
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar๐ค
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca๐ค๐ค๐ค๐ค
...๐๐๐...
Mendengar perkataan Zayn barusan membuat Nara ikut sedih. Ia memeluk suaminya itu dengan erat.
"Tidak apa, hari ini kau tidak datang sendirian, ada aku disini." ucap Nara.
"Benarkah?" tanya Zayn.
Nara mengangguk, "Ya, aku memelukmu seperti ini lihat." kata Nara.
Zayn tersenyum mendengarnya, keduanya terus berpelukan hingga matahari tenggelam.
Dan tanpa di duga tiba-tiba saja hujan turun dengan deras.
"Hah, hujan!" kata Nara panik.
Zayn pun ikut panik, ia langsung menarik tangan Nara dan mengajaknya masuk ke dalam mobil dalam keadaan baju sedikit basah.
"Ah.. bajuku basah." kata Nara.
Zayn pun ikut meliriknya, oh astaga!
Cobaan macam apa ini pikir Zayn.
Dengan pakaian setengah basah seperti ini saja sudah cukup mencetak dalaman yang Nara gunakan.
Uh, Zayn jadi ingin sesuatu.
"Kita cari penginapan terdekat saja dan membeli pakaian ganti untukmu, nanti kau masuk angin." kata Zayn.
Zayn pun langsung mengendarai mobilnya membelah hujan yang cukup deras. Untungnya jalanan disini cukup sepi.
"Kenapa kita cari penginapan? tidak apa Zayn, pakaianku pasti akan kering begitu kita sampai di aparement." kata Nara menolak.
Zayn langsung berdecak mendengarnya.
"Tidak bisa Nara, tidak bisa." kata Zayn yang membuat Nara semakin bingung.
"Tidak bisa kenapa?" tanyanya.
"Karena pakaianmu itu membuatku jadi menginginkanmu."
Deg
Wajah Nara langsung memerah mendengarnya. Zayn menginginkannya?
Jadi Zayn mengajaknya mencari penginapan untuk itu?
Ah Zayn... kau membuatku semakin malu saja.. Nara jadi seperti kepiting rebus sekarang.
Benar-benar merah.
"Zayn..." panggil Nara.
Zayn berdecak, "Kau sekarang semakin berani memanggilku Zayn saja ya setelah kudiamkan, ingin kuhukum sepanjang malam?" tanyanya.
Nara menggelengkan kepalanya, tidak. Jangan sampai.
__ADS_1
Zayn kuat sekali walaupun sudah berkepala tiga. Nara masih susah mengimbangi tenaganya.
"Tidak Zayn tidak mau!" tolaknya.
Zayn meliriknya sinis sembari tertawa remeh, "Lihatlah kau bahkan terus memanggilku Zayn, sengaja ya memang ingin kuhukum semalaman?" tanyanya.
"Ah.. pasti iya kan? apalagi kita sudah lama tidak melalukannya karena kesibukanku." kata Zayn lagi.
Nara menggelengkan kepalanya dengan cepat, tidak-tidak.. tidak seperti itu tidak.
"Tidak Za-ah.. dokter... tidak seperti itu."
Nara menarik nafasnya dalam dan membuangnya dengan cepat, "Lagipula bagaimana bisa seorang istri memanggil suaminya dengan panggilan dokter? bahkan aku bukan pasienmu." omelnya.
Zayn menaikkan sebelah alisnya dan menepuk dahi Nara pelan.
"Siapa yang menyuruhmu memanggilku dengan panggilan dokter?" tanyanya.
"Dirimulah, kau yang melarangku memanggilmu dengan nama saja jadi harus bagaimana lagi aku menanggilmu." jawab Nara.
Zayn tersenyum tipis, "Bodoh." umpatnya.
"Kau tinggal memanggilku dengan panggilan sayang, apakah itu susah?" tanya Zayn.
"Panggilan sayang?"
Zayn mengangguk, "Kau kan mencintaiku, panggil saja aku dengan sebutan sayang, cintaku, my love atau semacamnya."
Nara merinding mendengarnya, hih tidak-tidak.. enak saja memanggil Zayn dengan panggilan seperti itu pikirnya.
"Tidak akan, jangan berharap dokter.. aku lebih baik memanggilmu dengan sebutan dokter saja." tolaknya.
Zayn menghedikkan bahunya, "Terserahmu saja."
"Ayo turun." ajak Zayn.
Keduanya turun menggunakan payung yang ada di dalam mobil Zayn dan masuk ke dalam hotel. Zayn memesan satu kamar dan bertanya apa disini ada menjual pakaian atau kaos untuk ganti.
Dan ternyata ada.
Zayn pun membeli dua kaos, untuknya dan juga untuk Nara barulah setelah itu keduanya naik ke atas.
Begitu sampai di kamar dan mengganti pakaiannya, Zayn langsung melemparkan tubuh Nara ke atas ranjang dan menciuminya.
