
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar๐ค
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca๐ค๐ค๐ค๐ค
...21+...
...๐๐๐...
Lima menit saling menatap dalan diam, akhirnya Zayn mengalah.
Ia menarik Nara ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan erat.
"Maafkan aku.. kau kesal?" tanyanya.
Nara mengatur nafasnya sendiri, tentu saja kesal Zyan.. tentu saja, arrrggghhh....
"Tentu saja aku kesal." jawabnya.
Zayn tertawa mendengarnya dan langsung mendapatkan tatapan sinis oleh Nara.
Setelah itu baru Zayn diam, tak tertawa lagi.
"Baiklah aku minta maaf, aku hanya tidak ingin mengecewakanmu." ucapnya.
Nara diam, "Apa kau sebegitu tidak taunya Zayn?" tanyanya.
Zayn berdecak, "Jangan panggil aku Zayn saja, aku jauh lebih tua darimu." omelnya.
Nara mencebikkan bibirnya sendiri, "Lalu aku harus memanggilmu apa?" tanyanya.
Zayn bergumam, "Sayang? suamiku? cintaku?" sarannya.
Nara langsung membelalakkan matanya, "Ihh, tidak mau!" tolaknya.
Memalukan memanggil Zayn dengan panggilan sayang dan semacamnya.
"Aku panggil dokter saja." putus Nara.
Zayn menarik nafasnya dalam, "Baiklah, terserahmu."
Nara dan Zayn sama-sama diam, Zayn mengelus kepala Nara dengan perlahan. Jantung Zayn juga berdebar kencang, Nara bahkan bisa mendengar degup jantung Zayn dengan jelas.
"Kau berdebar kencang dokter." kata Nara.
Zayn bergumam, "Ya, karena dirimu ada dalam pelukanku sekarang." jawabnya.
Tentu saja hal itu membuat Nara kembali memerah mendengarnya, ia bergerak tidal nyaman di dalam pelukan Zayn karena perkataannya itu.
"Sstt.. jangan bergerak begitu." kata Zayn.
Nara mengerutkan keningnya sembari membenarkan posisinya di dalam pelukan Zayn.
"Kenapa memangnya?" tanya Nara.
"Kau membuatku menginginkanmu lagi." jawabnya.
Deg
Ah Nara jadi semakin memerah malu mendengarnya.
"Ayo Nara, kita lakukan sekarang saja tanpa belajar." ajak Zayn.
Zayn sudah mengubah posisinya sendiri, mengungkung Nara di bawahnya dengan mata menggelap.
"Kau bisa melakukannya?" tanya Nara.
__ADS_1
Zayn mengangguk namun tidak yakin. Dirinya juga tidak pernah melihatnya.
"Aku mengikuti naluriku saja, karena kau sudah pernah melihatnya kalau aku salah, kau yang memimpin." jawabnya.
Nara langsung mencubit pinggang Zayn, "Ouh, kau membuatku malu."
Zayn terkekeh, ia langsung menatap pipi Nara.
"Pipimu memerah." ucap Zayn pelan.
Cup
Zayn langsung mengecup pipi kanan dan kiri Nara membuat Nara semakin malu dan berdebar.
Zayn melirik ke samping, bahkan telinga Nara jauh lebih merah dibandingkan dengan pipinya.
Zayn tau itu.
"Bahkan telingamu jauh lebih memerah." kata Zayn.
Tanpa jijik, Zayn mengulumnya membuat Nara menggeliat dan melenguh.
"Dokter.. aaa. geli." adunya.
Zayn menatap kedua mata Nara, "Aku hanya punya waktu malam ini, besok pagi aku harus sudah kembali ke rumah sakit dan mengurus pasien." ucapnya.
"Aku akan pulang jika pasien yang keracunan makanan keadaannya jauh lebih membaik." lanjutnya.
Nara mengangguk mengerti, "Baiklah."
Zayn langsung mencium bibir Nara lagi setelahnya, ********** lembut hingga Nara kembali terbuai.
Sembari tangannya dengan aktif bergerilya di daerah lain, menciptakan lenguhan pelan yang keluar dari bibir Nara.
Hingga tanpa sadar tubuh keduanya sudah tidak tertutup apapun lagi, dinginnya ac pun langsung terasa menusuk di kulit keduanya.
Kedua tangan Zayn pun aktif, tangan kanannya aktif bergerak dibawah membuat Nara memejamkan matanya sampai akhirnya ia mendapatkan kenikmatan pertamanya.
Nara diam menatap Zayn dengan nafas yang masih tersenggal. Pria itu sepertinya tau harus melakukan apa dan bagaimana caranya.
Zayn terus menatap Nara dengan tatapan memohon, ia menggesekkan miliknya sendiri tidak sabar.
