
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar๐ค
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca๐ค๐ค๐ค๐ค
...๐๐๐...
Begitu mendapatkan izin dari mommy untuk pulang lebih awal, Zayn langsung tersenyum senang.
Penderitaannya karena acara ini akhirnya berakhir juga pikirnya.
"Tunggu dulu!" ucap Zayn saat Nara akan berjalan melewati para tamu.
Nara langsung berbalik menatap Zayn dengan kening mengkerut. Pria itu membuka tuxedonya sendiri menyisakan kemeja berwarna putih yang melekat membentuk tubuh atletisnya.
Oh, Nara malu sendiri melihatnya tubuh atletis Zayn, selama dirumah sakit tubuhnya itu tidak terlihat jelas karena pakaiannya yang besar dan juga snelli yang dipakainya.
Namun kemeja ini... memperlihatkan semuanya.
Zayn menyampirkan tuxedonya di pundak Nara, menutupi pundak terbukanya.
"Kau akan masuk angin dengan gaun ini. Ayo." ajakn Zayn dan langsung melenggang pergi.
Nara tersenyum tipis, Zayn memberikannya perhatian.
"Kukira dia hanya seorang dokter dingin dan kejam ternyata dia cukup baik." gumamnya dan langsung menyusul Zayn kearah parkiran.
Zayn memakai disinfektan terlebih dahulu dan menyemprotkannya juga keseluruh tubuh Nara tanpa terkecuali baru setelah itu ia membukakan pintu agar Nara bisa masuk ke dalam mobil.
Baru setelah itu Zayn masuk ke dalam mobil dan menjalankannya.
...๐๐๐...
Zayn dan Nara masuk kedalam lift bersama, dengan Nara yang bersusah payah menarik gaunnya sendiri.
Zayn memencet tombol lantai 44, menaiki lift yang memang dibuat khusus hanya untuk dirinya saja.
"Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, apartemetmu tepat berada satu lantai dibawah unitku. Apartementmu juga tergolong luas dan mewah, hanya ada dua unit disana."
Nafas Nara langsung tercekat mendengarnya, hanya ada dua unit di lantai itu wah..
"Salah satu unitnya di isi oleh pasangan suami istri yang suaminya merupakan pengusaha properti terkenal dikota ini."
"Dan satu lagi untuk dirimu."
__ADS_1
Ting
Lift terbuka, Zayn keluar lebih dulu tanpa membantu Nara yang kerepotan sendiri dengan gaunnya.
Zayn berdiri di depan pintu unit Nara, gadis itu berjalan mendekat kepadanya.
"Ini apartementmu." ucapnya.
Zayn membuka pintu lalu menekan kata sandi, dan pintu langsung terbuka.
"Kata sandinya 3003." ucap Zayn.
Zayn dan Nara masuk ke dalam, Nara langsung takjub melihatnya. Apartement ini sama mewahnya dengan milik Zayn, dekorasinya juga sama indahnya.
Hanya luasnya saja yang membedakan antara apartement ini dengan apartement Zayn.
"Ini apartementku? apa tidak terlalu besar?" tanya Nara saat mereka berdiri di tengah ruangan.
"Tidak, aku hanya menjaga keamanan saja. Semua orang tau bahwa kita sudah menikah dan kau adalah istriku. Aku tidak bisa memberikanmu unit kecil yang bergabung dengan penghuni lainnya, mereka bisa melihatmu kapan saja dan melaporkannya pada mommy." jelas Zayn.
"Unit sebelah jarang ditempati karena pasangan suami istri itu sudah memiliki rumah mewah sendiri jadi kau akan jarang bertemu mereka."
"Dan naiklah ke sini dengan menggunakan pintu lift khusus milikku, karena kau sendiri juga pasti tau di lift biasa tidak bisa menuju ke lantai apartementku."
"Baiklah dokter aku memgerti, aku akan menggunakan liftmu agar orang-orang berpikir bahwa kita tinggal bersama dan aku juga akan jarang keluar nantinya untuk menghindari bertemu dengan penghuni lain."
Zayn merogoh saku celananya mengambil dompet miliknya.
"Ini kartu akses apartementmu jika kau malas mengetikkan kata sandi, kau bisa menggunakannya."
Nara menerima kartu aksesnya, ia menatapnya dengan senyum merekah.
