
Sore harinya selepas jam praktek Nara harus kembali bersabar, dirinya kembali menunggu namun hanya seorang diri di ruangan Zayn.
Tadinya pria itu ingin mengajak Nara bicara namun tiba-tiba saja dokter residen yang berjaga di UGD menghampiri mereka dan mengatakan jika terjadi kebakaran di unit apartement Sky yang terletak dekat dengan rumah sakit.
Api yang cepat menyambar membuat banyak penghuni yang terjebak di dalamnya dalam keadaan panik. Akhirnya banyak penghuni yang jatuh pingsan setelah banyak menghirup asap yang mengandung karbon dioksida, karbon monoksida, nitrogen oksida dan juga sulfur dioksida.
Beberapa penghuni apartement juga mengalami luka bakar yang cukup serius, Nara sendiri merinding saat melihatnya dibawah.
Ada yang kehilangan kakinya, ada yang terkena luka bakar di seluruh tubuhnya dan ada seorang anak kecil yang harus kehilangan tangannya karena kebakaran itu.
Nara tidak bisa membayangkannya, dia sangat sedih mengingat betapa mengerikannya penampakan para korban kebakaran itu.
"Ah.. kenapa aku terus terbayang dengan kebakaran itu." ringisnya.
Nara menundukkan kepalanya bersandar pada meja kerja Zayn. Mengingat darah dan juga luka bakar pada tubuh korban hanya membuatnya mual.
Namun satu hal baru yang Kaila lihat, Zayn.. tunangannya itu.
"Zayb terlihat begitu cemas tadi." gumamnya.
Nara mengingat lagi bagaimana Zayn berlari dengan kencang menuju ke UGD dan masuk ke dalam tanpa memperdulikan sekitarnya sama sekali.
"Dibalik kelainannya itu, dia sepertinya memang dilahirkan untuk menjadi seorang dokter." gumam Nara lagi.
Krukkk krukk..
Nara memegangi perutnya sendiri yang berbunyi, "Ah aku lapar, jam berapa sekarang?" tanyanya.
Nara membuka layar ponselnya dan terkejut saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8 malam.
"Astaga, sudah selama ini?" pekiknya tak percaya.
"Zayn masuk ke dalam UGD pukul 3 tadi dan sekarang sudah jam 8? apa yang Zayn lakukan didalam? apa dia melakukan operasi dadakan?" gumam Nara terkejut.
"Dia bahkan belum makan siang dan ini sudah lewat jam makan malam." gumamnya sedih.
"Apa aku harus membelikannya makanan?" tanyanya sendiri.
Nara menggelengkan kepalanya dengan segera, "Ah tidak, dia sendiri yang mengatakan kepadaku tidak terbiasa makan makanan diluar."
Namun Nara merasa tidak enak dan khawatir kepada Zayn, pria itu tidak menjaga kesehatannya dengan baik. Dia dokter namun pola makannya pun tidak teratur.
"Tapi bagaimanapun dia pasti merasa lapar, aku jadi tidak tega." lirihnya.
"Aku harus membelikannya sesuatu untuk makan malam, tapi apa? Zayn sangat pemilih dengan segala sesuatu yang dimakannya." gumam Nara lagi.
Nara mulai berpikir, satu per satu makanan berkeliaran di otaknya hingga ia teringat satu hal.
"Sushi!" pekiknya.
Nara ingat sekali kejadian dimana sushi miliknya dan juga sushi yang dipesan oleh Aeri tertukar dan Aeri mengatakan jika itu milik Zayn.
"Dia pasti mau jika aku membelikannya sushi lagi." gumam Nara.
Langsung saja Nara membuka ponselnya sendiri, mencari nomor telepon restoran dan menghubunginya. Ia hanya memesan satu porsi saja, uangnya tidak cukup untuk dihambur-hamburkan.
Zayn belum menafkahinya sekarang.
"Sudah, aku akan menunggu diluar." ucapnya.
Nara bangkit dan mengambil tasnya, ia berjalan dan turun menggunakan lift ke lantai dasar. Masih dengan suasana kikuk disana.
Setiap perawat dan juga dokter yang berpapasan dengannya pasti akan membungkuk dengan hormat kepadanya atau sekedar memanggilnya dengan sebutan 'nona'.
Nara tidak menyukainya, dia lebih suka saat tidak ada seorangpun yang melirik ke arahnya seperti hidup seorang diri.
