Perjodohan Bumi Dan Bulan

Perjodohan Bumi Dan Bulan
Curhatan dokter kandungan


__ADS_3

Setelah mengetahui Bulan hamil, Bumi langsung memberi tahu kepada mama Lina, orang tua Bulan, Luna, Bara bahkan Reno pun ikut serta dalam kebahagiaan yang dirasakan Bumi. Malam harinya Bumi mengantarkan Bulan memeriksakan dirinya ke dokter kandungan. Ditempat praktek, Bumi tidak perlu menunggu lama karena sudah memesan nomor antrian terlebih dahulu sejak sore hari. Di dalam ruangan dokter, Bumi terus menggenggam erat tangan istrinya dan senyumannya belum pudar sejak siang tadi.


"Nyonya Bulan Mayasari? Silahkan berbaring disini." Seorang asisten dokter membantu bulan berbaring di bad yang telah disediakan diruangan tersebut. Asisten dokter tersebut meminta izin kepada Bulan untuk mengoleskan gel diatas perutnya. Bumi duduk disampingnya dengan wajah tegang menunggu hasil pemeriksaan dokter.


"Kita mulai pemeriksaannya nyonya Bulan."


"Silahkan dok, aku sudah tidak sabar untuk menantikan hasilnya." Jawab Bumi sedikit mengeraskan suaranya karena senang.


"Sepertinya papanya udah nggak sabar." Jawab dokter tersebut sambil tersenyum.


"Gugup dok, anak pertama nih." Sahut Bumi lagi.


Dokter tersebut mengerakan alat USG diatas perut bulan, dan dokter mengarahkan Bumi dan bulan untuk melihat layar disamping mereka.


"Selamat untuk nyonya Bulan dan tuan Bumi, lihat calon bayi anda masih sekecil ini." Dokter tersebut memperlihatkan sebuah titik kecil yang terbentuk didalam rahimnya.


"Itu calon bayiku dok? Benar nih aku akan menjadi calon papa? Astaga sayang kita akan menjadi mama dan papa." Ucap Bumi senang dan mengecup kepala Bulan.


"Sudah selesai, aku menunggu dimejaku karena ada beberapa resep obat yang akan diberikan kepada nyonya Bulan."


"O iya dok terima kasih." Sahut Bulan.

__ADS_1


Asisten dokter tersebut membersihkan perut Bulan dan memperbaiki bajunya kembali. Bulan duduk dibantu oleh Bumi secara perlahan.


"Mas aku bangun sendiri." Jawab Bulan merasa lucu dengan sikap Bumi yang lebih overprotektif semenjak mengetahui dia hamil.


"Pokoknya mulai sekarang kamu tidak boleh banyak beraktifitas, nanti kita akan membicarakan ini dirumah. Sini mas gendong sampai dimeja dokter."


"Mas jangan berlebihan deh, aku masih bisa berjalan. Lagian malu kan dilihat sama orang?"


"Heemmm jangan membantah sayang, ini demi kebaikanmu dan calon bayi kita."


"Mas." Panggil Bulan berusaha menghindar dari gendongan Bumi.


"Aku lagi tidak ingin bertengkar sayang, jadi aku mohon ikuti semua perintahku."


Bumi mengangkat Bulan dari tempat pemeriksaan menuju meja dokter. Dokter tersebut senyum-senyum melihat Bumi dan Bulan begitu romantisnya berjalan kearahnya.


"Pasti kalian dijodohkan?" Tanya dokter tersebut saat Bumi dan Bulan duduk dihadapannya.


"Iya dok, kok dokter tahu." Jawab bumi pemasaran.


"Karena aku dulunya seperti kalian, pertama kali dijodohkan aku menolak keras tetapi setelah jatuh cinta kepada istriku sehari saja tidak bertemu dengannya aku merasa kesepian didunia ini."

__ADS_1


"Hehehe sama dong kayak aku dok." Bumi tersenyum malu-malu begitupun dengan Bulan.


"Tapi sayang istriku sudah tidak ada lagi dunia ini, dia sudah meninggal dua tahun yang lalu dan sampai sekarang aku belum bisa menggantikannya dengan siapapun. Kok aku jadi curhat sama kalian?" Ucap dokter tersebut dan raut wajahnya terlihat sedih.


"Yang sabar dok." Bulan dan Bumi saling tatap karena merasa situasi ini sudah terlihat berbeda penuh dengan keheningan.


"Iya... aku yakin bisa melewati ini semua dan semoga hubungan kalian tidak sepertiku, yang hanya bisa merasakan kebahagiaan itu dengan singkat." Jawab dokter tersebut menyemangati dirinya sendiri.


Tiba-tiba Bumi kembali menggengam tangan Bulan dengan kuat.


"Maaf ini resepnya obatnya nyonya Bulan, jangan lupa periksakan setiap bulan kandungan anda."


"Terima kasih dok." Bulan dan Bumi berdiri menjabat tangan dokter tersebut.


Di pintu keluar Bumi menahan Bulan sebelum mereka mengambil obat.


"Mulai sekarang jangan membantahku, apa yang aku ucapkan demi kebaikanmu. Aku tidak mau kehilanganmu seperti dokter tersebut kehilangan istrinya. Kamu tahu? aku merinding saat mendengarkannya berbicara kehilangan istrinya. Aku tidak bisa membayangkan jika ada diposisinya sayang." Ucap Bumi dengan segala kekhawatirannya.


"Mas, cepat atau lambat semua manusia akan menuju kesana kita hanya tunggu waktu untuk dipanggil."


"Sayang tolong jangan membuatku takut, belum hilang rasa sedihku saat kehilangan papa dan ini kamu berbicara tentang kematian lagi."

__ADS_1


"Iya mas, maafkan aku."


Bumi dan Bulan berjalan berjalan untuk mengambil obat yang telah diresepkan oleh dokter kandungan tersebut. setelah mengambil obat mereka pulang saling bergandengan tangan dan raut bahagia tidak bisa mereka sembunyikan dari siapapun.


__ADS_2