang ia alami. Zayn dengan dinginnya berjalan di belakangnya dengan kedua tangan di dalan saku coatnya sendiri dan berusaha menghindar agar tidak bersentuhan dengan orang lain selama disini.
"Hah, kenapa ramai sekali." gerutu Zayn yant keluar untuk pertama kalinya.
"Sial, apa mereka tidak bisa menyewa kamar? kenapa berciuman ditempat umum?!" decak kesal Zayn untuk kedua kalinya.
Nara hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengarnya, pria berumur 30an ini ternyata kolot juga pikirnya.
"Bisa-bisanya mereka duduk dengan santai dan makan direrumputan itu? apa mereka tidak takut debu?bagaimana dengan kotoran yang berterbangan karena langkah kaki manusia?" gerutunya yang lain.
Zayn berdecak beberapa kali, "Sungguh tidak higienis, apa mereka tidak tau tingkat debu halus hari ini cukup tinggi? tidak bisa kubayangkan kuman yang berlalu lalang dan hinggap di makanan mereka, cih." komentar kasar akhirnya terjun dengan bebas dari bibirnya yang tertutup masker.
Baiklah, Zayn akan terus menggerutu sepanjang jalan jika dibiarkan.
"Hei jalan yang benar, kau hampir menyentuhku!" omel Zayn pada seorang gadis yang setengah mabuk dan hampir menyentuh lengannya.
Nara langsung berbalik dan menarik tangan Zayn agar segera menjauh dari sana.
Begitu mereka sampai di area yang sedikit sepi, Nara langsung menatap Zayn dengan tatapan sinis.
Tidak bisakah suaminya berbaik hati ditahun baru ini?
Mulutnya tetap saja pedas seperti biasanya.
"Zayn! kau masih belum bisa terbiasa dengan keramaian?" tanya Nara.
"Ya."
"Kita perlu konsul kembali dengan Jesslyn kalau begitu." pikirnya.
"Tapi bisakah kau berbaik hati sedikit padaku hari ini? jangan mengomel tidak jelas seperti tadi dan nikmati saja sisa waktu ditahun ini." omelnya.
"Ssstt... kau berisik."
Nara ingin membalas ucapan Zayn, namun bibirnya kembali terkatup saat kembang api saling bersahutan diatas langit.
Sorak ramai masyarakat yany senang menyambut tahun baru saling bersahutan bersamaan dengan suara ledakan kembang api dengab warna-warna indah yany terpancar diatas sana.
"Happy new year Nara." ucap Zayn sembari menatap istrinya.
__ADS_1