
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca🤗🤗🤗🤗
...💜💜💜...
Zayn diam menatap makam kedua orang tua Nara sembari tangannya terus mengusap bahu Nara.
Ia merasakan hal yang aneh setelah melihat Nara menangis saat mengunjungi kedua orang tuanya dipemakaman.
Sedangkan Zayn? semenjak pemakaman ayahnya waktu itu ia tidak pernah sekalipun mengunjungi ayahnya barang sekedar untuk berkunjung dan membawakan bunga atau melepas rindu.
Ia bahkan tidak pernah merindukan ayahnya. Saat ayahnya meninggalpun Zayn tidak pernah sekalipun menangis, tidak ada air mata yang menetes dari kedua bola matanya saat melihat ayahnya di makamkan.
Hanya dia yang tidak terlihat sedih dan malah senang.
Senang karena tidak akan melihat ayahnya lagi.
Berbeda dengan Nara yang malah menangis sekarang.
"Jangan menangis. Kau membuatku terlihat buruk dimata mertuaku." kata Zayn.
Nara berhenti menangis lalu menatap Zayn yang hanya diam dengab tatapan lurus tak menatap dirinya sama sekali.
"Jangan menatapku seperti itu, wajahku tidak akan berubah atau menghilang." kata Zayn lagi.
Nara langsung mengulum senyumnya mendengarnya lalu menatap makan kedua orang tuanya.
"Ayah dan ibu bisa lihatkan? Zayn sangat baik dan perhatian padaku. Hanya luarnya saja yang terlihat keras dan susah di tembus."
"Tapi dia benar-benar perhatian." kata Nata.
Wajah Zayn langsung berubah memerah mendengarnya, dengan cepat ia melepaskan tangannya yang ada di bahu Nara.
"Tidak, siapa yang perhatian padamu." elaknya.
"Aku hanya berbuat baik saja padamu karena kau menangis." lanjutnya.
Dasar tidak mau mengaku, gengsian! batin Nara.
"Tidak dokter, kau perhatian padaku. Yang kau lakukan tadi namanya perhatian." kata Nara.
"Aku tau dengan pasti. Jadi jangan mengelaknya." kata Nara.
Zayn berdehem pelan, "Aku tidak merasa begitu tapi jika kau berpikir seperti itu silahkan saja." katanya.
Nara tertawa dalam hati. Dasar pria tinggi gengsi.
Ia tidak ingin mengatakan secara langsung kalau dirinya mengakuinya dan malah mengatakan hal itu.
Nara dan Zayn sama-sama diam, menatap makam ayah dan ibu Nara di depannya.
__ADS_1
Dan juga sinar mentari yang begitu terik membakar kulit keduanya namun Nara dan Zayn tetap disana.
"Kau tau dokter?" tanya Nara.
Zayn menatapnya dengan kening berkerut, "Tidak." jawabnya cepat.
Nara langsung membuang nafasnya kasar. Padahal Zayn bisa bertanya apa itu? namun ia malah mengatakan tidak. Ck ck ck..
"Senja disini sangat cantik. Kau bisa melihat matahari terbenam dengan sangat cantik dari sini dokter." kata Nara.
"Benarkah?" tanya Zayn.
Nara mengangguk, "Tentu saja, dari balik bukit disana. Aku biasanya duduk disini sampai matahari terbenam."
"Seperti waktu itu?" tanya Zayn.
Nara mengerutkan keningnya, "Seperti waktu itu?" tanyanya.
Zayn berdecak, "Terakhir kali kau datang kesini, saat kita baru saja menikah. Kau duduk disini sampai tengah malam." kata Zayn.
Nara menepuk jidatnya sendiri, ah dia baru ingat.
"Benar, aku sampai larut malam waktu itu duduk disini. Terlalu banyak yang ingin aku ceritakan pada keduanya."
"Apa saja yang kau ceritakan pada mereka? kau membicarakanku?" tanya Zayn penasaran.
Nara mempoutkan bibirnya, "Tidak hanya tentangmu saja, aku bercerita tentang banyak hal. Semua yang aku lalui dari awal hingga akhirnya aku harus menikah denganmu."
Zayn diam begitupula dengan Nara. Mereka sibuk dengan pemikiran mereka sendiri.
"Ingin bercerita?" tanyanya.
Nara langsung menatap Zayn, keduanya saling bertukar tatap satu sama lain.
