Perfectionist Husband

Perfectionist Husband
Kado Natal


__ADS_3

Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗


Yuk tinggalkan jejak!


Selamat membaca🤗🤗🤗🤗


...💜💜💜...


Pagi harinya Nara dan Zayn bangun jauh lebih pagi dari biasanya karena cuaca yang terasa lebih dingin.


Nara menatap Zayn dengan wajah bantalnya kesal, "Kau tidak menyalakan penghangat ruangan?" tanyanya.


"Kenapa dingin sekali." adu Nara.


Nara kembali membaringkan tubuhnya dan mengambil alih seluruh selimut membungkus dirinya sendiri supaya tetap hangat.


Entah kenapa Nara merasa mengantuk sekali dan ingin tertidur saja sepanjang hari walaupun jam masih menunjukkan pukul 4 pagi sebenarnya.


Zayn berdecak melihatnya, Nara pikir hanya dirinya saja yang kedinginan.. Zayn juga merasa kedinginan.


Dia juga sudah menyalakan penghangatnya tapi entah apa yang salah hingga pagi ini suhu terasa sangat dingin.


"Hei bagi selimutnya padaku juga, kenapa kau memakai semuanya sendirian?" tanya Zayn.


"Aku kedinginan dokter." jawabnya dengan mata tertutup.


"Ayo bagi padaku juga selimutnya. Kau pikir hanya dirimu saja yang kedinginan disini?" tanyanya.


Nara menggeleng dengan cepat, "Tidak, tidak mau!"


"Ambil saja di lemari, kau kan punya banyak selimut di lemari dokter." lanjutnya.


Zayn menghela nafasnya pelan, memang istrimya ini..


"Tidak, aku tidak mau. Malas, kau saja yang mengambilnya."


"Aku juga tidak mau, aku ingin tidur saja." tolak Nara.


Zayn langsung meliriknya dengan tajam.


"Kalau begitu kau tidak akan mendapatkan hadiah natal hari ini, sayang sekali.." kata Zayn bergumam.


Sontak saja hal itu membuat Nara membuka matanya dengan cepat, ia menatap Zayn dengan tatapan terkejut.


"Apa aku akan mendapatkan kado natal hari ini?" tanyanya.


Bagaimana bisa? pikirnya.


Ia dan Zayn saja kembali larut sekali tadi malam dan saat melewati pohon natal yang mereka rangkai di ruang keluarga tepat di dekat jendela, tidak ada apapun disana.


Hanya pohon natal yang lampunga menyala dan beberapa hiasan natal lainnya di dekatnya.


Bahkan Nara pun tidak membeli kado natal apapun untuk Zayn.


Dia melupakannya.


"Kalau kau baik padaku, kau akan mendapatkannya." jawab Zayn dengan santai.


Nara langsung tersenyum lebar mendengarnya, "Baiklah aku akan berbaik hati padamu dokter." ucapnya.

__ADS_1


Nara langsung menarik selimut dam melapisi badan Zayn dengannya hingga suaminya itu terlihat seperti kepompong.


"Sudah, aku sudah berbuat baik padamu. Bisakah aku mendapatkan hadiahku sekarang?" tanyanya.


Zayn tertawa mendengarnya, "Kau tidak sabar sekali ya ternyata."


"Ya, aku sangat-sangat tidak sabar dokter. Kau tau? jarang sekali aku mendapatkan kado seperti ini saat hari natal."


Zayn menghela nafasnya pelan, ya dia juga tau bagaimana sulitnya hidup Nara dahulu karena itulah ia menyiapkan kado natal tahun ini untuknya.


Entah bagaimana bisa, Zayn juga tidak mengerti. Tanpa sadar beberapa hari yang lalu ia masuk ke salah satu toko dan membeli hadiah natal untuk Nara.


"Dimana dokter? aku penasaran sekali seperti apa kado darimu, apa isinya ya." gumamnya.


Zayn membuang nafasnya pelan dan menjitak kepala Nara pelan.


"Ambillah, ada dibawah pohon natal." ucapnya dengan wajah datar.


"Yes!!"


Nara langsung berlari dengan cepat keluar dari kamar, berlari dengan langkah gesit di lorong kamar menuju ke ruang televisi yang luas.


Dan begitu sampai disana Nara langsung menatap ke arah pohon natal yang ada di samping jendela.


Tatapan matanya terkunci pada sebuah kado berukuran kecil yang ada dibawah pohon natal.


Nara mendekat lalu duduk dilantai dan mengambil kadonya. Cukup kecil dan tipis namun sedikit lebar.


