
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar๐ค
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca๐ค๐ค๐ค๐ค
...๐๐๐...
Zayn mengangguk, kali ini ia akan menuruti Nara saja. Apapun itu.
Ia sudah senang karena bisa hidup dengan normal lagi bersama dengan Nara namun kenyataan pahit bahwa masa lalu masih menghantuinya seakan sebuah pukulan besar untuknya.
"Jadwalkan saja nanti aku beritahu Aeri untuk mengosongkan jadwal operasi di hari itu dan mengurangi jumlah pasien yang harus kuperiksa." kata Zayn.
Nara meliriknya sejenak, "Zayn!" pekiknya.
Zayn langsung menatapnya mendengar Nara memanggil namanya saja dengan tidak sopan.
"Liburlah sehari saja, apakah tidak bisa? kau sudah terlalu sibuk bekerja." kata Nara.
Zayn menarik nafasnya dalam, "Tidak bisa Nara, aku sudah libur hari ini dan aku punya banyak pasien yang membutuhkan bantuanku."
"Aku bekerja bukan untuk mencari uang, jika hanya uang saja aku udah memiliki banyak."
Nara menaikkan sebelah alisnya bersamaan dengan lampu yang berubah menjadi hijau dan ia langsung menjalankan mobilnya.
"Aku bekerja untuk membantu mereka yang membutuhkanku. Kalau aku hanya mencari uang, aku tidak akan memulap proyek rumah sakit di pedesaan." ucapnya.
"Tanggung jawabku sebagai seorang dokter sangat besar Nara.. aku tidak bisa menyelepekan semuanya." lanjutnya.
"Terserahmu saja." jawab Nara singkat.
Nara membuang nafasnya kasar, lebih baik bagi dirinya jika diam saja.
Zayn tidak akan mau mengalah pastinya jadi Nara memilih untuk membungkam mulutnya sendiri dan mengikuti saja apa yang Zayn inginkan.
Sebagai seorang istri memang tugasnya untuk sabar menghadapi Zayn yang memiliki sifat seperti ini dan juga pekerjaannya yang selalu dinomor satukan olehnya.
Sesampainya di apartement, Nara langsung masuk ke dalam apartementnya sendiri begitu pula dengan Zayn.
Ia kesal dan ingin marah, entah kenapa Nara juga tidak mengerti.
Ia selalu berusaha untuk memaklumi Zayn namun tidak bisa. Ia kesal lagi.
"Untung saja kami tinggal terpisah, aku jadi tidak perlu menahan diri di depannya." gumam Nara senang.
Ia menjatuhkan tubuhnya sendiri di atas sofa ruang televisi, menyalakan televisi menonton acara secara acak.
"Hah, tahan dirimu Nara... tahan.."
Nara menarik nafas dalam lalu membuangnya lagi, menarik nafas dalam lalu membuangnya lagi hingga beberapa kali.
Setelah yakin dirinya sudah tenang, barulah Nara mengambil ponselnya dan memghubungi Jesslyn untuk membuat janji temu.
Bukan untuk dirinya atau konsultasi tapi untuk Zayn, suaminya.
"Hah, aku sudah menduganya Nara.. dia mengidap penyakit ini tidak sebentar, tidak akan mungkin dia bisa sembuh secepat itu." kata Jesslyn menyesal.
Menyesal karena ia langsung lepas tangan begitu Nara mengatakan bahwa Zayn sudah sembuh tanpa meminta Nara untuk membawa Zayn menemuinya dan melakukan terapi secara langsung.
"Baiklah, bagaimana dengan minggu depan? kita lakukan terapinya minggu depan." tanya Jesslyn.
__ADS_1
Nara langsung mengangguk setuju mendengarnya, ia akan mengatakan pada Zayn melalui pesan saja.
Biarkan saja, dirinya masih kesal dengan pria itu.
Haish, kenapa Nara jadi begini.
...๐๐๐...
Seminggu kemudian...
Akhirnya hari ini tiba juga. Nara akan mengantarkan Zayn untuk pergi terapi.
Mudah-mudahan saja Zayn bisa benar-benar pulih setelah menjalani beberapa pertemuan dengan Jesslyn.
Nara tau Jesslyn adalah seorang psikiater hebat, ia pasti bisa membantu Zayn dengan baik.
Namun seperti ucapan Zayn minggu lalu, ia benar-benar bekerja di pagi dan siang hari.
Mengesalkan? tentu saja.
Nara kesal setengah mati namun mau bagaimana lagi.
Zayn berjanji akan menjemput Nara pukul tiga sore, hah..
Jadilah Nara hanya bisa berguling-guling diatas ranjang empuknya saja sembari menonton drama di televisi yang ada dikamarnya.
Sedangkan Zayn, pria itu sibuk memeriksa pasiennya bersama dengan Aeri yang berada disampingnya untuk membantunya.
Namun sesuai janji, hanya memeriksa saja dan tidak ada jadwal operasi untuk hari ini.
