
Hargai penulis dengan memberikan like, dukungan, vote dan juga komentar🤗
Yuk tinggalkan jejak!
Selamat membaca🤗🤗🤗🤗
...💜💜💜...
Nara masuk ke dalam kamar tidur yang ada diruangan Zayn, pria itu tengah duduk bersandar di kepala ranjang setelah tadi memeluk Nara begitu terbangun.
Nara duduk dipinggir ranjang, Zayn masih diam tak menatapnya.
"Aku membuatkanmu teh." ucapnya.
Mendengar itu, Zayn pun langsung melirik ke arah Nara. Pria itu beralih menatap segelas teh hangat dengan asap mengebul yang ada ditangan Nara.
"Minumlah." Nara menyodorkah tehnya pada Zayn.
Dengan perlahan Zayn menerimanya, mengambil alih gelas berisikan teh itu dari tangan Nara.
"Kau sudah tidak apa-apa sekarang?" tanya Nara perlahan.
Pasalnya Nara melihat langsung bagaimana laki-laki itu berteriak dalam mimpinya dan langsung memeluknya begitu terbangun.
Nara memberanikan diri untuk menyentuh tangan Zayn, pria itu hanya diam.
"Sedikit, terima kasih." jawab Zayn.
Senyuman tipis langsung terbit dibibir Nara. Syukurlah suaminya ini sudah merasa lebih baik sekarang.
"Apa mimpimu begitu seram? kau sampai berteriak ketakutan." tanya Nara penasaran.
"Ya, seram."
"Tidak apa, aku ada disini bersamamu. Kau tidak perlu ketakutan." kata Nara.
Zayn langsung menatapnya kaget, "Kau tidak ingin tau aku bermimpi apa?" tanyanya.
Nara diam, ia juga ingin tau sebenarnya mimpi apa yang dialami oleh dokter kasar seperti Zayn hingga pria itu berteriak ketakutan.
Apa yang membuat Zayn begitu takut?
Apa Zayn mengalami sesuatu yang buruk?
Nara ingin tau itu, sebagai istri dan juga teman yang mungkin hanya satu-satunya dimiliki oleh pria itu.
Nara menggelengkan kepalanya, "Tidak, sepertinya mimpimu sangat menakutkan." jawabnya.
Terdengar helaan nafas dari Zayn, pria itu menatap jam dinding. Pukul setengah empat pagi.
__ADS_1
"Aku pasti membangunkanmu tadi, masih jam segini." ucapnya.
Nara menggelengkan kepalanya, "Tidak apa, aku tidak keberatan sama sekali."
"Kau ingin pulang? aku akan mengantarmu ke apartement agar kau bisa beristirahat dengan nyaman dan melanjutkan tidurmu." tanyanya.
Nara tersenyum tipis, lihatlah pria yang membuatnya kesal dipertemuan pertama ini.
Dia sudah banyak berubah, dia bahkan bisa melakukan hal yang manis dan juga lembut.
"Tidak perlu, kau jangan khawatir. Aku akan pulang nanti pagi, sekarang kau beristirahat saja." jawabnya.
Zayn dan Nara sama-sama terdiam. Terdengar helaan nafas dari Zayn berulang kali. Pria itu sepertinya mempunyai beban yang cukup berat.
"Ingin berbagi denganku? aku akan mendengarkan ceritamu jika kau ingin membaginya dengan diriku." tanya Nara.
Gadis itu menyentuh lagi tangan Zayn, membuat pria itu sedikit tersentak dan langsung meletakkan tehnya diatas nakas.
"Dulu sewaktu kecil aku memiliki banyak teman. Aku berteman baik dengan siapa saja." ucap Zayn dan Nara mendengarkannya.
"*Zayn ingin bermain bola?" tanya teman laki-laki.
Zayn mengangukkan kepalanya, ia dan teman-temannya berlarian di lapangan bermain bola bersama*.
"Aku memiliki banyak sekali teman baik, laki-laki dan juga perempuan. Mereka semua baik kepadaku, bermain denganku dan belajar bersama denganku di sekolah."
"Tapi karena satu hal besar aku tidak bisa menyentuh mereka sama sekali, aku merasa kotor." ucapnya.
"Aku merasa telah menjadi anak yang kotor, aku kotor dan tidak pantas bermain dengan siapapun. Aku selalu mencuci tanganku, mencuci wajahku setiap saat."
"Dan saat ada teman wanita dikelasku yang mendekat, aku langsung berlari untuk mencuci tangan dan juga tubuhku."
