
"Nara.." panggil Aeri.
Nara mendongakkan kepalanya dan mengerutkan keningnya saat melihat Aeri menghampiri dirinya dengan wajah penuh cemas.
"Ada apa Aeri? bukannya kau tengah bertugas? kenapa kau ada disini?" tanya Nara bingung.
"Kau harus segera kembali Nara." ucap Aeri singkat.
Nara mengerutkan keningnya bingung, "Aku harus segera kembali? bukankah kau bilang aku bisa berada disini sepuasnya?" tanyanya.
Abian yang sedari tadi mendengarkan pun ikut menganggukkan kepalanya, ia menahan bahu Nara.
"Iya benar, memangnya apa yang harus Nara lakukan sekarang?" tanya Abian.
"Maaf sebelumnya tuan, tapi ini perintah saya harus menyampaikannya." ucap Aeri dengan wajah cemasnya.
Nara mengerjapkan kedua matanya, ia sepertinya mengerti arti perkataan dari Aeri barusan.
"Apa dia mencariku?" tanya Nara kepada Aeri.
"Siapa yang mencarimu Nara?" tanya Abian.
Aeri menganggukkan kepalanya lalu menunjuk dengan menggunakan gerakan kedua matanya.
Nara langsung memutar pelan kepalanya dan tersentak kaget saat melihat Zayn tengah berdiri dengan tangan yang terlipat di depan dada dan wajah menakutkannya itu.
"Astaga!" pekiknya.
Abian yang tak mengerti apapun semakin bingung dengan pembicaraan kedua wanita di depannya itu.
"Kenapa dia bisa ada disana Aeri?" tanya Nara.
"Siapa yang ada disana Nara?" tanya Abian dan ikut menatap ke arah yang ditatap oleh Nara.
Zayn dan Abian saling bertukar tatap, Zayn menatapnya dengan tatapan tajam dan juga wajah menakutkan namun karena Abian tidak tau jadi ia mengira bukan Zayn orangnya.
Ia kembali menatap Nara, "Duduklah, kau akan pergi secepat itu? kita baru saja berbicara beberapa menit setelah delapan tahun lamanya." pinta Abian dan memegang tangan Nara.
Aeri membelalakkan matanya melihat tangan Abian yang menggenggam tangan Nara, "Gawat!"
"Lepaskan tanganmu tuan atau kami berdua akan kena masalah." pinta Aeri dengan wajah ketakutan.
Sedangkan Zayn ditempatnya semakin meradang apalagi melihat tunangannya di pegang oleh pria lain sedangkan dirinya sendiri harus mengumpulkan banyak keberanian dan tekad untuk menyentuh Nara seujung kukunya saja.
"Ah sepertinya aku salah meminta Aeri untuk menghampiri mereka, aku harus datang sendiri." gumamnya.
Zayn memindai wajahnya sendiri di alat yang tersedia khusu untuknya di samping pintu kaca tersebut agar ia tak perlu bersusah payah menyentuh kacanya.
__ADS_1
Aeri langsung membelalakkan matanya, "Dia datang Nara, cepat lepaskan tangan pria ini." pinta Aeri.
Zayn berjalan mendekat, Nara pun ikut ketakutan karenanya. Ia menatap Abian dengan tatapan memohon.
"Abian, lepaskan tanganmu sebentar ya?"
Abian mengerutkan keningnya, "Kenapa Nara?" tanyanya.
"Karena kau tidak boleh menyentuhnya!" ucap Zayn dengan dingin.
Aeri langsung mundur kebelakang dan Nara menatap Zayn kaget.
"Ah kau dokter Zayn kan? kau ada perlu dengannya?" tanya Abian ramah.
"Ya, lepaskan tanganmu dari tunanganku." ucap Zayn singkat dengan tatapan tajamnya.
Abian mengerjapkan matanya berulang kali lalu menatap Nara, "Dia tunanganmu?" tanyanya.
"Ya dia tunanganku karena itu lepaskan tanganmu." ucap Zayn dingin.
Abian langsung melepaskan tangannya, dengan cepat Zayn menarik Nara ke arahnya dan mengeluarkan cairan disinfektan.
Zayn menyemprotkannya ke tangan Nara yang tadi di genggam oleh Abian lalu bahunya yang sempat di tepuk dan ke seluruh tubuh Nara karena gadis itu sempat memeluk Abian tadi.
Dan bergantian, Zayn menyemprotkannya kepada Abian tanpa tanggung membuat pria itu batuk.