Nara yakin sekali ini kado dari Zayn, mana mungkin ada orang lain yang masum ke apartement mereka dan memberikannya kado.


Sangat mustahil.


Nara langsung membuka kadonya dengan perlahan dan kilap gemerlap dari berlian langsung menyilaukan matanya.


"Hah, apa ini perhiasan?" gumamnya terkejut.


Nara dengan perlahan membuka kotak kado dari Zayn tersebut, dan ia langsung terpukau melihat apa yang Zayn berikan padanya.



Satu set perhiasan dengan full berlian diatasnya yang berkilauan diterpa oleh sinar lampu.


Wah...


Nara tidak menduga Zayn akan memberikannya hadiah natal semewah ini.


Ia bahkan tak bisa menutup mulutnya sendiri membayangkan betapa mahalnya perhiasan ini, satu set perhiasan berlian.


Tidak mungkin jika Zayn membeli set perhiasan dengan berlian palsu. Pria kaya ini tidak akan mengerti tempat membeli barang palsu, Nara meyakininya.


Tanpa disadari oleh Nara, Zayn tengah bersandar di dinding sembari memperhatikannya.


Ia tersenyum miring melihat bagaimana reaksi Nara saat membuka hadiah natalnya.


"Kau suka dengan hadiahnya?" tanya Zayn.


Nara tersentak lalu segera menatap suaminya yang tengah berdiri di ujung sembari bersandar menatapnya dengan menenteng paper bag berukuran sedang.


"Ya suka, kau membelinya? pasti ini sangat mahal." kata Nata.

__ADS_1


Zayn menghedikkan bahunya.


"Tidak sebanding dengan uangku yang ada ditabungan. Bahkan dengan black card yang aku berikan padamu pun kau bisa membeli 100 buah perhiasan seperti itu." ucapnya sombong.


Ya sudahlah tidak apa, toh Zayn sombong juga asa benarnya. Memang uangnya banyak lalu apa yang harus dipermasalahkan. Dinikmati saja kan lebih baik.


"Lalu kenapa kau membelikkannya untukku jika aku saja bisa membeli 100 buah perhiasan dengan kartu yang kau berikan padaku?" tanyanya.


Zayn menghedikkan bahunya lalu menggaruk tengkuknya sendiri.


"Entahlah, aku hanya ingin membelikannya saja sebagai hadiah natal untukmu." jawabnya.


Nara langsung cemberut mendengarnya, namun melihat bagaimana cantik dan mewahnya perhiasan yang diberikan oleh Zayn membuatnya kembali senang.


"Ah aku jadi ingin memakainya.." gumamnya.


Nara pun menatap Zayn dengan wajah senangnya, "Terima kasih untuk kado natal yang kau berikan padaku dokter.. aku sangat-sangat menyukainya." ucapnya.


Zayn tersenyum mendengarnya, "Seperti kau menyukaiku?" tanyanya.


Nara langsung mengerjapkan matanya sendiri mendengarnya membuat Zayn tertawa dengan lepas.


Tak sengaja Nara kembali melihat paper bag yang dibawa oleh Zayn, penasaran kenapa Zayn menenteng paper bag itu sejak tadi dan apa isinya.


"Tapi dokter apa paper bag yang kau bawa? kenapa kau menentengnya terus?" tanya Nara.


Zayn pun ikut melirik paper bag yang dibawa olehnya dan mengangkat tangannya memberikannya pada Nara.


"Ini kado natal sesungguhnya dariku." ucapnya dengan wajah malu-malu.


Nara menaikkan sebelah alisnya mendengarnya. Kado sesungguhnya?


Astaga apa lagi ini pikirnya.


Nara pun berdiri dan berjalan menghampiri Zayn, ia mengambil paper bagnya dan mengintip ke dalam.


Sebuah kotak tapi tidak tau apa isinya.


"Apa ini dokter?" tanyanya.


"Buka saja." kata Zayn dengan santainya namun entah kenapa Nara melihat wajah Zayn sedikit memerah.


Ada apa sebenarnya?


Nara pun berjalan dan duduk di sofa dengan wajah was wasnya. Ia meletakkan kotaknya diatas meja dan langsung membukanya.


Baju.


Nara pun mengambilnya lalu merentangkannya diudara.


Kedua matanya melebar melihatnya.


Tunggu!


Apa ini?


Lingerie?!


"DOKTER!!!!!!!" Pekik Nara.

__ADS_1


__ADS_2