Perfectionist Husband

Perfectionist Husband
Caramu membaca pikiran dan isi hatiku


__ADS_3

Ting


Pintu lift terbuka tepat di lantai ruangan Zayn, Nara langsung keluar dan berjalan dengan cepat untuk menghampiri Zayn diruangannya.


"Ah aku hampir lupa." ucap Nara saat dirinya hampir membuka pintu.


Nara mengedarkan pandangannya mencari cairan disinfektan dna menemukannya diatas meja Aeri yang kosong.


Aeri tengah berada di bangsal sekarang.


"Sudah!" ucap Nara dan langsung membuka pintu Zayn.


Ceklek


Zayn mengalihkan pandangannya dari kertas di depannya dan menatap ke arah Nara yang tersenyum di depan pintu.


"Kau sudah datang." ucap Zayn.


"Ya dokter aku sudah berada disini sekarang, di sampingmu." ucap Nara.


Zayn langsung mengerjapkan matanya mendengar kata "di sampingmu" yang mengingatkannya kejadian tadi malam.


"Kau tidak berniat untuk tidur seharian di kamar kostmu yang kumuh itukan?" sindir Zayn.


Nara menggelengkan kepalanya, "Tidak, tentu saja tidak."


"Jangan terlalu dekat denganku, dan elap pegangan pintu itu, kau bisa saja masih membawa bakteri." ucap Zayn.


Nara berdecak mendengarnya, ia keluar sembari menghentak-hentakkan kakinya kesal.


"Dia pikir aku dari gudang kuman dan bakteri." gumamnya kesal.


"Ya, tempat tinggalmu sekarang adalah gudang kumam dan bakteri." jawab Zayn.


Nara langsung berbalik dan menatap tajam Zayn, "Ya.. terserahmu saja tuan kebersihan." ucapnya.


Nara berjalan untuk mengambil disinfektan bersamaan dengan Aeri yang baru saja keluar dari dalam lift.


"Nara?" panggil Aeri.


Nara membalikkan tubuhnya dan tersenyum menatap Aeri yang berjalan menghampirinya. Nara membungkukkan badannya begitu pula dengan Aeri.


"Wah.. aku hampir tidak mengenalimu Nara, kau sangat berbeda dengan menggunakan gaun ini." ucap Aeri takjub.


"Benarkah? apa aku terlihat pantas menggunakan gaun ini" tanyanya.


Aeri mengangguk, "Ya, sangat pantas. Kau terlihat semakin cantik dengan gaun ini." jawabnya.


"Terima kasih Aeri."


"Oh ya ada apa kau datang kemari Nara? kau juga tidak menggunakan seragam kerjamu, dan malah menggunakan gaun." tanya Aeri.


"Dan hanya nyonya Fey yang bisa menginjakkan kakinya disini." lanjut Aeri pelan.

__ADS_1


Ia terlihat berpikir, menatap Nara dari atas ke bawah dan kemudian beralih menatap Zayn yang tengah duduk sembari menatap mereka hingga membuat Aeri tersentak kaget.


"Hah." kagetnya.


"Ada apa Aeri?" tanya Nara.


"Ah tidak ada apa-apa Nara." jawabnya.


Zayn menghela nafasnya, susah jika bekerja dengan wanita. Banyak sekali hal yang ditanyakan dan dipikirkan oleh mereka menurut Zayn.


"Nara, aku tadi menyuruhmu untuk apa?" tanya Zayn.


"Mengambil disinfektan." jawab Nara.


"Ya sudah cepat lakukan, kau membuang waktuku." katanya.


"Baiklah tuanku, aku mengerti.." ucap Nara pelan, berbalik dan membungkuk kepada Zayn.


Nara mengambil disinfektan kemudian mulai mengelapkannya pada pegangan pintu.


"Lakukan dengan benar." ucap Zayn.


"Iyaa dokter." jawabnya.


Selesai dengan itu, Nara kembali meletakkan disinfektan tersebut ditempatnya tanpa tahu jika Zayb ikut berjalan di belakangnya.


"Astaga kau mengagetkanku dokter.." ucap Nara saat dirinya hampir menabrak Zayn ketika berbalik.


Aeri yang ada di mejanya juga ikut menatap kaget, Zayn biasanya akan sangat marah jika seseorang hampir menyentuh dirinya seperti Nara.


Nara belum berbalik, ia menatap Zayn yang terlihat begitu serius.


"Dokter kau mau mengatakan apa?" bisik Nara.


Zayn melirik sekilas ke arah Nara kemudian kembali menatap Aeri yang terlihat begitu bingung.


"Kau sudah membersihkan tanganmu kan?" kata Zayn pada Nara.


