
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca🤗🤗🤗🤗
...💜💜💜...
Zayn melirik ke sekeliling kamar, dia sendirian tidak ada Nara.
"Dimana dia? kenapa tidak ada dikamar?" gumam Zayn.
Zayn langsung keluar dari kamar, mencari Nara kesana kemari namun tak kunjung menemukannya.
"Kemana dia pergi?" gumam Zayn frustasi.
Zayn mengajak Nara kesini agar bsia menjaganya malah istrinya itu meninggalkannya sendirian dikamar.
"Haish, harus kucari kemana dia?" gumam Zayn lagi.
Zayn mengambil ponselnya hendak menghubungi Nara namun tidak ada sinyal disana.
Semakin frustasi saja Zayn karena hal itu.
"Haish, bagaimana ini?"
Zayn memakai sepatunya dan keluar dari rumah, saat keluar ia melihat nenek pemilik rumah tengah berada di samping rumahnya memetik bunga mawar.
"Apa aku tanya saja padanya?" gumam Zayn bingung.
"Kau ingin berjalan-jalan?" tanya nenek itu sambil menghampiri Zayn.
Namun Zayn langsung mundur beberapa langkah, masih menjaga jaraknya dengan orang asing.
"Aku mencari istriku." jawabnya.
Nenek tersebut tersenyum, "Istrimu sudah pergi berjalan-jalan tadi." ucapnya.
"Jalan-jalan?" tanya Zayn.
"Ya, mungkin dia sedang duduk di pinggir pantai." kata nenek itu lagi.
"Haish, apa dia tidak kedinginan berada di pantai?" gumam Zayn kesal.
"Dia memakai jaketku, jadi tidak akan kedinginan. Seharusnya aku bertanya padamu apa tidak kedinginan hanya memakai kemeja tipis?" tanyanya.
"Tidak." jawab Zayn singkat.
Zayn membungkuk pelan lalu segera berlari menyusul Nara walaupun dia sendiri juga tidak tau Nara ada dimana sekarang.
Tidak bisa menghubunginya, dan Nara juga tidak mengatakan kepadanya saat ingin pergi.
"Bodoh sekali, dia pergi diam-diam begini. Harus kucari kemana lagi?" gumam Zayn kesal.
Ia sudah mengelilingi desa manatau bertemu dengan Nara yang hendak berjalan pulang, namun sayangnya tidak.
"Nenek tadi bilang mungkin Nara ada di pantai." gumam Zayn lagi sambil berpikir.
Langsung saja Zayn berlari menuju ke arah pantai, ada banyak orang yang berlalu lalang sebenarnya namun Zayn tidak perduli.
Yang penting ia bisa menemukan Nara untuk sekarang karena Nara adalah obat paling mujarabnya.
__ADS_1
Zayn tidak bisa tinggal disini lebih lama lagi jika tidak ada Nara. Tidak bisa.
"Hah.. lelah juga." keluh Zayn.
Ia sudah berada di pinggir pantai, di dermaga dimana ada banyak sekali kapal penduduk yang berjejer di pinggir pantai.
Zayn berjalan dengan perlahan sembari terus mencari Nara, matanya tak lepas menatap satu persatu tempat yang ia temui.
"Haish, sialan! dimana dia?"
Zayn menendang batu di depannya kesal, "Awas saja jika aku menemukannya, akan aku kurung dirinya di dalam kamar." gumam Zayn.
Tap
Tepat sekali setelah mengatakan itu Zayn melihat orang yang dicarinya tengah duduk santai di pinggiran pantai sambil menikmati makanannya.
"Wah.. dia bisa bersantai disini tanpa memperdulikanku." gumam Zayn tak percaya.
Zayn langsung berjalan dengan cepat menghampiri Nara, ia duduk di samping Nara dan langsung membuang es krim yang ada ditangan Nara dengan cepat hingga membuat istrinya itu tersentak kaget.
"Kau bodoh?! kenapa meminum es di cuaca seperti ini?! ingin sakit? hah?" tanya Zayn kesal.
Tak sadar ia meninggikan suaranya sendiri kepada Nara hingga membuat Nara mengerjapkan kedua matanya.
"Kenapa diam saja hah? sudah membuatku khawatir dan mencarimu kesana kemari?" tanya Zayn lagi.
"Bukankah kau sedang tidur? aku hanya ingin keluar sebentar saja." kata Nara.
Tak
Zayn langsung menjitak kepala Nara dengan cukup kuat, saking kesalnya ia dengan istrinya karena berani meninggalkan dirinya sendirian di dalam kamar.
"Kenapa kau jadi marah padaku? aku hanya bosan berada didalam kamar saja." tanya Nara bingung.
Apa dirinya salah jika bosan dan keluar untuk mencari udara segar? kenapa Zayn jadi marah-marah seperti ini kepadanya.
