
"Bahkan sekarangpun aku bisa mengetahui jika kau tak sabar menungguku berbicara." jawabnya.
Nara langsung membelalakkan matanya mendengarnya, "Wah kau benar-benar tau apa yang aku pikirkan dan rasakan. Cepat katakan dokter, bagaimana caramu mengetahui setiap apa yang aku pikirkan dan katakan di dalam hatiku."
Zayn menghela nafasnya dan menyandae pada kursinya, menatap Nara yang menunggunya dengan rasa penuh penasaran.
"Kau mudah ditebak, mudah sekali." jawab Zayn.
Nara mengernyitkan dahinya, "Hah tidak dokter tidak, aku mempunyai banyak teman di panti asuhan dan juga di sekolah tapi baru dirimulah yang bisa mengetahui apa yang aku pikirkan dengan tepat." kata Nara.
"Benarkah?" tanya Zayn tak percaya.
Nara menganggukkan kepalanya, "Benar, kau selalu menebak dengan benar selama ini, tidak ada yang salah dari tebakanmu sedikitpun dokter." ucap Nara.
"Kalau begitu kau selama ini memang benar-benar sering mengataiku dalam hati, benarkan?" tanya Zayn tepat sasaran.
Nara mengedipkan matanya berulang kali, menatap ke arah lain menghindari tatapan menusuk dari Zayn.
"Hah ternyata benar apa yang aku tanyakan, kau bahkan menghindari tatapanku. Jika aku salah, kau tidak akan melakukannya." kata Zayn.
"Maafkan aku dokter, tapi perkataanmu terkadang membuatku kesal." ucap Nara.
Zayn menghedikkan bahunya, "Aku tak ingin tahu tentang itu, dirimu sendirilah yang masuk ke dalam jurang kehidupanku jadi nikmatilah." ucapnya.
Nara menghela nafasnya dan menatap Zayn kesal, "Hah percuma aku bertunangan dengannya, sifatnya tidak berubah sama sekali." batin Nara.
Zayn menjentikkan jarinya di depan wajah Nara, "Kau seharusnya berterima kasih padaku sejak awal bukan mengataiku dalam hati seperti ini."
"Dan tatapan matamu sama sekali tidak bisa berbohong, apa yang kau rasakan.. apa yang kau kesalkan.. apa yang ada di dalam hatimu dan bagaimana perasaanmu semuanya tergambar dengan jelas di matamu itu." jelas Zayn.
Nara ber-oh ria mendengarnya, menganggukkan kepalanya mengerti.
"Jadi kau melihatnya dari kedua mataku ini dokter?" tanya Nara sambil menunjuk kedua matanya bergantian.
Zayn menganggukkan kepalanya, "Benar."
"Bagaimana jika aku menutup mataku?" tanya Nara sembari menutup matanya.
"Bodoh!" ucap Zayn.
Nara membuka matanya dan menghela nafas mendengarnya, sudahlah apa yang Nara harapkan dari pria di hadapannya itu.
Tok tok tok
"Dokter.." panggil Aeri dari luar.
"Buka saja pintunya Aeri." kata Zayn.
Aeri membuka pintunya, melirik ke dua insan yang tengah duduk berhadapan itu.
__ADS_1
"Ada apa Aeri?" tanya Zayn.
"Ah, sudah waktunya untuk ke ruang praktekmu dokter.. sebentar lagi pasien yang akan berkonsultasi akan berdatangan." ucap Aeri.
Zayn menganggukkan kepalanya, "Tunggu aku didepan." ucapnya.
Aeri menganggukkan kepalanya dan membungkuk, setelahnya ia kembali menutup pintu dan menunggu di dekat lift.
"Ayo, pekerjaanmu dimulai sekarang." kata Zayn.
Nara menaikkan kedua alisnya, "Pekerjaan? apa yang harus aku lakukan dok? kau ada jadwal praktek." tanya Nara.
"Kau ingin tahu? kalau begitu bawa disinfektan dan juga hand sanitizer ini dan berjalanlah di sampingku." kata Zayn.
Nara menganggukkan kepalanya patuh, ia mengikuti Zayn yang berjalan keluar dari ruangannya.
"Tutup pintunya." ucap Zayn.
Nara langsung menutup pintunya dan mengikuti Zayn disampingnya sedangkan Aeri berjalan di depan Zayn.
Mereka masuk ke dalam lift yang berbeda, Nara dan Aeri masuk ke lift untuk semua orang dan Zayn masuk ke lift khusus dirinya.
"Nara kau hebat, bagaimana caramu menaklukan hati dokter Zayn? sangat susah mendekatinya, bahkan menyentuhnya saja pun terasa seperti mimpi." tanya Aeri.
