
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca🤗🤗🤗🤗
...💜💜💜...
Zayn dan juga Nara akhirnya sampai di pemakaman orang tua Nara disaat jam sudsh menunjukkan pukul dua siang.
Keduanya sempat berdebat tadi saat ingin membeli makan siang karena baik Nara maupun Zayn sama-sama belum mengisi perut mereka.
Nara kelaparan begitu pula dengan Zayn namun pria itu tidak ingin makan di liar, ia masih tidak suka makan sembarangan apalagi ia tidak tau bagaimana mereka mengolah makanannya.
Hingga akhirnya keduanya mengisi perut dengan makanan instan yang ada di minimarket.
Semuanya karena Zayn.
Hah..
"Dimana makam kedua orang tuamu?" tanya Zayn.
Ia dan Nara sudah keluar dari dalam mobil, Nara dengan dua buket bunga ditangannya sedangkan Zayn membawa satu buket bunga besar di tangannya sendiri.
"Disana." jawab Nara.
Zayn mengangguk, ia langsung melenggang jalan lebih dulu masuk ke dalam area pemakaman meninggalkan Nara yang masih berdiri di tempatnya.
"Kenapa dia jalan lebih dulu?" gumam Nara heran.
"Apa dia tau dimana makan kedua orangtuaku?" gumam Nara lagi bingung.
Hah, Zayn memang penuh dengan teka teki dan serba sesukanya.
Namun bagaimanapun Nara menyukainya.
Aneh bukan? pria dengan sifat dan sikap seperti Zayn malah mampu membuatnya jatuh cinta.
Mungkin ini definisi dari cinta itu buta.
Tidak perduli seperti apa pasanganmu, tidak perduli apapun kekurangannya jika ia mampu menunjukkan satu kelebihannya untuk membuatmu jatuh cinta,
Maka ia pemenangnya.
Seperti Zayn dibalik semua kekurangannya, dibalik trauma yang di alaminya dan dibalik sifat kasarnya pada Nara.
Ia mampu membuat Nara nyaman dengan caranya sendiri yang menurut orang lain mungkin aneh.
"Kenapa diam saja? kau pikir aku tau dimana makamnya?" tanya Zayn sambil berbalik.
Lalu berjalan menghampiri Nara lagi dan mendekat padanya.
__ADS_1
Nara tersenyum mendengarnya, lihatkan? ini kelebihan Zayn.
"Ayo! jangan terlalu lama. Kuubah kau menjadi patung kalau memang hanya ingin diam." kata Zayn.
Nara terkekeh pelan membuat Zayn ikut tersenyum, Zayn merangkul lengan Nara lalu keduanya langsung berjalan masuk ke dalam area pemakaman bersama-sama.
Nara dan Zayn akhirnya sampai di pemakaman kedua orang tua Nara. Mereka berdiri tepat di depan makam keduanya.
"Ini makam kedua orangtuamu?" tanya Zayn.
Nara mengangguk, "Ya, ini makam mereka berdua." jawabnya.
Nara langsung mendekat ke makan ayah dan ibunya dengan senyuman penuh rindu.
Sedangkan Zayn masih berdiri dengan wajah datarnya dan memperhatikan apa yang dilakukan oleh istrinya.
"Ayah, ibu.. Nara datang lagi. Maaf jika Nara lama mengunjungi kalian." ucapnya.
Nara meletakkan buket bunga yang dibelinya di atas makan ayah dan juga ibunya lalu membersihkan makamnya dan mencabuti rumput yang tumbuh.
Hingga akhirnya makam keduanya bersih barulah Nara beralih menatap Zayn yang masih diam di tempatnya.
Kali ini Zayn yang berubah menjadj patung bukan Nara.
"Ibu.. ayah.. hari ini Nara tidak datang sendirian kesini. Ayah dan Ibu lihatkan pria yang berdiri di depan makam ayah dan ibu?" tanya Nara.
Zayn berdecak, Nara berbicara seolah-olah ayah dan juga ibunya bisa mendengar apa yang ia katakan. Pikirnya.
"Ayah dan ibu tau? dia suami Nara.. orang yang sudah menikah dengan Nara beberapa bulan yang lalu." ucapnya.
Nara menatap Zayn lalu menggerakkan tangannya agar Zayn mendekat kepadanya dan juga pemakaman kedua orang tuanya.