"Dan ini adalah kartu atm mu."
Zayn menyerahkan salah satu black cardnya kepada Nara membuat gadis itu terkejut.
Tadi Nara intip, Zayn memiliki lima black card di dompetnya dan kini salah satunya sudah beralih tangan menjadi miliknya.
"Pakai dengan baik, kau boleh membeli apapun dengan ini. Kau tau kan arti unlimitid? gunakanlah sebebas mungkin." ucap Zayn.
Nara langsung menutup mulutnya sendiri dan menatap Zayn dengan tatapan tak percaya.
"Aku boleh menggunakannya sebebas mungkin?" tanyanya sambil mengangkat black card yang ada ditangannya.
"Ya gunakanlah sesukamu." jawabnya.
__ADS_1
Nara langsung memegang black card ditangannya dengan hati-hati. Ada banyak uang di dalamnya yang tak terhitung jumlahnya, pikirnya.
"Terima kasih dokter." ucapnya senang.
"Oh ya, aku juga sudah meminta Aeri untuk memindahkan semua gaun dan barang-barangmu kesini, hanya dia yang bisa menyimpan rahasia ini dengan baik." ucap Zayn lagi.
"Apa dia tau tentang semuanya dokter?" tanya Nara.
Zayn menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku hanya bilang susun disini agar nanti bisa di sterilkan olehmu sebelum di bawa masuk ke apartementku."
"Lagipula aku juga tidak akan membiarkannya masuk ke apaetementku barang sesenti sekali pun." ucapnya lagi.
Nara mengangguk, "Benar, Aeri pasti tidak akan curiga."
"Ya sudah, aku lelah ingin beristirahat." ucap Zayn ketus.
Ia langsung keluar dari unit apartement Nara meninggalkan gadis itu sendirian disana.
Nara menghela nafasnya pelan dan kembali menatap seluruh sisi dari apartement ini. Sungguh Nara tidak pernah bermimpi bisa tinggal di tempat semahal ini.
Dan dia menempati apartement ini seorang diri tanpa siapapun yang menemaninya.
Raut wajah Nara langsung berubah setelah dia mengingat bahwa dirinya hanya sendirian disini. Matanya menatap ke sekeliling, semua tempat sepi tidak terdengar suara apapun kecuali dentingan jarum jam yang bergerak.
Ingatan akan ayah dan ibunya kembali berputar di kepalanya, Nara menatap sofa dan juga televisi yang ada diruang keluarga apartement itu.
Dulunya Nara dan orang tuanya akan duduk menonton televisi di sofa bersama, menikmati potongan buah segar yang dikupas oleh ibunya.
Tertawa bersama dengan candaan yang dilontarkan oleh ayahnya.
Nara berbalik menatap meja makan yang ada di dekat dapur, dulu meja makan adalah tempat bagi kedua orang tuanya menunjukkan kasih sayangnya pada Nara.
Mengambilkan Nara kecil nasi, menuangkan segelas susu untuknya, mengambilkan lauk dan juga menyuapinya makan.
Perlahan air mata Nara menetes, "Bahkan dihari pernikahanku pun aku kembali sendiri.. andai ayah dan ibu masih ada di sisiku.. andai kalian berdua masih di sisiku.."
Nara terduduk di lantai, menghapus air matanya sendiri.
"Andai ayah bisa menggenggam tanganku dan mengantarkanku ke altar di hari pernikahanku ini.."
"Andai ibu ada, ia pasti akan sangat senang melihatku menggunakan gaun yang cantik dihari pernikahanku."
"Ayah... ibu... bisakah kalian kembali kesini? hiks.. aku bosan sendirian.. aku ingin bersama kalian.. aku ingin dipeluk oleh kailan." lirihnya.
"Nara menangis terisak, membayangkan betapa indahnya hari pernikahannya jika ada ayah dan juga ibu yang menemaninya disana.
__ADS_1
Namun nyatanya hanya pamannya lah yang tiba untuk menjadi walinya, itupun hanya saat perberkatan dan langsung pulang karena istrinya tidak ingin suaminya berhubungan lagi dengan Nara.
Malam itu hanya suara tangisan Nara lah yang terdengar menggema di apartement. Malam pertamanya sebagai seorang istri dari Zayn Xavier dimulai dengan tangisan kerinduan akan orang tuanya.