
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca🤗🤗🤗🤗
...💜💜💜...
"Aku ingin makan siang dengan suamiku." ucap Nara.
Ah ingin ia rasanya Nara menghilang dari bumi ini saat melihat segaris senyuman miring yang tercetak jelas di bibir Zayn.
Dan tak lama kemudian tawa Zayn langsung meledak, menggelegar memenuhi seluruh ruangan.
Baru kali ini ia melihat Zayb tertawa begitu bebas setelah mengenal Zayn walaupun belum lama ini bahkan suaminya itu sampai mengontrol jalur pernafasannya sendiri.
Apakah selucu itu? pikir Nara.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Nara yang masih berdiri di depan pintu.
Zayn menghela nafasnya panjang lalu mengadukan bolpoin ditangannya dengan meja kerjanya hingga menimbulkan suara.
"Kau serius dengan ucapanmu?" tanyanya.
Lihatkan, ini tantangan terbesar Nara jika ingin berbuat baik pada suaminya.
"Tentu saja aku serius." jawabnya.
Zayn kembali tertawa dan berusaha menahannya hingga wajahnya memerah.
"Lucu sekali, kau tiba-tiba saja melakukan ini padaku. Kau bersikap seperti istri yang baik." ucapnya.
Nara menarik nafasnya dalam, "Akukan memang istrimu dokter, apa aku salah jika berbuat baik pada suamiku sendiri dengan membawakannya bekal makan siang?" tanyanya.
Zayn menggeleng, "Tidak salah, bagus jika kau berusaha menjadi istri yang baik dengan membawakanku makan siang." jawabnya.
Nara langsung tersenyum mendengarnya, baiklah tinggal makan saja tidak susah.
"Tapi aku tidak ingin makan denganmu, berikan saja makanannya pada Aeri." ucapnya.
Ctarr..
Nara seperti jatuh dari langit menembus awan dan jatuh ke dalam samudra pasifik.
Namun Nara tidak ingin menyerah dan mati begitu saja di dalam luasnya samudra. Ia akan berenang dan menemukan sebuah pulau.
"Aku kan memasak untuk suamiku, kenapa harus memberikannya pada Aeri?" tanyanya dengan wajah pura-pura sedih.
Ayolah Zayn, tangkap umpannya. Aku bersusah payah seperti ini untuk membantumu sembuh.. batinnya.
"Karena aku tidak lapar." jawabnya singkat dan kembali menatap kertas dimejanya.
Entah apa yang dikerjakan oleh suaminya itu.
Dasar penggila kebersihan dan mengesalkan! umpat Nara dalam hati.
"Jangan mengumpatku, aku bisa langsung mengetahuinya." ucap Zayn.
Nara menelan ludahnya sendiri, suaminya pandai mendengarkan suara hatinya.
"Hati-hati Nara.. dia bisa membaca pikiranmu dan mendengarkan segala rutukanmu di dalam hati." batin Nara.
__ADS_1
Zayn meletakkan bolpoinnya diatas meja, menatap Nara dengan tatapan tajam menusuk khasnya.
"Dokter..." cicit Nara.
"Ck, siapa yang menyuruhmu membawa makanan untukku? mommy?" tanyanya.
Nara menggelengkan kepalanya, enak saja menuduh mommy melakukan ini.
"Tidak, aku sendiri yang berinisiatif untuk membawakanmu makan siang." jawabnya.
Zayn mengerutkan keningnya lalu dengan gerakan tangan meminta Nara untuk mendekat padanya.
"Kemarilah."
Nara pun mendekat ke arah Zayn berdiri di depannya namun pria itu hanya diam saja hingga Nara ingin duduk dan bokongnya hampir menyentuh kursi barulah suaminya kembali berbicara.
"Siapa yang menyuruhmu duduk disana?" tanyanya.
Nara pun langsung berdiri lagi, sialan pikirnya.
Sudah dibawakan makanan masih saja galak. Tidak hilang ternyata galaknya walaupun sudah menikah.
"Apa alasanmu membawakanku makanan? aku tidak percaya jika kau mengatakan kau melakukan ini karena ingin." tanyanya.
Nara mengerjapkan matanya, "Tapi memang aku menginginkannya." cicitnya.
"Aku sungguh tidak ada niatan buruk apapun dokter, aku hanya... hanya.."
Zayn mengangkat sebelah alisnya, "Hanya apa?"
"Hanya.. bosan di apartement. Jadi aku berpikir untuk datang kesini dan makan siang bersamamu." jawabnya sambil tersenyum kikuk.
Zayn menghempaskan punggung ke sandaran kursi menatap Nara tajam seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Kenapa?" tanya Zayn santai.
"Kau membuatku takut."
