
"Dia bilang pakaianku tadi membuat matanya sakit?" tanya Nara tak percaya.
"Hei dokter tunggu aku!" pekik Nara sambil mengejar Zayn.
Zayn masuk ke dalam toko sepatu dan berjalan melihat-lihat beragam hells yang dipajang di toko tersebut dengan wajah datar.
"Aku mau yang ini." ucap Zayn sambil menunjuk satu etalase sepatu tersebut.
"Semua ini pak?" tanya pegawai tersebut tak percaya.
Zayn menatapnya dengan tatapan dingin, "Ya, semuanya dengan ukuran 40." jawabnya.
Pegawai tersebut lantas membungkuk kepada Zayn, "Baik pak." jawabnya.
Zayn menatap salah satu sepatu dengan hak tipis berwarna hitam, sangat simpel dan sederhana.
Dengan pelan Zayn menyentuh ujungnya kemudian menggesek kedua jarinya.
"Tidak ada debu, bagus." gumamnya.
"Dokter hah.." panggil Nara dengan nafas yang tersenggal-senggal.
Zayn mengambil sepatu hitam tersebut dan memberikannya kepada Nara.
"Pakai ini, jangan pakai sepatu lusuhmu lagi." titahnya.
"Tapi dokter-"
"Tidak ada penolakan, lakukan seperti apa yang aku katakan." ucapnya dan langsung melenggang ke kasir.
"Wah.. dia benar-bebar bersikap semaunya." gumam Nara.
Nara langsung memakai sepatu yang Zayn berikan tadi, mencoba dikakinya dan pas. Ah Zayn benar-benar hafal ukuran kakinya.
"Lalu harus kuapakan sepatuku ini?" gumam Nara bingung.
"Maaf mbak, sepatu itu diminta untuk dibuang ke tempat sampah oleh pak Zayn." ucap pegawai tokom
Nara menghela nafasnya pelan, "Dia benar-benar wah... dia tidak tahu aku membelinya dengan gaji pertamaku sebagai pegawai cafe." gumam Nara.
Pegawai yang ada di samping Nara hanya bisa tersenyum mendengarnya, ya dia tahu jika Zayn memang pandai membuat semua orang kesal.
"Silahkan mbak." ucapnya sopan.
Nara menatap pegawai tersebut, ia baru sadar jika ada orang di sampingnya.
"Saya permisi dulu." ucapnya kemudian menunduk.
Nara keluar dari toko sepatu tersebut dan memegang sepatunya. Saat ia melihat ada tempat sampah di dekatnya, Nara ingin sekali menyimpan sepatunya.
Ia tidak rela membuang sepatu itu.
"Buanglah dan cepat kesini." pekik Zayn dari salah sati toko tas.
Nara langsung tersentak mendengarnya, ia menatap sepatunya dan dengan berat hati ia membuang sepatunya sendiri ke dalam tempat sampah tersebut.
Nara berjalan dengan gontai menghampiri dokter Zayn yang berstatus sebagai tunangannya itu. Namun belum sampai ia ke toko tersebut, Zayn sudah selesai membayar semuanya.
"Kenapa kau lama sekali? hanya membuang sepatu saja kau begitu dramatis." sindirnya.
"Maafkan saya dokter, tapi sepatu itu saya beli dengan gaji pertama saya." jawab Nara.
Zayn menghela nafasnya pelan, "Aku tidak bertanya soal itu." ucapnya ketus.
Zayn melemparkan tas yang dipegangnya kepada Nara dan dengan sigap Nara langsung menangkapnya.
"Pakai itu dan lakukan hal yang sama dengan tas lamamu." ucap Zayn dan langsung melenggang pergi.
Nara menatap tas yang dipegangnya, "Hah, apa harus seperti ini? dia sangat kejam sekali." gumamnya.
Dengan cepat Nara memindahkan barangnya ke dalam tas yang baru dan membuang tas miliknya ke dalam tempat sampah dengan perasaan penuh kesal.
Ia berjalan mengikuti Zayn yang sudah masuk ke dalam lift dan pintunya hampir tertutup.
"Tunggu aku dokter! tunggu aku!" jerit Nara dan berlari.
Zayn menekan tombol dan pintu lift kembali terbuka, begitu Nara masuk ke dalam lift, Zayn langsung menepi ke pinggir.
Nara menetralkan nafasnya kemudian berdiri dengan tegap di samping Zayn membuat tubuhnya terlihat sepenuhnya di pantulan lift.
