
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca🤗🤗🤗🤗
...💜💜💜...
Pukul 10 malam.
Sejak pagi tadi hingga malam Nara terus mengurung dirinya di dalam kamar, takut jika Zayn akan memarahinya.
Ah tidak, maksudnya ia gugup.
Apalagi Zayn tau benar sandi dari unit apartement Nara. Jika Nara mengganti sandinya?
Tentu saja Zayn masih bisa masuk! dia kan punya karti akses untuk ke apartementnya.
Apalagi apartement ini milik Zayn.
Karena itu Nara hanya bisa merebahkan dirinya sendiri diatas ranjang, memakan cemilan sambil menonton televisi disana.
Dengan dahi yang memerah dan bengkak akibat benturan dengan meja tadi.
Tidak ada obat disini, Nara tidak punya kotak obat diapartementnya. Lupa untuk membeli dan Zayn juga tidak menyiapkan apapun untuk Nara disini kecuali kebutuhan sekunder seperti ranjang, televisi, sofa dan juga peralatan masak di dapur.
"Ah... bosan juga di kamar terus." gumam Nara.
Nara mengambil remote dan mematikan televisi, ia menaruh makanan ringannya juga di atas nakas dan mengambil ponselnya.
Tidak bisa Nara jauh-jauh dari ponsel kesayangannya.
"Lebih baik aku keluar sebentar untuk memghirup udara segar." pikirnya.
Nara berjalan dan membuka pintu kamarnya yang ia kunci perlahan, mendongakkan kepalanya keluar untuk memastikan bahwa Zayn tidak ada disana.
Sepi
Nara tersenyum senang, ia langsung berjalan dengan santainya menuju ke arah pintu.
"Mau kemana?"
Nara langsung menghentikan langkahnya, berdiri dengan tubuh menegang mengingatkannya akan tragedi tadi pagi.
Tragedi perur kotak-kotak.
"Apa itu suara Zayn?" gumam Nara.
Nara menggelengkan kepalanya, "Tidak mungkin, aku pasti salah." ucapnya.
Nara kembali melangkahkan kakinya, pikirannya sepertinya sudah benar-benar kalut dan dipenuhi oleh Zayn sampai suaranya pun terngiang di kepala Nara.
"Kau mengabaikanku?!" tanya Zayn dengan suara memekik.
Nafas Nara langsung tercekat, ia berbalik dan membelalakkan kedua matanya saat melihat Zayn tengah duduk di meja makan.
"Do-dokter?"
Zayn hanya diam dengan mata yang menatapnya nyalang, "Kemari kau!" katanya.
Glek
__ADS_1
Nara langsung menelan ludahnya sendiri, apa lagi sekarang?
Pasti Zayn akan memarahinya habis-habisan.
Atau Zayn akan memakannya? menghabisinya?
"Kenapa diam saja? kau jadi patung lagi?" tanya Zayn dengan suara mencekamnya.
Pria itu duduk dengan santainya di meja makan, masih mengenakan kemeja kerjanya dan snellinya yang ia bawa hari ini.
Aneh sekali, biasanya Zayn akan meninggalkan snellinya di ruang kerjanya atau meloundrynya tapi hari ini ia bawa pulang.
Berarti Zayn langsung datang ke apartementnya begitu pulang dari rumah sakit?
Nara menggelengkan kepalanya pelan lalu berjalan perlahan menghampiri Zayn. Pelan sekali.
Zayn sampai menghela nafasnya tidak sabar.
Jarak antara meja makan dengan ruang tengah cukup jauh, walaupun ruangannya terbuka dan tidak ada sekat yang menghalanginya.
Tapi tetap saja jika Nara berjalan 10 cm tiap melangkah maka sampai jam 12 malam ia baru sampai di hadapan Zayn.
Zayn berdecak, "Sial, membuat repot saja."
"Cepat kemari atau aku tendang kau dari apartement ini!" ancammya.
Mendengar hal itu Nara langsung berlari mendekat pada Zayn dan berdiri di hadapannya dalam waktu kurang dari satu menit.
"Aku-aku sudah disini!" jawabnya gugup.
Zayn menatap Nara dengan tajam, lalu tamgannua bergerak menyuruh Nara untuk duduk di kursi.
Nara pun langsung duduk perlahan di kursi yang bersampingan dengan Zayn, namun pria itu langsung memundurkan kursinya sendiri sedikit ke belakang.
