
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗
Yuk tinggalkan jejak!
Buat yang tanya Zayn kapan sembuhnya sabar yaa semuanya..
Zayn punya trauma yang dalam dan Nara juga baru mulai bantu Zayn buat sembuh. Author juga buat alurnya lambat supaya bisa liat step by stepnya..
Selamat membaca🤗🤗🤗🤗
...💜💜💜...
"Sudah kubuang." jawab Zayn santai.
Nara langsung membelalakkan kedua matanya kaget, "Astaga! kau membuangnya dokter?" tanyanya tak percaya.
Zayn berdecak lalu meletakkan ponselnya.
"Diamlah, aku sedang mengompres memarmu." ucapnya.
Nara pun diam setelahnya.
"Bagaimanw bisa kau mendapati luka memar seperti ini? kau bodoh? kenapa ceroboh sekali."
Nara merengut mendengarnya, "Aku juga tidak sengaja membuatnya luka seperti ini." cicitnya.
Zayn menghela nafasnya pelan, "Karena itu berhati-hatilah lain kali. Hanya kau yang bisa menjaga dirimu sendiri." ucapnya.
Nara menipiskan bibirnya sendiri, benar sekali. Hanya dirinya yang benar-benar bisa melindungi dirinya sendiri.
"Aku akan berhati-hati mulai sekarang." ucapnya.
Zayn pun diam, ia melepaskan ice bag yang ia kompreskan di dahi Nara, sepertinya sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Kau bilang akan membantuku sembuh. Lakukanlah." ucap Zayn.
Nara mendongakkan kepalanya lalu mengerjap menatap Zayn yang juga tengah menatapnya.
"Lakukanlah, aku ingin sembuh." ucapnya lagi.
"Kau serius?" tanya Nara.
Zayn berdecak, "Untuk apa aku berbohong padamu?"
Ah benar untuk apa Zayn berbohong padanya.
Nara berdehem sejenak, "Kalau begitu jangan pernah menghindar dari sentuhanku dan ikuti perkataanku." ucap Nara.
Zayn hanya memasang wajahnya datar, "Ya, lakukan saja sesukamu. Apapun itu."
Ting
Nara seperti mendapatkan lampu hijau sekarang, ia mendekat pada Zayn tiba-tiba membuat suaminya itu refleks memundurkan tubuhnya sedikit.
"Ya! jangan maju tiba-tiba seperti itu!" pekiknya kaget.
Nara hanya cekikikan saja, "Maaf dokter.. karena kau bilang lakukan saja sesukaku, bisakah kau menuruti permintaanku yang ini?" tanyanya.
"Ya, akan aku turuti. Aku merasa menjadi suami yang jahat jadi kulakukan ini." ucapnya.
__ADS_1
Nara tersenyum lebar mendengarnya, benar-benar lampu hijau!
"Ikutlah menemui psikiater bersamaku dan lakukan terapi." pinta Nara.
Zayn diam sejenak, ia tampak tak setuju dengan permintaan Nara barusan.
"Kau sudah mengatakan akan menurutiku." ucap Nara.
Terdengar helaan nafas pelan dari Zayn, "Baiklah, aku akan melakukannya. Kau bisa mengaturnya nanti setelah melihat jadwalku di rumah sakit." jawabnya pada akhirnya.
"Benarkah?" tanyanya lagi.
Zayn mengangguk, "Tapi aku tidak janji, kau tau aku harus selalu siap 24 jam."
Nara menghela nafasnya pelan, ah benar sekali.. siap siaga 24 jam sebagai dokter.
"Apa kau pernah harus kerumah sakit saat tengah malam?" tanya Nara tiba-tiba.
Terlintas di pikirannya untuk menanyakan hal ini.
Zayn mengangguk lagi, "Tentu saja, malam pernikahan saat kau tertidur pulas dengan gaun pengantinmu, aku berada dirumah sakit pukul 2 pagi karena ada pasienku yang mengalami kritis."
Nara menutup mulutnya sendiri tak percaya. Pukul 2 pagi pergi ke rumah sakit dan itupun dihari pernikahan mereka?
"Kenapa kau terkejut?" tanya Zayn.
"Tentu saja dokter, kau-maksudku kita menikah hari itu dan tengah malam kau harus langsung bekerja?"
"Wah..." gumam Nara tak percaya.
Selain jam makan yang sering telat, Zayn juga kurang istirahat. Jam tidurnya tidak teratur.
"Jika malam itu aku tetap tidur dan mengabaikan panggilan darurat dari rumah sakit, mungkin satu nyawa tidak akan selamat. Dia tanggung jawabku sebagai dokter yang menanganinya." lanjutnya.