"Sekarang mataku tidak sakit melihat penampilanmu." sindirnya saat melihat pantulan Nara dari atas hingga ke bawah.
"Kenapa matamu sakit saat melihat penampilanku dokter? bukankah jika matamu sakit kau harus segera mendatangi dokter mata?" tanya Nara.
Zayn menyunggingkan senyumannya, "Tidak perlu karena mataku sudah sembuh sekarang." ucapnya.
Ting
Lift terbuka tepat di basement dimana Zayn memarkirkan mobilnya tadi, ia mengambil kunci mobilnya dan langsung masuk ke dalam.
"Semprot ini dulu." ucap Zayn sambil menyerahkan cairan disinfektan kepada Nara saat gadis itu ingin masuk ke dalam.
"Kenapa aku harus melakukannya dokter? kau tidak melakukannya saat masuk ke dalam mobil." tanya Nara.
Zayn menunjuk ke arah dahi, leher dan juga anggota tubuh Nara lainnya.
"Kau tadi berlari dan aku yakin ada banyak kuman yang bersarang di keringatmu itu." jawabnya.
__ADS_1
"Jadi cepat lakukan atau aku akan meninggalkanmu disini." ancamnya.
Langsung saja Nara menyemprotkannya, setelah selesai ia langsung masuk ke dalam mobil Zayn dengan hati kesal.
Zayn langsung menjalankan mobilnya dengan cepat menuju ke rumah sakit, ia terlambat karena banyak membuang waktu hanya untuk membuat Nara tampil layak seperti keinginannya.
...πππ...
"Turunlah." ucap Zayn begitu ia memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit.
"Wah kau sangat rajin ya dokter, kau mengatakan padaku jadwalmu siang tapo baru jam segini kau sudah datang." ucap Nara kagum.
Zayn menatap kebelakang dari kacanya, terlihat wajah disana. Dengan perlahan Zayn menghela nafasnya sendiri dan langsung turun tanpa mengatakan apapun.
"Dokter tunggu aku!" kata Nara dan ikut keluar.
Zayn berjalan bersampingan dengan Nara, karena hampir seluruh rumah sakit tau jika Nara adalah tunangannya. Tidak mungkin Zayn menjaga jarak dengannya, apa yang akan digosipkan oleh mereka nantinya.
Begitu Zayn dan Nara masuk ke dalam, suasana yang tadinya terlihat normal langsung terasa dingin saat mereka melihat Zayn masuk ke dalam.
Seperti biasanya, semua orang langsung membuat jarak sejauh mungkin dari Zayn alih-alih menyapanya dengan hangat.
Hingga salah satu perawat di rumah sakit itu dengan berani bertanya pada Zayn.
"Maaf dokter, bolehkan aku bertanya?" ucapnya sopan.
Zayn langsung menghentikan langkahnya, begitu pula Nara namun ia hanya diam melihat.
"Apa yang ingin kau tanyakan padaku?" tanya Zayn dingin.
Dengan takut-takut perawat itu menatap Nara kemudian menunjuknya. Kedua mata Zayn pun mengikuti arah yang ditunjuk oleh perawat itu.
Nara
"Apakah benar kau sudah bertunangan dokter? dan apakah dia tunanganmu?" tanya perawat itu.
Zayn diam membuat semua orang disana penasaran dengan apa yang akan Zayn katakan pada mereka termasuk Nara.
Tiba-tiba saja Zayn tersenyum membuat perawat dan semua orang disana heboh melihatnya.
"Ah tingkahnya sudah seperti selebriti saja." umpat Nara dalam hatinya.
Bruk
Tiba-tiba saja Zayn merangkul pundak Nara, mendekat kepadanya membuat Nara ikut terkejut dengan apa yang dilakukan olehnya.
"Ya, dia tunanganku." jawab Zayn sambil memperlihatkan cincin di jarinya dan juga Nara.
"Oh astaga!" pekik perawat itu saat melihatnya.
"Ya, dokter!" jawab semua orang dengan serempak.
Zayn tersenyum mendengarnya, digenggamnya tangan Nara dengan mesra.
"Ayo sayang, aku harus bekerja sekarang." ajak Zayn.
Semua orang langsung berteriak mendengarnya, mereka langsung berbisik-bisik dan Zayn bisa tau bahwa mereka mengatakan apa yang dilakukannya sangat romantis.
