
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca🤗🤗🤗🤗
...💜💜💜...
Malam harinya Nara dan Zayn langsung kembali ke rumah begitu matahari terbenam. Puas melihat senja yang begitu cantik.
Zayn juga sangat berterima kasih karena Nara, ia sedikit bisa menghirup udara luar. Jika ia masih sendirian mungkin jika ada waktu luang seperti ini ia akan memilih tidur sepanjang hari di ranjang sampai kepalanya sakit.
Begitu sampai di apartement, keduanya berpisah di lantai yang berbeda. Nara menuju ke unit apartementnya sedangkan Zayn menuju ke apartement miliknya sendiri.
"Jangan lupa ke apartementku begitu selesai membersihkan diri."
Begitu kata Zayn tadi sebelum pintu lift tertutup. Sebuah kode bahwa Nara akan menginap bersama dengan Zayn di apartementnya.
Hah, Nara jadi gugup.
Namun ia juga tidak ingin membuat semuanya menjadi canggung. Nara ingin membuat dirinya dan juga Zayn tetap dekat seperti saat ini.
Saling membutuhkan satu sama lain? atau bisa dibilang apa ya.. hem..
Nara juga tidak tau, yang pasti hubungan mereka sangat baik sekarang.
Nara memakai baju tidur bermotif doraemon yang baru dibelinya beberapa hari yang lalu.
Sangat cantik saat dipakai olehnya dan Nara terlihat seperti seorang anak-anak karena memakai ini.
Orang mungkin akan berpikir usianya masih 17 tahun padahal ia sudah dipertengahan usia 20an.
Hah, ternyata menjadi kecil mempunyai keuntungan untuknya. Ia jadi terlihat lebih muda daripada usianya.
"Wah.. aku tidak salah membeli ini." gumam Nara senang.
Ia mengambil ponselnya lalu menyemprotkan sedikit parfum beraroma vanila juga ke pakaiannya.
Bagaimana pun Zayn penyuka kebersihan, jadi saat ja sampai disana sebisa mungkin Nara harus menjaga kebersihannya juga.
Walaupun Zayn bilang ia sudah sembuh.
Begitu selesai Nara langsung naik ke atas, menuju ke apartement Zayn dan membuka pintunya sendiri tanpa menekan bel lagi.
Karena ia sudah tau berapa sandi apartement Zayn sebelumnya.
Begitu masuk, Nara bisa merasakan betapa heningnya apartement satu lantai ini. Tidak ada suara apapun kecuali bunyi jarum jam.
Jika dulu, mungkin Nara akan ketakutan karena merasa merinding namun sekarang sudah tidak lagi.
"Kau sudah datang?" tanya Zayn saat Nara masuk ke dalam ruang televisi.
__ADS_1
Di depannya Zayn tengah duduk di sofa sembari memainkan ponselnya sendiri. Terlihat seperti suami yang sedang menunggu istrinya saat pulang larut.
"Duduklah, kenapa berdiri disana saja?" tanya Zayn sambil berbalik menatap Nara.
Nara mengangguk, ia pun menghampiri Zayn dan duduk di dekatnya dalam canggung.
"Kenapa diam saja?" tanya Zayn lalu meletakkan ponselnya.
Nara menarik nafasnya, aku diam juga karena kau sedang bermain ponsel dokter.. batinnya.
Melihat Nara yang diam meliriknya sinis membuat Zayn mengangguk mengerti.
"Ah aku sedang membicarakan hasil rapat dengan dengan petinggi rumah sakit." ucapnya.
Zayn memberi tau kepada Nara sebelum gadis itu bertanya padanya. Ia hanya tidak ingin membuat Nara kesal.
Karena jika Nara kesal, mereka akan ribut dan Zayn juga akan kesal nantinya.
"Rapat? kau sering sekali melakukan rapat akhir-akhir ini." kata Nara.
Zayn mengangguk, "Ya itu karena ada proyek yang akan aku buat sebentar lagi." jawabnya.
Nara mengerutkan keningnya, "Proyek? proyek apa?" tanyanya.
Zayn memgambil ponselnya lagi lalu mendekat pada Nara dan menunjukkan kepada istrinya itu proposal mengenai proyek yang ia katakan barusan.
Namun bagaimanapun Nara tetap tidak mengerti isi dari proyeknya, ia hanya lulusan SMA dan tidak pernah belajar lagi begitu lulus.
Ia mana mengerti mengenai bisnis atau apapun seperti ini.
