Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Hari pernikahan (3)


__ADS_3

Malam itu, alunan musik romantis terdengar indah ditelinga semua tamu undangan. Di sebuah hotel berbintang, Bumi dan Bulan kembali duduk bersanding diatas pelaminan. Tamu undangan terus berdatangan dan Bulan masih terus menatap pintu tempat tamu lalu lalang bergantian masuk. Mata Bulan mengerjap melihat sosok yang dia nantikan datang dengan gagahnya berjalan mencari tempat duduk yang kosong.


Disisinya Bumi juga telihat terkejut melihat kedatangan Sarah yang tidak jauh jaraknya setelah kedatangan Reno.


"Sarah? Aku sudah bilang jangan datang jika tidak mampu melihatku berada diatas pelaminan ini." Gumam Bumi ingin rasanya dia berlari memeluk Sarah menutup semua rasa sedihnya yang sedang dirasakan wanita yang dicintai itu saat ini.


Sarah memandangnya dari kejauhan. Terlihat matanya berkaca-kaca dan itu membuat Bumi semakin merasa bersalah kepadanya.


Semua berjalan begitu tenang dan Bumi terlihat memanggil fotografer. Bumi berbisik dan menunjuk orang yang akan dia ajak berfoto diatas pelaminan. Fotografer tersebut berbicara kepada Sarah dan Reno agar naik ke atas pelaminan untuk berfoto dengan kedua mempelai. Mama Lina dan papa Handoko terlihat tidak suka dengan kehadiran Sarah malam ini diresepsi pernikahan Bumi.


"Pa, ngapain Sarah datang kesini?" Bisik mama Lina.


"Kalau sampai Bumi berbuat kekacauan, papa akan usir dia dari rumah." Ucap papanya pelan.


"Jangan diusir dong pa, kasian anak kita cuma satu-satunya."


"Semoga saja dia bisa berpikir jernih sekarang."

__ADS_1


Reno dan Sarah menuju ke pelaminan atas permintaan Bumi. Bulan tidak menyangka jika Bumi akan memanggil Reno juga berfoto dengannya. Dan ternyata Bumi sudah bisa membaca gerak geriknya saat melihat kedatangan Reno.


"Kenapa Bumi seberani ini? Kalau sampai ini ketahuan sama papa dan mama, aku yakin aku akan dipukul habis-habisan." Bulan membatin. Kakinya gemetar saat Reno berjalan mendekatinya. Tak ada rasa takut dimata Reno sedikitpun. Reno mengambil posisi berdiri tepat disampingnya. Tak beda jauh dari Reno, walaupun Sarah terlihat sendu tapi dengan tabahnya dia berjalan menuju pelaminan dan berdiri disamping Bumi.


Mata papanya tidak lepas melihat Bulan dan kejanggalan yang sedang terjadi. Bukan hanya papanya bahkan semua tamu undangan terlihat sedang berbisik satu sama lain karena isu perjodohan mereka sudah tersebar karena paksaan. Bumi menyuruh pemandu acara untuk memberikan mikrofon kepadanya.


"Terima kasih kepada tamu undangan karena turut hadir dalam acara pernikahan ini. Mungkin bagi kalian kami terlihat sedang bersandiwara didepan pelaminan atau kalian melihat kami terlihat bahagia dipelaminan ini.Tapi apakah kalian mengetahui bahwa kami berempat adalah pasangan kekasih?" Bumi berhenti bicara.


Dan semua orang terdiam dan terkejut dengan pernyataan yang dilontarkan Bumi bahkan papanya tuan Handoko ingin sekali menarik tangan Bumi dari pelaminan dan menyeretnya keluar dari dalam gedung itu. Bulan sama kagetnya dengan semua orang yang sedang bergosip didepannya.


"Aku belum selesai bicara, wanita disampingku ini adalah kekasih dari laki-laki disamping istriku dan kami berempat adalah teman baik." Ucap Bumi dan semua orang kembali tertawa karena sempat di buat shock oleh Bumi. Orang tuanya akhirnya lega karena apa yang takutkan tidak terjadi.


Mereka berempat berfoto dengan kedua mempelai ada ditengah. Sarah disamping Bumi dan Reno disamping Bulan.


"Bulan aku merindukanmu. Ingin rasanya aku memelukmu disini" Bisik Reno pelan.


"Aku juga Ren, dan jangan berani memeluk disini kalau kamu mau keluar hidup-hidup."

__ADS_1


"Hehehe." Reno hanya tertawa.


Setelah selesai berfoto, Reno berjabat tangan dengan Bumi dan Bulan. Ia berusaha berakting menjadi tamu undangan yang turut berbahagia melihat kedua mempelai. Sarah hanya menjabat tangan Bumi dan melewati Bulan begitu saja.


"Aku kira kamu akan mengacaukan ini Bumi." Bulan berbicara pelan.


"Sebenarnya aku akan mengacaukan acara ini tapi setelah melihat wajahmu pucat seperti mayat, aku sadar bahwa kamu ternyata sangat takut dan terlihat seperti orang bodoh berdiri disampingku menunggu ungkapan hatiku kepada semua orang."


Bulan melihatnya dengan kesal dan mencubit belakangnya dengan kuat.


"Bulan! Belakangku sakit."


"Rasakan itu, jangan pernah mengatakan aku bodoh lagi."


"Oke, oke, tapi lepaskan cubitanmu." Bumi tetap tersenyum kepada semua tamu padahal dia juga menahan sakit karena cubitan dari Bulan.


"Baiklah."

__ADS_1


__ADS_2