"Apa ini dokter?" tanyanya bingung.
"Zayn ayo kita kembali, kau harus bekerja." ajak Nara.
Zayn menatap sengit kearah Abian lalu menarik tangan Nara menunjukkan cincin di jari manisnya.
"Dia sudah bertunangan dan akan segera menikah jadi jaga jarakmu dengannya." ucap Zayn.
"Mari dokter, ada beberapa pasien lagi yang harus konsultasi denganmu." ajak Aeri takut-takut.
"Ayo Nara, aku membutuhkanmu di depan ruanganku." ajak Zayn dan langsung menggenggam tangan Nara.
Tanpa suara Nara mengucapkan maaf kepada Abian, sungguh ia tak menyangka Zayn akan menghampirinya seperti ini.
Padahal tadi ia sudah mengkhayalkan bisa menikmati pemandangan dan udara segar ditaman ini dan meluapkan emosinya kepada Zayn.
Namun pupus sudah keinginannya itu.
Dan tanpa sadar Zayn terus menggenggam tangan Nara dengan erat membawanya masuk meninggalkan Abian yang masih terdiam di tempatnya.
Aeri menunduk kepada Abian hormat, "Maafkan aku tuan, kau bisa berbicara dengannya lain waktu disaat dokter Zayn tidak ada, permisi."
__ADS_1
Aeri pun berjalan mengikuti Zayn dan juga Nara, begitu mereka sampai di depan ruang praktek milik Zayn, ia langsung melepaskan tangannya.
"Tunggu aku disini, yang pasti jangan pernah hilang dari pandanganku." ucapnya.
Nara membuang wajahnya kesal, "Ck, mentang-mentang dia yang berkuasa disini." batinnya.
"Hei Naraaa... kau dengar aku kan? tunggu aku selesai bekerja disini dan jangan temui siapapun termasuk laki-laki tadi." katanya.
"Ya, aku mengerti." jawab Nara singkat.
"Persilahkan pasienku untuk masuk." ucap Zayn pada Aeri.
Aeri mengangguk dan langsung melaksanakan tugasnya sendiri, Zayn pun masuk ke dalam ruangannya dan tinggal Nara sediri disana. Ia duduk di kursi dengan kesal.
"Hah, apa yang harus kulakukan selama duduk disini? aku bisa mati karena bosan." gumamnya.
"Bahkan aku belum sempat untuk bertukar nomor dengan Abian tadi." ringisnya lagi.
Delapan tahun mereka tidak berjumpa dan pertemuan pertama mereka harus seperti ini.
"Ah, apa yang akan Abian pikirkan tentangku nantinya." gumamnya.
Nara merengut memikirkan apa yang akan ia katakan kepada Abian nantinya jika mereka kembali bertemu, apa yang akan Abian tanyakan kepada dirinya nanti.
"Maafkan aku Nara, aku sungguh minta maaf." ucap Aeri yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.
"Tidak apa-apa Aeri, bukan salahmu." kata Nara.
Aeri menggelengkan kepalanya, "Tidak Nara, aku yakin sekali bahwa ini salahku. Dokter Zayn bertanya karena tidak melihatmu duduk disini."
"Dia bertanya?"
Aeri menganggukkan kepalanya, "Ya, dia bertanya dimana dirimu lalu aku menjawab bahwa kau ada di taman untuk mencari udara segar."
"Lalu kenapa dia bisa ada disana? apa dia harus memastikan sendiri?" tanya Nara.
Aeri kembali menganggukkan kepalanya, "Ya, dia harus memastikan sendiri bahwa kau memang berada disana dan saat dokter Zayn melihatmu...."
Aeri menggantungkan perkataannya membuat Nara penasaran.
"Melihatku?"
"Saat itu.. pria tadi tengah menepuk bahumu lalu kah memeluknya. Wajah dokter Zayn langsung berubah saat melihatnya, dia terlihat sangat-sangat marah." ucap Aeri.
Nara menghela nafasnya pelan, "Di hari yang cerahpun dia memang membuat kesal dan sering marah-marah apalagi ini.." ringisnya.
Entah kata-kata pedas apa yang akan keluar dari mulut Zayn kali ini, ah Nara harua mendengarnya lagi nanti.
__ADS_1
"Sepertinya dokter Zayn sangat mencintaimu karena itu dia marah melihatmu bersama pria lain." bisik Aeri.
"Hah cinta apanya, bullshit." gumam Nara kesal.