
31 Desember..
Hari keenam Nara menginap di rumah sakit..
Hari ini adalah hari terakhir di tahun ini, tepat pukul 12 nanti malam bukan hanya jam yang akan berganti, bukan hanya angka saja tapi tahun, bulan dan juga hari ikut berganti.
Suasana tahun baru terasa begitu nyata di kota metropolitan di negeri empat musim tersebut. Bahkan di rumah sakit sendiripun semua orang ikut antusias menyambut tahun baru yang mereka harap akan membawa kebahagiaan baru di hidup mereka masing-masing.
"Kau tidak kedinginan Nara?" tanya Fey yang muncul dari dalam ruang inap Nara.
Fey membawa sebuah selimut tebal dan memberikannya kepada Nara yang tengah duduk diam di kursi roda di balkon kamarnya menatap keluar.
Untungnya tiga hari terakhir tidak turun salju sehingga suhu tidak begitu dingin dan beku.
Pepohonan, jalanan dan juga yang lainnya bisa terlihat dengan jelas tanpa ada halangan dari tumpukan salju di bawah sana.
"Tidak apa-apa mom, udara di luar sejuk sekali." jawab Nara.
"Terima kasih untuk selimutnya mom." lanjutnya dan Fey memgangguk mengiyakan.
Fey duduk di samping Nara, ia juga menggunakan sebuah selimut berbulu eksklusif tebal miliknya yang bisa melindunginya dari dinginnya udara dingin.
"Kau sudah bosan berada di rumah sakit terus?" tanya Fey pada menantunya itu.
Nara menganggukkan kepalanya, "Sedikit mom, aku merindukan apartement dan aku juga ingin sekali berkunjung ke makam orang tuaku." jawabnya.
Duduk diam, berbaring dan istirahat memulihkan tenaga bukanlah hal yang menyenangkan, apalagi makanan rumah sakit sangat tidak enak menurut Nara.
Ditambah lagi dengan Zayn yang semakin menjadi-jadi dengan adanya Nara di rumah sakit, ia seperti zombie yang gila kerja dan hanya datang melihat Nara untuk memeriksa keadaannya saja.
Dan hanya kalimat sederhana yang keluar dari bibir tipis Zayn, 'Jangan lupa makan.'
Seperti itu.
Membuat Nara kesal namun bagaimana lagi, ia tidak bisa berkata apapun.
Hah...
"Kau ingin datang ke makan kedua orang tuamu? hah.. venar juga, jika dipikirkan mommy belum pernah berkunjung sama sekali kesana."
"Mommy ingin ikut denganku?" tanya Nara.
__ADS_1
Fey langsung menatap Nara dengan mata yang berbinar cerah, seperti ada bintang yang bersembunyi dibalik pupil matanya.
"Kau mengajak mommy Nara?" tanyanya tak percaya.
Nara tersenyum dan mengangguk, "Tentu saja mom, itupun jika kau bersedia."
Fey langsung mengangguk dengan semangat, oh ayolah usia tua sepertinya memang membutuhkan waktu untuk berkunjung ke makam seperti ini.
Agar ingat dengan kematian yang ada di depannya dan juga agar ingat untuk selalu berdoa kepada Tuhan agar mendapatkan balasan yang setimpal di akhirat nanti.
"Tentu saja mommy bersedia, dengan begini kau tidak akan sendiri kesana dan mommy juga mempunyai teman."
"Lalu kapan kau ingin kesana? besok? atau lusa saja?" pikir Fey.
Fey menatap ke sekeliling, ujung pepohonan yang bisa ia lihat dari lantai atas, namun ia bisa merasakan seberapa dingin udara hari ini.
Musim dingin..
"Sepertinya besok cuaca akan sedikit hangat, bagaimana jika kita pergi besok saja? kau sudah cukup sehat kan untuk bepergian?" tanya Fey.
Nara mengangguk dengan yakin, ia hanya menjalani operasi usus buntu saja dan sudah hampir seminggu di rumah sakit.
Ia sudah merasa sangat baik. Ia berada di rumah sakit hingga lama seperti ini pun atas permintaan mommy Fey yang ingin memastikan Nara bisa benar-benar pulih.
