Perfectionist Husband

Perfectionist Husband
Kau mengerjaiku ya?


__ADS_3

Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗


Yuk tinggalkan jejak!


Selamat membaca🤗🤗🤗🤗


...💜💜💜...


"Ya, ya sudah tidak apa lakukan sesukamu. aku hanya ingin bilang, bawakan aku makan malam kerumah sakit nanti."


"Makan bersamaku juga." sambungnya.


Tak tak tak tak


Bunyi pisau yang saling beradu dengan tatakan saat memotong sayuran terdengar nyaring di dapur apartement Nara.


"Hah.." helaam nafas berulang kalo terdengar dari Nara.


Begitu mengatakan satu kalimat panjang itu, Zayn langsung memutuskan sambungan telepon tanpa mengatakan apapun.


"Seenaknya saja dia menyuruhku, ck ck ck.." gerutu Nara.


Nara dengan cekatan menyiapkan makan malam yang sehat untuk Zayn, penuh dengan sayuran dan sedikit daging serta kacang-kacangan.


Entah kenapa malam ini Nara ingin sekali membuat sebuah sup dengan sayuran seperti kol, brokoli, wortel dan kentang ditambah dengan kacang polong serta udang di dalamnya.


Ramai sekali...


Selesai masak, Nara langsung mandi untuk memyegarkan tubuhnya sendiri yang berkeringat setelah memasak.


Malam ini Nara menggunakan setelan berwarna coklat dengan sepatu dan tas hitam sebagai pemanisnya.



Begitu selesai merapikan wajah dan juga rambutnya, Nara langsung keluar dan menyiapkan makanan yang telah ia buat di dalam kotak bekalnya.


Drrtt.. drrttt..


Nara mengambil ponselnya yang bergetar, ada nama Zayn disana.


"Dia menelponku lagi." gumamnya.


Nara mengangkat telepon dari Zayn, suara pria itu langsung terdengar di ujung sana.


"Aku akan melakukan rapat dadakan dengan petinggi rumah sakit, datang saja nanti dan masuk ke dalam ruanganku. Aeri sedang bertugas." ucap Zayn.


Nara langsung mencebikkan bibirnya, dia baru saja mau pergi dan Zayn mengatakan hal ini.


"Aku baru saja mau pergi, rapatnya lama? aku tidak ingin menunggumu." tanyanya.


"Menunggu suami bagus untukmu. Lagipula tidak akan lama, hanya satu jam saja sepertinya." jawabnya.


Nara menyunggingkan senyumannya, ah tidak lama ternyata.


"Ah satu jam ya."


"Ya, lagipula jika kau berangkat sekarang kau akan sampai dalam 30 menit, jalanan diluar cukup macet." ucapnya.


Nara mengerjapkan kedua matanya, ah sial.. Nara benci sekali jika terjebak macet.


"Kalau aku pergi nanti saja bagaimana? agar tidak terkena macet." tanya Nara.

__ADS_1


"Silahkan saja nyonya Xavier, kau boleh pergi jam berapapun asalkan sudah sampai disini sebelum aku selesai rapat." ucapnya.


"Atau aku akan menjadikanmu sup untuk makan malam."


Glek..


Nara menatap kotak bekalnya yang berisikan sup untuk makan malam.


Kenapa Zayn berbicara seolah dirinya tau aku tengah memasak sup? astaga batinnya.


"Kau dengarkan? sudah ya aku mau rapat sekarang. Ingat satu jam." ucap Zayn.


Tit


Panggilan telepon langsung terputus, "Aku harus pergi sekarang kalau seperti itu, kemaacetan tidak bisa diprediksi." ucapnya.


Nara langsung menutup kotak bekalnya dan memasukkannya dalam paper bag. Buru-buru ia turun ke bawah dan membawa mobilnya membelah jalanan kota yang cukup ramai malam itu.


Begitu sampai di jalan, Nara langsung menatap sekelilingnya dan menatap jalanan di depannya juga.


Lenggang.


Jalanan malam ini bahkan lebih lenggang dari biasanya.


Lalu dimana kemacetannya?


"Apa dia mengerjaiku?" gumam Nara.


Nara menjalankan mobilnya perlahan namun sebentar saja mobilnya sudah sampai di parkiran rumah sakit.


Nara memarkirkan mobilnya di samping mobil Zayn.


"Ck ck ck.. hari dia membawa mobil yang putih." gumamnya.


Hitam, merah, kuning, putih, abu-abu dan yang terakhir biru yang digunakan oleh Nara.