"Bodoh!" umpat Nara dalam hati.
Mana mungkin Nara berani mengatakannya di depan orangnya langsung, bisa habis dirinya.
Zayn menyunggingkan senyumannya, "Baiklah, duduk!" ucapnya.
Nara bersorak dalam hati, Zayn membuka pintu.
Ia langsung mendaratkan bokongnya di kursi lalu mengeluarkan makanan yang dibawanya diatas meja tanpa persetujuan Zayb dahulu.
"Aku baru menyuruhmu duduk." ucapnya membuat Nara berhenti dan menatap Zayn kikuk.
"Ah benarkah? aku kira kau sudah ingin makan."
Zayn menatap kotak makanan di atas meja dengan diam, entah apa yang dipikirkan olehnya. Nara tidak tau karena tidak bisa membaca pikiran Zayn ataupun mendengarkan suara hatinya barang sedikitpun.
"Baiklah, aku mau makan." ucapnya.
Nara langsung menatap Zayn senang dengan senyuman mengembang, merasa seperti kerja kerasnya terbayarkan dengan empat kata barusan.
"Benarkah?" tanyanya tak percaya.
Zayn dengan wajah datarnya menjitak kepala Nara dengan menggunakan bolpoin, "Bodoh!" ucapnya.
__ADS_1
Nara bersungut-sungut mendengarnya, ya dirinya memang bodoh..
Dan suaminya yang pintar.
"Lap dengan tisu sampai bersih lalu buka kotak makannya." titah Zayn.
"Tapi pakai hand sanitizer dulu, aku hanya memastikan tidak ada kuman membandel disekitarmu." lanjutnya.
Nara mengangguk, ia pun langsung melaksanakan tugasnya dengan senang hati.
Memakai hand sanitizer lalu mengelap sendok dan garpu hingga kilat lalu membersihkan bagian luar kotak dan setelah memastikan semuanya bersih ia lantas membukanya.
Sayuran dan daging.
Seimbang sekali.
Ada vitamin dari sayuran, protein dari daging, karbohidrat dari nasi, sumber serat dari kacang-kacangan yang ditambahkan olehnya dan juga minuman super sehat.
Jus strawberry.
Zayn menggelengkan kepalanya sendiri tak percaya.
"Wah.. kau seperti guru diet yang memberikan makanan empat sehat lima sempurna." ucapnya.
Nara tersenyum bangga mendengarnya, lama dirinya mencari tau makanan sehat apa yang bisa menambah stamina seorang dokter seperti Zayn.
Dokter yang bekerja tanpa mengenal waktu dan lelah, sigap dan siap setiap saat bahkan mengesampingkan urusan pribadinya hanya untuk pasiennya.
Pahlawan bagi Nara ya seperti ini.
Ah, bolehkan dirinya berbangga hati karena berhasil menikah dengan dokter hebat?
"Tentu saja." celetuk Nara sambil senyum-senyum.
Menyadari ucapannya barusan Nara langsung menutup mulutnya sendiri, apa yang dirinya bayangkan?
"Ck, aneh." kata Zayn.
Zayn langsung menarik kotak makan miliknya dan memakannya dengan cepat, tidak ada waktu. Dirinya juga banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
"Pelan-pelan makannya, kau dokter seharusnya tau tidak boleh makan terburu-buru." ucap Nara.
Zayn langsung mendelikkan matanya menatap Nara, dirinya begini juga karena banyak pekerjaan.
"Diam saja dan makan makananmu." ucap Zayn.
Nara pun tak berani lagi berbicara, ia juga menikmati makanannya. Mereka berdua makan dalam diam, mengisi perut masing-masing dengan makanan lezat dan sehat yang dibuat oleh Nara.
Sesekali Nara tersenyum sambil makan, makan berdua ternyata nikmat pikirnya.
Selama ini ia makan sendirian dan sekarang ia makan bersama dengan Zayn walaupun pria itu diam saja. Setidaknya Nara mempunyai teman makan bersama.
Senang sekali pikirnya, sepertinya aku harus menyeretnya untuk makan bersama lain kali pikir Nara.
"Bagaimana Zayn? enak?" tanya Nara.
Zayn melirik Nara kemudian mengangguk pelan, "Ya, lumayan. Kuanggap ini sebagai permintaan maafmu." ucapnya.
Nara mengerutkan keningnya sambil menyimpan kotak makanan ke dalam paper bag.
"Permintaan maaf?" tanyanya.
__ADS_1
Nara datang membawakan makanan murni karena dirinya ingin, agar bisa segera membantu Zayn.
"Ya, permintaan maaf karena membuatku susah kemarin. Kau membuatku bermimpi buruk lagi karena datang ke tempat ramai." ucap Zayn.