"Kebetulan ada kedua orang tuamu dan juga aku disini. Kenapa tidak bercerita saja? orang tuamu bisa mendengar dan begitupula dengan aku." kata Zayn.
Ah benar, Zayn memang pintar sekali. Pantas saja dia menjadi seorang dokter.
Jika Zayn bodoh, mungkin ia tidak akan memakai snelli.
"Ceritakan saja. Apa yang kau lakukan selama ini saat aku sibuk." ucapnya.
Nara mengangguk, ia akhirnya bercerita betapa kesalnya dirinya karena Zayn selalu memprioritaskan pasiennya.
Selalu berada di rumah sakit dibandingkan dirumah dengannya.
"Kan aku sudah mengatakannya padamu, nyawa pasien adalah yang terpenting untukku." ucapnya.
Nara mengangguk, "Ya dokter aku sangat mengerti, aku kan hanya menceritakan keluh kesahku. Kau jangan marah." katanya.
Zayn menipiskan bibirnya sendiri, "Baiklah aku tidak akan komplain. Lanjutkan ceritamu." ucap Zayn mengalah.
Akhirnya Nara kembali bercerita, banyak sekali yang Nara ceritakan sampai Zayn sendiri bingung.
__ADS_1
Darimana Nara memiliki kemampuan untuk bercerita sebanyak ini? apa memang semua perempuan senang bercerita panjang lebar? atau hanya dirinya saja yang kurang update?
Zayn pikir Nara hanya akan sedikit bercerita, namun setelah di dengarkan dengan seksama, Zayn rasa ia bisa menerbitkan satu buku yang hanya membuay celotehan panjang Nara hari ini saja.
Sesekali Nara tertawa pelan setelah bercerita membuat Zayn menyunggingkan senyumannya sendiri.
Hingga akhirnya senja muncul di hadapan keduanya.
Tidak terasa, selama itu ternyata Nara bercerita dan Zayn mendengarkannya hingga telinganya panas.
"Senjanya sudah tiba, matahari akan terbenam sebentar lagi." kata Zayn.
Nara mengangguk, "Bagaimana? baguskan?" tanyanya.
Zayn bergumam, "Ya.. bagus." jawabnya.
Jujur saja selama hidupnya Zayn hanya melihat senja beberapa kali saja apalagi melihat senja secara langsung dengan santai seperti ini.
Selama ini ia hanya berada di rumah sakit, berada di dalam gedung ataupun di apartementnya untuk tidur dan istirahat.
Tidak terpikirkan dikepalanya untuk bisa pergi berlibur atau menikmati hari.
Namun hari ini bersama dengan Nara, Zayn melakukannya. Ia menikmati waktunya.
"Jadi dulu kau sering datang kesini, duduk seperti ini dan pulanh setelah menikmati senja?" tanya Zayn.
Nara mengangguk, "Ya, sebenarnya tidak sesering itu. Aku sibuk bekerja siang dan malam, hanya saat bisa mencuri waktu saja aku datang kesini dan pulang saat matahari terbenam." jawabnya.
"Mencuri waktu?" tanya Zayn bingung.
"Ya, kadang jika rekan kerjaku ada keperluan mendesak mereka memintaku untuk menggantikan shift mereka."
Zayn berdecak mendengarnya, "Ck, menyusahkan orang lain saja. Seharusnya mereka izin kepada atasan, kenapa meminta pegawai lain untuk menggantikannya?"
Nara tersenyum tipis, "Tidak cuma-cuma Zayn, karena itulah kadang mereka mau menggantika shiftku dan aku gunakan waktunya untuk datang kesini."
Zayn mengangguk mengerti, seperti itu ternyata..
Ah kenapa dia tidak melakukannya juga saat koas? pikirnya.
Namun Zayn langsung menggelengkan kepalanya, mana bisa ia melakukannya saat koas atau dirinya terancam tidak akan mendapatkan gelar dr nya.
"Nara.." panggil Zayn.
Nara menatapnya sambil bergumam, Zayn pun juga mengalihkan pandangannya dari senja di depannya dan menatal wajah Nara yang tertimpa sinar orange senja.
"Ada apa dokter?" tanya Nara, matanya sedikit mengerjap karena silau namun Zayn tetap bersinar seperti tidak ada apapun.
"Terima kasih." ucapnya.
Deg.
Jantung Nara langsung berdebar mendengarnya.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mengajakku kesini hari ini. Aku banyak mengetahui hal baru berkat dirimu."