Perfectionist Husband

Perfectionist Husband
Mandi air dingin


__ADS_3

Jangan lupa like, komen, beri dukungan dan juga vote.


Hargai penulis yang sudah menulis cerita ini, dan tidak melakukan plagiat terhadap karya ini! terima kasihhπŸ€—


...πŸ’œπŸ’œπŸ’œ...


"Kenapa diam?" tanya Zayn ketus.


Dirinya seperti merasa baru saja ditolak oleh gadis di depannya, cih.


"Apakah harus? maksudku.. ciuman... itu..."


"Lakukan saja, aku ingin mencoba untuk membiasakan diri denganmu. Kita akan menikah, bagaimana bisa aku dan dirimu terus bersikap kaku seperti ini."


Benar, Nara juga berpikir seperti itu. Bagaimana bisa mereka tetap seperti orang asing saat menikah nanti.


"Lakukanlah.. aku harus mencobanya agar tidak kaget seperti saat dirimu mencuri ciuman pertamaku." sindirnya.


Nara berdecak kesal mendengarnya, namun ia tetap mendekatkan wajahnya kepada Zayn.


"Kau bisakan? aku belum pernah berciuman jadi aku tidak tau bagaiamana caranya."


Ck, dia pikir Nara ahlinya dalam hal ini hanya karena ciuman mereka waktu itu. Hei, itu juga ciuman pertamaku, batin Nara berteriak.


"Aku mengerti.." ucapnya kesal.


Nara kembali mendekatkan wajahnya dengan Zayn, jantungnya sudah berdegup kencang namun pria didepannya ini masih terlihat biasa saja.


Cup


Bibir keduanya bertemu, keduanya hanya diam beberapa detik menjernihkan pikiran masing-masing.


Nara dengan pikirannya yang berkecamuk dan jantungnya yang berdebar kencang sedangkan Zayn yang berusaha mengusir pikirannya terhadap kuman.


Tidak ada kuman! tidak ada kuman! tidak ada kuman!


Begitulah yang ia gumamkan untuk mengusir segala pikirannya, hingga ia mampu mengontrol pikirannya sendiri, Zayn membuka matanya menatap Nara yang menutup matanya sendiri.


Grep


Zayn menarik pinggang Nara mendekat kepadanya, mengalungkan tangannya di pinggang Nara membuat Nara terkejut namun kembali hanyut dalam ciuman mereka.


Sama-sama terbuai. ck ck ck..


Zayn menutup matanya, entah refleks dari mana Zayn ******* pelan bibir bawah Nara. Menciptakan sensasi yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.


Lama-kelamaan Zayn semakin lihai, ia ******* lagi bibir Nara bergantian antara bibir atas dan bawahnya. Nara pun ikut membalasnya, mencecap bibir Zayn hingga menimbulkan suara nyaring diruangan hening tersebut.


Perlahan tangan Nara menyentuh dada Zayn, naik perlahan ke atas dan mengalungkannya di leher laki-laki itu begitu pula dengan Zayn, ia semakin mengeratkan rangkulannya pada pinggang Nara membuat tubuh mereka bersentuhan satu sama lain.


Terus seperti itu, hingga Zayn merasa dirinya menginginkan lebih dari ini. Ada sesuatu dari dirinya yang menginginkan sesuatu lebih dari sekedar ciuman.


Dinginnya AC sudah tidak terasa lagi, seperti tidak berfungsi karena tubuh keduanya terasa panas.


Ceklek


"Dok-"

__ADS_1


Aeri membelalakkan matanya melihat pemandangan di depannya, oh astaga dia pasti sudah merusak suasana keduanya.


Zayn dan Nara pun langsung menjauh satu sama lain, Nara berjalan berpura-pura menatap dinding seakan ada sesuatu disana padahal tidak ada apapun sedangkan Zayn pura-purra membaca catatan medis pasiennya.


Ouh, mereka sama-sama terlihat malu membuat Aeri senyum-senyum sendiri melihatnya.


"Maafkan saya dokter, saya tutup kembali pintunya. Silahkan lanjutkan yang tadi.* ucapnya dan langsung menutup pintu lagi.


Nara meringis mendengarnya, berulang kali ia membenturkan kepalanya ke dinding.


Bodoh! bodoh! bodoh! gerutunya.


"Ekhem.." Zayn berdehem.


Namun Nara tak juga menjawab membuat Zayn melirik ke arahnya, Zayn langsung berjalan mendeka dan meletakkan tangannya di dinding menahan agar kepala Nara tidak terbentur dinding.


"Kepalamu bisa sakit." kata Zayn.


Nara mengerjapkan matanya menatap laki-laki itu, "Kau baru saja perhatian padaku dokter?" tanyanya.


Zayn memutar matanya sendiri menghindari tatapan dari Nara, lalu menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku hanya... menahanmu saja."


"Kau bisa terkena gegar otak jika membenturkan kepalamu seperti tadi atau terkena stroke." bohongnya.