Zayn menghela nafasnya lagi, karena daddynya dan juga wanita itu..
Zayn merasa kotor karena lahir sebagai anak dari daddynya.. dan Zayn merasa semua wanita itu kotor seperti wanita itu.
Zayn trauma dengan apa yang dilihatnya.
Mommynya, menangis setiap hari dan selalu bertengkar dengan daddynya. Bertengkar hingga mommy meminta cerai, namun daddy tidak menyetujuinya.
Saat dirumah itulah, hanya bibi yang menemaninya. Memeluknya di dalam kamar dan menutup telinganya sendiri agar tak mendengar barang sesamar apapun suara di mansion itu.
Hanya bibi di rumah itulah yang Zayn anggap baik, memberikannya kehangatan dan menghapus air matanya.
"Aku menganggap bersentuhan dengan orang lain adalah hal yang menjijikan, terutama wanita. Aku berteriak pada semua temanku agar tidak mendekatiku dan tidak menyentuhku."
Nara menatap Zayn nanar, pria ini menyimpan masalahnya sendiri.
Kesehatan mentalnya tidak baik, seharusnya dia mendatangi seseorang untuk menyembuhkannya.
__ADS_1
"Semua temanku akhirnya menjauhiku, mengatakan aku aneh dan juga gila. Aku tidak masalah dengan yang mereka katakan sama sekali, tapi karena hal itu aku selalu sendirian hingga saat ini."
"Tidak ada satupun teman, bahkan saat aku berkuliah pun aku selalu menyendiri, tidak pernah bersama dengan teman kuliahku yang lainnya."
"Karena itu kau jadi seperti sekarang?" tanya Nara.
Zayn menganggukkan kepalanya, "Aku tidak percaya siapapun. Aku menderita OCD pada akhirnya dan aku menjadi terlalu takut untuk berbaur dengan orang lain."
"Baru dirimulah yang bisa bersama sedekat ini denganku." ucapnya.
Nara terenyuh mendengarnya. Astaga jadi Zayn benar-benar takut untuk bersentuhan dengan orang lain? batin Nara.
Ia pikir Zayn hanya bercanda dengan apa yang ia lakukan selama ini.
"Kau tidak ingin mencoba untuk terapi?" tanya Nara.
Ia tau OCD, dari drama korea yang pernah di tontonnya dulu tentang laki-laki yang terlalu perfectionist dan bersih, tidak suka bersentuhan dengan sembarangan orang dan selalu mengecek sekitarnya.
Debu kecil sekalipun tidak diperbolehkan berada di dekatnya.
Apa Zayn sudah separah itu? sudah bertahun-tahun dia mengalaminya.
Zayn menghedikkan bahunya, "Aku tidak tahu, aku terlalu sibuk dan aku rasa terapi pun tidak akan berjalan dengan lancar." jawabnya.
Nara menggeleng, "Tidak, kau belum mencobanya dokter. Bagaimana kau bisa tau kalau itu tidak akan berhasil?" tanya Nara.
Zayn diam, benar.. dirinya belum mencoba dan bagaimana ia bisa tau akan berhasil atau tidak.
"Temuilah psikiater dan obatilah rasa takutmu. Apa kau tidak punya keinginan untuk menjalani hidupmu seperti dulu lagi? berbaur dengan semua orang dengan nyaman tanpa merasa ketakutan." tanya Nara.
"Menjalani kehidupan seperti dulu lagi?" gumam Zayn.
Nara mengangguk, "Kehidupanmu yang dulu, di hati kecilmu apa kau tidak memiliki keinginan untuk kembali lagi seperti dulu?" tanyanya.
Zayn diam, hati kecilmu.. hati kecilmu Zayn..
Apa aku ingin kembali menjadi Zayn yang dulu? pikirnya.
Zayn yang menerima banyak cinta dari semua orang? tidak, tidak ada yang mau memberinya rasa cinta lagi.
Tidak dengan mommynya dan juga almarhum daddynya.
Zayn menggelengkan kepalanya, "Hidup seperti ini saja sudah cukup bagiku." jawabnya.
"Aku tidak perlu menemui psikiater dan memulai terapi. Aku tetap bisa menjalani hidupku selama hampir 18 tahun mengidap gangguan ini." jawabnya.
Nara menghela nafasnya pelan, "Bagaimana denganku?" tanyanya.
Zayn mendongakkan kepalanya menatap Nara dengan kening berkerut.
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Bagaimana jika aku saja yang menjadi terapimu?"