"Hah, udara malam cukup dingin." gumam Nara sambil mengusap-usap lengan dan bahunya yang terbuka.
Menunggu makanan yang dipesan diluar seorang diri dicuaca sedingin ini, Nara jadi merasa sangat menyedihkan.
"Tidak apa.." gumamnya.
Grep
Tiba-tiba saja ada seseorang yang memakaikan coatnya kepada Nara membuat gadis itu terkejut.
"Kenapa kau berdiri disini sendirian?" tanya Abian.
Ya, pria itu adalah Abian.
Nara tersenyum saat mengetahuinya, "Ah aku sedang menunggu makanan. Kau belum pulang?" tanyanya.
Abian menggelengkan kepalanya, "Aku baru saja selesai dengan foto konsep untuk filmku dan akan segera kembali ke rumah." jawabnya.
Nara menganggukkan kepalanya mengerti, "Ah begitu.. oh ya Abian, aku minta maaf untuk kejadian tadi... aku sungguh tidak menduga akan seperti tadi." ucap Nara dengan sungguh-sungguh.
Abian menganggukkan kepalanya, ia mengelus kepala Nara dengan lembut.
"Tidak apa-apa.. aku mengerti." ucapnya.
Abian tersenyum getir melihat Nara, ia terlambat untuk menemukan Nara hingga gadis ini sekarang sudah dimilik oleh orang lain.
"Dan selamat untuk pertunanganmu, aku tidak menyangka kau akan menikah secepat ini." ucapnya.
Nara tersenyum kikuk mendengarnya, dia sendiri pun tidak menyangka akan mengalami semua ini. Dekat dengan pria pun Nara tidak pernah namun dalam sekejap ia akan segera menikah setelah mengenal Zyan.
"Terima kasih Abian, aku juga tidak menyangka akan menikah secepat ini."
__ADS_1
Abian mengerutkan keningnya, "Tidak menyangka? kenapa begitu?" tanyanya.
"Ah, itu... dia melamarku secara tiba-tiba jadi aku masih tidak menyangka." jawab Nara dan Abian mengangguk mengerti.
"Abian ayo, jadwalmu sudah selesai." ajak managernya yang baru saja kembali dari dalam.
"Ah ya tunggu sebentar." ucapnya.
"Ehm bolehkah aku meminta nomormu Nara? kau tahu, kita sudah lama tidak bertemu." tanyanya sambil menyodorkan ponsel miliknya.
"Tentu saja, kau bisa menghubungiku kapan saja." Nara langsung mengetikkan nomornya di ponsel Abian.
Abian menyimpan nomor Nara dan langsung menghubunginya.
Drrrtt... drrtt..
Ponsel yang ada digenggaman Nara bergetar, Abian tersenyum saat melihatnya. Nara tidak memberikannya nomor yang salah.
"Itu nomorku, simpanlah. Aku akan menghubungimu disaat senggang." ucapnya.
"Ya, aku akan menyimpan nomormu."
"Kalau begitu aku permisi, selamat malam Nara." ucapnya dan segera berlalu.
"Tunggu Abian!" pekik Nara.
Abian menghentikan langkahnya dan Nara langsung menghampirinya, memberikan coat yang tadi Abian sampirkan di bahunya.
"Ambil saja, nanti kau kedinginan." ucap Abian.
Nara menggelengkan kepalanya, "Tidak Abian, bawalah kembali. Tunanganku akan marah jika melihat coat ini."
Abian menghela nafasnya pelan lalu tersenyum getir, "Ah begitu ya.. ya sudah aku bawa kembali. Kau cepatlah masuk ke dalam, jangan menunggu diluar terlalu lama. Aku pergi." ucapnya.
Nara menatap punggung Abian yang berlalu di depannya. Pria yang masa kecilnya dihabiskan di panti asuhan bersama dirinya kini sudah menjadi seorang idola.
"Hah, Abian.." gumamnya.
...πππ...
Ting
Nara keluar begitu lift terbuka tepat di lantai ruangan Zayn, entah karena sudah terbiasa atau teringat dengan wajah menyeramkan dokter kasar itu.. Nara memakai disinfektan di sepatunya dan juga beberapa bagian tubuhnya sendiri.
"Aku berada di ruangan dokter Zayn karena itu aku harus tetap menjaga kebersihan seperti yang dia lakukan selama ini."
Begitulah yang Nara pikirkan.
Dengan perlahan Nara membuka pintu ruangan Zayn, ia mengangkat perlahan wajahnya dan betapa terkejutnya ia saat melihat Zayn sudah duduk di kursi miliknya.
