Perfectionist Husband

Perfectionist Husband
Undangan biru


__ADS_3

Nara dan Zayn masuk bersama ke dalam ruangan Zayn, Nara langsung duduk di kursi dengan perasaan kesal.


"Siapa yang menyuruhmu duduk?" tanya Zayn.


"Aku lelah dokter, jadi tidak apa kan jika aku duduk sebentar disini." jawabnya.


Zayn menggelengkan kepalanya, "Tidak, kau tidak boleh duduk."


"Cepat berdiri." titahnya.


Nara menghela nafasnya pelan dan langsung berdiri, tak lama kemudian Zayn mengambik kotak berukuran sedang yang ada di dalam lemari.


"Kemarin sore diantar kesini saat kau dan mommy pergi." ucapnya.


"Apa ini dokter?"


"Bukalah, mommy yang memesannya."


Nara membuka kotak tersebut dengan perlahan, melepaskan lakban yang merekat lalu melirik ke dalamnya.


"Undangan?" tanyanya saat berhasil membuka kotak tersebut.


"Ya, dah sekarang tugasmu adalah mengajak Aeri untuk membagikan undangan ini ke seluruh perawat dan dokter yang bekerja disini."


Nara langsung menatap Zayn tak percaya, "Kau memintaku untuk membagikan ini ke semua orang?" tanyanya tak percaya.


"Bukan kesemua orang, kau hanya perlu membagikannya ke beberapa orang dan menitipkannya agar mereka memberikan kepada yang lain, toh kau juga bersama dengan Aeri yang mengenal baik mereka semua." jelasnya.


Nara langsung lemas mendengarnya, "Lalu apa tugasmu dokter?" tanyanya.


"Tugasku?" tanya Zayn.


Nara mengangguk, "Ya tugasmu dokter."


Zayn mengambil laporan medis yang ada dimejanya dan juga melirik ke arah jam tangannya.


"Tugasku sekarang adalah menyelamatkan nyawa seseorang yang menderita leukemia dengan melakukan transplantasi sumsum tulang belakang."


"Jauh lebih penting daripada hanya sekedar membagi undangan pernikahan." sindirnya.


Nara mengepalkan tangannya sendiri di samping gaunnya, menahan emosinya dengan menarik nafas dalam.


Ouh, jika ia boleh menampar wajahnya... Nara pasti akan melakukannya dengan senang hati.


"Ambillah secukupnya untukmu, kau bisa membaginya kepada temanmu ataupun panti asuhan. Mereka harus tetap tau jika kau akan menikah." ucap Zayn.

__ADS_1


Nara mengangguk senang, setidaknya ia bisa mengundang anak panti asuhan dan juga temannya di panti asuhan yang sudah bekerja.


"Aku tidak punya waktu, aku pergi dulu. Aku juga sudah memberitahu Aeri kemarin sore dan dia tidak ikut untuk jadwal operasi agar kau bisa bersama dengannya membagi ini." ucap Zayn kemudian mengambil snellinya dan bergegas pergi.


"Ck, baik sekali dirimu dokter memperhatikan ku dengan meminta Aeri menemaniku membagikan ini." gumamnya saat pintu tertutup.


Nara beralih menatap lagi susunan undangan yang ada di dalam kotak, undangan berwarna biru yang terlihat begitu mewah.


Nara mengambil salah satu undangannya, undangan berwarna biru dibagian luarnya dan ada warna gold di dalamnya serta undangannya yang berwarna putih.



(Abaikan nama dan tulisan)


"Astaga berapa banyak uang yang mereka habiskan hanya untuk undangan-undangan ini?" pikir Nara.


Jujur, ia berpikir akan sangat sayang sekali menghabiskan banyak uang hanya untuk undangan seperti ini yang nantinya pun akan dibuang oleh orang-orang.


Apalahi mommy Fey pasti memesannya dalam waktu yang 10 kali lebih cepat dari seharusnya dan harga yang harus diberikan pasti jauh lebih mahal.


"Wah.. apa orang kaya senang menghamburkan uangnya seperti ini?" pikirnya.


"Tidak Nara bukan menghabiskan uang." jawab Aeri yang ada di depan pintu.


"Ini semua pasti undangan untuk dirumah sakit." gumamnya.


"Bukan menghamburkan uang nona, tapi membuat undangan mahal bagi mereka adalah bentuk untuk memberitahukan bagaimana suksesnya mereka hingga bisa membuat ini."