Nara mengerutkan keningnya, separah itukah?
"Tapi dokter, kenapa tidak dokter lain saja yang menangani pasienmu? dokter yang bertugas di rumah sakit." tanyanya.
"Kau lupa? kami bekerja berlandaskan kode etik kedokteran." tanyanya.
"Pasal 19, setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan persetujuan keduanya atau berdasarkan prosedur yang etis."
"Ah... begitu." gumamnya mengerti.
Zayn menghela nafasnya pelan, "Aku mengantuk, ingin tidur. Jangan lupa berikan salep agar memarmu cepat sembuh." ucapnya kemudian berdiri.
Nara hanya diam saja menatap Zayn yang berbalik dan segera berlalu. Namun ia mengerutkan keningnya saat Zayn kembali membalikkan tubuhnya sendiri.
"Ada apa?" tanya Nara.
"Kau ingin tidur bersamaku lagi malam ini?" tanyanya tiba-tiba.
Zayn mengerjapkan kedua matanya sendiri, menyesali kenapa kata-kata itu harus keluar dari mulutnya tapi ah sudahlah pikirnya.
"Kau tidak mau membantuku lagi?" tanya Zayn.
"Tentu, aku bersedia membantumu." jawabnya cepat.
Zayn menyunggingkan senyumannya namun ia buru-buru menyembunyikannya, tidak ingin terlihat oleh Nara.
__ADS_1
"Ya sudah ayo." ajak Zayn.
Nara langsung mengambil ponselnya dan berjalan mengikuti Zayn dibelakangnya.
Ia menerka-nerka apa yang membuat Zayn tiba-tiba saja ingin sembuh bahkan mau bertemu dengan psikiater padahal sebelumnya Zayn menolaknya.
Apa kepala Zayn baru saja mengalami cidera? pikir Nara.
Mungkin saja, dia jadi aneh. Bahkan mengompres memar di dahiku. Batinnya lagi.
Begitu sampai di apartementnya, Zayn dan Nara langsung masuk ke dalam kamar. Nara buru-buru berjalan ke arah ranjang.
Dan benar saja.
Ranjangnya sudah diganti, berbeda dengan yang sebelumnya dan kali ini pun ranjangnya jauh lebih besar daripada sebelumnya.
Lebih mewah dan lebih... mahal pastinya.
"Sikat gigimu, cuci wajahmu dan bersihkan dirimu sebelum tidur." kata Zayn.
Pria itu sibuk mengatur ranjang, ia meletakkan guling dan juga bantal di tengahnya.
Nara jadi merasa seperti orang mesum lagi hari ini.
Nara tersenyum miring, enak saja Zayn memperlakukannya seperti ini.
Jika seperti ini terus tidak akan ada perubahan sama sekali.
Rencana pertama... Nara menyunggingkan senyumannya.
"Kenapa kau meletakkan pembatas di tengah dokter?" tanya Nara.
Zayn meliriknya, "Tentu saja agar kita tidak bersentuhan, aku tidak tau apa yang akan kau lakukan padaku." jawabnya.
"Aku memang harus melakukan sesuatu dokter.. bagaimana kau ingin sembuh kalau tidak ingin melakukan skinship dengan orang lain termasuk aku?" tanyanya.
Zayn langsung menatap ke arahnya dengan wajah kesal yang membuat Nara mengulum senyumnya sendiri.
"Baiklah." kata Zayn.
Pria itu mengangkat bantal dan gulingnya, menyimpannya lagi di dalam lemari yang ada di walk in closetnya.
Jujur saja, Zayn begitu rapi dan bersih. Alih-alih meletakkannya dibawah atau sekedar menggesernya, Zayn lebih memilih menyusunnya lagi di dalam lemari.
"Sudah, sekarang bersihkan dirimu." kata Zayn begitu kembali.
Rencana kedua, batin Nara.
"Tidak, aku tidak akan membersihkan diriku." tolaknya.
Bruk
Nara langsung menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang begitu saja membuat Zayn membelalakkan matanya.
"Kau! kenapa kau langsung tidur disitu?" tanyanya.
"Kau harus terbiasa dokter, lagi pula aku tidak dari tempat kotor, kau lihat sendirikan aku bersih dan rapi? tahan dirimu... tahan." ucapnya.
Zayn menarik nafas dalam, menghelanya lalu menarik nafas dalam lagi.
__ADS_1
"Aku akan mandi dulu sebelum tidur." ucapnya sambil melenggang masuk ke dalam kamar mandi.