Mana mungkin, Nara hanya membenturkan kepalanya pelan. Tapi tentu saja hal itu mampu membuat Nara ketakutan bukan main.


"Gegar otak?" tanyanya tak percaya.


"Stroke?" tanyanya lagi dan Zayn mengangguk.


"Sudahlah, kau pulang saja sekarang! aku masih ada pekerjaan lagi disini." usirnya.


"Kau masih ada pekerjaan dokter?"


"Ya, pulanglah.. kau bisa pulang sekarang atau bermain. Besok pagi aku akan menjemputmu lagi."


Nara mengangguk patuh, dirinya langsung membungkukkan badan pelan kepada Zayn.


"Kalau begitu aku permisi dokter, semangat untuk pekerjaanmu." ucapnya dan langsung keluar dari pintu.


Zayn menghela nafasnya pelan, ah.. benar-benar.


Perlahan Zayn menundukkan kepalanya menatap ke bawah. Setelah hidup selama 32 tahun baru kali ini ia mengalami hal ini.


"Ah apa yang harus aku lakukan?" gumamnya bingung.


Zayn mengambil ponselnya mengetikkan di laman pencarian untuk solusi dari yang ia alami saat ini.


"Alihkan pikiran.." gumamnya.


Zayn duduk di kursinya, membuka laporan medis pasiennya sendiri dan membacanya.


Namun sekelebat ingatannya tentang ciuman tadi terus berputar di otaknya, membuatnya semakin gelisah.


"Ah.. tidak bisa." ucapnya gusar.

__ADS_1


Akhirnya sore itu Zayn mandi air dingin di kamar mandi ruangannya..


...πŸ’œπŸ’œπŸ’œ...


Pagi ini Nara menggunakan gaun berwarna lilac yang dibelikan oleh Zayn, gaun selutut dengan lengan sabrina membuatnya terlihat cantik dan anggun.


Nara mengambil tasnya dan memakai sepatu hak tahu, Zayn sudah mengiriminya pesan bahwa dirinya sudah berada di depan dan menunggunya.


Dengan cepat Nara menghampiri Zayn dan seperti biasa laki-laki itu langsung melemparkan disinfektan kepada Nara.


"Pakai." ucapnya tanpa melirik Nara sama sekali.


Nara langsung memakainya dan masuk ke dalam mobil Zayn, duduk di belakang seperti biasanya.


Mobil Zayn pun langsung berjalan membelah jalanan ibu kota yang cukup ramai dipagi hari itu. Namun beruntungnya lalu lintas berjalan dengan lancar, selain polisi yang mengatur dengan baik seluruh rambu-rambunya, tingkat kesadaran masyarakat untuk mematuhi peraturan juga berperan sangat penting disini.


Semua bisa aman terkendali karena kerja sama dari berbagai pihak yang terkait.


Tak lama mobik Zayn memasuki area parkir rumah sakit, ia langsung mematikan mesinnya dan disusul oleh Nara.


Zayn mendelikkan matanya sejenak melihat gaun yang dikenakan oleh Nara, lihatlah pundaknya yang terbuka dan apa itu? dia mengikat rambutnya sendiri membuat lehernya terlihat dengan jelas.


"Kenapa kau memakai gaun ini?" tanyanya.


Nara mengerutkan keningnya, "Lalu apa yang harus aku pakai dokter? kau yang membelikan aku gaun seperti ini, kenapa kau yang bertanya?" tanyanya.


"Ah benar.."


Zayn jadi kesal sekarang, kenapa dirinya membelikan gaun seperti ini kepada Nara.


"Ah rambutmu, kenapa dikucir?" tanyanya kesal.


Ya, jika rambutnya digerai pasti akan lebih baik.


"Apa ada yang salah?"


"Ya salah, lepaskan ikatannya. Kau terlihat sangat jelek dengan rambut diikat seperti ini. Aku tidak ingin orang-orang berpikiran aneh kepadamu, kau akan segera menikah denganku." ucapnya.


"Cepat lepaskan."


Nara berdecak kesal mendengarnya namun ia tetap membuka ikatannya hingga rambut panjangnya jatuh terurai.


"Pindahkan sebagian rambutmu ke depan." titah Zayn lagi.


"Kenapa begitu?"


"Lakukan saja apa kataku."


Dengan kesal Nara langsung memindahkan sebagian rambutnya kedepan menutupi leher dan juga pundaknya yang terbuka.


Zayn tersenyum tipis, sangat tipis melihatnya.


"Bagus, kau sudah terlihat seperti tunanganku. Sekarang ayo masuk, aku terlambat untuk praktek." ucapnya.


"Memangnya siapa tunangannya selain aku?" gumam Nara kesal dibelakang sembari mengikuti langkah kaki Zayn.


"Jangan begitu, aku bisa mendengarmu." ucap Zayn membuat Nara menutup mulutnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2