Perfectionist Husband

Perfectionist Husband
Kita pulang saja


__ADS_3

Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar๐Ÿค—


Yuk tinggalkan jejak!


Selamat membaca๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


...๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ...


"Maaf Nara, maksudku brosnya cantik." elaknya.


Senyuman diwajah Nara langsung pudar, ia mengatupkan bibirnya sendiri sembari mengerjapkan matanya berulang kali.


Ah malunya... ringisnya.


"Haha... haha.. haha.. benarkah?" tanya Nara sambil pura-pura tertawa.


Nara bertepuk tangan, ah apa yang aku lakukan pikir Nara.


Nara menyentuh brosnya pelan, "Sudah kuduga pasti kau memuji ini kan? haha.. haha.. ya brosnya memang cantik." ucapnya.


"Tidak mungkin kau memuji wajahku, haha.. ya sudah ayo!" ucapnya.


Nara segera berbalik dan berjalan ke arah pintu, tidak sanggup melihat wajah Zayn setelah dipermaluka. seperti tadi.


Zayn sendiripun berdiri dan berjalan dengan kikuk, ia memukul pelan bibirnya sendiri.


"Bodoh sekali, bisa-bisanya aku keceplosan mengatakan itu." gumamnya.


Zayn menghela nafasnya, tapi memang Nara terlihat cantik sekarang.


...๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ...


Kini Zayn dan juga Nara sudah berada di pinggir jalan, tepat di depan mall milik Zayn yang akan mereka kunjungi.


Dari luar saja Zayn sudah bisa melihat sedikit bagaimana ramainya di dalam, orang-orang yang berlalu lalang membuat Zayn menelan ludahnya kasar.


"Ayo, kita masuk ke dalam." ajak Nara.


Zayn menghela nafasnya pelan, lagi-lagi ia menatap ke arah mall dengan ragu. Haruskah ia masuk atau tidak?


Nara mengerjapkan matanya menatap Zayn, pria itu masih diam tak bergeming.


"Kau takut?" tanya Nara.


Zayn mengerjapkan matanya lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak takut." jawabnya.


Zayn langsung memasukkan gigi dan menjalankan mobilnya menuju ke parkiran, begitu masuk Zayn bisa melihat sendiri berapa banyak mobil yang terparkir di basement.


Baru mobil saja, belum lagi pengunjung yang datan dengan menaiki ojek ataupun bus kota.


Hah, pasti sangat ramai.


"Wah.. sepertinya hari ini mall mu kedatangan banyak pengunjung." celetuk Nara saat keluar dari mobil.

__ADS_1


Zayn hanya diam tak menjawab, ia menutup pintu mobil dan menatap mobil-mobil yang berjajar dengan rapi.


Nara tau jika suaminya ini sedang ketakutan, terlihat dari raut wajahnya dan juga gerak geriknya sejak tadi.


Karena itu Nara mendekati Zayn, berdiri di depannya sambil tersenyum dan menghalau rasa malunya tadi.


"Kau takut? ada aku disini." ucapnya.


"Tidak, mana mungkin aku takut." elak Zayn.


Padahal jari-jemarinya sudah sedingin es di musim panas seperti ini.


"Kalau kau tidak takut, ayo kita masuk!" ajak Nara.


Nara menarik tangan Zayn, ia hanya ingin Zayn bisa segera lepas dari trauma dan juga ketakutannya, menjalani hidupnya dengan baik seperti orang-orang pada umumnya,


Dan bisa merasakan dan juga memberikan cinta kepada seorang gadis suatu hari nanti.


Zayn dan Nara masuk ke dalam mall, mereka berdiri di dekat dinding, Zayb terlihat begitu takut dan kaget saat melihat orang-orang yang berlalu lalang dengan santai di depannya.


"Uhuk.. uhukk.." seorang kakek-kakek terbatuk di depan Zayn.


Zayn langsung membolakan kedua matanya dan segera bersembunyi di balik tubuh kecil Nara yang tidak sebanding dengan tubuh jangkungnya.


"Oh kuman... kuman... dia membawa kuman, ah tanganku.. kemejaku..." gumam Zayn.


Zayn langsung merogoh kantong celananya mencari disinfektan miliknya sendiri namun Nara menahannya dan malah memberikannya selembar tisu.


"Kita kesini untuk menyembuhkan penyakitmu dokter... jadi ayo, mari biasakan diri." ajaknya.


"Tidak, aku tidak bisa." ucapnya cepat.


Biarlah, Zayn tidak perduli lagi jika Nara menyebutnya penakut sekarang. Ia lebih memilih pulang dan berdiam diri diapartement daripada harus ke tempat ini.


