
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca🤗🤗🤗🤗
...💜💜💜...
"Aku ingin tidur denganmu.." cicitnya
Zayn membelalakkan kedua matanya menatap Nara dengan tatapan tak percaya.
Namun bibirnya terkatup rapat tak mampu mengatakan apapun, ia masih bingung dengan apa yang dikatakan oleh wanita di depannya ini.
Alias istrinya.
"Kau ingin tidur denganku?" tanya Zayn setelah beberapa menit bungkam.
Nara pun hanya mampu menautkan kedua ujung jarinya, malu sebenarnya namun harus ia lakukan.
Zayn harus membiasakan diri dengannya begitu pula dengan orang lain, perlahan namun pasti buat Zayn nyaman dengan dirinya dulu.
Ketuk pintu hatinya dengan ramah agar pemiliknya mau membukakan pintu dan mempersilahkan dirinya masuk.
"Ya, aku ingin tidur... bersamamu?" jawabnya sambil mencoba menatap kedua mata Zayn.
Namun Nara langsung menundukkan kepalanya, tatapan tajam dari Zayn begitu mengerikan baginya.
Apa aku membangunkan singa yang tertidur? batin Nara.
Mungkin, iya. Mungkin juga tidak.
Jika Zayn ingin, pasti dia sudah memarahi Nara atau menendangnya keluar dari lantai 45 ini. Lantai keramat yang tak pernah di injak oleh orang lain termasuk mommy Fey.
Kecuali petugas kebersihan yang Zayn minta untuk membersihkan rutin unit apartementnya.
Dan tentunya Nara yang berhasil masuk kesini dengan menjual harga dirinya sendiri.
"Ada apa denganmu hari ini?" tanya Zayn.
Pria itu menyandarkan tubuhnya ke samping pada pintu dengan kedua tangan ia silangkan di depan dada.
Lihatlah tubuh atletis suaminya ini.. lihatlah betapa bugarnya tubuh Zayn.
Kapan suaminya ini olahraga ditengah kesibukannya sebagai dokter?
"Hei!" panggil Zayn saat Nara hanya diam bengong.
"Y-ya?" jawabnya gugup.
Nara menatap kedua mata tajam Zayn, gugup sekali bahkan jantungnya berdegup kencang dan pipinya bersemu merah takut Zayn tau apa yang ia pikirkan.
"Aku bertanya padamu, ada apa denganmu hari ini?" tanyanya.
"Maksudmu dokter?" tanya Nara tak mengerti.
Zayn berdecak, "Bodoh."
__ADS_1
Nara menghela nafasnya pelan, sudah kebal sepertinya ia dihina bodoh oleh Zayn.
"Maksudku, kau tadi siang tiba-tiba saja membawakanku makan siang, lalu sekarang kau ingin tidur denganku."
"Kau sakit? atau gila?" tanyanya.
Nara mendelik, enak saja dirinya disangka gila. Dirinya juga melakukan ini agar Zayn mau lebih membuka diri dengannya, bukan yang lainnya.
Nara menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak, aku tidak gila sama sekali ataupun sakit."
"Aku melakukan ini dalam keadaan sadar dan tujuanku agar semakin dekat denganmu." jawabnya.
Zayn semakin mengernyitkan dahinya tak mengerti, tak mengerti dengan jalan pikiran dari wanita di depannya ini.
"Kau membuatku semakin pusing." ucap Zayn hendak menutup pintu.
"JANGAN!!" Nara berteriak membuat Zayb tersentak.
"Kau baru saja berteriak padaku?" tanya Zayn dengan sorot mata tajam.
Nara menelan ludahnya, ah Zayn... tolong koperatiflah untuk beberapa keadaan ringisnya.
"Izinkan aku tidur disini, denganmu." pintanya ulang.
Zayn menghela nafasnya pelan, menopang tubuhnya pada pintu.
"Aku akan mengizinkanmu, tapi beritahu aku alasanmu melakukan ini semua." kata Zayn.
"Aku tau kau tidak akan melakukan ini dengan sukarela, kau bahkan membenci setiap ucapan dan perbuatanku padamu."
Skak!
"Sudah sejak awal bertemu aku tau jadi jangan bertanya dalam hatimu." ucapnya.
"Sekarang katakan alasan yang logis dan bisa kupercaya." tanyanya lagi.
Nara menautkan kedua jarinya dibawah, berpikir apa alasan bagus yang bisa ia berikan pada Zayn sekarang.
