
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca🤗🤗🤗🤗
...💜💜💜...
"Bodoh sekali. Lakukanlah yang biasanya dilakukan oleh para istri saat mengantarkan makanan kepada suaminya."
Nara mengerjapkan matanya lagi, apa yang biasanya dilakukan oleh para istri?
Mana Nara tau, mereka saja baru menikah kemarin.
Zayn bersidekap dada dan menyandar pada kursinya, menatap Nara sambil menggelengkan kepalanya sendiri.
"Ck ck ck ck.. kau menghabiskan uang suamimu layaknya istri yang baik."
Nara langsung memalingkan wajahnya, tuhkan pasti Zayn ingin membahas ini.
"Tapi kan kau yang mengatakan aku boleh membeli apa saja kemarin." ucapnya namun masih tak menatap Zayn.
"Ya, dan kau sangat patuh dengan ucapanku kemarin untuk berbelanja apapun yang kau inginkan."
"Aku hanya menuruti perkataanmu saja." elaknya.
"Istri yang baik." ucap Zayn yang membuat Nara semakin meringis malu.
Zayn tersenyun miring, "Tatap aku!"
Nara mengerjapkan matanya, masih enggan menatap Zayn. Pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Kenapa diam? apa aku ada di dinding? cepat tatap aku." pintanya.
"Kau kan istri yang baik, cepat."
Nara menghela nafasnya dan menatap Zayn, pria itu terkekeh sendiri melihat Nara.
"Karena kau istri yang baik, coba layani aku juga siang ini." pintanya.
Nara membelalakkan matanya, "Melayanimu?" tanyanya lagi.
Zayn mengangguk, "Aku ingin cepat, ada operasi pukul 3 nanti."
Nara menelan salivanya sendiri, cepat? astaga pikirnya.
"Tapi dokter Zayn, ini dirumah sakit."
Zayn mengernyitkan dahinya, "Lalu kenapa jika ini rumah sakit? apa ada yang salah? aku pemiliknya jadi aku bebas melakukan apapun."
"Bahkan jika kau mau, kau bisa melayaniku sebagai istri di depan semua pekerja rumah sakit." sambungnya.
Nara langsung menggelengkan tangannya cepat, menyilangkan tangannya di depan dada.
"Tidak!" ucapnya.
"Cepat, lakukan tugasmu sebagai istri. Aku ingin lihat selihai apa kau mengurus suamimu ini." katanya.
"Tapi maaf dokter, kau tidak bisa melakukan 'itu' disini." ucap Nara dengan suara yang memelan saat mengatakan 'itu'.
Tak
Zayn menjitak kepada Nara dengan menggunakan bak instrumen yang ada dimejanya.
__ADS_1
Cukup membuat Nara meringis kesakitan.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Zayn.
Nara mengerjapkan matanya, "Apa yang kupikirkan?" gumamnya dan wajahnya memerah malu.
Apa aku salah menangkap maksud ucapannya? pikirnya.
"Ck ck ck... ternyata kau mesum juga." decaknya.
"Tidak, tidak. Bukan begitu." elaknya.
"Sudahlah, mengaku saja. Aku akui memang diriku sangat tampan dan juga memiliki tubuh yang atletis. Mana mungkin ada gadis yang bisa menokak pesonaku."
Nara langsung mual mendengarnya, tidak sangka Zayn yang dingin dan kasar ini bisa menjadi orang yang sangat pede juga.
"Sudahlah, aku tidak punya banyak waktu. Aku harus memeriksa hasil pemeriksaan medis pasienku dan melakukan operasi nanti." ucapnya.
Nara menatap Zayn bingung, lalu? apa yang harus aku lakukan?
Kalau memang mau sesuatu sebaiknya katakan dengan jelas dan jangan membuatku malu karena berpikir yang lain seperti tadi.
"Kenapa diam? cepat bukakan bekal makan siang yang kau bawa, siapkan semuanya." kata Zayn.
Nara langsung mengangguk mengerti, ia mengambil bekal yang dibawanya di dalam paper bag, mengeluarkannya dan meletakkannya diatas meja.
"Tunggu!"
Tangan Nara yang akan membuka kotak makan siang langsung terhenti, ia menatap Zayn dengan tatapan penuh tanya.
"Pakai hand sanitizer dulu, aku tidak tau apakah tanganmu bersih atau tidak." ucapnya.
Nara menghela nafasnya, ia pun mengambil hand sanitizer yang ada di atas meja dan segera memakainya.
"Sudahkan?" tanyanya dan diangguki oleh Zayn.
