Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Anak pengusaha yang genit


__ADS_3

Tring..tringg.. Bunyi bel apartemen.


Bara membuka pintu masih menggunakan handuk dan rambutnya masih berantakan karena basah.


"Hai kak Bara? Sedang menungguku yah?" Seru seorang gadis didepan pintunya.


"Siapa ya? Pernah kenal sebelumnya? Tapi rasanya kita baru ketemu?" Ucap Bara dengan menggaruk-garuk kepalanya seperti berpikir.


"Bagaimana mau kenal kalau aku nggak diizinkan masuk ke dalam. Eh nggak usah pake izin aku kan tamu yang ditunggu-tunggu." Ucap Gadis itu langsung masuk kedalam apartemennya dengan mendorong dada Bara hingga mundur bersamanya berjalan.


"Hei.. tunggu. Kamu siapa? Keluar dari sini! Jangan sok akrab ya! Aku tidak pernah kenal denganmu." Bara meninggikan nada suaranya.


"Idih jutek amat sih, kak Bara nggak kenal sama aku? Tahu nggak, banyak sekali laki-laki yang ingin menjadi kekasihku tetapi hanya kak Bara yang beruntung." Ucap gadis tersebut sudah berbaring disofa.


"Ya Tuhan gadis ini berasal dari mana sih? Cepat pergi.. aku mau berangkat kerja."


"Pakai baju dulu kak baru berangkat kerja, aku sabar kok nunggu kakak sampai selesai ganti baju." Jawab Gadis tersebut dengan santai sambil terlentang bermain ponselnya.


"Terserah kamu, selesai ganti baju kamu harus pergi dari sini!" Ucap Bara kasar. Ia lalu masuk kedalam kamar dengan kesal.


Siapa gadis itu, apa aku pernah kenal dengannya sebelumnya? aku baru lihat dia hari ini tapi mengapa dia seperti sangat akrab menyebut namaku. Apa mungkin aku lupa ingatan? tapi mana mungkin aku melupakan orang pernah aku kenal. Bulan saja bertahun-tahun menghilang dari hadapanku tapi aku masih mengingatnya dengan jelas.

__ADS_1


Selesai ganti baju Bara langsung cepat menuju ruang tamunya untuk mengusir gadis sok akrab itu.


"Cepat keluar! Aku mau pergi kantor." Teriak Bara dan sedikit membentak karena emosi.


"Okey perkenalkan namaku Laura. Aku anak dari pengusaha tersohor dinegeri ini. Almarhum papa kak Bara juga sering bertemu denganku termasuk kak Bumi, kak Bumi yang menyuruhku datang kesini untuk menemuimu katanya kamu butuh pendamping hidup, dan tepat sekali aku datang untuk mengisi kekosongan hati kakak. Banyak loh yang suka sama aku, tapi aku tidak menyukai mereka. Tetapi setelah melihat foto kak Bara kok hatiku langsung berdebar kencang dan langsung menyukai kak Bara pada pandangan pertama."


"Aku tidak menyukaimu! Cepat pergi atau aku panggilankan satpam untuk mengusirmu!"


"Coba saja panggil kak, pasti setelah melihatku mereka akan takut." Jawab Laura santai masih berbaring dari tempatnya.


Sial berani sekali gadis ini, oh jadi Bumi yang mengirimnya kemari? Padahal aku hanya bercanda minta dicarikan jodoh kemarin. Ternyata Bumi serius dengan perkataanku.


"Oke sekarang maumu apa?"


"Cukup Laura! Sekarang pergi... aku sudah tidak tahan mendengarkan ocehanmu." Bara menarik tangannya keluar dari apartemennya.


"Jangan pernah datang mengangguku lagi." Bara pergi meninggalkan Laura yang masih berdiri tersenyum genit kepadanya.


"Kamu bakal tunduk kepadaku kak Bara! Oh, aku suka tantangan seperti ini." Gumam Laura dalam hatinya membiarkan Bara meninggalkannya.


Di dalam mobil, Bara beberapa kali menelpon Bumi tetapi dia tidak mengangkatnya.

__ADS_1


"Sial pasti Bumi sengaja tidak mengangkat ponselnya." Bara memaki sendiri di dalam mobil.


Bara pergi dengan melajukan mobilnya meninggalkan apartemennya. Dibelakang mobilnya ternyata Laura mengikutinya hingga ke area parkiran kantor. Bara turun dari mobil dan Laura juga turun dari mobilnya mengikuti Bara.


"Hai kak, kita bertemu lagi." Ucap Laura menghadang Bara yang sedang berjalan.


"Hei mengapa kamu mengikutiku?"


"Siapa yang mengikutimu, aku sedang menemui papaku."


"Papa? Jangan berbohong gadis kecil." Ucap Bara melototi Laura.


"Bohong? Aku nggak suka bohong kak. Hari ini kakak ada rapat untuk kerja sama dengan perusahaan Wibowo kan?"


"Iya, kamu kok tahu?"


"Dia papaku kak, jangan menatapku seperti itu kak, aku semakin jatuh cinta sama kakak Bara."


"Mending kamu belajar deh, raih masa depanmu sana, perjalananmu masih panjang ke depan."


"Nggak perlu repot-repot belajar ka, masa depanku kan ada didepanku karena masa depanku adalah kak Bara." Sahut Laura sambil tersenyum genit.

__ADS_1


"Oke terserah kamu." Bara pergi dan meninggalkan Laura.


Laura tersenyum bahagia karena mampu membuat Bara pusing karenanya.


__ADS_2