
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar๐ค
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca๐ค๐ค๐ค๐ค
...๐๐๐...
Nara masuk ke dalam apartemetnya dengan perasaan lesu,merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
"Hah..." helaan nafas panjang keluar dari hidungnya.
Nara menatap langit-langit kamarnya sendiri, hah ternyata susah-susah gampang mendekati Zayn dan membujuknya.
Sepertinya ia berpikir semua orang jahat, bahkan niat baiknya sendiri pun dikira sebagai suruhan mommy.
"Sepertinya akan lama untuk bisa mengajaknya konsultasi." gumam Nara.
Ia menghela nafas lagi, "Artinya Zayn akan sembuh dalam waktu lama." pikirnya.
Nara meringis membayangkannya, ah Zayn....
"Ayah.. ibu.. bantu aku disini, aku mohon bantu aku untuk menyembuhkan Zayn." gumamnya.
Nara terisak menangis setiap kali merindukan ibu dan juga ayahnya sampai akhirnya ia tertidur setelab menangis.
Sedangkan di rumah sakit, Zayn tengah berlari ke ruang inap salah satu pasiennya.
Sesuai dengan jadwal, pasien wanitanya yang berumur 29 tahun itu akan menjalani transplantasi sumsum tulang belakang besok pagi.
Ia juga sudah bebas dari ventilator yang selama ini membantunya bernafas.
Minggu lalu ia sudah menjalani pemeriksaan pre-operasi dah hasilnya menunjukkan semuanya masih dalam batas normal dan ia bisa menjalani operasinya besok pagi sesuai dengan jadwal yang ditentukan.
Seperti cek darah lengkap yang meliputi trombosit, hb, leukosit menunjukkan hasil yang baik.
Rekam jantung, urinalisis, tes pembekuan darah dan MRI, semua sudah dilalui oleh wanita itu dengan baik.
Keluarganya pun senang mendengar bahwa keadaan pasien membaik setelah dijaga ketat selama beberapa hari ini hingga bisa menjalani operasi besok pagi dan akan sembuh.
Begitulah menurut mereka.
Brak
Zayn langsung masuk ke dalam dibantu oleh dokter residen yang bekerja di stase yang sama dengannya, menangani pasiennya.
Sayang sekali, sore ini wanita itu mengalami kritis. Zayn sudah menduganya sebenarnya, terjadi komplikasi pada wanita ini, kanker yang dideritanya sudah mengganas menggerogoti tubuhnya hingga ke pencernaan dan juga pernafasan.
Namun Zayn terus berusaha untuk menyelamatkannya melawan kanker stadium akhir yang sudah mengganas sejak lima tahun yang lalu.
Dengan cepat Zayn meletakkan stetoskop di dadanya, memeriksa denyut nadi dan juga jantungnya.
"Ventilator." ucap Zayn saat pasien mengalami sesak.
"Kita harus memasang selang WSD lagi, masih ada cairan yang tertinggal di paru-parunya dan menyebabkannya sesak nafas, cepat!" kata Zayn.
__ADS_1
Zayn terus menangani wanita itu sedangkan dua dokter residen tadi dengan cekatan mengambil peralatan yang dibutuhkan oleh Zayn.
Memasang alat ventilator ke dalam tubuh wanita itu dengan cekatan dan monitor langsung menunjukkan keadaan pasien.
Namun sayangnya saat Zayn baru saja akan memasang selang WSD nya, monitor berbunyi dengan nyaring dan terdapat gambar garis lurus disana.
Sekali lagi Zayn gagal menyelamatkan nyawa pasiennya.
Zayn menghela nafasnya sedih, ia melirik arlojinya sendiri.
"Waktu kematian 16.44" ucapnya.
Dokter dan juga perawat langsung melakukan tindakan pada pasien, Zayn keluar ruangan dengan wajah gusarnya.
Dan lebih sedih lagi saat melihat keluarga yang menunggu di depan pintu dengan tangisan, Zayn tidak kuat jika melihatnya.
"Maaf, pasien gagal kami selamatkan." ucapnya dengan suara bergetar.
Air mata dan teriakan tak terima pun langsung menggema di lorong rumah sakit, keluarga yang menangis histeris mendengar satu kalimat dari Zayn, kalimat yang tidak ingin mereka dengar disini.
"Waktu kematiannya 16.44, kami akan memindahkan pasien ke ruang jenazah." lanjutnya.
"Bagi keluarga yang ingin melihat, silahkan masuk."
