Perfectionist Husband

Perfectionist Husband
Naik bus saja


__ADS_3

Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗


Yuk tinggalkan jejak!


Selamat membaca🤗🤗🤗🤗


Mulai sekarang update setiap dua hari sekali yaa... terima kasih buat pembaca semuanya...💜


...💜💜💜...


Zayn berjalan di samping Nara dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku coatnya sendiri.


Begitu pula dengan Nara yang menyimpan kedua tangannya di dalam coatnya.


Berkhayal Zayn akan romantis dengan menggenggam tangan Nara dan menyimpannya di saku coatnya sendiri?


Jangan mimpi, Zayn tidak akan pernah melakukan itu.


Pria berumur 32 tahun yang baru merasakan cinta dan indahnya masa remaja di usianya ini tidak akan sudi melakukan hal-hal yang menurut dirinya alay.


Jangan salahkan Zayn, dia kan tidak pernha melakukan hal seperti ini sebelumnya.


Hah..


"Kau kedinginan?" tanya Zayn.


Nara menggeleng, "Tidak, sudah cukup hangat." jawabnya.


Hangat karena ada Zayn disampingnya.


Ahay..


Nara sudah seperti dimabuk cinta, tadi saat menunggu ia sudah seperti berada di kutub utara selama belasan hari dan begitu Zayn datang..


Rasanya seperti musim panas kembali menghampirinya dan membuat dingin yang mencengkamnya langsung hilang.


Apa mungkin Zayn memang musim panasnya?


Mengingat mereka bertemu dan juga menikah di akhir musim panas.


Nara melirik ke arah Zayn yany menatap lurus ke depan. Dari samping seperti ini saja ia tampan.


Nara harus bagaimana jika seperti ini.


Sraakk


Nara langsung tertahan, langkahnya terhenti saat Zayn menarik coatnya.


"Lihat ke depan? kau bodoh?" tanya Zayn.


Nara menatap ke depannya. Ah.. dia hampir saja menabrak kaca halte di depannya.


Aish.. malu sekali.


"Malu kan? karena itu jangan menatapku terus dan tatap jalanan di depanmu. Kau tahu sekarang sedang turun salju dan jalanan bisa saja licin."


"Berhati-hatilah pada dirimu sendiri, kalau kau kenapa-napa kau bukan hanya merepotkan dirimu saja tapi diriku juga." omel Zayn lagi.


Zayn berdecak, "Sudah mobilku rusak, jangan membuatku kesusahan apalagi kita berjalan kaki." sinisnya.


Nara mengatupkan kedua bibirnya sendiri, ah.. ia hanya bisa diam saja saat Zayn sudah memarahinya seperti ini.

__ADS_1


Namun kemudian Nara tersenyum senang. Bodoh ya? tapi Nara senang jika Zayn mengomeli dan memarahinya.


Apa hanya dirinya saja istri didunia ini yang senang jila suaminya menggerutu, marah dan mengomelinya dibandingkan diam saja seperti patung?


"Sudah jangan menatapku lagi seperti itu, dingin dan aku juga kelaparan." kata Zayn dan langsung berjalan meninggalkan Nara.


Nara mendesis pelan mendengarnya, ia berlari kecil mengejar Zayn dan berjalan di sampingnya.


"Dimana tempat makannya?" tanya Nara.


Zayn celingak celinguk, ia juga bingung.. dimana ya. Aeri bilang ia sering makan sup didaerah sini dan supnya sangat enak.


Tapi Aeri juga tidak memberitahunya apa namanya. Shit, sial sekali. Kenapa Zayn sebodoh ini.


"Ahh.. dimana ya." gumam Zayn sambil menatap sekelilingnya.


Zayn menggerutu dalam hatinya sendiri, kenapa ada banyak sekali restoran dan juga tempat makan disini pikirnya.


Apa dia saja yang tidak tau atau pertumbuhan ekonomi di negaranya yang terlalu cepat?


"Ah.. disana." kata Zayn.


"Mungkin?" lanjutnya.


Nara jadi ikut bingung mendengarnya. Sebenarnya suaminya ini tau atau tidak sih?


"Jadi disana atau tidak?" tanya Nara.


Zayn mengerjapkan matanya, melihat ada banyak orang yang makan disana menggunakan mangkuk pasti itu penjual sup pikirnya.


"Ya disana, ayo." kata Zayn dengan yakin.