Nara menggenggam tangan Zayn erat, "Kau pasti bisa dokter, kau hanya perlu memberanikan diri sekarang." ucapnya.


Zayn diam, ia menatap tangan Nara yang menggenggamnya. Ia sudah tidak takut lagi dengan Nara bahkan saat gadis itu tidak menggunakan hand sanitizer lagi sebelum menyentuhnya.


Sejak kapan Zayn tidak takut lagi?


"Kau pasti bisa dokter, kau juga tidak sendiri disini. Ada aku, ayo!" ajaknya.


Nara langsung menarik tangan Zayn mengajaknya berkeliling mall. Berkeliling keseluruh lantai lalu menaiki lantai yang lain dam melihat-lihat barang disana.


Seluruh pegawai di toko ini mengenal Zayn, mereka tau Zayn dan juga nyonya Xavier mereka yang baru.


Betapa terkejutnya mereka saat melihat Zayn berjalan diantara kerumunan pengunjung seperti ini, karena biasanya Zayn hanya akan datang saat mall sudah dikosongkan dan di sterilkan.


Sungguh keajaiban yang baru bisa mereka lihat sekarang setelah Nara masuk ke dalam kehidupan Zayn.


"Nara.. aku tidak bisa.. ini terlalu ramai." lirih Zayn.


Nafasnya terasa berat dan tenggorokannya terasa seperti tercekat, ah sepertinya ia memang tidak bisa sembuh.

__ADS_1


Matanya pun seakan berkunang-kunang saat melihat gerombolan pengunjung yang dengan santainya berkumpul dan berkerumun.


"Kau bisa dokter, kau bersamaku.. lihat, aku menjagamu disini.." jawabnya.


"Kau hanya perlu tenang, lihat aku dan tenangkan dirimu.. bayangkan hal-hal indah menurutmu, kau pasti bisa." lanjut Nara.


Ia tidak akan berhenti sebelum Zayn bisa benar-benar sembuh, ia harus berusaha untuk ini.


Zayn mengambil nafas dalam, mempercayakan Nara untuk kali ini.


Nara dan Zayn kembali berjalan, dari arah yang berlawanan ada tiga orang anak remaja yang tengah berjalan sembari mengobrol,


Karena tidak memperhatikan jalanan dengan baik, salah satu dari mereka menabrak Zayn.


Bruk.


Zayn langsung jatuh terduduk di lantai dengan wajah syoknya, Nara pun kaget melihat Zayn.


Anak remaja yang tadi menabrak Zayn pun terlihat kaget walaupun ia lebih banyak terpesona dengan pesona Zayn yang begitu tampan.


"Zayn.. kau tak apa?" tanya Nara khawatir.


"Ah maafkan aku om, aku tidak sengaaj menabrakmu." ucapnya merasa bersalah.


"Tidak, pergi.. Nara suruh dia pergi." ucap Zayn, pria itu masih begitu syok.


"Iya adek bisa pergi sekarang ya." kata Nara.


"Tapi om gak papa kan? sini om saya bantu." tawar remaja itu, terlihat sekali ia terpesona dengan Zayn.


"Sya, ayo kita pergi aja, udah disuruh pergi loh." ucap salah satu temannya.


Gadis yang dipanggil sya tadi hanya mengerlingkan matanya saja, membuat kedua temannya menghela nafas pelan.


"Ayo om saya bantu sebagai permintaan maaf saya." ucapnya lagi sambil mengulurkan tangannya hendak membantu Zayn.


Nara yang berjongkok di depan Zayn pun seakan tak ada wujudnya dihadapannya.


Melihat Zayn yang begitu ketakutan dan juga tangan gadis itu yang hendak menyentuh suaminya, Nara dengan cepat menepisnya.


"Adek bisa pergi sekarang! suami saya biar saya aja yang ngurus!" ucap Nara ketus.


Gadis itu langsung berdiri dan berdecak mendengar ucapan Nara, 'Istri'. Setelah itu mereka bertiga langsung melenggang pergi.


Nara kembali menatap Zayn, ia memegang tangan Zayn dengan erat.


"Kau tidak apa-apa kan? ayo, kita berdiri." ucap Nara.


"Aku tidak bisa.. tidak bisa." kata Zayn sambil menggelengkan kepalanya.


Nara mengerutkan keningnya, wajah Zayn terlihat pucat pasi.


"Zayn, kau sakit?" tanyanga khawatir.

__ADS_1


"Nara, kita pulang saja. Aku hanya ingin berada di apartement sekarang." lirihnya.


__ADS_2