Lima menit! lima menit Nara berpikir hingga akhirnya ia menemukan juga alasan yang tepat untuk membuat Zayn mengizinkannya masuk.
Pria itu bahkan sudah menunggu dengan lelah di depannya, sedikit sesak sebenarnya namun Zayn tahan dengan susah payah.
Tidak ada kuman di tubuh Nara, pikirnya.
"Sudah kau temukan alasanmu?" tanya Zayn datar.
Nara menganggukkan kepalanya dengan bibir bawah yang ia gigit.
"Katakan dan jangan gigit bibirmu sendiri." ucapnya kesal.
Selalu saja Nara menggigit bibirnya saat bersama Zayn membuat pria itu kesal saja.
"Aku pernah mengatakan padamu akan membantumu untuk sembuh kan dokter?" tanya Nara.
Zayn sedikit mengerutkan keningnya, "Ya." jawabnya setelah mengingat-ingat.
Nara tersenyum, "Nah, karena usaha di mall gagal, maka aku ingin membantumu secara perlahan dulu."
__ADS_1
"Caranya? dengan kau masuk ke dalam apartementku dan menyebarkan kuman?" tanya Zayn kesal.
Tidak akan, ia tidak akan membiarkan Nara kembali menginap di apartementnya. Cukup malam itu saja.
"Iya benar sekali, boleh kan dokter? aku ingin kah terbiasa dulu dengan diriku, terbiasa untuk berinteraksi dan berbagi banyak hal denganku."
"Kau tau? dengan cara ini kau akan terbiasa denganku, setelah itu kita coba untuk membiasakan dirimu dengan dunia luar." lanjutnya.
Zayn diam menatap Nara, dengan tatapan tajam dan juga wajah datarnya itu.
"Tidak." jawabnya cepat.
Brak
Zayn langsung menutup pintu membuat Nara menghela nafasnya sendiri nanar.
"Hah, susah sekali membujuknya." gumamnya.
Tok tok tok
"Dokter!!!!!! izinkan aku masuk!!! aku mohon!!" teriaknya.
"IZINKAN AKU MASUK KE DALAM DOKTER!!! IZINKAN AKU MEMBANTUMU!!" pekiknya lebih keras.
Nara terus mengetuk-ngetuk pintu apartement Zayn, pria itu pasti tidak akan nyaman mendengar suara berisik diluar.
"DOKTER BIARKAN AKU TIDUR DENGANMU!! AKU ISTRIMU!!!!!!" Teriaknya lebih keras lagi hingga rasanya pita suaranya akan rusak.
Bahkan tetangga di unit lainpun mungkin mendengar suara teriakannya tadi saking kerasnya.
Ceklek
Zayn membuka kembali pintu apartementnya dengan wajah kesal dan memerah, mengerikan sekali dirinya.
"Kau... ah... berisik sekali. Sialan." umpatnya kesal.
Nara tersenyum senang, biarlah Zayn mengumpat asalkan ia membukakan pintunya untuk Nara.
"Izinkan aku tidur bersamamu ya dokter? aku janji akan bersih dan membersihkan seluruh apartementmu besok pagi sebagai gantinya." ucapnya.
Zayn menatap Nara dengan tatapan menelisik.
"Benarkah? kau serius ingin membersihkan apartementku?" tanyanya.
Pasalnya apartementnya seluas satu lantai gedung ini, besar sekali dan tidak tanggun-tanggung.
"Aku serius dokter, karena itu biarkan aku masuk atau aku akan teriak supaya semua orang tau." ancamnya.
Zayn pun hanya bisa menghela nafasnya saja, percjma berdebat dengan wanita apalagi modelan seperti Nara yang hanya akan membuatnya pusing setiap harinya.
"Baiklah kau boleh masuk asal tetap jaga kebersihan!" ucapnya mewanti-wanti.
Nara pun memekik senang, Zayn berdiri di xepan pintu apartementnya tak rela, tak rela jika apartementnya dijamah oleh orang lain apalagi Nara.
Namun gadis itu juga tidak menyerah. Ia semakin berjalan mendekat membuat Zayb otomatis mundur karena takut.
Nara menarik nafas dalam, senangnya... akhirnya ia bisa berada di dalam apartement suaminya itu setelah berusaha susah payah.
__ADS_1
"Masuk kamar mandi, gosok gigimu cuci mukamu dan bersihkan seluruh tubuhmu sebelum kita ke kamar." titah Zayn.
"Cepat, aku tunggu di sofa." ucapnya lalu segera duduk di sofa dan menyalakan televisi.