Ia langsung berjalan dengan cepat dan Nara mengikutinya dari belakang. Zayn dan Nara masuk bersamaan ke dalam.


Namun ya sudahlah yang penting ia tidak kedinginan disini dan bisa mengisi perutnya.


"Kau ingin pesan apa?" tanya Zayn.


"Apa saja." jawab Nara.


"Baiklah, aku ingin pesan sup tofu saja." kata Zayn.


Zayn langsung memesan kepada penjualnya dan duduk di meja bersama dengan Nara.


"Hangat ya disini." kata Nara.


Zayn bergumam mendengarnya, ya memang hangat karena di dalam ruangan.


Bagaimana sih.


"Kau sungguh tidak apa-apa dokter? bagaimana dengan lukamu?" tanya Nara.


"Tidak apa, aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan." jawab Zayn.


"Lagipula sudah diobati, jadi tidak akan infeksi nantinya." lanjutnya.


Nara mengangguk mengerti, baiklah suaminya lebih tau apa yang harus dilakukan pada lukanya dibandingkan dirinya.


Tak lama kemudian penjualnya datang membawakan dua mangkuk sup dengan asap yang masih mengepul dan juga dua gelas air.


Air putih bukan yang lainnya.

__ADS_1


"Wah.. sepertinya enak." gumam Nara.


Ia senang sekali bisa makan diluar seperti ini dan ini kedua kalinya ia dan Zayn makan diluar bersama?


Setelah makan makanan cepat saji di mall.


"Kau bisa memakannya kan dokter?" tanya Nara.


Zayn menatapnya datar, "Tentu saja bisa."


Zayn langsung menyendokkan kuah supnya, meniupnya pelan dan memakannya.


"Ahh.. enaknya." gumamnya.


Rasa hangat langsung menyebar ke seluruh tubuhnya.


Nara mengulum senyumnya sendiri melihatnya lalu ikut makan bersama dengan Zayn.


Keduanya makan dengan lahap malam itu hingga akhirnya semua sup yang ada di mangkuk keduanya tandas tak tersisa sama sekali.


"Ah.. kenyangnya." gumam Nara senang.


Zayn melirik jam tangannya sendiri, sudah jam segini ternyata.


"Ayo kita harus pulang sekarang, aku takut saljunya akan semakin lebat nanti." kata Zayn.


Nara mengangguk, setelah membayar makanannya Zayn dan Nara langsung keluar. Keduanya berjalan bersama melirik ke arah jalanan.


"Naik taksi?" gumam Zayn.


Nara menggelengkan kepalanya, "Ah.. tidak.. jangan naik taksi." tolaknya.


Nara ingin mengajak Zayn mencoba sesuatu yang baru. Yang belum pernah Zayn lakukan sebelumnya.


"Lalu kau ingin naik apa untuk kembali ke apartement? jika berjalan kaki saja, kakimu bisa sakit." tanyanya.


Nara menggelengkan kepalanya, "Tidak, kita naik bus." jawabnya.


Nara menunjuk ke halte bus yang ada di ujung jalan. Ada beberapa orang juga yang sedang menunggu bus disana.


"Kau mengajakku naik bus?" tanya Zayn tak percaya.


"Ya, ayolah dokter.. ayo, aku ingin kau menghalah rasa takutmu dengan mencoba menaiki bus dengan penumpang yang lainnya." ucapnya.


Nara membolakan kedua matanya saat bus dengan tujuan ke arah apartement mereka lewat dan berhenti di halte.


"Ayo dokter!!! itu busnya!!" pekik Nara dan menarik tangan Zayn.


Zayn menahan tubuhnya sendiri, menolak.


"Tidak, aku tidak mau." tolaknya.


Nara cemberut mendengarnya, belum sempat ia menarik Zayn lagi busnya sudah terlanjur pergi.


"Haish.. lihat dokter, busnya sudah pergi."


"Kalau begitu naik taksi saja." jawab Zayn dengan santainya.


Nara menggeleng, tidak akan. Dia akan mengajak Zayn untuk menaiki bus malam ini.


"Tidak, aku ingin kau naik bus malam ini denganku. Ayolah dokter turuti permintaanku. Sekali ini saja.." pintanya dengan wajah melasnya.

__ADS_1


Zayn yang melihat itu hanya bisa menghela nafasnya kasar. Hah, membuat kesal saja.


"Ya sudah, ayo." katanya dengan terpaksa.


__ADS_2