Semuanya berjejer dengan rapi. Ia mengetahuinya kemarin saat bertemu dengan penjaga.


Dengan perlahan Nara turun dari dalam mobil, ia menatap ke jalanan di depan.


"Ck, dia mengerjaiku. Macet apanya... bahkan aku bisa sampai lebih cepat dari biasanya walaupun memacu kecepatan lambat." gerutunya.


Nara berjalan masuk ke dalam rumah sakit, para perawat dan dokter sejawat lainnya langsung menyapanya dengan hangat.


"Selamat malam nyonya Nara." sapa salah satu perawat.


"Malam.." jawab Nara sambil tersenyum manis.


Kini ia mulai bisa terbiasa dengan semuanya, terbiasa dengan tatapan semua orang dan bagaimana cara mereka menghornati dirinya sebagai istri Zayn.


Nara naik ke lantai atas menggunakan lift khusus untuk Zayn. Biarkan saja, Zayn marah? tidak masalah pikirnya.


Ting


Lift terbuka, Nara langsung keluar dari dalam lift dan langsung berjalan menuju ke ruangan Zayn.


Di depan ruangan Zayn, meja tempat Aeri biasanya menulis pun kosong.


"Ah Aeri benar-benar bertugas." gumam Nara.


Zayn tidak bohong mengenai hal ini.

__ADS_1


Bagus sekali.


Nara pun langsung membuka pintu ruangan Zayn dan masuk ke dalamnya.


"Uhuk.. uhukk.."


Nara menutup hidung dan mulutnya sendiri dan membuka pintu lebar-lebar.


"Ouh.. dia menumpahkan satu ton parfumnya disini?" gerutunya.


Hidung Nara langsung terasa sakit begitu pula dengan tenggorokannya.


Wanginya begitu menusuk.


"Ouh... dasar. Kurasa dia sudah gila sekarang." gerutu Nara.


Nara meletakkan paper bagnya di atas meja Aeri dan duduk di kursi yang ada disana.


Tidak ingin masuk ke dalam ruangan Zayn yang membuatnya sesak dengan wangi parfumnya itu.


"Hah, aku harus menunggu lagi disini?" gumamnya tak percaya.


Di lantai atas, ruangan selebar ini dan hanya ada dirinya di dalamnya.


Siapa yang tidak takut jika sendirian seperti Nara? horror sekali rasanya.


Namun bagaimana lagi, Nara tetap menunggu disana dengan sabar.


Hingga tak sampai satu jam, pintu lift terbuka dan Zayn keluar dari sana.


"Zayn bahkan tetap tampan setelah seharian bekerja ck ck ck..." decak Nara.


Zayn yang melihat Nara ada di depan ruangannya menyunggingkan senyuman tipisnya.


"Wah.. kau benar-benar takut untuk kujadikan sup ya?" tanya Zayn dan mendekat pada Nara.


Nara beedecak menatap Zayn tajam, "Kau sengaja ya berbohong padaku?" tanyanya.


"Kau mengerjaiku ya?" tanyanya lagi.


Zayn diam kemudian tertawa setelah mengerti arah pembicaraan Nara.


"Kau mudah sekali di tipu, hahahaha.." tawanya.


Sedangkan Nara langsung menatapnya penuh dendam. Enak saja Zayn mengerjainya seperti ini.


Zayn menarik nafasnya perlahan, "Ya sudah yang penting kau tidak kujadikan sup." ucapnya.


"Ayo masuk aku sudah lapar."


Zayn langsung masuk ke dalam ruangannya, Nara pun mengikutinya dari belakang.


Namun begitu masuk ternyata wangi parfum Zayn masih cukup menyengat. Padahal ia sudah cukup lama membiarkan pintu terbuka agar udara didalam bisa berganti.


"Akhh.. dokter, apa kau menuangkan satu ton parfum kesini? wanginya sangat menyengat sekali." adu Nara.


Zayn menggelengkan kepalanya, "Tidak, wanginya seperti biasanya. Hidungmu saja yang bermasalah." elaknya dan berusaha baik-baik saja.


Padahal Zayn pun ingin muntah mencium wangi ruangannya sendiri yang begitu menyengat.


"Benarkah? ah.. tapi benar kok, wanginya begitu menusuk rasanya aku akan mati." ucap Nara.

__ADS_1


Zayn berdecak lalu menjitak pelan kepala Nara menggunakan bolpoin.


"Kau tidak akan mati hanya karena parfum, jangan lebay."


__ADS_2