Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Bonus 2


__ADS_3

Setelah masuk kedalam rumah Bara langsung berbaring disofa menatap langit-langit ruangan tersebut. Franda mengikutinya berjalan dan berdiri disampingnya tetapi Bara hanya diam dan tak bergeming. Franda duduk dilantai lalu meraih tangan Bara dengan lembut.


"Bang apa salahku? Mengapa kamu jadi seperti ini? Apa karena teman aku yang antar barusan? Aku hanya sebatas teman dengan Hendra bang."


Bara melepaskan tangan Franda. "Jangan ganggu aku untuk saat ini de, pergilah tidur atau lakukan apa yang membuatmu senang." Bara berkata dengan pelan. Franda langsung menundukkan kepalanya dihadapan Bara.


"Aku serius de, kamu ingin menikmati masa mudamu kan tanpa peduli dengan momongan. Kamu selalu mengalihkan pembicaraan jika kita membahas anak dan kehamilan. Kamu sadar tidak kamu menyakitiku sebagai seorang suami de. Kamu tahukan umurku udah kepala 3 lebih dan aku harusnya udah pantas punya anak sama seperti Bumi dan Bulan"


"Kok abang jadi bandingin aku sama kak Bulan sih? Kalau abang masih cinta dia nggak apa-apa tapi mengapa aku harus mengikuti jejak kak Bulan yang harus mengandung dengan cepat. Abang kan sudah janji tidak akan menyuruh aku hamil secepatnya karena aku masih kuliah dan menikmati masa mudaku." Ucap Franda dengan berteriak.


"Aku tidak menyangka kamu jadi seperti ini de, aku pikir kamu wanita yang sangat sempurna untuk aku nikahi. Mengapa kamu terlalu egois? Punya anak tidak akan menghalangimu untuk kuliah atau berkarir kedepannya de." Bara tidak lagi berbaring kini dia dalam posisi duduk.


"Abang yang egois! Abang tidak mengerti dengan kondisiku! aku masih muda bang, teman-teman aku juga masih sibuk dengan dunia mereka bukan berlomba-lomba untuk mempunyai anak!" Bentak Franda.

__ADS_1


"Astaga de seperti inikah sifat aslimu? Anak itu bukan musibah tapi anugrah Franda dan semua orang yang sudah menikah menginginkan anak!" Ucap Bara sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Franda.


Franda berdiri dari duduknya. "Aku bukan salah satu dari mereka bang, aku belum siap punya anak dan sampai kapanpun aku akan tetap menggunakan KB sampai aku mengatakan aku siap!" Kata Franda lalu pergi meninggalkan Bara. Bara hanya bisa bersandar disofa dan mengelus dadanya.


"Aku salah menilaimu Franda." Batin Bara.


Franda masuk kedalam kamar dengan membanting pintu dengan keras.


"Apa apaan bang Bara, dia kan sudah janji untuk tidak memaksaku mempunyai anak tapi mengapa sekarang dia ngotot ingin punya anak. Pasti ada hubungannya dengan kak Bulan, pasti kak Bulan telah merasuki otak kak Bara hingga menyuruh aku punya anak. Dasar egois, pokoknya aku tidak akan mau punya anak sampai aku selesai kuliah. Dikampus aku belum mengatakan statusku kalau aku sudah menikah. Apa kata mereka kalau tiba-tiba aku hamil? Aku yakin satu kampus akan menggosipkan aku." Ujar Franda sambil duduk ditepi tempat tidur.


Bara berpikir sejenak lalu bangun dari tidurnya berjalan ke arah kamar. Saat Bara memegang handle pintu suara Franda terdengar sedang menelfon dengan seseorang. Bara yang masih terlihat emosi langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


"Siapa itu?" Ucap Bara melotot.

__ADS_1


Franda dengan cepat mematikan telfonnya. "Bukan siapa-siapa bang." Sahutnya seperti sedang terkaget.


"Berikan ponselmu!" Kata Bara dengan keras.


"Aku kan sudah bilang bukan siapa-siapa bang, kamu kenapa sih nggak percaya sama aku?"


"De kamu bohongkan sama abang? berikan ponselmu jika itu bukan siapa-siapa!" Ujar Bara telah meningikan suaranya sejak tadi.


Franda masih menyembunyikan ponsel dibelakangnya dan bertahan tidak memberikan kepada Bara. "Bukan siapa-siapa kataku bang, pergilah aku mau tidur!" Balas Franda lalu berbaring membelakangi Bara dan memegang erat ponselnya kini dia letakan bagian dadanya. Tak lama berselang ponselnya kembali berdering tetapi Franda tidak mengangkatnya. Bara duduk disampingnya dengan menghela nafasnya.


"De aku serius itu siapa? Mengapa kamu tidak mengangkatnya?" Ucap Bara kini dengan suara lembut.


Franda tidak menyahut tetapi malah berpura-pura menutup matanya agar Bara tidak bertanya lagi. Bara masih duduk menunggunya sahutan darinya dalam waktu yang lama.

__ADS_1


"Baiklah jika kamu tidak ingin menjawabnya." Ucap Bara lalu pergi dari kamar tersebut.


__ADS_2