Akhirnya Nara pun mengangguk, "Lakukanlah Zayn." ucapnya lirih.
Zayn tersenyum mendengarnya, ia pun langsung mendorong miliknya sendiri.
Gagal.
Sulit sekali ternyata. Bahkan Nara juga mendesis kesakitan.
"Tidak bisa Nara, aku tidak bisa melakukannya." kata Zayn.
Zayn berusaha lagi, "Ahh.. shit!" umpatnya.
Zayn mencium bibir Nara sebentar, "Milikmu yang terlalu sempit atau milikku yang terlalu besar? kenapa susah sekali?" tanyanya frontal.
"Jangan berkata seperti itu, aku malu." kata Nara.
Zayn akhirnya diam, dan di percobaan ketiga akhirnya ia berhasil setelah mengandalkan nalurinya sendiri dan bantuan Nara juga?
Hemm begitulah.
"Zayn..." lenguh Nara kesakitan.
Ah, Nara tidak suci lagi sekarang. Ia sudah benar-benar menjadi nyonya Xavier yang Zayn cintai.
"Ahh.. ternyata ini yang disebut surga dunia oleh teman kuliahku." kata Zayn.
__ADS_1
"Surga dunia?" tanya Nara.
"Ya, surga dunia.. ah ternyata seenak ini." katanya.
"Y-ya.. ya.." jawab Nara gugup.
Hingga setelah sekian lama akhirnya Zayn sampai, ia menanamkan benih cintanya di dalam rahim Nara.
Bruk
Setelah itu Zayn langsung menjatuhkan dirinya di samping Nara dan memeluk Nara dengan nafas naik turun.
Sedangkan Nara sudah hampir memejamkan matanya sendiri, mengantuk dan juga kelelahan setelah malam pertamanya dengan Zayn.
"Terima kasih Nara. Aku mencintaimu." bisik Zayn ditelinga Nara.
Nara tersenyun mendengarnya, ia membalikkan badannya memunggungi Zayn.
"Kenapa memunggungiku?" tanya Zayn heran.
"Badanku pegal terlentang terus." gumamnya.
Zayn pun mengangguk mengerti, tentu saja Nara kelelahan. Zayn menggempurnya selama dua jam tanpa henti.
"Sepertinya aku sudah sembuh, aku benar-benar sembuh.. aku bida hidup normal sekarang bersama dengan Nara." gumamnya senang.
Zayn langsung memeluk tubuh Nara dari belakang dengan erat, hingga tubuh polos keduanya saling bersentuhan satu sama lain tanpa penghalang apapun.
Tangan Zayn juga tidak bisa diam, squishy di depannya sangat menggoda tangannya untuk aktif.
"Zayn, aku ingin tidur." kata Nara, ia terganggu dengan Zayn yang terus menggerayangi dirinya.
Dasar laki-laki, tadi saja sok polos dan suci.
Sekarang setelah mengerti tidak ingin berhenti. Gerutu Nara kesal.
"Nara.." panggil Zayn.
Nara menjawabnya dengan gumaman, ia sudah tidak sanggup lagi untuk menjawab Zayn.
"Nara..." panggil Zayn lagi sambil merapatkan tubuhnya sendiri.
"Ada apa? aku mengantuk..." tanyanya setengah kesal.
"Aku ingin lagi, bolehkan?" tanyanya tanpa tau malu.
...๐๐๐...
Keesokan paginya pukul 7 pagi Zayn sudah bangun, ia mandi dan memakai kemejanya seperti biasa.
Tubuhnya sudah terlihat segar, bahkan senyuman senang pun tak bisa luntur dari wajahnya mengingat kemarin malam.
Apalagi Nara yang masih tertidur pulas seperti mayat hidup dengan rambut acak-acakan dan sprei yang tidak berbentuk lagi.
Zayn keluar, menyiapkan sarapan berupa roti, salad dan juga susu hangat untuk dirinya sendiri.
Dan satu porsi lagi ia siapkan untuk Nara. Setelah selesai makan, Zayn langsuny membawa nampannya ke dalam kamar dan meletakkannya diatas nakas.
"Nara.. bangunlah, sudah pagi. Kau tidak ingin menjadi mumi kan?" tanya Zayn.
Hah, memang mulutnya tidak bisa romantis.
Nara menggeliat, "Aku masih mengantuk dokter." jawabnya.
Zayn mengecup pelan kening Nara, "Tetap saja, bangunlah sebentar."
"Aku harus berangkat bekerja sebentar lagi, aku juga sudah menyiapkan sarapan untukmu. Makanlah sekarang selagi susumu masih hangat." pintanya.
__ADS_1
"Kau membuatkanku sarapan?" tanya Nara terkejut.
"Ya, aku membuatkanmu sarapan. Langka bukan? karena itu bangunlah sekarang." kata Zayn.