"Kalau mereka menciptakan pernikahan yang sangat biasa, pasti orang-orang akan membicarakan yang tidak-tidak, seperti apa mereka sudah bangkrut sampai tidak bisa mengadakan pesta pernikahan yang mahal dan mewah?"


Nara diam mencerna ucapan Aeri, ada benarnya juga. Mungkin ini salah satu cara untuk menunjukkan pengaruh mereka.


"Menurut saya nyonya Fey pasti mencetak undangan yang lebih mewah lagi untuk kolega bisnis dan orang-orang penting Nara."


"Jika kami saja yang perawat mendapatkan undangan semewah ini, maka bisa dibayangkan bagaimana mewahnya undangan untuk para konglomerat dan juga orang-orang penting yang kenal dengan nyonya Fey." lanjutnya.


Nara menutup mulutnya sendiri tak percaya, "Wah.. baru undangan saja aku sudah terkejut, bagaimana lagi dengan pestanya." gumamnya.


Aeri yang mendengar itu hanya bisa tersenyum saja, ia mengambil alih kotak itu.


"Ayo Nara, kita bagikan bersama undangan ini." ajak Aeri.


"Kau hanya perlu mengikutiku saja Nara, biar aku yang membagikannya. Dokter Zayn hanya beralasan saja supaya kau tidak bosan sendirian." ucapnya.


Nara diam, benarkah Zayn melakukan ini agar aku tidak kesepian? pikirnya.

__ADS_1


Tapi bagaimana jika dia hanya ingin membuatku lelah saja? pikirnya lagi.


Nara Aeri kini sudah berada di lantai dasar rumah sakit, dimana sebagian aktivitas dimulai disini.


Para perawat dan dokter yang bertugas pun menghentikan sejenak aktivitas mereka saat melihat Nara dan membungkuk hormat kepadanya.


"Ini undangan untuk kalian, ambillah." ucap Aeri.


Dokter yang juga perawat yang ada di meja informasi langsung terkejut, "Untuk kami?" tanyanya.


"Iya undangan pernikahan dokter Zayn, kalian semua diundang."


Mereka langsung menutup mulut tak percaya sedangkan Nara hanya bisa tersenyum kikuk melihat bagaimana ekspresi terkejut mereka.


Mereka pun mengambil undangannya dan melihat bagian dalamnya, sama seperti Nara tadi ekspresi terkejutnya.


"Bawalah pasangan kalian saat datang nanti ya." ucap Aeri dan langsung melenggang pergi bersama dengan Nara.


Hanya dalam waktu 20 menit saja diselingi dengan candaan dan juga pertanyaan dari suster yang lain, undangan pun sudah berkurang setengah.


Saat Nara dan Aeri akan menaiki tangga menuju ke lantai dua, tiba-tiba saja Nara melihat Abian tengah syuting di taman bersama dengan beberapa pemain lainnya.


"Ada apa Nara?" tanya Aeri.


"Ah, aku ingin memberikan undangan kepadanya. Bagaimana pun dia teman masa kecilku di panti dan aku ingin dia ikut hadir dalam acara pernikahanku." ucapnya.


Aeri tersenyum mendengarnya dan memberikan satu undangan kepada Nara.


"Ini, berikanlah kepada aktor tampan itu. Dia juga pasti akan sedih jika kau tidak mengundangnya."


Nara tertawa pelan, kemudian berjalan keluar dari pintu menuju ke taman, disana Abian tengah menghapal skript miliknya dan sesekali tertawa dengan aktor dan aktris lainnya.


"Ekhemm." Nara berdehem pelan.


Mereka semua langsung menatap ke arah Nara begitu pula dengan Abian, "Nara? kenapa kau kesini?" tanyanya.


"Ah, itu aku hanya ingin memberikanmu sesuatu." ucapnya.


Abian mengerjapkan matanya, teman-teman aktor dan aktrisnya pun mengulum senyums saat Abian didekati oleh seorang gadis.


"Apa itu?" tanyanya.


Nara pun mengulurkan undangan berwarna biru kepada Abian, undangan yang bertuliskan namanya dan juga nama Zayn di dalamnya.


"Undangan pernikahanku, aku harap kau bisa datang dan ikut merayakannya di hari bahagiaku."

__ADS_1


__ADS_2