
1 jam
.
.
Nara masih bisa duduk dengan tenang disamping Aeri, menatap sekelilingnya dalam diam.
.
.
.
.
.
2 jam
.
.
.
Nara mulai merasa bosan disana, ia mulai mengetuk-ngetuk sepatunya dilantai hingga menimbulkan suara.
"Kau merasa bosan?" tanya Aeri.
Nara menganggukkan kepalanya, "Ya Aeri, aku merasa sangat bosan disini, tidak ada yang bisa kukerjakan selain duduk diam menunggu Zayn." jawab Nara sembari menyandar.
Aeri mengulum senyumannya mendengarnya, "Mungkin karena ini pertama kalinya kau melakukan ini."
Nara mengangguk pelan dengan wajah kusut, "Pertama kalinya aku menunggu seseorang seperti ini." gumamnya.
Nara berbalik melirik ke arah Zayn yang sibuk berbincang dengan pasiennya.
"Karena dia."
"Tunggulah saja, kau bisa memainkan ponselmu sembari menunggu." kata Aeri.
Nara mengangguk mengerti, "Ya, aku mengerti."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
3 jam kemudian..
Nara tertidur di kursi dengan tubuh yang membungkuk ke depan, suara dengkuran halus juga terdengar dari hidungnya.
Ceklek
__ADS_1
Zayn membuka pintu ruangannya bersama dengan Aeri setelah perawatnya itu mengatakan bahwa konsultasinya dengan pasiennya hari ini sudah selesai.
Zayn terdiam di depan pintu ruangannya menatap ke arah Nara dalam diam.
"Ah sepertinya dia tertidur dokter, karena lelah menunggu anda disini." ucap Aeri.
"Hah, aku hanya menyuruhnya untuk duduk tapi dia bisa lelah juga." gumam Zayn kemudian berjalan mendekati Nara.
Zayn berdiri di depan Nara kemudian berlutut di depannya, hanya terlihat helaian rambutnya saja yang menutupi wajah cantiknya itu.
"Hei bangunlah." ucap Zayn.
Nara tak mendengarnya, ia masih terlelap dalam tidur yang tidak menguntungkannya itu karena akan membuat pinggangnya sakit setelah bangun.
Zayn menghela nafasnya, "Hei bangunlah, punggungmu-"
Tuk
Kepala Nara jatuh tepat di bahu kanan Zayn membuat pria itu kaget dan hampir saja mencampakkannya.
Zayn menatap ke arah Aeri yang mengulum senyuman melihat adegan di depannya, seperti drama korea pikirnya.
"Kau kembalilah lebih dulu ke atas dan periksa jadwal operask yang aku punya." perintah Zayn.
"Baik dokter, saya permisi dulu." ucap Aeri, membungkukkan badannya dan segera berlalu.
Beralih Zayn kembali menatap ke arah Nara yang tertidur pulas, sama sekali tidak bangun atau hanya sekedar bergumam.
"Hei, bangunlah." ucap Zayn.
Namun Nara tak juga menjawab perkataannya, sepertinya memang Nara sudah sangat terlelap dalam tidurnya dan tidak bisa diganggu.
Zayn menghela nafasnya lagi, "Dia tertidur seperti orang mati."
Karena Nara tak bangun juga, Zayn lantas mengambil langkah terakhirnya. Dengan perlahan ia membopong Nara layaknya karung beras.
Sekarang Zayn dengan santainya membopong seorang gadis dengan tubuhnya yang selalu di gosipkan tidak akan bisa menyentuh kulit wanita barang seinchipun.
Zayn dengan santainya terus berjalan kearah liftnya tak memperdulikan teriakan kaget dari orang-orang di sekelilingnya. Biarlah, Zayn akan mengurus itu nanti.
Ting
Pintu lift tertutup, Zayn langsung menghela nafasnya.
"Kau satu-satunya orang yang bisa naik di satu lift yang sama denganku Nara..." geran Zayn.
Karena lift yang bergerak naik, Nara sedikit terganggu dan terlihat berusaha menggerakkan badannya membuat Zayn panik.
"Jangan bergerak, kita bisa jatuh." ucap Zayn.
Nara tak mendengarnya, ia merangkulkan tangannya di leher Zayn tanpa sadar dan wajahnya menghadap ke arah leher Zayn dan bibirnya mengecup sedikit leher tunangannya itu.
"Ah... aku pasti sudah gila, aku pasti sudah gila." gumam Zayn merutuki dirinya sendiri.