"Ada apa dengan dahimu?" tanya Zayn tiba-tiba.
Matanya tidak bisa lepas dari benjolan berwarna merah di dahi Nara sejak wanita itu berdiri di depannya.
"Seingatku kau jatuh ke atas ranjangku dengan posisi terlentang, lalu bagaimana bisa dahimu memerah seperti itu?" tanyanya lagi.
Nara mengerjapkan kedua matanya, kau menanyakan hal ini padaku dokter? pikirnya.
Apa dia sedang khawatir padaku? pikirnya lagi.
"Ck, diam saja! kau terlalu banyak memikirkan hal yang aneh." sindir Zayn saat Nara hanya bengong.
Zayn berdiri lalu membuka lemari entah mencari apa, Nara juga tidak mengerti dan tidak tau.
"Kau tidak punya kotak obat disini?" tanya Zayn saat dirinya tak menemukan benda yang dicarinya sejak tadi.
Nara menggeleng pelan, ia tidak pernah menyediakan benda itu dirumahnya, lagipula memar seperti ini akan hilang dengan sendirinya.
Menurut Nara.
"Ck, bodoh sekali. Tetap duduk disini sampai aku kembali!" kata Zayn dan langsung berlalu.
Ia bahkan melupakan snellinya sendiri.
"Dia mau kemana?" gumam Nara.
Tapi Nara juga tidak ingin penasaran, ia tetap duduk disana menunggu sesuai dengan perintah dari Zayn tadi. Harus nurut pada Zayn.
__ADS_1
Nara lebih takut Zayn marah padanya daripada yang lainnya.
Nara pun menundukkan kepalanya menatap kedua kakinya yang saling bergantian menghentak dilantai.
Nara pun juga menatap sikut tangannya sendiri, ada bekas memar disana dan juga sedikit luka.
Pantas saja terasa sakit pikirnya.
"Hah, karna memikirkan itu aku jadi begini." gumamnya.
"Andai saja dia tidak muncul dihadapanku sambil memperlihatkan perut kotak-kotaknya itu, haishh!"
Nara menatap ke arah ruang tengah saat pintu berbunyi, lalu tak lama kemudian Zayn muncul sambil membawa kotak obat dan juga ice bag.
Tak lama kemudian Zayn duduk lagi dihadapannya sambil menarik kursi lebih dekat padanya.
Kini keduanya duduk berhadapan dengan jarak yang sangat tipis.
Jantung Nara jadi berdebar dan pipi serta telinganya memerah.
Wangi tubuh Zayn menusuk ke dalam hidungnya, enak sekali.. bercampur dengan bau keringatnya sendiri.
Nara jadi ingin memeluknya..
Nara menggelengkan kepalanya sendiri, enyahlah... kenapa aku jadi mesum seperti ini pikirnya.
Tak
"Akhh!!" Nara meringis.
"Kau pasti memikirkan hal kotor, ck ck ck... pikiranmu itu." sindirnya.
Nara berdecak ingin marah, namun Zayn benar.. ah jadi serba salah.
"Diamlah. Akan kuobati lukamu." ucap Zayn.
Ia meletakkan ice bag di dahi Nara, menahannya dengan tangannya sendiri yang ia tahan di kursi agar tidak pegal.
"Sshhh.. apa yang kau lakukan dok?" tanya Nara.
"Mengompres memarmu." jawabnya.
Pipi Nara kembali bersemu, telinganya memerah menahan malu..
Oh astaga lihatlah betapa tampannya suaminya ini... mungkin ia bisa jadi aktor terkenal dengan gaji fantastis dengan wajahnya.
"Dokter.."
"Hmm?" gumam Zayn sambil memainkan ponselnya sendiri dengan tangan kanannya.
"Ranjangmu.. akan kubersihkan besok, aku benar-benar tidak sengaja jatuh kesana dan tadi aku hanya mengambil ponselku saja yang tertinggal di dalam. Aku tidak tau kau ada disana." cicitnya.
"Aku minta maaf dokter." ucapnya.
Baiklah, minta maaf saja sekarang daripada ia harus menahan malu terus-terusan saat berhadapan dengan Zayn.
"Tidak perlu." jawab Zayn singkat.
Ia sibuk menggerakkan jarinya diatas ponselnya, entah apa yang sedang dilihat olehnya.
"Tidak apa dokter, aku tetap akan membersihkannya sebagai permintaan maafku."
__ADS_1
"Sudah kubuang."