
Bara melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah mama Lina. Ibu kandung dan ayah sambugnya juga masih berada dirumah mama Lina. Hari ini mereka berencana akan mengadakan syukuran kecil-kecilan untuk pernikahan Bara dan Franda dirumah mama Lina. Franda termenung memikirkan kejadian tadi pagi.
"Mengapa aku tiba-tiba terbakar api cemburu seperti ini? Kemarin aku biasa saja. Aku pikir aku akan butuh waktu lama untuk jatuh cinta kepada bang Bara tetapi ternyata begitu cepat hatiku menemukan pemiliknya."
"Dek kok diam? Masih memikirkan masalah tadi pagi?" Tanya Bara yang sedang mengemudi.
"Enggak kok bang, lagi pengen diam saja." Jawab Franda berbohong.
"Ini yang aku khawatirkan saat menikah, aku takut orang lain akan terluka karena perasaanku kepada Bulan masih terikat. Untung kamu bisa mengerti aku Franda." Gumam Bara dalam hatinya.
Tiba dirumah mama Lina, Bara berlari untuk membukakan Franda pintu mobil.
"Dek ayo turun, maafkan abang yah." Bara memegang tangan Franda saat turun dari mobil.
"Bang aku ingin dimobil saja." Jawab Franda lesu.
"Dek, atau abang panggilkan Maya yah untuk menjemputmu!" Ucap Bara.
"Siapa lagi Maya bang?" Franda terlihat tambah ketus.
"Bulan dek, aku biasa memanggilnya dengan sebutan Maya."
"Enggak perlu!" Franda langsung turun dari mobil.
Bahkan mereka mempunyai panggilan kesayangan. Eh kok aku cemburuan begini yah, padahal aku belum lama hadir dalam kehidupan bang Bara. Sabar Franda kak Bulan juga sudah menikah dan Bara telah menjadi suamimu jadi tidak mungkin mereka kembali bersama. Bagaimana perasaan kak Bumi jika dia tahu istrinya pernah berpacaran dengan kakaknya? Apa dia tidak cemburu sepertiku. Ihh ingin rasanya aku menanyakannya kepada kak Bumi. Batin Franda.
Bara memegang tangan Franda berjalan masuk kedalam rumah. Diruang keluarga mereka telah berkumpul sambil mengobrol. Saat Bara dan Franda masuki ruangan tersebut dengan sontan mereka langsung menatap Bara dan Franda dengan senyuman meledek.
"Cie-cie pengantin baru senyum-senyum. Tuh Franda kenapa cemberut begitu? Apa kak Bara memaksamu semalam?" Suara Bumi begitu keras. Bulan mencubit paha Bumi karena melihat Franda yang cemberut.
__ADS_1
"Mas apaan sih, lihat tuh Franda semakin cemberut karenamu." Bulan berbicara pelan kepada Bumi.
"Ayo duduk nak." Ucap mama Lina kepada Bara.
Bara memahami perasaan istrinya apalagi Franda masih tergolong sangat muda untuknya.
"Dek ayo duduk." Bara menarik tangan istrinya duduk disampingnya.
Franda sejak tadi hanya memperhatikan Bulan dari tempatnya duduk. Bara juga memperhatikan Franda yang terus menatap Bulan sejak tadi.
"Dek kalau rasa nggak nyaman kita pulang saja." Bara berbisik ketelinga Franda.
"Dia cantik bang, wajahnya mirip artis Chelsea Islan cuma rambut kak bulan lebih indah dari Chelsea Islan panjang dan bergelombang dibagian bawahnya. Pantas saja kamu masih terpikat olehnya. Jika aku jadi laki-laki pasti aku juga menyukai kak Bulan." Ucap Franda memuji.
"Kamu lebih cantik dek." Bara langsung menggenggam erat tangan Franda dengan erat, dia tahu istrinya sangat cemburu saat ini.
"Aku sudah berusaha membuang perasaan ini dek, bukan sekali aku berusaha melupakannya tapi setiap waktu aku berusaha tapi apalah dayaku sebagai manusia biasa aku tidak mampu melupakannya. Dia wanita yang sangat spesial dihatiku dan hidupku. Bukan hanya kamu yang sakit tapi Bumi, Maya juga sakit. Aku tahu Bumi hanya berpura-pura lupa bahwa tidak terjadi apa-apa lagi antara aku dan Maya karena aku bisa melihat sorot matanya begitu cemburu melihatku saat melirik Maya. Begitu juga dengan Maya dia hanya berpura-pura tidak mengetahui kalau hubungan kami telah usai tetapi hatiku dan hati Maya masih bergejolak didalamnya." Gumam Bara dalam kebingungan batinnya.