Duduk diam tanpa suara bahkan tidak melihat ke arahnya saat Nara membuka pintu.
"Kau sudah kembali?" tanya Zayn dingin.
Nara menelan salivanya sendiri, dipegangnya dengan erat plastik yang berisikan kotak sushi untuk Zayn.
Ah Nara bahkan lupa membeli makananan untuk dirinya sendiri karena udara malam yang terlalu dingin dan sushinya yang cukup lama sampai di rumah sakit.
"Y-yaa.. aku sudah kembali. Kau sudah selesai dengan pekerjaanmu?" tanyanya.
"Sudah, duduklah." ucap Zayn.
Nara berjalan mendekat, ia duduk di depan Zayn dengan hati-hati namun pria itu hanya diam saja. Semakin lama Zayn semakin terbiasa dengan kehadiran Nara dan merasa nyaman.
Tidak terbayang akan kuman, bakteri atau penyakit apapun.
"Dari mana saja?" tanya Zayn sambil menatap mata Nara.
Nara mengerjapkan matanya berulang kali, tatapan Zayn sangat-sangat dingin membuatnya gugup.
"Kenapa dia menatapku seperti itu? dia seperti ingin mengulitiku hidup-hidup." batin Nara.
"Aku tidak memintamu untuk berbicara dalam hati jadi jawablah pertanyaanku." ucap Zayn lagi.
Nara kembali menelan salivanya lalu melirik ke pangkuannya, sekotak sushi disana.
"Ah aku tadi keluar untuk mengambil ini, aku membelinya untukmu dokter." ucap Nara dan meletakkan sushinya di atas meja.
Zayn menatap Nara dengan wajah datarnya, "Untuk apa?" tanyanya.
Nara mengerjapkan matanya berulang kali dan menatap ke arah lain, "Hanya.. aku.. kau, kau belum makan apapun sejak siang dan sekarang sudah jam 9 malam, jadi aku berpikir kau harus memakan sesuatu."
"Aku hanya khawatir kau tidak menjaga pola makanmu dengan baik dokter, jadi aku membelikannya untukmu." lanjutnya.
Zayn menatap Nara yang menundukkan kepalanya, ia melipat kedua tangannya di dada.
"Kau tau kan kalau aku tidak terbiasa makan makanan dari luar? kau tau kan kuman penyakit apa saja yang kita tidak ketahui? bagaimana cara mereka memasaknya, apakah mereka masak dengan baik atau tidak." tanya Zayn.
Nara menganggukkam kepalanya, ia mengangkat kepalanya perlahan dan menatap wajah dingin Zayn.
"Aku mengerti dokter karena itu aku memikirkannya dengan sangat hati-hati. Lalu aku teringat bahwa kau pernah memesan sushi dari restoran ini untuk makan siang, karena itu aku membelinya. Aku pikir kau akan memakannya."
Zayn beralih menatap sekotak sushi di depannya itu, sushi dari restoran ini memang dijamin kebersihannya dan Zayn akui itu, karena itu dia berani mengkonsumsinya.
"Tapi sushi ini cukup mahal." ucapnya.
Nara mengangguk, "Karena itu aku hanya membelinya untukmu.." cicitnya.
__ADS_1
Zayn menyunggingkan senyumannya mendengar ucapan Nara barusan, ia mengambil handsanitizernya lalu memakai di tangannya.
Setelah itu Zayn langsung membuka kotak sushi tersebut, ada banyak varian disana namun tentu saja Zayn tidak memakan semuanya.
Ada sushi dari belut dan juga tobiko yang kurang ia sukai.
Zayn memakan satu suapan, Nara tersenyum lega melihatnya. Ah, melihat Zayn makan Nara jadi senang dan juga..
Krukk.. krukk...
Perutnya berbunyi lapar.
Zayn langsung menatap ke arah Nara, "Bunyi apa itu? apa itu dari perutmu?" tanyanya.
Nara menyembunyikan wajahnya sendiri dan menganggukkan kepalanya, "Ya dokter, aku belum memakan apapun sejak siang tadi."
"Lalu kenapa kau tidak makan? apa kau bodoh?" tanya Zayn.
Nara menggelengkan kepalanya, "Aku ingin makan tadi hanya saja udara luar terlalu dingin dan sushinya datang cukup lama jadi aku tidak sempat untuk membeli makanan lain." ucapnya.