Nara mengangguk, "Aku tidak mengerti, rumah sakit dipedesaan? kau ingin membangunnya?" tanyanya.
Zayn mengangguk, "Aku berencana untuk membangun rumah sakit di pedesaan, tapi semuanya gratis untuk penduduk disana terutama masyarakat miskin." ucapnya.
Nara langsung mengerjapkan kedua matanya kaget, wah benarkah ini Zayn si kejam yang ia kenal?
Dia punya hati sebaik ini?
"Gratis?" tanya Nara memastikan.
Tak
Zayn menjitak kepala Nara hingga istrinya itu meringis kesakitan.
"Tentu saja, kau tau? aku berpikir harus kukemanakan uangku semuanya. Kau jarang belanja, begitu pula denganku dan juga mommy? dia punya uang sendiri."
"Jadi aku berpikir untuk menyumbangkan uangku melalui rumah sakit gratis ini, disana nantinya aku akan menugaskan beberapa dokter dan perawat handal serta perawat baru dan memberikan mereka gaji tetap namun untuk pengobatan disana tetap gratis."
Wah..
Nara terkesan mendengarnya. Ini benar-benar Zayn kan? pikirnya.
__ADS_1
Namun sedetik kemudian Zayn menghela nafasnya pelan, "Tapi tidak semudah itu untuk melakukannya." katanya.
Nara mengerutkan keningnya, "Mengapa tidak semudah itu?" tanyanya.
"Aku harus mendapatkan izin operasional dari pemerintah dan mengurus yang lainnya dan itu bukan hal yang mudah." kata Zayn.
Nara mengangguk mengerti, ya.. sudah pasti. Tidak ada rumah sakit yang berdiri dengan baik namun ilegal. Semuanya sudah ada aturannya, kita tinggal di suatu negara dan ada peraturan dari pemerintah yang harus ditaati.
"Ah.. ya aku mengerti. Jadi kau sudah mengurusnya?" tanya Nara.
Zayn mengangguk, "Sedang dalam proses dan minggu depan aku akan pergi kesana untuk peletakan batu pertama." ucapnya.
Peletakan batu pertama acara yang biasanya dibuat untuk menselebrasikan hari pertama pembangunan proyek.
"Kau ingin ikut?" tanya Zayn.
Nara tersentak, ia menunjuk dirinya sendiri dam Zayn mengangguk.
Apa ini? apa Zayn tidak salah mengajakku untuk kesana? pikirnya.
Entahlah Nara masih belum terbiasa dengan sikap Zayn yang seperti ini. Sangat berbeda dengan pertama bertemu dan itu masih asing bagi dirinya.
"Kau mengajakku?" tanyanya.
Zayn berdecak, "Haruskah aku ulangi lagi?" tanyanya.
Dan dengan bodohnya Nara mengangguk, "Ya, aku tidak percaya kau mengajakku."
Zayn menarik nafasnya dalam, "Nara.. kau ingin ikut denganku ke desa?" tanyanya.
Nara tersenyum mendengarnya lalu mengangguk.
"Tentu saja aku mau!" jawabnya cepat.
Zayn langsung menyunggingkan senyumannya mendengarnya.
"Bagus, aku akan kesulitan untuk makan dan tidur selama disana. Aku jamin aku tidak akan nyaman karena itu aku mengajakmu." ucapnya.
"Kau harus menjaga diriku selama disana, kau mengerti?" tanya Zayn.
Nara langsung membuang nafasnya kasar, ia pikir Zayn mengajaknya kesana karena ingin jalan-jalan dengannya.
Namun ternyata pria ini mengajaknya hanya untuk itu.
Dasar Zayn... hah, Nara jadi kesal.
Tapi dia istrinya, sudah sepatutnya Nara menjaga dan memastikan Zayn nyaman, melayaninya dengan baik.
"Apakah jauh dari sini?" tanya Nara.
Zayn mengangguk, "Ya lumayan jauh, tempatnya masih sangat terpencil dan aku sengaja membangunnya disana agar masyarakat yang ada disana tidak kesulitan jika ingin ke rumah sakit." ucapnya.
__ADS_1
Ah, Zayn kau baik sekali.. batin Nara.
"Aku juga memfasilitasi dokter dan perawat yang bertugas disana, aku membangunkan perumahan untuk mereka dan menyediakan jaringan utilitas disana agar mereka bisa dengan mudah mengabari keluarga yang ada dikota." ucapnya lagi yang membuat Nara semakin kagum.