Perfectionist Husband

Perfectionist Husband
Membuat Ana terdiam


__ADS_3

Nara tertawa membacanya, "Astaga apa ini dokter Zayn yang menulisnya?" tanyanya tak percaya.


"Ternyata mulutnya bisa berkata manis juga setelah berhari-hari berkata kasar dan hanya menyindirku saja." gumamnya.


Nara membuka bungkusannya, terlihat steak di dalamnya yang membuat perut Nara langsung berbunyi keroncongan.


"Ah steak ini pasti sangat lezat." gumam Nara.


Langsung saja Nara membenarkan posisi duduknya dan melahap makanan di depannya dengan lahap.


"Emm.. karena dokter Zayn aku bisa kembali mencicipi enaknya steak mahal ini." ucapnya ssnang.


"Tidak apa jika bibirnya senang berbicara kasar kepadaku, yang penting dia tidak pelit dengan semua kekayaan yabg dia miliki." kata Nara.


Nara memegangi perutnya sendiri setelah menghabiskan satu porsi steak. Tidak, Nara tidak sekenyang itu, steak ini hanya seperti pengganjal perut baginya.


"Kapan dokter Zayn selesai dengan operasinya? aku bosan sekali menunggunya disini." gumam Nara.


"Apa dia mengatakan padaku jika itu operasi besar?" tanya Nara lagi.


Nara menggelengkan kepalanya, "Tidak, dia tidak mengatakannya. Bagaimana jika operasinya selesai tengah malam ini?" tanya Nara lagi.


Nara meringis membayangkannya, "Tidak, aku tidak bisa menunggunya selama itu."


Membayangkan dirinya menunggu Zayn seorang diri di ruangan sepi seperti ini saja sudah membuat Nara merinding ketakutan dan juga mual.


Mengingat tadi pagi ia menunggu Zayn ditemani oleh Aeri pun, dirinya bisa tertidur karena bosan apalagi jika dirinya harus berada disini hingga tengah malam.


"Aku harus pulang sekarang." ucap Nara.


Nara mengambil tas miliknya lalu berjalan membuka pintu namun ia menghentikan langkahnya saat melihat siluet yang akan membuat Zayn berteriak dan marah.


"Plastiknya."


Nara mengambil plastik dan juga bungkus steak tadi, merapikan kembali meja kerja Zayn dan menyemprotkan disinfektan guna meminimalisir bakteri dan juga kuman yang ada.


"Sudah rapi." ucap Nara senang.


Dengan langkah santai Nara berjalan menuju lift dan turun ke lantai dasar, ia membuang sampahnya di tong sampah yang ada didekat lift.


Saat Nara berjalan, semua mata menatap kearahnya membuat dirinya bingung dan merasa tidak enak.


"Ada apa dengan penglihatan mereka? kenapa mereka menatapku terus?" gumam Nara.

__ADS_1


Nara berjalan dengan perlahan, "Apa ada yang salah dengan penampilanku? apa aku terlihat sangat jelek karena baru saja bangun?" gumam Nara lagi.


Nara meringis, "Ah pasti ada yang aneh dengan wajahku.. kenapa aku tidak berkaca dulu sebelum turun."


Nara langsung menundukkan kepalanya menutupi wajahnya dengan rambutnya sendiri dan setelahnya ia langsung berlari dengan cepat keluar dari rumah sakit.


Nara menghela nafasnya begitu sampai diluar, buru-buru ia berjala menuju ke halte bus untuk sampai di kamar kostannya.


4 jam kemudian....


Zayn keluar dari ruang operasi bersama dengan dokter Ana dan juga Aeri dibelakangnya.


Orang tua dari wanita berumur 25 tahun yang mereka operasi menunggu dengan wajah khawatir di depan ruangan, mata mereka berdua terlihat sembab dan ada bekas air mata di pipinya.


Zayn terdiam melihatnya, bagian yang menyakitkan saat menjadi dokter adalah harus melihat orang tua pasien menangis.


Zayn tidak bisa melihatnya.


Ana tersenyum kepada kedua orang tua wanita itu, menjelaskan bahwa anak mereka baik-baik saja karena operasi berjalan dengan lancar semestinya.


"Kau hanya perlu membayangkan hal yang membuatmu nyaman Zayn." ucap Nara di danau malam itu.


Tiba-tiba saja perkataan Nara terlintas di kepalanya, "Apa ini saatnya untukku mulai mengobati OCDku ini?" batin Zayn.


