Perfectionist Husband

Perfectionist Husband
Mulai dengan sentuhan


__ADS_3

Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar๐Ÿค—


Yuk tinggalkan jejak!


Selamat membaca๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


...๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ...


"Bagaimana jika aku saja yang menjadi terapimu?" tanya Nara membuat Zayn terkejut.


"Maksudmu?" tanyanya tak mengerti.


Tentu saja Zayn tidak mengerti, bagaimana bisa seorang perempuan menjadi metode terapi? apalagi ini Nara, istrinya.


Hanya istri.


Nara juga tampak berpikir, sepertinya dia bingung harus menjelaskan bagaimana kepada Zayn agar suaminya ini tidak salah paham.


"Maksudku begini, em.. kau bilang hanya aku yang bisa dekat seperti ini denganmu kan?" tanyanya.


Zayn mengangguk, ya tentu saja karena mereka sudah menikah.


"Kau dulunya juga tidak suka bersentuhan atau berdekatan denganku. Kau selalu menyebut kuman dan bakteri kepadaku. Tapi lambat laun kau bisa terbiasa denganku setelah beberapa kali mencoba bersentuhan."


"Lalu?" tanya Zayn.


"Aku ingin membantumu untuk bisa kembali hidup dengan normal, jika kau bersedia aku akan membantumu untuk sembuh."


"Dimulai dengan sentuhan ringan, dan mencoba untuk berbaur dengan orang lain."


Zayn hanya diam.


Nara pun ikut diam, bingung dengan dirinya sendiri yang memberikan penawaran ini.


Bodoh sekali pikirnya.


Zayn sendiri tampak berpikir, belasan tahun dirinya hidup terjebak dengan ketakutannya sendiri, traumanya sendiri.


Hidup normal lagi?


Bebas melakukan apapun tanpa terkecuali?


Tidak lagi memikirkan kuman secara detail?


"Kau bertanya.." ucap Zayn bersuara.


Nara langsung menatap Zayn menunggu kata-kata yang akan di lontarkan oleh pria itu.


"Apa aku ingin kembali hidup dengan normal. Aku tidak pernah memikirkannya."


Hah, Nara menghela nafasnya. Ya dokter, kau sudah menjawabnya tadi.


Kau menolak usulanku.


"Aku juga tidak berharap bisa sembuh, kau tau? belasan tahun hidup seperti ini tidak akan mudah untuk menghapus semua kebiasaanku."


"Ya dokter aku tau itu, tapi bagaimana jika kita mencobanya?"


Zayn menatap Nara menelisik, wanita di depannya ini.. yang berstatus sebagai istrinya ini...


Terlihat tulus kepadanya.


Apa Nara tulus ingin membantuku? pikir Zayn.

__ADS_1


Zayn hanya ragu Nara akan bersikap seperti wanita-wanita lainnya, ia masih trauma.


"Jika kau ragu denganku, jangan khawatir aku tidak akan merusak kepercayaanmu. Aku bisa membantumu percayalah."


"Ya, walaupun aku hanya gadis biasa." lanjutnya.


Zayn terdiam sejenak, lalu menyunggingkan senyumannya.


"Baiklah, aku mau. Kau bisa msncoba untuk menyembuhkankh." ucapnya.


Nara langsung menatap Zayn tak percaya, semudah itu? pikirnya.


Padahal tadi Zayn menolak dan terus beralasan.


"Kau yakin?" tanya Nara.


Zayn berdecak, "Kenapa? kau yang tidak yakin bisa menyembuhkanku sekarang?" tanyanya.


Nara menggelengkan kepalanya.


"Tidak, tidak. Bukan begitu."


Zayn menghela nafasnya menatap jam di dinding. Sudah waktunya dia untuk bangun dan bersiap untuk kembali bekerja.


"Sudahlah, kau bisa kembali tidur atau pulang sekarang. Aku harus bersiap lagi untuk bekerja." ucap Zayn.


Nara langsung gelagapan, "Kau akan bekerja sekarang? baiklah."


Nara langsung berdiri dan mundur hendak keluar namun Zayn sudah lebih dulu memegang jari kelingkingnya, menahannya agar tetap disana.


"Kau bilang dimulai dengan sentuhan kecil." kata Zayn.


Nara mengerjapkan matanya lalu menatap jari kelingkingnya sendiri yang tengah di pegang oleh Zayn.


Kenapa jantungnya jadi berdebar?


"Kau akan pulang besok?" tanya Nara.


