
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentarπ€
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membacaπ€π€π€π€
...πππ...
Nara mengerjapkan kedua matanya, perlahan kedua matanya terbuka.
Deg
Nara tak bisa mengerjapkan kedua matanya saat melihat wajah Zayn ada di depan matanya. Wajah keduanya yang begitu dekat.
Dan Zayn yang masih menggenggam tangannya erat.
Jantung Nara kembali berdegup kencang di pagi hari ini, wajahnya memerah panas.
Aataga, apa yang harus aku lakukan? pikir Nara.
Perlahan Nara melirik ke arah jam di dinding, pukul 6 pagi artinya Zayn akan segera bangun seperti kemarin.
Duh, aku harus bagaimana? batin Nara bingung.
Terdengar helaan nafas dari Zayn, pria itu menggeliat dan seketika Nara langsung menutup kedua matanya lagi berpura-pura tidur.
Zayn membuka kedua matanya, ia langsung tersentak kaget saat melihat wajah Nara dari dekat.
Dan lebih kaget lagi saaf melihat bekas air liur Nara di dekat bibirnya.
Secara spontan Zayn langsung mendorong Nara hingga jatuh dari atas ranjang.
Brak
"Akkkhh..." ringis Nara sambil memegangi bokongnya sendiri.
Nara menatap ke atas ranjang, disana Zayn tengah duduk diatas ranjang dengan wajah kagetnya.
Seharusnya Nara yang kaget, bukan Zayn!
Bagaimana bisa dia dengan teganya mendorong Nara hingga jatuh dari ranjang?
"Dokter!!! kenapa kau mendorongku? ah.. sakit sekali." ringisnya.
Nara mengusap-usap bokongnya sendiri, bukan hanya bokongnya saja yang sakit tapi punggung dan juga kepalanya sakit karena terantuk dengan lantai.
"Kau juga kenapa tertidur dengan air liur di bibirmu? kau jorok sekali." ucapnya.
Nara mengerjapkan kedua matanya, benarkah? pikirnya.
Buru-buru Nara mengambil ponselnya yang ada diatas nakas lalu bercermin dari layar hitamnya itu sedangkan Zayn hanya bisa menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Nara langsung menutup mulutnya sendiri, wah benar kata Zayn.
Nara kenapa kau ileran seperti ini, ringisnya..
Ah Nara ingin menghilang saja jika di bolehkan.
"Benarkan?" tanya Zayn.
Nara tersenyum kikuk, lalu segera mengusap bibirnya sendiri agar bekas ilernya segera hilang namun hal itu malah membuat Zayn bergidik ngeri.
"Cepat bersihkan dirimu, kamar mandi!" ucapnya.
Membayangakan betapa joroknya Nara saat mengusap ilernya membuat Zayn mual.
__ADS_1
Nara bersungut mendengarnya, tidak jorok kok menurutnya.
"Ck, cepat Nara.. ah aku benci sekali melihatnya.." ucapnya.
Nara pun langsung membuang nafas kasar, dengan kesal ia menghentakkan kakinya berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan Zayn menatap bantal yang digunakan oleh Nara saat tidur lamat-lamat.
"Tidak berbekas kan?" gumamnya.
...πππ...
"Aku pergi kerja dulu, kau kembalilah ke apartementmu sekarang." kata Zayn.
Ia sudah berpakaian rapi, dengan kemeja dan juga celana bahan serta jam jangan yang melingkar di tangannya.
Jangan lupakan rambutnya yang diberikan minyak dan disisir dengan rapi oleh pria itu serta pafrum dengan wangi maskulin yang bisa membuat wanita mana saja tergoda olehnya.
Berbanding terbalik dengan Nara yang masih menggunakan pakaian tidurnya, rambut acak-acakan dan bau tubuhnya sendiri yang belum mandi.
"Baiklah, selamag bekerja dokter.." kata Nara sambil membungkuk hormat.
Zayn hanya mengulum senyumnya melihatnya, "Ya sudah." katanya.
Nara dan Zayn berjalan keluar dari apartement Zayn bersamaan, menaiki lift bersamaan. Lihatkan, suaminya ini sudah biasa saja saat bersama dengannya?
Walaupun kadang masih kelewatan.
Ting
Lift berhenti di lantai apartement Nara.
"Keluarlah." kata Zayn.
Nara mengangguk, ia berjalan keluar lalu berhenti dan berbalik tepat di depan lift dan menatap Zayn sambil menggigit bibirnya sendiri.
