
"Jika rindu tak bisa aku katakan dari jauh setidaknya dengan pelukan ini aku bisa membalas semua kekesalanmu terhadapku." Bumi berbisik, sambil membelai rambut Bulan dengan lembut.
"Jika aku meninggal apakah rindu itu masih ada untukku?" Sahut Bulan.
Bumi terdiam, menatapnya dengan dalam.
"Jangan berbicara seperti itu lagi karena aku tidak akan pernah menjawabnya."
"Kenapa? karena kamu akan berpindah kelain hati jika aku meninggal."
"Bulan! aku tidak ingin kehilanganmu." Bumi sedikit meninggikan nada suaranya membuat Bulan tersentak kaget.
"Maafkan aku sayang, jangan berbicara tentang kematian lagi." Bumi menariknya dalam pelukan.
"Iya mas aku juga minta maaf."
Tok..tok..tok.. suara ketukan pintu. Bumi melepaskan pelukannya dan berjalan membuka pintu.
"Tuan, sudah waktunya makan siang, tuan Bara telah tiba bersama calon istrinya." Ucap bibi kepada Bumi.
"Katakan aku akan tiba sepuluh menit lagi." Sahut Bumi lalu menutup pintu.
"Ada apa mas?" Tanya Bulan.
"Bara dan calon istrinya menunggu kita sayang, bagunlah dan berganti pakaian."
"Iya mas." Balas Bulan berusaha bangun dari tempat tidur.
__ADS_1
"Sini mas bantu." Bumi membantu Bulan bangun dari pembaringannya.
Bumi dan Bulan berjalan menuju ruang makan. Bara sedang tersenyum melihat kedatangan mereka tetapi tangannya menggenggam erat tangan wanita disampingnya.
"Silahkan duduk." Mama Lina mempersilahkan mereka duduk.
"Hai kak, makin ganteng aja." Ucap Bumi memberikan pujian.
"Iya dong, Bara akan selalu ganteng." Jawabnya dengan pede. "Perkenalkan calon istriku, Franda. Perkenalkan namamu sayang." Bara menoleh kepada Franda.
"Maaf aku datang tiba-tiba didalam keluarga ini, aku Franda." Franda berjabat tangan kepada Bulan dan Bumi sambil tersenyum.
"Bulan." Ucap Bulan kepada Franda.
"Bumi." Ucap Bumi kepada Franda.
"Kerja dimana sayang." Kini mama Lina yang bersuara.
"Kerja sambil kuliah tan." Jawab Franda takut-takut.
"Oh masih kuliah? semester berapa?" Tanya mama Lina lagi.
"Semeter dua tante." Jawabnya dengan polos.
"Kerja dimana?" mama Lina mengulangi kata-katanya karena ingin mengetahui seluk beluk calon menantunya.
"Di kantornya pak Bara, maaf aku hanya Cleaning service." Jawab Franda sambil menunduk.
__ADS_1
Mama Lina, Bara, Bumi dan Bulan saling tatap karena Franda menunduk merasa malu berada diantara mereka yang tidak selevel dengannya.
"Hai nak, panggil mama mulai sekarang." Mama Lina langsung berdiri menghampirinya sambil memegang pundaknya.
"Jangan berkecil hati, mama nggak pernah bedain status sosial seseorang berdasarkan pendidikan, kaya atau tidak orang tersebut. Mama hanya ingin Bara mendapatkan wanita yang baik seperti kamu. Mulai dari pertama melihatmu mama sudah suka denganmu, caramu berbicara sangat sopan, caramu berpakaian sangat sederhana tetapi tetap terlihat anggun, mama suka jika kamu menjadi menantu mama." Ucap mama Lina, Franda langsung mengangkat kepalanya dan meneteskan air mata.
"Tapi aku bukan dari keluarga kaya seperti kalian, aku hanya dari keluarga biasa-biasa saja. Sebenarnya aku tidak mau pak Bara mengajak aku datang kesini karena aku merasa sangat tidak pantas berada disini."
"Kami menyukaimu Franda." Ucap Bulan dan Bumi bersamaan.
Bara tersenyum sembari menarik nafasnya dengan lega karena mama Lina menerima gadis yang dia bawah kerumah mamanya.
"Jadi jangan canggung lagi dikeluarga ini, sekarang ayo makan setelah itu kita akan membahas hubunggan kalian kedepannya."
Mereka menyantap makanan dengan penuh kebahagiaan. Franda masih terlihat sangat malu-malu didepan keluarga. Bara sesekali mengombalnya dengan memberikan suapan-suapan kecil membuat Bumi panas dengan menyuapi Bulan juga dihadapan Bara.
"Mama nggak ada yang suap nih?" Ucap mama Lina. dengan cepat Bara dan Bumi menyodorkan sendok yang berisikan makanan kedekat mulut mamanya.
"Aku dulu kak yang nyuapin mama."
"Dimana-mana kakak duluan." Seru Bara
"Biar adil mama yang nentuin siapa yang duluan Suapin mama. Bumi kamu harus mengalah biarkan kakakmu yang menyuapi mama terlebih dahulu." Mama Lina menyahut. Bara menyuapi mamanya dan setelah itu Bumi menyuapi mamanya.
"Menantu dan calon mantu mama nggak mau menyuapi mama nih?" Ucap mama Lina, Bulan dan Franda saling tatap lalu mengambil sendok menyuapi mamanya secara bergantian.
"Mama merasa sangat bahagia hari ini."
__ADS_1
"Kami juga bahagia ma." Balas mereka bersamaan lalu tertawa bersama.