
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca🤗🤗🤗🤗
...💜💜💜...
Pagi ini Nara bersiap dengan gaun merahnya, merah merona yang semakin membuat kulitnya terlihat cerah.
Ia membuat janji sekitar jam 9 pagi dengan psikiater tersebut, ia akan membicarakan perihal Zayn dengannya dan bagaimana caranya untuk menyembuhkannya.
Nara keluar dari apartementnya setelah selesai bersiap-siap dan langsung menaiki lift menuju ke tpat praktik psikiater tersebut dengan menaiki mobil bmw yang Zayn berikan untuknya.
Untungnya jalanan cukup lenggang, Nara bisa mengendarai mobilnya dengan aman dan lancar tanpa ada gangguan sama sekali.
Hingga Nara tiba di sebuab gedung sepuluh lantai, terlihat biasa saja tidak terlalu cantik. Psikiater tersebut mengatakan jika ruang praktiknya ada di lantai empat.
Jadi Nara pun menaiki lift menuju ke lantai empat dan begitu keluar ia langsung bisa melihat pintu bertuliskan nama psikiater tersebut.
"Jesslyn."
Tok.. tok.. tok..
"Masuk." ucap seseorang dengan suara lembut dari dalam.
Nara langsung membuka pintu dan masuk ke dalam, matanya menatap seorang wanita cantik di depannya.
"Dengan ibu Nara?" tanyanya.
Nara menganggukkan kepalanya, "Panggil Nara saja." cicitnya.
Jesslyn mengangguk pelan, ia berdiri dan berjalan ke arah sofa di ruangannya.
Wah, Nara sampai terpelongo menatap Jesslyn, cantik dan bodynya luar biasa.
"Duduklah." ucap Jesslyn.
Nara pun akhirnya duduk di dekat Jesslyn.
"Apa yang bisa kubantu?" tanyanya.
Nara menggigit bibirnya pelan, ragu untuk mengatakannya sebenarnya.
Jesslyn tersenyum ringan, "Kau tidak perlu cemas dan juga gugup. Cukup katakan saja dan kita mulai sesi konselingnya."
Jesslyn mengambil jam pasir yang ada di samping sofa dan membaliknya.
__ADS_1
"Kau hanya punya waktu 50 menit untuk sesi konseling hari ini, jadi katakan saja apa permasalahan yang kau alami dan aku akan berusaha untuk membantumu." ucap Jesslyn lagi.
Nara mengetuk-ngetuk sepatunya dilantai, bingung harus mulai bercerita dari mana permasalahan ini. Apa ia harus memberitahu permasalahan Zayn sejak kecil? tapi Nara tidak tau banyak, ia hanya tau garis besarnya saja.
Jesslyn kembali tersenyum, ia sudah terbiasa dengan pasiennya yang ragu untuk berbicara dihari pertama konseling.
Ragu, gugup dan suka menutup diri menjadi batu sandungan seseorang untuk bisa membuka diri dan mengatakan permasalahannya sendiri.
Takut dan tidak mempercayai orang lain pun salah satu penyebabnya, hal inilah yang membuat banyak sekali terjadi kesalahpahaman diantara kedua belah pihak.
Takut untuk berbicara dan lawan bicara yang menyimpulkan secara sepihak tanpa mendengarkan terlebih dahulu.
"Aku bisa menjaga rahasiamu sebagai pasien dan kau juga bisa memulai bercerita dari bagian manapun yang kau inginkan."
"Jika kau merasa tidak nyaman, kau bisa menganggapku seperti teman dan memanggilku Jesslyn saja atau jess, buatlah dirimu senyaman mungkin denganku." lanjutnya.
Jesslyn berdiri dan menuju ke meja yang ada di ujung ruangannya, membuatkan dua cangkir teh herbal dan membawanya kehadapan Nara.
Tujuannya supaya Nara jauh lebih tenang.
"Minumlah tehmu dan ceritakan masalahmu jika kau sudah siap." ucap Jesslyn.
Nara mengambil cangkir kemarik itu dan meminum tehnya sedikit, ia meletakkannya dan menghembuskan nafasnya pelan.
"Sebenarnya bukan aku yang sakit, aku ingin konsultasi untuk suamiku." ucap Nara.
Jesslyn meletakkan cangkirnya diatas meja dan mulai mendengarkan cerita Nara dengan seksama.
Dan dengan menjadi pendengar yang baik adalah cara terbaik untuk membantu seseorang mengungkapkan permasalahannya sendiri.
"Suamimu?" tanya Jesslyn.
Nara menganggukkan kepalanya, "Ya suamiku, kesehatan mentalnya sepertinya kurang sehat dan aku ingin berkonsultasi bagaimana caranya aku bisa membantu menyembuhkannya."