Nara semakin menggigit bibirnya sendiri membuat Zayn berdecak kesal.
"Jangan menggigit bibirmu seperti itu, kebiasaan." omelnya.
"Kau.. tidak ingin memberiku salam sebelum bekerja?" tanyanya.
Zayn menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti dengan apa yang Nara ucapkan.
"Aku tidak pernah menonton drama atau film jadi aku tidak mengerti maksudmu." ucapnya.
Nara mengerjapkan kedua matanya, benarkah? tidak percaya. Manusia mana yang tidak pernah menonton drama atau film selama hidupnya.
Dasae om-om tua 32 tahun!
"Maksudku.. seperti emm.."
Bagaimana mengatakannya ya? pikir Nara.
Ia menggigit bibirnya lagi, tidak mungkin bertanya 'apa kau tidak ingin menciumku?'
Zayn tertawa remeh melihatnya, "Kau belum mandi jadi nanti saja aku cium saat selesai bekerja." ucapnya kemudian segera menekan tombol dan pintu lift langsung tertutup.
Wajah Nara langsung memerah mendengarnya, ia mengerjapkan matanya sendiri.
"Ah.. kenapa dia mengatakan itu? haisshh.. membuatku malu saja." gumamnya.
Nara menyentuh kedua pipinya sendiri, panas dan mungkin memerah pikirnya.
"Ah, kenapa dia peka sekali?"
__ADS_1
Nara langsung buru-buru masuk ke dalam apartementnya.
Malu...
Sedangkan Zayn berjalan menuju ke mobilnya sembari mengulum senyumnya sendiri.
"Aneh." gumamnya.
Ia masuk dan langsung menyalakan mobilnya keluar dari gedung apartement menuju kerumah sakitnya.
...πππ...
Nara keluar dari ruangan Jesslyn pukul 3 sore, ia kembali menemui Jesslyn untuk memberitahu perkembangan terkini Zayn dan kabar baik bahwa Zayn mau untuk melakukan terapi dengannya.
Nara tersenyum senang mengingat ucapan Jesslyn tadi.
"*Itu artinya dia memang sudah mempercayaimu sebaagi orang yang paling dekat menurutnya. Jika seperti ini terus Zayn bisa sembuh dalam waktu dekat."
"Tetap jaga hubungan kalian agar tetap baik dan terus usaha agar Zayn mau melakukan skinship dan terbiasa dengan hal kotor lainnya."
"Kau hebat Nara*."
Nara tersenyum senang, baru ini ada yang mengatakan kalimat itu padanya.
"Kau hebat Nara.." gumam Nara mengulangi ucapan Jesslyn.
"Kau hebat.." ulangnya lagi.
Nara tertawa lalu segera berjalan dengan langkah riang menuju ke mobilnya.
Jesslyn yang mengawasi Nara dari ruangannya hanya bisa tersenyum melihatnya.
Nara dengan gaun berwarna pastelnya dan rambut terurainya berjalan seperti anak kecil.
"Kau juga layak mendapatkan kebahagiaan Nara." gumamnya.
Jesslyn sengaja melakukan ini, dari tatapan mata Jesslyn bisa melihat dan mengetahui bahwa Nara juga memiliki rasa sedih di hatinya.
Ia ingin menyembuhkan Zayn melalui Nara dan dengan itu Nara juga bisa sembuh.
Dengan kesibukan Nara untuk menyembuhkan Zayn, maka ia tidak akan merasa kesepian lagi dan merasa sendiri.
Nara punya suami, sudah seharusnya mereka saling mendukung satu sama lain.
Begitulah menurut Jesslyn, ia juga mengatakan hal-hal baik pada Nara untuk membuatnya senang.
***
Nara baru saja ingin memasukkan lokasi makam kedua orang tuanya ke gps navigasi di mobilnya namun Zayn sudah lebih dulu memghubunginya.
"Tumben sekali dia menelpon, ada apa?" gumam Nara.
Nara menggeser tombol hijau lalu mendekatkan ponselnya ke telinganya.
"Halo?" tanya Nara.
"Kau dimana sekarang?" tanya Zayn to the point.
"Aku? aku berada di.... psikiater." jawbanya.
Hening sejenak, Zayn tidak mengatakan apapun membuat Nara berpikir sambungan teleponnya terputus.
Ternyata tidak.
"Halo dokter?" panggil Nara lagi.
__ADS_1
"Ya, ya sudah tidak apa lakukan sesukamu. aku hanya ingin bilang, bawakan aku makan malam kerumah sakit nanti."