"Hah, apa ini? dia pura-pura mesra di depanku dan semua orang.." kata Nara dalam hati dengan wajah penuh dendam.
Tidak dengan Nara, ia berpikir yang sebaliknya tentang apa yang Zayn lakukan. Karena itu Zayn mendekatkan wajahnya dengan Nara, berbisik ditelinganya emmbuat heboh seluruh rumah sakit.
"Jangan mengumpat, aku bisa tau itu. Kau hanya harus berpura-pura romantis didepan mereka. Kau mengerti?" bisik Zayn dan kembali ke posisinya tadi.
Nara yang mengerti perkataan Zayn langsung pura-pura tersenyum kepada semua orang, memperlihatkan betapa cantiknya dia saat tengah tersenyum.
"Ayo!" ajak Zayn.
Zayn langsung berjalan menuju ke ruang prakteknya sambil menggenggam tangan Nara, di ujung lorong Aeri sudah menunggu mereka sambil menonton adengan romantis tadi.
"Mari dokter, pasienmu sudah menunggu." ucap Aeri dengan sopan saat Zayn datang.
Zayn mengangguk, "Berikan aku waktu 5 menit, setelah Nara keluar kau bisa langsung memanggil pasien pertamaku." ucapnya.
Aeri mengangguk mengerti, Zayn langsung membuka pintu ruangannya dan masuk ke dalam bersamaan dengan Nara.
Begitu pintu tertutup, Zayn juga menutup jendela dengan gorden agar Aeri tak bisa melihat apa yang akan Zayn lakukan.
"Kau menutup jendelamu dokter?" tanya Nara.
Zayn melepaskan genggaman tangannya dengan Bara, kemudian berjalan dengan cepat menuju ke meja kerjanya.
Disana berjejer disinfektan dan juga handsanitizer untuk dirinya. Dengan cepat Zayn memakainya diseluruh tubuhnya terutama tangannya yang ia gunakan untuk memegang Nara tadi.
"Ah, aku hampir gila rasanya." gumam Zayn.
"Kenapa kau melakukannya jika tidak suka dokter? kau bisa saja tetap menjaga jarakmu denganku dan tidak bersikap sok romantis di depan semua orang." tanya Nara.
Zayn menatapnya dengan wajah datar dan tatapan yang dingin.
"Kau ingin mereka curiga karena hal itu? aku saja tau jika mereka curiga karena berita pertunanganku yang tiba-tiba seperti ini."
"Jika aku tetap menjaga jarak denganmu seperti aku menjaga jarak dengan mereka, bukankah kau akan berpikir bahwa pertunangan kita ini hanyalah tipuan belaka?" tanya Zayn.
Nara terdiam mendengarnya, ia menatap sepatu hitam yang digunakan olehnya.
"Tapi tetap saja semua itu benar, kita bertunangan hanya karena saling membantu. Bukankah begitu dokter?" tanyanya.
__ADS_1
Zayn menatap Nara dengan diam, sedangkan Nara ia menatap Zayn dengan tatapan sendu.
"Bukankah kita bertunangan hanya untuk berpura-pura saja? agar mommy tidak memintamu terus-terusan untuk menikah dan agar aku bisa hidup ditempat yang nyaman. Bukankah begitu awalnya dokter?" tanya Nara lagi.
"Kau bahkan tidak memasangkan cincin ini dengan benar, kau tidak melamarku secara resmi." rintihnya sambil melihat cincin yang tersemat dijari manisnya itu.
Zayn menghela nafasnya pelan, "Lalu? kenapa kau jadi marah karena ini?" tanyanya.
Nara mendongakkan kepalanya, "Tidak! aku tidak marah sedikitpun!" elaknya.
"Lalu kenapa kau membahas itu? cukup lakukan saja seperti yang aku lakukan, kau juga diuntungkan dalam hal ini." kata Zayn.
Nara memalingkan wajahnya menatap ke arah lain sambil menetralkan deru nafasnya sendiri.
Zayn tersenyum miring melihat Nara yang memalingkan wajahnya seperti itu.
"Kau marah kan? kau kesal karena apa yang aku lakukan tadi?" tanya Zayn.
Nara menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak marah atau kesal kepadamu. Aku tidak punya hak untuk melakukan itu." katanya.
Tok
Tok
Tok
Aeri muncul dari balik pintu, "Permisi dokter, sudah lima menit dan pasien anda sudah menunggu." katanya.