Jesslyn menatap wajah Nara lekat, seperti tidak asing dengannya setelah melihat wajah Nara beberapa kali.
"Aku seperti tidak asing denganmu, apakah kau dari kalangan kelas atas? pernah tampil di televisi?" tanya Jesslyn memastikan.
Nara menggelengkan kepalanya, "Ah tidak.. aku hanya orang biasa saja."
Jesslyn tersenyum simpul, "Baiklah, Nara.. kalau begitu artinya kau menikahi pria kaya, kau tidak memberitahuku nama panjangmu.. bukankah kita harus terbuka disini agar aku juga bisa membantumu?" tanyanya.
"Nama panjangku?" tanya Nara dan diangguki oleh Jesslyn.
"Nara Xavier." jawabnya.
Jesslyn langsung menutup mulutnya tak percaya, ah istri dari pemilik rumah sakit terbesar di negara ini dengan beberapa kekayaan lainnya.
__ADS_1
"Ternyata kau nyonya Xavier, ah senang bertemu denganmu.. Aku juga sudah mengetahui sedikitnya tentang suamimu dari beberapa perawat di rumah sakit kalian." ucap Jesslyn.
"Benarkah?" tanya Nara kaget.
"Ya, dari yang aku dengar aku menyimpulkan Zayn mengidap OCD, tapi sebelum aku menjelaskan OCD ini padamu bisa kau menjawab beberapa pertanyaanku?" tanya Jesslyn.
Nara mengangguk, tentu saja yang penting Zayn bisa sembuh.
"Silahkan tanyakan apa saja yang bisa membantu pengobatannya."
"Apa dia senang melakukan sesuatu berulang? emm.. seperti mencuci tangannya berulang kali?" tanya Jesslyn.
Nara mengingat lagi, "Untuk mencuci tangan Zayn jarang melakukannya, ia lebih sering menyemprotkan disinfektan dan juga hand sanitizer."
"Berapa kali dia melakukannya dalam sehari?"
Nara mengerutkan keningnya, berapa kali ya? pikirnya.
"Tidak menentu, dia biasanya memakainya setelah menyentuh sesuatu atau ketika ia akan memakai sesuatu, ia akan menyemprotkannya dahulu ke barang itu, mengelapnya berulang kali hingga bersih sampai tak terlihat jejak apapun."
"Apa dia melakukannya padamu juga?" tanya Jesslyn.
Nara langsung mengangguk, ya dia melakukannya padanya juga!
"Ya, dia tidak ingin berdekatan dengan siapapun sebelum orang itu memakai disinfektan, bahkan dia tidak ingin bersentuhan sedikitpun dengan orang lain dan selalu mengatakan kuman, ada kuman."
Ah, Zayn yang membuatnya kesal.
Jesslyn mengangguk mengerti mendengarnya, dari jawaban Nara saja dia sudah bisa menyimpulkan bahwa Zayn memang mengidap OCD.
"Jika dilihat dari pernyataanmu barusan, bisa disimpulakan bahwa suamimu memang mengidap OCD, gangguan mental yang menyebabkan Zayn melakukan sesuatu berulang kali dan cenderung merasa ketakutan atau cemas terhadap sesuatu hal."
"Contohnya kuman, dia merasa kuman itu menakutkan dan menjadi ketakutan berlebihan, jadi dia selalu memastikan sekitarnya bersih."
"Apa dia bisa disembuhkan? dia sudah menderita selama belasan tahun." tanya Nara khawatir, Zayn tidak mengalami ini sekitar satu atau dua tahun saja.. tapi lebih dari sepuluh tahun.
Jesslyn menganggukkan kepalanya, "Bisa, suamimu bisa sembuh asal melakukan terapi atau mengkonsumsi obat dan yang terpenting keinginan dari dalam dirinya sendiri."
"Pasien dengan gangguan mental tidak akan bisa sembuh jika mereka tidak punya keinginan dari lubuk hati mereka sendiri, karena itu hal pertama yang harus dipastikan adalah Zayn mau sembuh atas keinginannya sendiri."
Nara terdiam, "Keinginannya sendiri?"
"Ya, pastikan dia memang benar-benar ingin bebas dari penyakit ini dan setelah itu kita bisa mulai melakukan terapi, kau bisa membawanya kesini nanti."
Nara tersenyum kikuk, ia datang kesini sendirian karena Zayn tidak ingin, bagaimana membujuknya?
"Tapi Zayn tidak ingin melakukan terapi ataupun mendatangi psikiater."
__ADS_1
Jesslyn terdiam sejenak mendengarnya, memikirkan langkah untuk membantu pasiennya ini hingga akhirnya ia menemukan cara yang baik.
"Kalau begitu jadilah perantara, jika dia tidak ingin mendatangiku maka jadilah psikiater untuknya."