
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar๐ค
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca๐ค๐ค๐ค๐ค
...๐๐๐...
"Kita mulai terapinya." kata Jesslyn.
Zayn semakin mengerutkan keningnya kebingungan, apa sih maksud dari ucapan Jesslyn barusan pikirnya.
"Bukankah kita sudah terapi sejak tadi?" tanya Zayn.
Jesslyn tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya, "Aku tadi menghipnotismu untuk menggali informasi yang tidak akan bisa kau katakan pada orang lain."
Zayn membelalakkan matanya kaget, "Apa saja yang aku katakan padamu?" tanyanya.
"Cukup banyak mengenai rasa sakitmu yang kau tahan selama ini dan tidak diketahui oleh istrimu." jawabnya.
Jesslyn menghela nafasnya pelan, "Cobalah untuk memberitahunya dokter Zayn, ceritakan padanya dan bagilah rasa sakitmu dengannya."
Jesslyn menatap Nara yang ada diluar dan tersenyum padanya, Zayn pun ikut menatap Nara juga.
"Lihatlah, istrimu sudah duduk disana selama satu setengah jam memperhatikan dan menunggumu sejak tadi. Apa kau tidak merasa terharu?" tanya Jesslyn
Zayn diam mendengarnya, benar.. Nara banyak membantunya hingga bisa seperti ini dan dengan setia menunggunya.
"Beritahu dia saat kau siap Zayn, ceritakan semua keluh kesahmu yang kau beritahu padaku tadi." kata Jesslyn.
Zayn menarik nafasnya dalam, "Akan aku ceritakan suatu saat nanti." jawabnya.
Karena Zayn belum bisa memastikan dirinya bisa melakukannya, ada banyak sekali luka yang belum Nata ketahui.
Banyak sekali dan Zayn menyimpannya sendirian.
"Baiklah, sesimu hari ini sudah hampir habis. Kau bisa kembali lagi nanti untuk melanjutkan sesimu yang selanjutnya." kata Jesslyn saat melihat jam.
"Ingat, kau belum sembuh Zayn.. kau harus tetap menjalani terapi denganku sampai aku bisa memastikan kondisimu baik-baik saja." lanjutnya.
Jesslyn berdiri begitu pula dengan Zayn yang menatap Jesslyn dengan tatapan tak suka.
"Kenapa kau memanggil namaku saja? Zayn." tanyanya.
Jesslyn tertawa pelan, "Kau memang lebih tua dariku Zayn tapi disini aku adalah doktermu jadi kau yang harus menghormatiku." kata Jesslyn.
Sialan, pikir Zayn.
Hah, licik juga wanita ini.
"Baiklah, aku akan kembali kapan-kapan." kata Zayn dan hendak pergi.
"Tunggu!" kata Jesslyn yang langsung membuat Zayn berhenti dan berbalik menatapnya.
Bahkan membuat Nara yang ada diluar memiringkan tubuhnya agar bisa melihat apa yang mereka lakukan.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Zayn.
Jesslyn mengulurkan tangannya pada Zayn membuat pria itu menatap tangannya heran.
"Terima kasih untuk kerja samamu di hari pertama." ucapnya.
Zayn hanya diam, tak berniat sedikitpun untuk membalas uluran tangan dari Jesslyn.
"Anggap aku sebagai orang asing dan coba sentuh tanganki sebagai terapi." kata Jesslyn.
"Coba pegang tanganku. Tangan orang asing yang tidak pernah kau temui sebelumnya." kata Jesslyn lagi.
Zayn hanya diam, ia menatap Jesslyn dengan tatapan tak percaya. Namun dengan sabarnya Jesslyn menunggu karena menyembuhkan orang seperti Zayn adalah arti dari sabar menunggu.
"Tidak, aku tidak mau." tolak Zayn dengan cepat.
Jesslyn langsung mengubah wajahnya menjadi sedih, "Kenapa? aku dan Nara sama-sama seorang wanita. Kenapa kau tidak mau menggenggam tangan orang lain selain Nara?" tanyanya.
"Kau akan baik-baik saja Zayn, percayalah.. coba pegang tanganku." kata Jesslyn lagi.
Zayn pun menatap Jesslyn dengan tatapan diam namun penuh menelisik, perlahan ia mengangkat tangan kanannya sendiri.
Perlahan sekali karena Zayn ragu sebenarnya namun Jesslyn langsung menarik tangan Zayn dan menggenggamnya.