Keluarga pasienpun langsung masuk ke dalam setelah Zayn menyingkir, mereka langsung memeluk tubuh pasien yang sudah tak bernyawa lagi.
"Dokter." panggil Aeri.
"Urus pasien dan yang lainnya." ucap Zayn.
Pria itu langsung melenggang, ia berjalan menuju ke arah taman dan duduk disana.
Tidak ada satupun orang yang bisa menghindar dari kematian, sama sekali.
"Kau disini."
Zayn mendongakkan kepalanya menatap ke arah pria yang berdiri di depannya sambil tersenyum padanya. Senyuman kecut langsung Zayn berikan padanya.
"Hai.." sapanya.
"Kau lagi!" kata Zayn cuek dan langsung menghindar dari Abian.
"Tunggu dokter, aku ingin bicara padamu!" ucapnya membuat Zayn menghentikan langkahnya.
"Bicara apa?" tanyanya.
"Nara." jawab Abian sambil tersenyum.
...๐๐๐...
Nara menatap pantulan dirinya yang ada di cermin, baju tidur satin berwarna merah maroon dengan rambut yang diikat tinggi ke atas.
"Apa begini saja?" gumamnya.
Nara menggigit bibirnya sendiri, bingung dengan yang dilakukan olehnya sekarang.
__ADS_1
Karena gusar, Nara pun mengambil ponselnya dan kembali memghubungi Jesslyn.
"Halo.."
"Ada apa Nara? kau butuh bantuan lagi?" tanyanya.
"Begini, aku.. bagaimana caranya? apa kau yakin ini cara yang bagus?" tanyanya ragu.
Terdengar Jesslyn tertawa diujung sana, "*Tentu saja, kalian berdua sudah menikah dan sudah seharusnya tidur bersama!"
"Ayo, kau harus bisa membuat Zayn percaya padamu dan sembuh, kau ingin dia kembali normal lagi kan?" tanyanya*.
Nara menganggukkan kepalanya, "Ya, aku ingin dia sembuh Jess." cicitnya.
"*Kalau begitu kau harus bersikap agresif padanya, dia tidak akan memulai jika tidak kau pancing Nara.. dia berbeda dengan pria normal lainnya, kau tau kan?"
"Jadi datanglah ke apartementnya dan lakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Semoga berhasil, fighting!!" ucap Jesslyn dan langsung menutup teleponnya*.
Nara mendesah pelan dan duduk di depan meja riasnya, "Ah benar, dia bukan pria normal.. jika dia normal, dia tidak akan membuat semua orang kesusahan seperti ini." gerutunya.
"Ingin rasanya aku membunuh semua kuman di bumi jika bisa, ah..."
Nara mengambil nafas dalam kemudian berdiri, "Jangan membuang waktu Nara... atau kau akan terus tersiksa dengan kuman sialan itu!" gumamnya.
Nara langsung mengambil ponselnya dan berjalan keluar dari apartement, ia masuk ke dalam lift khusus dan memencet tombol bertuliskan angka 45.
Begitu sampai disana, Nara langsung keluar dan semuanya kosong.. tidak ada seorang pun disini.
Ah kan lantai ini hanya milik Zayn, milik suaminya itu. Bahkan dari depan lifr pun semuanga terlihat bersih dan mengkilat.
Sangat berbeda dengan lantai-lantai lain yang ada dibawahnya.
Lantai dan juga dindingnya serta tanaman yang ada disana, seperti tidak ada debu sama sekali.
"Wah.. Zayn mempekerjakan orang yang sangat teliti disini." gumamnya takjub.
"Tentu saja, dia akan membunuh siapapun jika bisa melihat kuman disini." gumam Nara.
Nara berjalan ke arah pintu apartement Zayn, ia menelan ludahnya kasar.
"Bagaimana ini?" gumamnya.
Jantungnya berdebar dengan sangat kencang dan dirinya sangat gugup.
Nara pun memencet bel, terdengar bunyi nyaring disana dan tak lama kemudian terdengar umpatan dari balik pintu.
Zayn membelalakkan matanya saat melihat Nara yang berdiri di depannya.
"Sedang apa kau disini?" tanyanya galak.
Nara mengerjapkan kedua matanya, santai saja dokter.. aku kan takut batinnya.
Zayn pun menghela nafasnya, "Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya dengan suara pelan.
"Aku... aku..."
__ADS_1
"Aku apa?" tanya Zayn tak sabar.
"Aku ingin tidur denganmu.." cicitnya.