
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca🤗🤗🤗🤗
...💜💜💜...
"Apa aku harus mempelajarinya? aku dengar dari teman-temanku saat aku kuliah dulu bahwa mereka sering menonton video seperti itu." tanyanya.
Nara meringis, "Kau ingin menontonnya?" tanyanya.
Zayn menggaruk kepalanya sendiri, mungkin ia juga bingung harus melakukannya atau tidak.
"Memangnya kenapa?" tanyanya.
Nara menghedikkan bahunya, "Ya mungkin saja kau tidak akan suka menontonnya? bahkan menonton drama yang tampil di tv setiap harinya pun kau tidak pernah."
Benar juga.
"Lalu aku harus bagaimana? kau yang membuatku jadi seperti ini." tanya Zayn.
Nara melirik ke arah Zayn dengan kening mengkerut, "Kenapa aku?" tanyanya.
"Ya, jika kau tidak masuk ke dalam kehidupanku mungkin aku akan tetap menjadi Zayn seperti sebelumnya."
"Mungkin aku tidak akan jatuh cinta padamu."
Zayn langsung diam setelah menyadari apa yang baru saja ia katakan, begitupula dengan Nara yang terlihat diam dan terkejut namun bisa Zayn rasakan pipi Nara semakin memerah malu.
"Kau.. pipimu.. semerah tomat." cicit Zayn sambil menunjuk pipi Nara.
Nara langsung mengerjap dan menutup kedua pipinya sendiri.
"Telingamu juga.. memerah seperti cabai." cicit Zayn lagi saat melihat telinga Nara yang merah.
"Haishh!" Nara menggerutu.
"Aku memerah seperti ini juga karenamu."
"Dan tadi apa kau bilang Zayn? kau jatuh cinta padaku! apakah itu benar?" tanyanya.
Zayn langsung membuang wajahnya sendiri, "Jangan memanggikku Zayn saja, kau tidak sopan ya!" katanya.
Zayn mengambil ponselnya sendiri, pura-pura sibuk untuk menghindari Nara dan pertanyaannya.
"Biarkan saja, aku tidak perduli. Cepatlah jawab Zyan, apa benar kau jatuh cinta padaku?" tanya Nara lagi.
Zayn hanya diam, ia sibuk mengscroll ponselnya sendiri entah mencari apa.
"Zayn..." panggil Nara.
"Jangan panggil aku Zayn saja, tidak sopan."
"Tidak menjawab pertanyaanku juga tidak sopan." kata Nara.
Zayn hanya diam tak menanggapi, ia juga menyesal kenapa mulutnya tiba-tiba saja mengatakan hal itu. Mengapa mulutnya ini terlalu ember hari inid dengan mengataka itu pada Nara.
"Zayn... Zayn.. Zayn.. Zayn..." panggil Nara berulang kali.
Ia berniat membuat Zayn kesal dengan memanggilnya seperti itu.
Namun pria itu masih tak menatapnya, masih diam saja melihat ponselnya sendiri. Sepertinya Zayn juga ingin membuatnya kesal.
__ADS_1
"Zayn... Zayn... Zayn... Zaynnn!!!!!!!" pekik Nara.
Zayn meliriknya dengan tatapan kesal, Nara langsung tersenyum. Senang sekali rasanya jika ribut dan bertengkar dengan Zayn seperti ini.
Menyenangkan rasanya.
"Kau!"
Zayn menarik nafasnya dalam kemudian menghela nafasnya kasar.
"Jangan memanggilku seperti itu!" ucapnya kemudian fokus lagi dengan ponselnya.
Nara langsung diam, ia menggertakkan giginya kesal.
"Kenapa mengabaikanku? kau ingin aku kesal dan marah lagi ya?" tanya Nara.
Zayn hanya menghedikkan bahunya saja.
"Entahlah." jawabnya.
Diam-diam Zayn juga tersenyum tipis, mendengar Nara berceloteh jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan mendengar suara Aeri yang menyuruhnya untuk bekerja.
"Zayn!!!!" geramnya Nara.
Ia langsung menarik ponsel Zayn dan membuangnya ke tengah ranjang membuat nafas Zayn hampir saja tercekat.
"Astaga, untung saja ponselku tidak jatuh." katanya.
"Ck, kau punya banyak uang dokter Zayn yang terhormat.. kau bahkan bisa membeli segudang ponsel yang sama dengan uang yang kau berikan padaku." katanya kesal.
Zayn mengulurkan tangannya hendak mengambil ponselnya sendiri namun Nara dengan cekatan langsung memukul tangan Zayn.
