
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar๐ค
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca๐ค๐ค๐ค๐ค
...๐๐๐...
Begitu selesai melakukan apa yang diperintahkan oleh Zayn, Nara langsung berjalan menghampiri suaminya itu.
Zayn langsung mendongakkan wajahnya saat menciun aroma wangi sabun di dekatnya dan benar saja, Nara berada di sampingnya.
"Dimana kamarmu?" tanya Nara penasaran.
Zayn bangkit dari duduknya, "Ikuti aku." ucapnya.
Zayn berjalan menyusuri lorong yang pernah menjadi saksi saat ia membuat Nara menangis waktu itu.
Begitu sampai di depan pintu kamarnya, Zayn langsung membukanya namun ia berbalik badan dan menatap Nara tajam.
"Ingat! jangan macam-macam dan tetap jaga kebersihan disini atau aku akan langsung menendangmu dari kamarku." ancamnya.
"Jangan mendengkur, jangan mengences, tidur dengan posisi kalem dan diam."
Nara mengangguk-anggukkan kepalanya saja, tidak penting lagi.
Yang penting sekarang ia masuk ke dalam kamar Zayn. Ia penasaran bagaimana bentuk kamar seorang dokter yang mengidap penyakit OCD ini.
Apakah kamarnya sangat bersih hingga berkilauan? Nara ingin tau sekarang juga.
"Baiklah masuk!" kata Zayn.
Zayn masuk lebih dulu ke kamarnya dan setelah itu Nara mengikutinya dari belakang. Begitu masuk ke dalam dan menutup pintu Nara langsung dibuat takjub dengan desain interior dari kamar ini.
"Wah.." gumamnya takjub tanpa sadar.
Zayn tersenyum miring mendengarnya, "Jangan sentuh apapun dulu, aku ke kamar mandi sebentar." ucapnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada dikamarnya.
Nara menatap sekelilingnya, kamar Zayn begitu modern. Besar dari ruang tidurnya saja tiga kali lipat dari kamar yang ada di apartement Nara, belum lagi kamar mandi, walk in closet, dan juga ruang baca yang ada di sana.
Kamar Zayn juga di desain dengan banyak sekali lampu di setiap sisinya.
"Apa dia meletakkannya agar bisa melihat setiap kuman di sudut kamarnya?" gumam Nara saat menatap lampu-lampu tersebut.
Zayn juga tidak menyimpan banyak barang di kamarnya, hanya ada beberapa barang saja yang memang diperlukan oleh pria itu.
Zayn keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar setelah mencuci wajahnya.
__ADS_1
Ia berjalan masuk ke dalam walk in closet dannNara hanya diam saja menatapnya. Tak ingin berjalan kesana kemari karena takut Zayn akan marah padanya.
Dan begitu kembali Zayn sudah membawa dua buah guling lalu beberap bantal.
"Untuk apa guling dan bantalnya?" tanya Nara penasaran.
Pasalnya di atas ranjang saja sebelumnya sudah ada bantal dan dua guling disana. Cukup sebagai alas kepala untuk tertidur.
Zayn tak menjawab, ia menyusun bantal dan juga gulingnya di tengah ranjang membuat Nara mengerti.
Sebagai jarak!
Sialan Zayn.... ah Nara ingin marah rasanya.
Zayn memanggil Nara untuk mendekat setelah ia selesai menyusun bantal dan juga gulingnya.
"Kau tidur di sebelah sana." ucapnya sambil menunjuk ke arah ranjang yang kosong.
Nara bengong melihatnya, Zayn hanya memberikannya sedikit space sedangkan pria itu? mendapatkan bagian yang lebih banyak.
"Kau menyuruhku tidur disini dokter?" tanya Nara sambil menunjuk ke space ranjang yang sedikit.
Zayn mengangguk, "Ya, kau kan menumpang tidur di kamarku jadi aku tidak ingin berbagi lebih banyak denganmu."
Nafa menarik nafasnya dalam, pelit sekali suaminya ini.
Zayn mengambil selimutnya lalu segera membaringkan tubuhnya diatas ranjang sedangkan Nara masih berdiri menatap Zayn tak percaya.
"Kenapa diam saja? tubuhmu kan kecil jadi tidak salah jika aku memberikan ruang kosong yang sedikit juga, cepat tidur!" ucapnya.
Nara menghela nafasnya menatap Zayn yang sudah memejamkan kedua matanya dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Kau bahkan tidak memberikanku selimut." gumam Nara pelan lalu langsung berbaring di sisi ranjang yang lain.