Jika ada operasi mendesak maka Zayn akan memberikannya pada dokter onkologi lainnya yang ada dirumah sakit ini.
Hanya ada tiga dokter onkologi disini termasuk dirinya.
Pukul tiga sore Zayn menjemput Nara di depan apartement, istrinya itu berjalan sendiri keluar dari apartementnya menuju ke bawah dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Dimana alamatnya?" tanya Zayn.
Nara mengatakan alamatnya dan Zayn langsung memasukkan kedalam gps mobilnya dan langsung menjalankan mobilnya.
"Kau yakin aku bisa sembuh?" tanya Zayn.
Nara mengangguk, "Tentu saja aku yakin, kau pasti bisa. Asal kau memang memiliki niat yang kuat untuk bisa sembuh."
Zayn menyunggingkan senyumannya, "Tentu saja, aku punya niat yang kuat untuk itu. Aku ingin melakukan banyak hal." ucapnya.
"Banyak hal seperti apa?" tanya Nara.
"Sesuatu yang tidak bisa dan tidak pernah kulakukan selama ini."
Zayn tersenyum tipis mengingat bagaimana ia pertama kalinya menyentuh Nara, menggenggan tangan Nara, berhubungan dengannya, mencicipi makanan yang selama ini ia anggap tidak sehat.
Semua hal ia lakukan dengan Nara. Hal yang belum pernah dirinya lakukan sebelumnya.
Nara diam begitupula dengan Zayn, ia ingin bertanya namun ragu.
Zayn pun seolah mengerti apa yang terjadi pada Nara.
"Kau ingin bertanya sesuatu?" tanyanya.
Sudah hampir sampai ke tempat tujuan.
__ADS_1
"Kau ingin melakukannya sendirian?" tanya Nara lagi.
Zayn menaikkan sebelah alisnya, "Melakukan apa?" tanyanya.
Nara menggigit bibirnya, "Hal.. yang belum pernah kau lakukan sebelumnya?" tanyanya.
Zayn diam, ia berbelok ke parkiran karena sudah sampai.
"Tidak, aku ingin melakukannya denganmu." jawabnya sembari memarkirkan mobilnya.
Nara mengerjapkan kedua matanya, denganku? ah.. Nara jadi senang mendengarnya.
Cup
Zayn mencium Nara lembut, "Jangan banyak berpikir, kau jelek kalau sedang berpikir." sindirnya.
Setelah itu Zayn langsung keluar duluan dan Nara langsung menyusulnya.
Begitu sampai di ruangan Jesslyn, Nara menunggu diluar sendirian.
Karena sesi terapi dan konsultasi kali ini adalah untuk Zayn maka ia tidak bisa masuk.
Jadilah Nara hanya melihat dari luar tanpa tau apa yang Jesslyn dan Zayn bicarakan berdua.
2 jam.
Jesslyn bilang sesi kali ini selama dua jam, cukup panjang dibandingkan saat dirinya datang untuk membicarakan permasalahan Zayn padanya.
Terlihat Zayn duduk di sebuah kursi dengan jam pasir dan juga sebuah jam yang Nara tidam ketahui itu apa namun Zayn tertidur.
Sepertinya Jesslyn menghipnotisnya.
Jesslyn berjalan membuat teh untuk dirinya sendiri dan duduk di kursi di samping Zayn sambil memegang sebuah papan ujian yang terdapat kertas diatasnya dam juga sebuah pena.
Terlihat Jesslyn bertanya pada Zayn dan Zyan juga dengan mudahnya menjawab semua pertanyaan Jesslyn, menceritakan sesuatu yang Nara tidak ketahui.
"Apa Zayn menceritakan mengenai traumanya?" gumam Nara.
Mungkin saja. Nara juga tidak tau.
Lama sekali, Jesslyn terus mendengarkan Zayn berbicara dan sesekali menulisnya di kertas. Ia terlihat fokus sekali bekerja dan mendengarkan setiap kalimat yang Zayn keluarkan.
Hingga 30 menit waktu yang tersisa, Jesslyn membangunkan Zayn dan memberikannya teh.
"Minumlah." kata Jesslyn pada Zayn.
Zay ragu, ia menatap teh di depannya dengan perasaan ragu.
"Tenang saja, aku tidak menambahkan apapun ke dalamnya." kata Jesslyn.
"Cobalah percaya pada orang lain Zayn, seperti kau mencoba percaya pada Nara."
"Kau sudah terlalu banyak menerima kenyataan pahit dalam hidupmu, tapi tidak semua orang memiliki niat yang buruk."
"Cobalah percaya pada orang lain, misalnya denganku. Kau bisa mempercayaiku sebagai psikiatermu mulai sekarang, yang memegang semua rahasiamu." kata Jesslyn lagi.
Zayn langsung menatapnya, "Baiklah aku akan mencoba mempercayaimu." katanya.
Jesslyn tersenyum mendengarnya, "Baiklah, anggap aku orang asing."
Zayn menaikkan sebelah alisnya, "Maksudmu?"
__ADS_1
"Kita mulai terapinya."