Nara membuka kotak makanannya, terdengae decakan dari Zayn.
"Wah.. ternyata kau menghabiskan uang 10 juta untuk membeli daging.." ucapnya.
"Baguslah, aku lapar. Cepat lap dengan tisu sendok dan juga garpunya." titah Zayn lagi.
Nara mengambil sendok dan juga garpunya, mengelap hingga bersih menggunakan tisu sesuai perintah suami dokternya itu.
Begitu selesai Nara langsung meletakkannya disamping kotak makan, "Sudah." katanya.
Zayn mendongakkan kepalanya, "Kau tidak lihat aku sedang membaca laporan medis pasienku?" tanyanya.
Zayn menunjukkan lembaran kertas yang sedang dibacanya.
"Lalu apa lagi yang harus aku lakukan dokter Zayn yang terhormat?" tanyanya.
Sungguh, Nara sangat-sangat kesal dan juga malu.
"Suapi aku!"
Nara membelalakkan matanya kaget, menatap Zayn dan juga kotak makan bergantian.
"Kenapa diam?"
Nara menggelengkan kepalanya, tidak bisa. Ia tidak akan mampu melakukannya.
"Kau bilang dirimu adalah istri yang baik, jadi suapi aku disaat aku tengah bekerja seperti seorang istri yang baik pada umumny." titah Zayn.
__ADS_1
"Kau menolak permintaan suamimu? ck ck ck.. mana cerminan dari istri yang baik jika kau tidak-"
"Baiklah-baiklah, aku akan menyuapimu." kata Nara.
Zayn tersenyum tipis saat melihat Nara menyendokkan nasi dan juga daging, menyodorkannya kepada dirinya.
Zayn dengan cepat menerima suapan pertama dari Nara. Ouh, orang-orang akan berpikir mereka saling mencintai jika melihat ini.
"Lagi." kata Zayn.
Nara kembali menyuapinya, pria itu makan dengan santai sambil membaca hasil medis pasiennya.
"Lagi."
"Lagi."
"Lagi."
Dan begitu terus hingga tak tersisa satu makanan pun di dalam kotak makan, Zayn menghabiskannya dan Nara yang menyuapinya.
Layaknya anak kecil, anak kecil Nara yang baru.
"Lumayan juga masakanmu." katanya.
Nara tersenyum segaris mendengar pujian dari Zayn, sudah habis baru dia mengatakan bahwa makanannya enak.
Tidak, Zayn hanya bilang lumayan bukan enak.
"Baiklah, aku harus pergi sekarang bersama Aeri. Kau boleh langsung pulang atau bersamaku jika ingin menunggu." ucapnya.
"Kau akan pulang malam?" tanya Nara.
Suaminya itu tengah sibuk memasang snellinya sendiri. Ouh, tubuh kekarnya jadi tertutup.
Hanya Nara yang boleh melihatnya dan menyentuhnya. Ah, apa Nara bisa menyentuhnya dengan tangannya?
Apa Zayn memiliki perut kotak-kotak?
Nara tersenyum melihatnya.
"Kenapa kau tersenyum? membayangkan sesuatu yang erotis seperti tadi?" celetuk Zayn.
Nara langsung memalingkan wajahnya, pipinya bersemu merah.
"Bodoh, Nara. Suamimu ini sungguh sangat berbahaya." batinnya.
Zayn terkekeh, "Aku akan pulang larut malam atau mungkin tetap berada dirumah sakit sampai besok, ada banyak pasien baru dan pasien IGD yang harus aku cek satu persatu." ucapnya.
Zayn segera berlalu, keluar dari ruangannya dan berjalan bersama Aeri menuju ke ruang operasi.
Nara langsung menghela nafasnya pelan, penderitaannya berakhir.
"Lebih baik aku pulang sekarang saja." gumam Nara.
Nara langsung merapikan kotak makannya dan memasukkannya ke dalam paper bag. Begitu selesai, Nara langsung keluar dan turun ke bawah.
Nara menaiki mobilnya dengan santai menuju ke apartement. Namun saat dijalan, Nara teringat dengan kedua orang tuanya.
"Apa aku pergi untuk mengunjungi makan ayah dan ibu saja?" pikirnya.
Ia juga belum mengatakan perihal pernikahan mendadaknya ini, Zayn juga belum berkunjung ke makam ayah dan ibunya.
Langsung saja Nara menuju ke toko bunga, membeli dua buket bunga mawar bercampur dengan bunga anyelir dan juga bunga lily.
__ADS_1
Bunga yang melambangkan apa yang ia rasakan dan ingin ia katakan kepada orang tuanya.