Zayn pun mengangguk, ia berjalan mendekat lalu memberi salam terlebih dahulu pada makam ayah Nara, membungkukkan tubuhnya 90°.
"Halo a-ayah? saya Zayn Xavier suami Nara yang bertugas menjaga Nara mulai sekarang menggantikan anda." ucapnya.
Zayn lalu beralih pada makan ibunya Nara dan melakukan hal yang sama.
Nara tersenyum melihatnya, kalian lihatkan? sisi lembut Zayn.
Jadi jangan kesal atau marah padanya, ia hanya tidak bisa menunjukkan sisi lembutnya dengan baik kepada orang lain.
Zayn meletakkan bunga yang dibelinya diatas makan ibu mertuanya.
Niat hati ia membeli buket bunganya untuk diberikan kepada Nara namun akhirnya ia memberikannya kepada ibu mertuanya.
Tidak apa, Zayn ikhlas memberikannya.
Toh ia bisa membeli satu toko bunga untuk diberikan kepada Nara.
"Duduklah disini Zayn." kata Nara sambil menunjuk ke rerumputan yang ada di dekatnya.
__ADS_1
Zayn langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tidak bisa duduk di sembarangan tempat.
"Tidak, aku tidak mau." tolaknya.
Nara menyunggingkan senyumannya, "Tidak apa Zayn, kau lihatkan? aku baik-baik saja duduk disini jadi ayo duduk disini juga." kata Nara.
Zayn menatap Nara tak yakin, namun melihat Nara yang terus berusaha membujuknya membuat Zayn luluh.
Ia pun duduk dengan perlahan di samping Nara, merek berdua duduk berdampingan di depan makam keduanya menatapnya.
"Dulu saat aku sedih atau saat aku menjalani hari yang sulit, aku akan datang kesini mengunjungi keduanya. Begitupula saat aku merindukan keduanya, aku akan datang dan duduk sendirian disini selama mungkin." ucap Nara.
"Kenapa kau kesini disaat sedang sulit? berbagi ceritamu dengan mereka?" tanya Zayn.
Nara mengangguk, "Hanya mereka yang bisa mendengarkanku, mendengarkan keluh kesahku selama ini."
"Kalau begitu kau tidak perlu lagi kesini mulai sekarang." kata Zayn dengan entengnya.
Nara menatap Zayn dengan kening mengkerut, "Maksudmu? aku tidak boleh lagi mengunjungi kedua orang tuaku untuk bercerita?" tanya Nara.
Zayn menggeleng.
Tak
Satu jitakan lagi di kening Nara.
Bisa dihitung sudah berapa kali Zayn melakukannya hari ini.
"Bukan begitu maksudku. Kau sudah memiliki diriku disampingmu jadi untuk apa kau datang jauh-jauh kemari jika ingin bercerita mengenai keluh kesahmu? kau bisa bercerita padaku di malam hari." kata Zayn.
Nara ber-Oh ria mendengarnya lalu mengulum senyumnya sendiri.
"Benarkah? aku bisa bercerita padamu tentang banyak hal?" tanya Nara menggoda.
Zayn memilih menatap makam kedua orang tua Nara lalu bergumam panjang.
"Ya, lakukan saja jika ada yang ingin kau ceritakan." jawabnya.
"Kau akan mendengarkanku?" tanyanya lagi.
Zayn mengangguk, "Ya, aku akan mendengarkanmu. Mendengarkan keluh kesahmu atau apapun yang ingi. kau katakan padaku." jawabnya lagi.
Nara tersenyum senang mendengarnya, ia berbalik menatap makan kedua orang tuanya lalu menyentuhnya dengan tangannya.
"Ayah, ibu.. kalian mendengarnya kan? suamiku sekarang ingin menjadi pendengar keluh kesahku." ucapnya.
"Kalian tidak perlu khawatir lagi mulai sekarang, ada Zayn yang akan menjagaku dengan baik, ada Zayn yang akan menemaniku.." lirihnya.
Nara hampir menangis, ia terdiam sejenak membuay Zayn diam-diam melirik ke arahnya.
"Ada Zayn yang akan bersamaku... aku tidak akan sendirian lagi." lanjutnya.
__ADS_1
Zayn langsung menarik Nara ke dalam pelukannya setelah mendengarnya. Ia hanya diam namun tangan hangatnya menenangkan Nara.