Zayn menghela nafasnya pelan sembari meletakkan sumpitnya. Ia meraih ponsel miliknya dan menghubungi Aeri yang masih berada di bawah untum mengecek kondisi pasien kebakaran.
"Ya dokter, ada yang bisa saya bantu?" tanya Aeri.
"Belikan aku ayam goreng dan juga nasi hangat secepatnya dan bawa ke ruanganku."
"Baik dokter."
Zayn langsung menutup teleponnya, "Makanlah saat makanannya tiba nanti."
"Anggap saja aku membalas budimu karena sudah membelikanku ini." lanjutnya.
Nara menganggukkan kepalanya mengerti, namun perutnya yang tidak mengerti.
Melihat sushi di depan matanya, apalagi sushi yang diisi dengan telur tobiko ah Nara sangat menyukainya. Perutnya tidak berhenti berbunyi karenanya.
Zayn yang menyadarinya pun langsung mengikuti arah tatap Nara lalu tersenyum tipis.
"Makanlah, ganjal perutmu dengan beberapa sushi." ucapnya.
Nara langsung menatap Zayn, "Apa dokter?"
"Makanlah, kau pasti sangat kelaparan." ucapnya.
Nara menggelengkan kepalanya, "Tidak dokter, tidak perlu. Aku akan menunggu Aeri membawakan makanannya saja." tolaknya.
Zayn mengambil tobiko dan mendekatkannya kepada Nara, entahlah dia berniat untuk menyuapi Nara kali ini.
"Hemm?" gumam Nara.
"Makanlah, tanganku pegal." ucapnya.
Nara mengerjapkan matanya berulang kali lalu langsung memakan sushi yang Zayn suapkan untuknya. Senyum senang terbit di wajahnya.
Nara menatap Zayn yang kembali memakan sushinya dalam tenang sembari melihat jadwal hariannya. Herannya Zayn makan menggunakan sumpit yang tadi telah ia gunakan untuk menyuapi Nara.
"Kau baik-baik saja dokter?" tanyanya.
Zayn mengalihkan perhatiannya dan menatap Nara dengan penuh tanya.
"Maksudmu?"
Nara langsung menunjuk ke sumpit yang dipegang oleh Zayn, "Kau menyuapiku dengan sumpit itu lalu makan dengannya. Apakah kau baik-baik saja?"
Zayn menganggukkan kepalanya, "Ya, aku cukup baik-baik saja. Setidaknya denganmu." jawabnya.
Blush!
Pipi Nara langsung bersemu merah mendengarnya, "Denganku?" batinnya.
"Kau kenapa? apa pembuluh darahmu pecah? kenapa pipimu merah seperti itu?" tanya Zayn.
Nara langsung menutupi kedua pipinya dan menundukkan kepalanya kebawah.
"Ahh aku malu sekali." batinnya.
Zayn mengambil satu sushi lagi dan menyodorkannya kepada Nara, "Makanlah, aku tidak ingin orang berspekulasi bahwa aku tidak merawat tunanganku dengan baik." ucapnya.
Nara menelan salivanya kemudian membuka mulutnya perlahan, langsung saja Zayn memasukkan sushi tersebut ke dalam mulut Nara.
"Terima kasih." gumam Nara dengan mulutnya yang penuh.
"Karena aku sudah baik denganmu, jauhi pria yang tadi duduk denganmu di taman! jangan sampai aku membunuhnya seperti aku membunuh kuman di sekitarku." ancam Zayn.
"Tapi dia temanku saat di panti asuhan." ucap Nara.
"Tapi dia tidak menganggapmu sebagai temannya, jadi turuti saja perkataanku dan jauhi dia, kau mengerti?"
Nara menghela nafasnya pelan dan merengut, "Lalu kapan kita akan menikah?" tanyanya.
"Uhukk.. uhukk..." Zayn langsung terbatuk mendengarnya.
Ia langsung menatap ke arah Nara, "Kau bilang apa?" tanyanya.
"Pernikahan, kapan kita akan menikah? aku tidak bisa seperti ini terus, baru dua hari tapi aku sudah bosan hanya duduk diam saja di rumah sakit menunggumu bekerja."
Ah, Nara akhirnya menumpahkan keluh kesahnya.
__ADS_1
Zayn menghela nafasnya, ya perkataan Nara ada benarnya juga. Ia sedikit kasihan melihat gadis ini seperti benalu terus menempelinya dirumah sakit.
"Baiklah, kita bicarakan besok dengan mommyku." ucapnya.