"Ah dingin sekali. Berapa suhunya.." gumam Nara.
Karena bantal dan guling yang ditumpuk cukup tinggi, Nara dan Zayn tidak bisa melihat wajah satu sama lain.
Nara pun memejamkan kedua matanya dengan kaki meringkuk kedinginan, suaminya ini sepertinya sengaja menyetel ac dengan suhu rendah membuatnya kedinginan.
Dan Zayn dengan enaknya menggunakan selimut tebal.
Setengah jam berlalu, Nara benar-benar tertidur dengan baik, ia meringkuk dan kedinginan namun tidak berisik sama sekali karena takut Zayn akan menendangnya keluar dari sini.
Bisa tidur di ranjang pria ini saja sudah kemajuan yang sangat hebat bagi Nara, sudah cukup sampai disini saja hari ini dan Nara akan mencoba lain kali.
Zayn membuka kedua matanya, perlahan ia duduk di atas ranjang menatap Nara dalam diam.
__ADS_1
"Ck, menyusahkan saja." gumamnya.
Zayn turun dari atas ranjang perlahan takut jika Nara terbangun. Ia masuk ke dalam walk in closet lalh mengambil sebuah selimut tebal untuk Nara.
Begitu keluar dari walk in closet, Zayn menaikkan suhu ac dua derejat, lalu berjalan mendekat pada Nara dan menyampirkan selimut ditubuhnya hingga ke leher.
Zayn menghela nafas lega, "Dia tidur seperti orang mati apapun keadaannya." gumam Zayn.
Jujur, Zayn suka dan terbiasa tidur dengan kamar yang dingin walaupun akhirnya memakai selimut. Tapi malam ini ia mengalah setelah mendengar gumaman Nara dan tidak bisa tidur karena memikirkannya.
Zayn kembali ke sisi ranjang miliknya, lalu kembali berbaring dan memejamkan kedua matanya.
Namun matanya tak bisa tertutup, ia akhirnya memiringkan tubuhnya ke arab bantal dan guling yang disusunnya tinggi.
Perlahan Zayn menarik gulingnya ke arahnya menciptakan space yang lebih banyak untuk Nara.
Tidur di ranjang yang sama dan berbagi tempat, pertama kali bagi Zayn melakukannya dan pertama kali juga Nara tidak tidur sendirian setelah kepergian kedua orang tuanya.
Barulah setelah itu Zayn bisa tertidur dengan nyenyak, ia memejamkan kedua matanya dan bermimpi indah malam itu.
Begitu pula dengan Nara, ia merasakan kehangatan dari selimut yang Zayn berikan dan mengantarkannya pada mimpi indah pula,
Bertemu dengan kedua orang tuanya di dalam mimpi dan entah bagaimana Nara juga tidak mengerti tapi di dalam mimpinya itu ayah dan ibunya tersenyum bangga padanya.
Mengatakan bahwa Nara berhasil menjadi anak yang baik hati dan mereka berdua senang dengan hubungan antara Zayn dan juga Nara bahkan memeluknya.
Nara merasakan pelukan kedua orang tuanya seperti kenyataan.
Indah sekali...
...๐๐๐...
Pagi harinya Nara bangun lebih cepat dibandingkan Zayn, ia bangun pukul 5 pagi dan sesuai dengan janjinya kemarin untuk membersihkan apartement sebagai balasan karena sudah mengizinkannya tidur disana.
Nara mengerutkan keningnya saat melihat selimut yang menutupi tubuhnya saat tidur, dan hanya satu kemungkinan.
Zayn yang melakukannya dan itu membuat Nara tersenyum senang. Ternyata Zayn tetap perhatian padanya walaupun secara diam-diam.
Akhirnya Nara berjalan perlahan keluar dari dalam kamar dan membersihkan apartement setelah membasuh wajahnya sendiri.
Nara mengelap meja, barang-barang yang ada di apartement Zayn, mengepel lantainya dan juga menyedot debu dengan vacuum cleaner.
Semua Nara lakukan dengan cepat hingga apartement Zayn terlihat bersih.
Tidak, apartement Zayn sudah sangat bersih sebenarnya. Bahkan Nara hanya mendapatnya sedikit sekali debu dari seluruh sudut apartement ini.
Ia hanya menjaganya agar tetap bersih.
__ADS_1
"Wow, kau menepati janjimu."