Daripada ia kembali istirahat dengan bosan di dalam apartement, lebih baik menikmati udara dingin saja.
"Benarkah? perutmu tidak sakit?" tanya Fey.
Nara menggelengkan kepalanya walaupun ia masih merasakan nyeri di bekas jahitannya namun bukan masalah besar untuknya.
"Baiklah jika kau memang sudah merasa baikan, kita pergi ke makam orang tuamu besok bagaimana? di hari pertama tahun baru, mommy akan membawakan bunga yang cantik untuk besan mommy." gumamnya senang.
Nara tersenyum, tanpa henti ia bersyukur karena ada mommy Fey disisinya setiap harinya.
Membayar semua rasa sepi yang ia alami selama ini dengan penuh cinta di dalam hatinya.
"Ya sudah ayo kita masuk, kau akan pulang sore ini juga kan? kita tunggu Zayn di dalam saja, udara dingin tidak bagus jika dinikmati terlalu lama." ajak Fey.
Nara dan Fey pun langsung masuk ke dalam kamar dan tanpa di sangka, Zayn sudah duduk di sofa sembari memainkan ponselnya sendiri.
"Astaga! sejak kapan kau duduk disana Zayn?" tanya Fey kaget.
__ADS_1
Anaknya ini masuk tanpa mengatakan apapun dan tidak bersuara sama sekali.
"Sejak mommy dan istriku ini merencanakan untuk pergi ke makam bersama tanpa mengajakku." jawabnya diselingi oleh sedikit sindiran halus.
Nara mengerjapkan matanya berulang kali, "Kau ingin ikut?"
Zayn membuang nafasnya kemudian membuang muka ke arah lain, Fey yang melihat itu ingin rasanya menarik telinga anaknya.
"Aku sibuk tapi karena kau sepertinya ingin aku ikut baiklah, aku akan ikut besok." jawabnya.
Nara mengerjapkan matanya berulang kali lalu menatap mama mertuanya dengan penuh tanda tanya seakan bertanya benarkah ia terlihat seperti ingin Zayn ikut besok?
"Biarkan saja, dia hanya gengsi. Ck, mommy tidak tau bagaimana bisa ia seperti ini." gumam Fey pelan.
"Aku mendengarmu mom, jangan bergumam aneh-aneh tentangku." ucap Zayn memperingati.
"Bicara dalam hati saja mom, dia mengerikan sekali karena bisa tau apa yang kita bicarakan walaupun perlahan." bisik Nara.
Ia berbisik di telinga Fey dengan suara sepelan mungkin, bahkan Fey hampir hanya bisa mendengar gumaman saja.
Namun herannya Zayn bisa mendengarnya dengan jelas.
"Kau juga berhati-hatilah, aku bisa mendengarmu.. jangan ajarkan mom hal-hal tidak baik."
Begitulah yang Zayn ucapkan sebelum dirinya bangkit dan mengambil snellinya.
"Aku akan memanggil suster untuk membantumu dan dokter untuk memgecek keadaanmu." ucapnya.
"Kenapa tidak kau saja Zayn?" tanya Fey.
Zayn menatap mommynya dengan wajah datarnya lalu beralih menatap istrinya yang amat sangat ia cintai itu dengan ekspresi yang tidak berubah sama sekali.
"Tidak bisa mom, aku ada operasi. Aku kesini untuk mengatakan itu." jawabnya.
"Operasi ini tidak akan lama, aku akan kembali dalam beberapa jam dan kita pulang begitu aku selesai dengan operasi ini." jelasnya.
Nara langsung tersenyum dengan lebar mendengarnya, akhirnya setelah sekian banyak sinar rembulan yang ia nikmati di rumah sakit, ia bisa kembali menikmati sinar rembulan dari balkon apartementnya.
"Kau.. jangan tersenyum begitu." kata Zayn dengan mata mengerjap dan pipi memerah.
"Kenapa? apa ada yang salah?" tanyanya.
__ADS_1
"Tidak!" jawab Zayn dengan cepat lalu segera berbalik dan menghilang dari balik pintu.
"Oh astaga, kenapa senyumannya jadi semakin manis saja?" gumam Zayn sembari memegangi dadanya sendiri yang berdebar kencang.