Zayn mengangguk, "Ada banyan pekerjaan yang harus aku urus, dan juga ada pertemuan penting dengan seluruh petinggi rumah sakit lagi."


"Apa sepenting itu sampai kau tidak bisa pulang?" tanyanya.


Ah Nara kenapa kau jadi bertanya...


Zayn menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa kau bertingkah seperti seorang istri sekarang? kau merindukanku jika tidak ada di apartement?" tanyanya.


"Atau kau ingin menyambutku di apartementmu? hem?" lanjutnya.


Nara langsung kikuk, kenapa juga aku bertanya seperti itu pikirnya.


"Ti-tidak."


Zayn menyunggingkan senyumannya, bangkit dan mengambil gelas berisikan teh yang tadi di bawa oleh Nara, belum sempat diminum olehnya.


"Baiklah, aku akan pulang malam ini. Tunggu aku di apartementmu dan pastikan semuanya bersih." ucapnya dan langsung melenggang mendahului Nara.


"Ck ck ck.. pasti dia menyukaiku." gumam Zayn.


Nara mengerjapkan matanya berulang kali lalu berbalik menatap punggung Zayn yang masuk ke dalam kamar mandi.


"Astaga.. dia benar-benar..."


"Tidak terduga." gumam Nara.

__ADS_1


...๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ...


Malam harinya Nara selesai membersihkan apartementnya sesuai dengan permintaan Zayn.


Nara sendiri juga bingung kenapa dia melakukannya dan apa Zayn akan benar-benar pulang dan datang ke apartementnya.


"Tapi untuk apa dia kemari?" gumam Nara.


Nara meletakkan makanan yang sudah dibuatnya di atas meja makan dan duduk disana, menatap makanan yang ia buat untuk dua porsi.


"Apa dia berpikir aku menginginkannya datang kemari?" gumamnya lagi.


Nara menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak mungkin. Siapa yang ingin bersama dengan dirinya." elaknya.


Namun melihat masakannya sendiri membuat Nara berdecak kesal, "Aishh! aku bahkan memasak makanan untuknya." gerutunya geram.


"Kau memasak untukku?"


Nara langsung tersentak kaget dan melihat ke depan, matanya membelalak kaget saat melihat Zayn berada tepat di depannya dengan wajah fresh dan segar.


Dan..


Zayn juga berpakaian rapi, menggunakan kemeja yang lengannya di gulung sampai ke siku dan juga celana bahan semata kaki.


Oh astaga!


Andai dia bukan penggila kebersihan, Nara pasti sudah jatuh cinta dengannya.


"Kenapa kau diam? kaget aku tiba-tiba berada disini?" tanyanya.


Zayn menarik kursi di depan Nara dan langsung duduk disana dengan santainya. Sedangkan Nara sendiri hanya bisa terdiam.


Diam, tidak tau harus berkata apa.


Zayn yang merasa Nara hanya diam pun langsung menatapnya, "Kenapa kau diam? seharusnya kau menyambut suamimu pulang bekerja." ucap Zayn.


"Me-menyambut?"


"Ya, bukannya kau memasak untukku? berarti kau bersiap untuk menyambut kepulanganku."


Lihat kan, dia dokter kasar bermulut pedas dan juga over percaya diri yang pernah Nara temui.


"Terlalu percaya diri." gumam Nara pelan.


Namun seperti biasanya, Zayn tetap bisa mendengar sekecil apapun gumaman yang keluar dari bibir Nara.


"Ya, memang aku percaya diri, dan itu harus." jawabnya santai.


Nara mengambil nafas dalam, sabar.. sabar.. batinnya.


"Kenapa? kau kesal denganku?" tanya Zayn.


"Ya dokter, kau membuatku kesal." jawabnya.


Zayn menyunggingkan senyumannya, apa dia ingin bermain sebagai suami istri yang baik? pikirnya.


Zayn membenarkan posisi duduknya, lalu menatap Nara dengan tatapan datar seperti biasanya.


"Baiklah.. aku mengerti." kata Zayn yang langsung mengundang tanya dari Nara.


"Mengerti apa?" tanyanya.


"Kau ingin aku bersikap seperti suamu-suami diluar sanakan? yang mencium istrinya begitu pulang kerumah atau memeluknya, mengucapkan kata-kata manis dan romantis."

__ADS_1


Nara langsung menatap Zayn malas.


"Jadi katakan padaku, kau ingin ku cium dimana? pipi? bibir? atau... yang lainnya?" tanya Zayn.


__ADS_2