Nara terkekeh pelan mendengarnya, "Hah..." Nara menghela nafasnya.
Ting
Pintu lift terbuka, Nara dan Aeri langsung keluar dan tak lama Zayn juga keluar dari dalam liftnya. Sontak semua orang kembali menjauh dari Zayn saat melihatnya berjalan disana.
"Silahkan bersiap-siap dokter, saya akan mengecek pasien anda yang sudah hadir." ucap Aeri ketika Zayn sampai diruangannya.
"Iya, bekerjalah dengan baik." kata Zayn.
"Baik dok."
Zayn dan Nara masuk ke dalam ruangan, Zayn memakai kacamatanya menambah damage pada dirinya membuat Nara terpana dengan Visual seorang Zayn Xavier yang begitu sempurna.
"Jangan melihatku terus seperti itu, nanti wajahku bisa bolong karena tatapanmu." ucap Zayn.
Nara langsung memalingkan wajahnya mendengar perkataan Zayn tersebut. Zayn mengambil satu kursi dan meletakkannya di dekat kursinya.
"Duduklah disitu sebentar." ucap Zayn.
Zayn duduk di kursinya dan Nara ikut duduk disana, "Ada apa? kenapa aku duduk disini?" tanya Nara.
"Apa ini pekerjaanku?" tanyanya lagi.
Zayn menggelengkan kepalanya, "Tidak. Kau tidak boleh ada disini saat pasienku datang nantinya."
__ADS_1
"Ahh, benarkah?"
"Pasal 16. Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia." ucap Zayn.
"Kami mempunyai kode etik ketika bekerja, dan dirimu adalah orang asing saat aku sedang bekerja jadi kau tidak boleh mendengae satupun informasi tentang pasienku." ucapnya lagi.
"Baiklah dokter aku mengerti." kata Nara.
"Bagus jika kau mengerti. Kau mau tau apa pekerjaanmu sekarang?" tanya Zayn sambil menatap Nara.
Nara menganggukkan kepalanya, "Iya, apa pekerjaanku dokter Zayn yang baik hati?" tanyanya.
Zayn tersenyum miring, "Karena kau telah memujiku maka aku akan memberikan pekerjaan yang kau senangi."
"Duduk di depan bersama dengan Aeri dan tunggulah tunanganmu ini selesai dengan pekerjaannya." kata Zayn.
Nara menganga tak percaya mendengarnya, Zayn menguji kesabarannya.
"Aku?" tanya Nara dan Zayn mengangguk.
"Duduk didepan?" Zayn mengangguk lagi.
"Menunggu sampai kau selesai bekerja dokter?" tanyanya.
Zayn kembali menganggukkan kepalanya, "Ya, aku mungkin selesai pukul dua siang, jadi silahkan tunggu di depan dengan manis ya tunanganku." ucap Zayn sembari tersenyum manis.
Nara menghela nafasnya pelan dan memejamkan matanya sejenak, kemudian dia berdiri dan hendak keluar.
"Oh iya satu lagi, semua orang sudah tahu kau tunanganku pasti dari Aeri, jadi jika ada yang menghampirimu dan bertanya maka jawablah dengan baik. Kau mengertikan tunanganku?" tanya Zayn.
Nara tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Ya, tentu saja tunanganku, aku sangat mengerti dengan tugasku hari ini jadi aku akan ke depan dan menunggumu dengan manis." jawab Nara.
Zayn mengangkat tangannya mempersilahkan Nara untuk keluar dari ruangannya.
Nara menutup pintu kemudian menghela nafasnya menahan geramannya, Aeri yang melihatnya mengernyitkan dahinya.
"Ada apa Nara? kenapa kau terlihat begitu kesal? dokter Zayn mengatakan sesuatu kepadamu?" tanya Aeri.
"Dia benar-benar mengesalkan sekali, ah.. benar-benar menguji kesabaranku." ucap Nara.
Aeri tertawa mendengarnya, "Aku mengerti, aku dan tunanganku juga seperti itu.. dia sering membuatku marah dan ingin mengacak-acak wajahnya tapi kami tetap saling mencintai satu sama lain."
"Aku yakin dokter Zayn begitu karena dia benar-benar mencintaimu, dia senang menjahilimu." ucap Aeri sambil tertawa.
"Ya, kau benar Aeri.. dia benar-benar sangat senang sekali menjahiliku, sepertinya itu sudah menjadi hobinya sekarang." gumam Nara sembari menyampingkan badannya menatap Zayn yang melambaikan tangan kepadanya.
"Ya sudah, aku mau memanggil pasien pertama dulu ya Nara." ucap Aeri dan keluar untuk memanggil pasien pertama.
"Hah, aku pasti sudah gila sekarang.." rutuknya.
__ADS_1