"Tidak boleh!" katanya.
"Nara.." panggil Zayn.
"Ada apa?" tanyanya.
"Kau ingin mencari masalah denganku ya?" tanya Zayn lagi.
"Tidak, siapa yang mencari masalah." elaknya.
"Itu, kau baru saja mengambil ponselku." kata Zayn sambil menunjuk ponselnya.
"Itu karena kau tidak menghiraukan aku dokter Zayn yang baik hati dan tampan." jawabnya.
Zayn tersenyum miring, "Aku memang tampan dan baik hati."
Nara langsung menghela nafasnya pelan mendengarnya, dasar pria tukang cari masalah pikirnya.
"Ah terserahlah dokter!" katanya kemudian turun dari atas ranjang.
"Kau memanggilku dokter lagi." kata Zayn.
Nara meliriknya sinis lalu berlalu dari dalam kamar, namun Zayn langsung mengejarnya dan mengangkatnya layaknya sebuah karung beras.
"Zayn!!!!!!" pekik Nara.
Bruk
Zayn melemparkan tubuh Nara diatas ranjang, untung saja ranjangnya empuk, jika tidak remuk sudah tubuh Nara.
"Kenapa kau melemparku? haish!" omel Nara.
__ADS_1
"Jangan pergi temani aku." kata Zayn.
"Aku mau pulang saja." kata Nara hendak bangun.
Namun Zayn langsung menahannya, "Diam saja disini temani aku belajar." katanya.
Nara mengerutkan keningnya menatap Zayn, "Kau kan sudah jadi dokter hebat, untuk apa lagi kau belajar?" tanyanya.
Ya, sudah hebat sampai bisa dihitung berapa kali ia pulang ke apartement dan tidur dalam seminggu ini.
Ck ck ck, hebat sekali.
"Belajar untuk berkembang biak." jawabnya yang sukses membuat Nara melotot tak percaya.
"Zayn!"
Zayn langsung melirik Nara dengan sinis, dengan cepat ia menjitak dahi Nara kuat.
Tak
"Akkkhh!!" ringis Nara.
"Kita berbeda 7 tahun, kau dengan santainya terus memanggilku Zayn? wah.. hebat sekali." omelnya.
"Awas saja kalau setelah ini kau masih memanggilku hanya dengan nama saja, aku pastikan kau akan mendapatkan hukumanmu." ucapnya.
Zayn mengambil ponselnya lalu mengotak atiknya, entah apa yang Zayn cari tau.
Nara juga tidak perduli.
Ia sibuk berguling-guling di ranjang Zayn sesekali membuat pria itu marah dan mengomelinya.
Namun semakin Zayn kesal semakin Nara senang untuk mengganggunya. Semakin Nara senang untuk mengerjai Zayn.
"Diamlah Nara.." geruti Zayn kesal.
Nara berdecak, "Kau sedang apa sih dokter? sudah 20 menit kau fokus pada ponselmu sendiri." tanyanya.
Kesal, tentu saja Nara kesal karena Zayn sibuk sendiri dan mengabaikannya, jika seperti ini lebih bagus dirinya kembali ke apartementnya sendiri dibandingkan berada disini.
"Aku sedang mencari, diamlah dulu." kata Zayn.
Nara mengerutkan keningnya, "Mencari apa?" tanyanya.
Zayn menunjukkan aplikasi youtube miliknya yang langsung membuat Nara kaku di tempat dengan wajah memerah.
Wah.. Nara benar-benar terkejut. Apa dia memang bodoh seperti ini? pikir Nara.
"Dokter.." panggil Nara.
Zayn bergumam, ia kembali mengetikkan sesuatu, menscroll layar ponselnya sendiri.
"Kau tidak akan menemukan video seperti iti disitu." kata Nara.
Zayn langsung menatap ke arahnya, "Kau tau? kenapa tidak memberitahuku dari tadi?" tanyanya.
"Kau saja tidak bertanya padaku!"
Nara menghela nafasnya pelan, ahh.. Zayn, polos dan bodoh beda tipis ya..
"Lalu kau tau dimana aku harus mencarinya? ah.. atau kau pernah melihatnya ya sebelumnya? wah.. tidak kusangka kau ternyata tidak sepolos penampilanmu ini." kata Zayn.
Nara langsung berdecak dan memukul Zayn menggunakan bantalnya, "Aarrgghh!! kau benar-benar membuatku kesal Zayn!!!!!" pekiknya.
__ADS_1