Zayn tersentak kaget, ia ingin menarik tangannya namun sayangnya Jesslyn menahan tangannya.
Sampai beberapa detik kemudian barulah Jessly melepaskannya.
"Tidak apa-apa Zayn, lihatkan?" tanyanya.
Namum Zayn hanya diam saja, ia sedikit takut dan juga marah dengan yang Jesslyn lakukan padanya barusan.
"Aku permisi." kata Zayn dan langsung melenggang pergi.
Ia menghampiri Nara dan langsung menggenggam tangan istrinya itu.
"Semuanya berjalan dengan lancar kan?" tanya Nara.
Zayn berdecih, "Psikiater itu membuatku kesal saja." ucapnya.
Nara mengulum senyumnya, "Kau kesal padanya? kenapa? dia kan hanya membantumu." tanyanya.
"Membantu apanya. Kau tau? dia menggenggam tanganku tadi, memintaku untuk berjabatan tangan dengannya." kata Zayn penuh emosi.
"Dia menggenggam tanganmu?" tanya Nara.
Zayn mengangguk, "Ya, dia membuatku kesal." katanya.
"Kemarikan tanganmu yang tadi dipegang olehnya." kata Nara.
Zayn pun mengulurkan tangan kanannya pada Nara dan langsung digenggam oleh istrinya itu.
Fyi, cerita ini berlatar diluar negeri ya jadi berbeda dengan di Indonesia.
"Sudah tidak apa-apa, aku sudah menggenggan tanganmu semuanya baik-baik saja." kata Nara.
__ADS_1
Zayn tersenyum mendengarnya, baguslah. Ia senang jika Nara seperti ini.
"Kau ingin jalan-jalan?" tanya Zayn..
Nara menaikkan sebelah alisnya, "Jalan-jalan? kemana?" tanyanya.
"Kau aka nanti." jawab Zayn.
...๐๐๐...
Setelah menempuh kurang lebih setengah jam perjalanan Zayn dan juga Nara sampai disebuh pantai yang ada di dekat kota mereka.
Pantainya tidak terlalu cantik namun Zayn yakin ini cukup untuk membuat Nara senang.
Deburan ombak terdengar dengan keras, bahkan Nara tak henti-hentinya tersenyum lebar melihat pemandangan di depannya.
Mereka datang di waktu yang tepat.
Matahari mulai turun, sinar orange terlihat menyeruak. Senja.
Zayn tau Nara menyukainya saat mereka melihat senja untuk pertama kalinya dan benar saja, mata Nara berbinar sejak tadi.
"Kau menyukainya?" tanya Zayn.
Nara mengangguk, "Ya, aku sangat menyukainya Zayn.. ini sangat cantik." jawabnya.
Zayn dan Nara pun keluar dari dalam mobil, Nara langsung berlari ke arah lautan dan menikmati air laut yang menderai kedua kakinya.
Sedangkan Zayn yang masih berjalan jauh di belakangnya hanya bisa tertawa melihatnya.
Angin laut yang kencang membuat rambut Nara yang digerai berterbangan, untungnya kali ini Nara tidak menggunakan gaun atau dirinya akan masuk angin.
"Kau meninggalkanku." kata Zayn.
Nara melirik suaminya itu yang berdiri tidak jauh di belakangnya, Nara pun menghampirinya dan keduanya duduk diatas pasir putih lautan.
"Kenapa kau membawaku kesini?" tanya Nara.
Jujur ia tidak menyangka Zayn akan mengajaknya ke tempat seperti ini, sama sekali tidak terpikirkan olehnya.
"Karena kau suka senja." jawabnya.
"Tapi kenapa aku tidak tau jika ada sebuah pantai secantik ini didekat kota?" tanya Nara.
Zayn tersenyum tipis mendengarnya.
"Aku sudah lama tau tempat ini dan sering datang kesini dulunya."
Nara pun meliriknya, "Kau sering kesini? dengan siapa?" tanyanya.
Zayn mengambil nafas dalam, membuangnya dan melakukannya berulang kali sambil menatap matahari di depannya yang hampir menghilang.
Ia menarik Nara kedalam pelukannya, nyaman sekali.
"Saat aku kabur dari rumah. Saat aku kabur dari rumah, aku pergi entah kemana sambil berjalan kaki dan sampai di tempat ini." ucapnya.
__ADS_1
"Waktu itu orang tuaku sering bertengkar setiap harinya dan aku stres mendengarnya. Jadi aku pergi dari rumah dan tersesat sampai di pantai ini."