Zayn menghela nafasnya begitu pula dengan Nara yang terlihat mulai meredam amarahnya sendiri.
"Aku akan menunggumu diluar seperti kemarin." ucap Nara kemudian melenggang keluar.
Zayn menatapnya dengan kepala miring, "Dia benar-benar... hah.." gumamnya.
"Panggil pasien pertamaku untuk masuk Aeri." ucap Zayn pada perawatnya itu.
"Baik dokter." jawab Aeri singkat dan segera menutup pintu.
Zayn langsung melepaskan jas yanh dipakainya dan menggantungnya kemudian memakai snelli yang ada di ruangannya itu.
Seperti biasa, Zayn selalu menyemprotkan cairan disinfektan ke meja dan juga kursi di ruangannya, mengelapnya dan merapikannya hingga bersih.
Tidak, ruangan Zayn selalu bersih dan tertata dengan rapi.
Tidak ada satupun barang yang berpindah posisi 1 cm pun dari tempatnya karena Zayn akan selalu tau dan membenarkannya, membersihkan hingga ke sela-sela perabotan dan alat-alatnya hingga tak ada debu yang menempel disana.
Bersih sekali.
Bisa dibilang Zayn mungkin dokter paling bersih di negaranya atau dokter paling bersih di seluruh dunia.
Karena ketidaknormalannya itu.
Ya, Zayn bisa mendapatkan penghargaan jika terua seperti ini sepanjang karirnya sebagai seorang dokter.
Entah kapan dirinya akan segera kembali hidup dengan normal atau akan terus hidup seperti ini selamanya.
...πππ...
Nara duduk sambil menundukkan kepalanya, menatap kedua sepatu hitam yang dipakainya.
"Cantik sekali.." gumamnya pelan.
Aeri tersenyum dan duduk di samping Nara, "Ya, sepatumu sangat cantik Nara.. dimana kau membelinya? aku juga ingin satu pasang sepatu seperti milikmu." tanyanya.
Nara mendongakkan kepalanya dengan wajah lesu, "Kau ingin memilikinya? ambil saja sepatuku kalau begitu, aku akan memberikannya dengan ikhlas kepadamu." katanya sambil berusaha melepaskan sepatunya.
Aeri langsung membelalakkan matanya dan menahan tangan Nara yang ingin melepaskan sepatunya itu.
"Tidak, jangan! aku bukan meminta sepatumu.. aku hanya memujinya dan ingin memiliki yang seperti ini nanti." katanya.
Nara menghela nafasnya menatap ke arah dinding di depannya yang ditempeli oleh kertas bergambarkan jantung dengan segala fungsinya.
"Aku tidak menginginkan sepatu ini." gumamnya pelan.
Aeri mengerutkan keningnya, "Kenapa kau tidak ingin memilikinya Nara? kau membelinya dan ini sangat cocok denganmu." tanya Aeri heran.
"Tidak, sepatu ini tidak cocok denganku." jawab Nara sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku merasa seperti seorang pecundang begitu menyadarinya, aku.. aku tidak bisa melakukan apapun." gumamnya lagi.
"Kau? apa yang tidak bisa kau lakukan itu Nara? tenanglah, kau bisa melakukannya kecuali hal-hal yang diluar kemampuan manusia."
"Apa yang bisa dilakukan oleh orang lain, kau pasti juga bisa melakukannya." jelas Aeri.
Nara menatap ke arah Aeri dengan wajah tak percaya, "Benarkah? apa aku bisa melakukan yang dilakukan oleh dokter Zayn? seperti berbuat semaunya?" tanua Nara.
Aeri mengerjapkan matanya, ah ia jadi tau arah pembicaraan Nara sejak tadi, apa yang dibicarakan olehnya.
Pikirnya.
"Apa kau ingin menginap OCD sepertinya juga?" tanya Aeri polos.
Nara menghela nafasnya, "Sudahlah, kau tidak akan mengerti dan merasakan apa yang kurasakan dan tengah kualami sekarang."
"Walaupun aku tidak merasakan apa yang kau alami Nara, setidaknya aku akan tetap membantumu untuk tetap tersenyum sebagai rekan, teman, atau hanya sebagai sesama manusia."
"Bukanlah tugas kita untuk saling membantu sama lain saat salah satu diantara kita membutuhkan bantuan?" tanya Aeri.
__ADS_1