Nara menganggukkan kepalanya, "Tentu dokter, aku memakai banyak sekali disinfektan begitu menginjakkan kaki disini." jawabnya.


"Baguslah."


Zayn membalik badan Nara dan menarik tangan kanannya, menunjukkan cincin yang bertengger di jari manis Nara kemudian mengangkat tangannya juga.


Sontak Aeri langsung memekik kaget melihatnya, "Nara adalah tunanganmu dokter?" tanyanya.


Zayn menghempaskan tangan Nara ke bawah dan menganggukkan kepalanya.


"Ya, dia tunanganku karena itu dia ada disini." jawab Zayn.


Aeri mengerjapkan matanya tak percaya, "Wah kurasa kau tidak berbohong dokter, kau bahkan menyentuh tangannya.."


Aeri menggelengkan kepalanya, "Ah tidak, kau menyentuhnya.. ya, menggenggam tangannya tadi." ucapnya.

__ADS_1


Zayn tersenyum miring mendengarnya, sepertinya memang ini adalah hal gila yang dilakukannya.


"Sudahkan? tidak ada lagi yang mengganggu pikiranmu? aku tidak mau kau tidak fokus dengan pekerjaanmu karena ini." jelas Zayn.


Aeri menggelengkan kepalanya, "Tentu saja dokter, semuanya sudah jelas tidak ada yang mengganggu pikiranku dan selamat atas pertunangan kalian, aku turut bahagia mendengarnya." ucap Aeri sembari membungkuk.


"Ya, sekarang kau boleh berbagi informasi ini dengan perawat yang lainnya." ucap Zayn.


"Ayo Nara." ajak Zayn.


Zayn berjalan lebih dulu masuk ke dalam ruangannya, Nara membungkuk terlebih dahulu kepada Aeri dan tersenyum kepadanya.


"Tutup pintunya." ucap Zayn saat Nara masuk.


Nara langsung menutup pintu sehingga Aeri tidak bisa mengintip apa yang terjadi di dalam sama sekali.


Zayn langsung membersihkan tangannya dengan hand sanitizer yang ada di mejanya membuat Nara berdecak melihatnya.


"Kenapa kau berdecak seperti itu? terlihat seperti sedang kesal saja." tanya Zayn.


Nara mengangguk, "Ya dokter, aku kesal karena tadi didepan kau terlihat baik-baik saja saat memegang tanganku namun begitu pintu ku tutup kau langsung membersihkan tanganmu." ucapnya kesal.


"Kau tahu? bisa menyentuh tanganmu saja sudah kemajuan yang signifikan untukku."


Nara mengangguk setuju, "Iya kau benar dokter, kemajuan besar dalam semalam. Jadi sepertinya kau bisa sembuh jika terus begini."


"Mungkin aku akan sembuh nanti seiring berjalannya waktu. Seperti sekarang, aku tidak begitu terganggu dengan kehadiranmu diruanganku."


"Benarkah?" tanya Nara tak percaya.


Zayn mengangguk, "Ya, hanya mommy yang pernah masuk ke sini dan juga Aeri. Tapi biasanya aku akan merasa sesak dan tidak nyaman hingga ingin menyeret mereka keluar jika berada disini."


Nara tersenyum mendengarnya, "Apa itu artinya aku spesial?" batin Nara.


"Jangan terlalu percaya diri, mungkin karena kemari. kau membantuku dan mengatakan aku baik-baik saja setelah memegang tanganmu, mungkin karena itulah kini aku bisa dengan mudah berada di dekatmu." timpal Zayn.


Nara langsung tersenyum mendengarnya, menggaruk tengkuknya sendiri.


"Bolehkah aku bertanya dokter?" tanya Nara.


Zayn mengangkat sebelah alisnya, "Apa yang ingin kau tanyakan?" ucapnya.


"Tapi bolehkah aku duduk sebentar? kakiku pegal sekali." ucap Nara.


Zayn menghela nafasnya pelan, "Ya, duduklah." ucapnya.


Nara tersenyum senang dan langsung duduk dibangku yang bersebrangan dengan Zayn, mata mereka bertemu.


Mata Nara yang menatap Zayn dengan berbinar dan semangat yang tergambar disana sedangkan Zayn menatap Nara dingin dan tajam seperti biasanya.


"Katakan apa yang ingin kau tanyakan."


"Bagaimana caramu membaca pikiranku dan juga isi hatiku? maksudku kau selalu tau apa yang aku katakan di dalam hati, apa yang aku rasakan dan saat aku kesalpun kau selalu tau."

__ADS_1


Zayn menatap datar wajah Nara, membuat gadis itu tak sabar menanti jawabannya.


"Bahkan sekarangpun aku bisa mengetahui jika kau tak sabar menungguku berbicara." jawabnya.


__ADS_2