Ting
Pintu lift terbuka, dengan cepat Zayn keluar dan berjalan menuju ke ruangannya, Aeri yang ada di mejanya langsung berdiri dan membungkuk saat Zayb datang.
"Apa jadwalku sekarang Aeri?" tanya Zayn.
"Selama satu jam kedepan kau tidak mempunyai jadwal apapun dokter, dan di jam tiga sore nanti kau akan melakukan operasi lagi dengan dokter Ana."
"Ah operasi itu, ya aku ingat. Baiklah terima kasih Aeri. Kau bisa beristirahat dan makan siang sekarang." ucap Zayn.
"Baik dokter, anda ingin makan apa untuk siang ini?" tanya Aeri.
"Belikan saja aku salad di restoran biasa, kau tahu aku sangat teliti tentang kebersihan. Ah dan belikan juga steak untuknya, dia pasti akan lapar saat bangun nanti." ucap Zayn.
__ADS_1
Aeri mengangguk mengerti sembari mengulum senyumannya, "Baik dokter."
Zayn langsung masuk ke dalam ruangannya, membaringkan Nara diatas brankar yang ada diruangannya.
"Aishhh.." geram Zayn ingin mengumpat sekarang.
Zayn membuang nafas pelan, menarik nafasnya lagi dan membuangnya lagi begitu terus namun pikiran Zayn tetap terganggu.
"Ah.. aku harus mandi sekarang." ucap Zayn dan segera menyambar satu setelan yang ada diruangannya dan masuk ke dalam kamar mandi.
...💜💜💜...
Nara bangun, ia mengerjapkan kedua matanya.
"Dimana aku?" gumamnya dan melihat ke sekelilingnya.
Nara langsung terpekik kaget saat menyadari dirinya ada diruangan Zayn, terbukti saat melihat pakaian pria dan juga satu buah foto dari dokter kasar itu.
"Astaga bagaimana aku bisa ada disini? apa Aeri yang membawaku?" gumamnya berpikir.
Nara menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak mungkin Aeri. Tubuhnya terlalu kecil untuk bisa menggendongku atau sekedar menyeretku dan membaringkanku disini." pikir Nara.
Nara melirik ke arah foto Zayn yang tengah tersenyum saat hari kelulusannya itu, tiba-tiba saja foto itu berkedip dipenglihatan Nara hingga membuatnya syok.
"Astaga apa yang aku pikirkan! tidak, tidak mungkin dia.."
"Tidak mungkin Zayn, dia tidak mungkin akan membawaku kesini." ucap Nara menolak pemikirannya.
Nara turun dari atas brankar dan melirik ke sekelilingnya, kosong sekali.
"Dimana Zayn sekarang?" carinya.
Nara membuka pintu ruangan dan tidak menemukan seorangpun disana. Tidak ada Aeri dimejanya bahkan Zayn tidak terlihat.
"Apa Zayn ada pekerjaan lagi?" tanyanya.
Nara melirik ke arah jam yang ada di dinding ruangan Zayn, pukul 6 sore.
"Sudah jam segini? ah berapa lama aku tertidur.." ucapnya tak percaya.
Nara duduk di kursi yang ada di ruangan Zayn, menatap kursi tunangannya itu yang ada di depan matanya sendiri.
"Ahh..." ringisnya, Nara memukul-mukul kepalanya sendiri.
Kruuukkk... kruukkk...
Nara terdiam mendengar suara perutnya, perlahan ia memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Ah, kenapa aku harus kelaparan di suasana seperti ini.."
Nara ingin menangis sekarang. Tuhan, izinkan Nara menangis jika bisa menghapus kesalahannya hari ini.
"Dimana Zayn? aku sendirian diruangan dan juga lantai ini seorang diri?" gumamnya.
Sembari menangis, tiba-tiba saja Nara melihat bungkusan di dekat tangannya. Ada note diatasnya.
"Apa ini?" tanya Nara penasaran.
Nara mengambil note tersebut kemudian membacanya.
Makanlah ini, kau pasti kelaparan saat bangun.
Aku ada jadwal operasi besar dan kemungkinan malam baru selesai jadi tunggu saja diruanganku.
-Zayn
***Yeay, judul cerita ini berubah ya..!
__ADS_1
Author sengaja ubah judulnya supaya lebih enak dilihat dan dibaca, jadi selamat membaca semuanya jangan lupa tinggalkan jejak, like dan juga komentarnya♥️🤗***