Nara sungguh tidak mengerti sama sekali.
Benar-benar tidak mengerti.
"Aku marah? jelas saja aku marah! aku tidak bisa tidur dan langsung terbangun saat tidak melihatmu ada di dalam kamar, tidak ada sinyal sehingga aku tidak bisa menghubungimu! bisakah kau beri tau aku jika ingin pergi? atau jangan pernah hilang dari pandanganku!" omelnya.
"Bukankah aku sudah mengatakannya padamu?" tanya Zayn lagi.
Ia kesal setengah mati.
Namun Nara juga kesal karena Zayn memarahinya seperti ini. Matanya langsung berkaca-kaca.
"Kau menangis?" tanya Zayn.
Nara mengerjapkan kedua matanya dan menggelengkan kepalanya, "Tidak, untuk apa aku menangis." elaknya.
"Kau menangis." kata Zayn lagi.
Mata Zayn masih sehat dan ia melihat dengan jelas ada air mata yang menggenang di mata Nara.
Apa itu jika bukan air mata? air laut?
Tidak mungkin.
"Tidak, aku tidak menangis!" elak Nara lagi tak mau mengakui.
__ADS_1
"Kau menangis Nara.. apa bicaraku terlalu kasar sampai kau menangis?" tanya Zayn.
Nara diam saja, menurutnya iya.
"Tapi sepertinya tidak, aku bahkan jauh lebih kasar saat pertama kali bertemu denganmu." kata Zayn tak membenarkan ucapannya yang tadi.
Nara hanya bisa menarik nafasnya saja jika seperti ini. Sudahlah, apa yang ia harapkan dari suaminya yang sungguh tidak peka padanya.
"Jangan menangis, cengeng sekali." kata Zayn.
Namun Nara malah kesal mendengarnya, ia langsung berdiri dan mengambil kantonh plastik berisikan jajanannya tadi dan berjalan meninggalkan Zayn.
Zayn menatap Nara dengan heran, "Apa itu? dia meninggalkanku? beraninya dia."
Zayn langsung berlari dan menghalangi jalan Nara.
"Kenapa pergi?" tanyanya.
"Kau membuatku kesal." jawab Nara singkat.
Nara bergeser hendak berjalan lagi namun Zayn langsung menahannya dan memeluk tubuhnya.
"Aku marah padamu karena aku khawatir. Bagaimana jika terjadi sesuatu? apa yang akan kau lakukan? hah?" tanyanya.
"Kau tidak bisa menghubungiku, cuaca juga lumayan dingin dan ini berada di pesisir pantai anginnya kencang kau bisa saja masuk angin saat pulang."
"Dan lebih parahnya lagi kau malah memakan es krim disini, apa kau tidak waras?" tanya Zayn.
"Kumohon jagalah dirimu sendiri Nara.. aku tau kau ingin menikmati hidup dan makan apapun yang kau inginkan.. tapi janga. menyiksa dirimu sendiri."
Nara mengangguk mendengarnya, ia menggigit bibirnya sendiri.
"Maafkan aku." lirihnya.
"Kalau kau sakit, aku juga yang akan kerepotan dan khawatir." kata Zayn kemudian menarik Nara ke dalam pelukannya.
"Lain kali beritahu aku jika ingin pergi, jangan pergi sendirian dan tidak memberikan kabar. Kau mengerti?" tanya Zayn.
Nara mengangguk, "Ya dokter, aku mengerti. Maafkan aku." jawabnya.
Zayn menghela nafasnya lega, "Baguslah jika kau mengerti. Aku hampir saja terkena serangan jantung karena dirimu."
"Tidak lucu jika dokter spesialis jantung sepertiku terkena serangan jantung hanya karena seorang wanita " lanjutnya.
Nara terkekeh mendengarnya, "Tidak apa, bagi anak remaja itu sangat romantis."
Zayn tertawa remeh mendengarnya.
"Cih, sakit kau bilang romantis? remaja macam apa yang mengorbankan dirinya sendiri agae terlihat romantis dimata pasangannya?" tanyanya remeh.
"Ada banyak dokter, ada banyak remaja yang tergila-gila dengan pasangannya sendiri dan rela melakukan apapun."
"Omong kosong, kalau itu diriku maka aku tidak aka. mau melakuannya."
"Buang-buang waktu dan tenaga saja. Kalau mau merepotkanku seperti itu, maka aku akan langsung membuangmu ke suang nil."
Hah, kejamnya suamiku ini batin Nara.
Memanh berbeda, tidak ada romantis-romantisnya sama sekali.
"Tapi sampai kapan kau akan memelukku begini?" tanya Nara karena Zayn tak kunjung melepaskan pelukannya.
__ADS_1