"Hukuman, besok-besok panggil saja aku sayang daripada memanggilku dengan nama." bisiknya di telinga Nara.
Dan yah, malam itu Nara tidak tidur dibuat oleh Zayn. Benar-benar menepati janjinya untuk menghukum Nara sepanjang malam.
...๐๐๐...
Keesokan paginya keduanya pulang bersama-sama ke apartement, Zayn dan Nara naik dengan cepat karena Zayn hampir terlambat untuk pergi bekerja.
"Haish, aku hampir terlambat." gerutunya.
"Salahmu kenapa membawaku ke penginapan dan melakukannya semalaman." kata Nara menyalahi Zayn.
Namun pria itu tentu saja tidak ingin disalahkan.
"Bukan salahku, itu salahmu siapa yang menyuruhmu menggunakan gaun cukup tipis hingga mencetak saat basah."
Nara mengerjapkan matanya, ah karena itu? karena hujan sialan itu mereka tidak tidur semalaman? Wah.. Nara jadi ingin menendang kaki Zayn sekarang.
Ting
__ADS_1
Lift terbuka tepat di apartement milik Zayn, keduanya langsung keluar dan masuk ke dalam.
Zayn langsung mandi sedangkan Nara menyiapkan pakaiannya dan menyiapkan sarapan untuknya.
Dengan bahan seadanya berupa roti dam juga selai.
Kulkas Zayn kosong karena sekarang suaminya itu tidak memasak, tapi Nara yang memasak untuknya.
"Hanya roti selai?" tanya Zayn.
Nara mencebik, "Lalu kenapa dikulkasmu hanya ada ini saja?" sindirnya.
"Ah.. karena kau yang memasak mulai sekarang." jawabnya enteng.
Nara menghedikkan bahunya, ia berjalan untuk membuatkan Zayn teh hangat.
"Apa aku perlu membeli sebuah rumah? kita tinggal bersama saja agar tidak kesulitan seperti ini." tanyanya.
Nara langsung berhenti membuat tehnya, tinggal bersama? wah.. jantung Nara langsung berdebar kencang mendengarnya.
"Hei, kenapa diam saja? aku bertanya padamu apa kau ingin tinggal bersama saja atau tidak?" tanyanya.
Tentu saja ingin, mana mungkin Nara menolak.
"Kenapa kau masih bertanya?" tanya Nara balik.
Zayn langsung menaikkan sebelah alisnya, "Tentu saja aku bertanya agar aku tau kau menginginkannya atau tidak."
Nara mencebikkan bibirnya mendengarnya, ia membawa teh milik Zayn dan meletakkannya diatas meja.
"Tentu saja aku ingin! kau pikir aku tidak lelah harus naik turun lift setiap harinya hanya karena dirimu?" tanyanya.
"Kau tidak tau kan berapa repotnya aku harus membawa ini itu dari apartementku ke apartementmu, haish.."
"Ya sudah jangan kesal, aku akan mencarikanmu rumah saja. Kasihan jika kau tinggal di apartement terus, kulitmu bisa semakin pucat." ucapnya.
Nara tersenyum senang mendengarnya.
Rumah.. ah, ia senang sekali bisa tinggal disebuah rumah bukan apartement dan Zayn perhatian padanya seperti itu.
"Kenapa kau tersenyum? aku mengatakannya karena jika kau pucat, kau akan terlihat seperti vampir hidup dan bagaimana kata orang-orang nantinya?"
"Zayn si kaya itu sangat pelit dengan istrinya, hanya mengajaknya tinggal di dalam apartement saja hingga kulitnya pucat karena jarang terkena matahari." gumam Zayn.
Nara tertawa mendengarnya, haha.. lucu sekali jika Zayn bergumam seperti itu dengan mulut penuh roti.
Namun suaminya itu malah menatapnya tajam seolah-olah tatapannya bisa menguliti Nara hidup-hidup.
"Jangan tertawa, kulitmu sudah pucat sekarang. Lebih bagus memang jika kita pindah saja." kata Zayn.
"Sebaiknya kita pindah dalam minggu ini atau kita harus pindah setelah musim dingin." ucapnya.
Nara langsung melongo, setelah musim dingin? tidak-tidak, jangan sampai..
"Kenapa setelah musim dingin? lama sekali." tanyanya.
"Kau ingin membuat orang mati kedinginan karena memindahkan barang disuhu rendah?"
Ah benar juga, akan sangat sulit bekerja memindahkan barang dari dua apartement ke satu rumah dan di cuaca dingin.
"Tapi sepertinya kita tidak bisa kalau pindah minggu depan, kita belum mencari rumahnya. Jadi kuharap kau bersabar dan nikmati saja musim dinginmu di apartement ini." kata Zayn yang membuat Nara lemas.
Hah, kenapa juga Zayn membicarakan pindah rumah sekarang? Nara jadi berharap banyak kan..
__ADS_1