"Eh iya ma?" Bara kembali tersadar dari lamunannya.
"Jadi keputusanmu apa?" Kini mama Lina yang bertanya.
"Keputusan apa ma?" Bara kebigungan.
Semua orang menatapnya.
"Keputusan kakak ipar untuk tinggal disini beberapa saat, karena mama dan mas Bumi mau ke Kalimantan mengurus berapa proyek papa yang sempat terbengkalai." Ucap Bulan.
"Oh itu?" Bara melirik Franda sesaat. Istrinya itu hanya menunduk.
__ADS_1
"Aku akan tinggal diapartemen saja" Jawab Bara berusaha melindungi istrinya dari rasa sakit lagi.
"Bulan kamu bagaimana? Kamu bisa kan tinggal dirumah mama Rida dulu beberapa hari nak."
Bulan melihat suaminya seperti bertanya padanya. Bumi mengecup kepala Bulan dengan lembut.
"Sabar sayang, nggak lama kok hanya beberapa hari."
"Ingin ikut mas, bosan kalau nggak ada kamu." Sahut bulan lalu bersandar dibahu suaminya.
"Hemm, belum pergi aku udah rindu ma. Atau kak Bara saja yang pergi sekalian ajak Franda jalan-jalan." Kata Bumi.
"Bagaimana dek kamu mau?" Tanya Bara kepada Franda.
"Aku mau asal aku tetap berada disamping abang." Jawab Franda malu-malu.
Semua orang tersenyum melihat Franda dan Bara.
Akhirnya kamu menemukan cintamu mas Bara, aku bahagia melihatmu bersama dia. Aku tahu berpura-pura lupa dengan hubungan kita itu menyakitkan tapi inilah takdir bahwa kita memang tidak ditakdirkan untuk hidup bersama. Kita harus bisa memilih jalan terbaik untuk kita berdua dari pada harus menahan derita perasaan cinta yang dipaksakan untuk berpisah. Aku rasa Franda yang terbaik untukmu mas. Batin Bulan.
Setelah lama berbicang mereka memutuskan untuk pergi ke panti asuhan tempat Franda dibesarkan. Mereka memberikan santunan kepada anak yatim atas syukur mereka karena pernikahan Franda dan Bara yang berjalan lancar. Sampai dipanti dimana Franda dibesarkan mereka disambut dengan bahagia oleh anak-anak panti tersebut. Franda berhambur memeluk satu persatu anak panti dengan pelukan kerinduan.
"Sayang aku merasa sangat beruntung hidup didunia ini, lihat mereka masih bisa tersenyum walaupun tanpa orang tua, tanpa kemewahan, tanpa kasih sayang, tapi aku? aku hanya menghabiskan masa mudaku dengan sia-sia. Aku menghambur-hamburkan uang tanpa berpikir, aku egois, untung saja aku bisa menemukan kamu yang bisa menyadarkan aku dari kelamnya duniaku sayang." Bumi berkaca-kaca ini pertama kalinya dia peduli dengan hidup orang yang status sosialnya ada dibawahnya. Bumi berlari mengendong salah satu anak kecil yang sedang menatap mereka dengan kebingungan.
"Hai nak namamu siapa?" Ucap Bumi kepada anak lelaki sekitar umur dua tahun itu.
"Papa?" Sahut anak itu memanggil nama Bumi dengan sebutan papa.
Bumi tak kuasa menahan air matanya hingga mengalir deras. Bulan memeluk suaminya bersamaan dengan anak lelaki tersebut. Bulan semakin hari semakin senang karena perubahan sifat Bumi yang semakin baik, jika dulunya dia begitu kasar dan seenaknya kapada Bulan tetapi sekarang dia menjadi begitu lembut. Kalau dulunya dia suka mengambil keputusan secara sepihak tetapi sekarang dia selalu menanyakan terlebih dahulu kepada Bulan sebelum bertindak.
__ADS_1
"Mama?" Ucap anak itu kembali saat bulan memeluknya.
Bara dan Franda entah pergi keman. Mama Lina, ibu kandung Bara dan ayah sambungnya sedang berbicara kepada pengurus panti untuk merencanakan renovasi panti yang terlihat sudah sangat tua itu.