"Ayo Zayn." ajak Ana.


"Kerja bagus Zayn, kita berhasil melakukan pencangkokannya lagi." ucap Ana.


Zayn tersenyum mendengarnya, "Ya, aku lega.. kerja bagus juga Ana, kau perlu beristirahat setelah ini." jawab Zayn.


"Ya Zayn, kau juga."


Ana menatap Zayn yang tatapannya lurus ke depan, sangat terlihat jika dirinya kaku dan tidak bisa berkompromi dengan keadaan.


Sekedar berbasa basi bersama rekan kerjapun Zayn tidak pernah melakukannya.


"Ah.. aku mendengar gosip yang beredar di rumah sakit. Benarkah kau sudah menikah Zayn? dan mereka bilang, kau menggendong tunanganmu tadi siang?" tanya Ana.


Zayn menganggukkan kepalanya membuat Ana kaget.


"Ya, aku sudah bertunangan dan memang benar aku menggendongnya ke ruanganku karena dia terlalu lelah menungguku saat bekerja." jelas Zayn.


Ana tertawa mendengarnya, "Wah ini hal yang luar biasa Zayn.. kau bertunangan." ucapnya tak percaya.

__ADS_1


"Dan apa tunanganmu tidak bekerja? dia tidak punya pekerjaan? kenapa dia menunggumu di rumah sakit saat dirimu tengah bekerja seperti sekarang?" tanya Ana.


Ya, dia sedikit memandang remeh saat mendengar jika tunangan Zayn berada di rumah sakit sepanjang hari dengan pakaian dan juga barang-barang mewah.


Dalam pikiran Ana pasti tunangan Zayn hanya mengincar hartanya saja.


Sedangkan Aeri menatap tak suka kepada dokter Ana saat mendengar penuturannya. Jelas sekali ia tau jika Nara adalah wanita pekerja keras dan berhati baik.


"Dia berhenti bekerja atas permintaanku. Aku ingin dia berada disampingku 24 jam sebelum kami menikah, bagaimana tanggapanmu?" tanya Zayn.


Aeri tersenyum mendengarnya, "Ayo dokter, bela tunanganmu dengan baik! aku mendukungmu!" batin Aeri.


Ana mengerjapkan matanya berulang kali, "Ya tidak masalah.. kau pemilik rumah sakit ini. Tapi kau tau kan Zayn, dia orang asing dan tidak boleh mengganggu pekerjaanmu sama sekali."


Zayn tersenyum mendengarnya, "Aku sangat paham dengan kode etik sebelum kita bekerja Ana, aku bahkan hafal setiap pasalnya dengan jelas. Kau tau kan, IQ ku 159? tidak sulit untukku memahaminya." jelas Zayn.


Ana menelan salivanya, ia kalah telak berbicara dengan Zayn.


"Baiklah Zayn, tidak apa. Aku mengerti dengan baik bahwa dirimu adalah lulusan terbaik dari Harvard."


"Dan selamat untuk pertunanganmu, akhirnya kau tidak akan dicap sebagai seorang gay setelah ini dan cepatlah adakan upacara pernikahan." ucap Ana kemudian segera berjalan meninggalkan Zayn dan juga Aeri.


"Hah, upacara pernikahan." gumamnya.


"Ayo dokter, kau pasti lelah dan Nara pasti tengah menunggumu di atas." ajak Aeri.


Zayn langsung berdecak, "Aku sampai lupa dengan Nara."


Buru-buru Zayn lari ke arah lift khusus miliknya, semua orang langsung mundur menjauh dari Zayn takut jika akan mendapatkan masalah.


"Kuharap dia tidak tertidur lagi diruanganku." ucap Zayn saat dirinya melihat ke arah arlojinya.


Pukul 10 malam.


Zayn segera masuk ke dalam ruangannya begitu lift terbuka, ia menatap ke sekeliling ruangannya dan kosong.


Nara tidak ada disana.


"Dia tidak ada disini?" gumam Zayn.


"Kemana dia?" tanya Zayn, ia mengambil ponselnya yang ada di atas meja kemudian menghubungi Nara.


Drrtt... drrttt...

__ADS_1


Nara memutar posisi tidurnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut mendengar suara ponselnya yang berdering.


"Hah, beraninya dia mengabaikan panggilanku?" tanya Zayn kesal.


__ADS_2